Catatan Harian Seorang Pertapa

January 13th, 2009  Tagged

Hai, selamat, kau baca tulisan ini. Catatan ini adalah penggalan kisah sepi seorang Pertapa yang enggan berdusta.. Atau mungkin sebuah memoriam kelam penuh dengan kebingungan dalam memaknai hidupnya. Sehingga dia diam dan menekur diri sambil memangku buku kumal kalau-kalau Tuhan ingin bicara dia langsung tuliskan.
Hari itu Kamis 32 Desember 2008 atau 1 Januari 2009. Pertapa yang tak berjenis kelamin itu kembali melebur dalam senyap sambil mendengarkan nyanyian angin bermusik daun. Mencerapi setiap nada ia lakukan, dan bertanya: “angin, lagu apakah itu?” sang angin yang bermasyuk dengan lagunya memberi jeda dan menjawab: “tentang sebuah lagu yang aku sendiri tak tahu apakah itu”. “apakah itu sebuah kebahagiaan? tanya pertapa itu lagi”. “Bukan, bukan pula sebuah kesedihan, lagu ini tak beremosi…, sudah pernahkah kau mendengar?” tanya angin. “Belum”. Ini lagu yang disuruh Tuhan untuk kunyanyikan pada kalian.. “ini lagu teraneh yang pernah kudendangkan..”
Sang pertapapun segera mengambil pena dan menuliskan nada-nada nyanyian sang angin bermusik daun.

nanana na nananaaa na, nanana naanaa naa naaa…
Nananaaa nanana naa nananaa naaaa nananaaa nananaaa anaaa na nana nana nanananaaa nananaaa nanana nanaaanananana nananaaaa na naana nanananaaaa nanananananananana naaanaaa nanana nananana aaa nanananana nanananaaaa nananaanaaaa nanana nana naaaaaa nanana anana aanna naaan ananananaaaaa ananannana nnaaanaaana ananana annnnnnnaaaanaaananananaanaaaaanananaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa
nanana na nananaaa na, nanana naanaa naa naaa…

“Oh…. apakah ini?” lalu, sang pertapa menunduk menekur diri hingga kini. Menunggumu menyambanginya dengan hati bahagia…