Dew Clarissa

November 8th, 2008

Sebuah catatan pada malam dikamar penuh debu bersama Tuhan.
Kainstlir Lingersti 1809.

“Diamku, bukan mati…dan koridor-koridor nadi dalam tubuhku masih lancar mengalirkan darah untuk hidupku. Dalam darah itu ada dendam yang segera ingin dituntaskan, ada gejolak nafsu yang ingin di salurkan, ada nada-nada melankolis yang menuntut untuk dilagukan… Semua ini kusumpahi ada dalam tiap detik tarikan nafasku yang terkontaminasi dengan debu-debu jalanan. Jalanan yang selalu kuukur lebar dan panjangnya…sekedar untuk mencari tahu kapan dendam, gejolak nafsu dan nada-nada melankolis itu terealisasikan, agar aku hidup sebelum mati dengan satu kebanggaan…aku mampu menundukkan diriku sendiri, yang tak pernah ku ketahui dimana aku meletakkan titik untuk berhenti atau paling tidak koma untuk sekedar istirahat …sekejap saja… aku sudah sangat lelah….

Segelontor debu dicermin hiaskulah seakan-akan mengerti, karena dia adalah jam waktuku, juga sekaligus saksi bertumpuk-tumpuk yang menghitung dendam, nafsu dan nada-nada melankolis itu … “Dew,…kamu tunggu apa?!”. ” Aku menunggu Isa turun dari langit!” selorohku selalu, ketika mereka berteriak-teriak melotot seakan-akan tidak sabar melihat siapa yang akan terkapar menemani mereka menjadi debu dan terhempas oleh angin tiada menentu itu. Aku tahu mereka begitu karena mereka ingin mngajakkku terbang…sekejap lalu hinggap, tersapu… lalu hinggap lagi dan menunggu angin… Bodoh!!! ” Sudahlah…kamu disitu saja sebagai jam waktuku… Sudah kuterima ketidak laziman ini sebagai pengganti air bahkan sehirup oksigen dalam tubuhku…

Dengan termangu di sudut kamar yang penuh debu seperti inilah aku semakin mengeti .. tak jua aku, mereka yang berkutat dengan kemewahan..ataupun kemiskinan tentulah ikut larut. Seberpaling-palingnya aku … itulah jawaban.

Hidupku ini bagaikan hantu…, hallo debu di cermin hiasku, arwahkanlah aku, walaupun kenyataannya mereka sangat mampu melihat bodyku…seperti halnya dirimu ketika aku berkaca…

Kukatupkan telapak tanganku, kutaruh di ujung hidungku dan terpejam… satu detik, satu menit, satu jam, dua jam…hakikat itu belum terdefinisikan… Oh Tuhan…seperti kemarin, hari ini kau suguhi aku dengan sup otak dan kepala manusia …bersaus darah! lalu kau menyuruhku tanpa suara untuk segera menyantapnya sambil menunduk dan berdzikir…” Dew….”! ucapmu dengan suara yang penuh arti… sunyi, ………….tanpa kata-kata lagi.

Satu detik, satu, menit, satu jam, dua jam. Perlahan kudongakkan kepalaku untuk melirik wajah-Mu yang tak tampak tapi bersinar, aku mengerti… tiga nyawa telah kau cabut dalam tiga detik, lalu kau memintaku untuk menyantapnya sebagai pengganjal rasa lapar otakku sendiri…

Kulirik cermin hiasku lagi…dan debu-debu jam wakktuku itupun tersenyum dengan penuh kemenangan. Namun ambigu, Anjing!! Apakah lagi ini satu dendam bertambah…??? atau justru jawaban sedikit atas trilyunan kubik pertanyaan dalam lekuk-lekuk bagian otakku. ????

Ya, diamku bukan mati. Dew akan selalu hidup dan terus berjalan …menumpuk dendam, menyalurkan sejumput nafsu dan melagukan nada-nada melankolis yang ingin dilagukan itu….

………………………….

Ode To My Pa

November 8th, 2008

Pa, hingga detik ini aku masih saja tidak percaya jika kamu telah pergi, rasa rindu ini tak tahu harus kujawab dengan apa? air mataku tidaklah cukup kupakai untuk membahasakannya. Terkadang hatiku sakit tetapi selalu kutepis karena aku sadar kamu mungkin lebih bahagia daripada kami disini. Mohon kamu jangan menangis, karena kami baik-baik saja. Hanya saja rasa rindu dan kenangan bahwa kamu sangat mencintaikulah yang menjadikannya.

Pa, aku sangat ingat saat pagi-pagi kau berbaju cokelat menyuapiku sebelum berangkat, atau saat kau pulang lagi kau bawakan aku permen coco rico dan sugus berkotak-kotak, atau kwaci bunga matahari, mainan dan bahkan alat-alat musik. Dan mainan-mainan anak laki-laki itu, sangat lekat di hatiku. Kau sangat mencintaiku. Pa, ketika kau lukis kulit telur itu… atau cangkir dari batok kelapa itu… aku yang masih kecil duduk diam melihat tanganmu mengukir..

Aku mohon maaf telah berbuat salah dan pernah membuatmu menangis.. aku mohon maaf pernah membuatmu susah. Percayalah aku sangat mencintaimu! Pa.

Kita partner berjuang ditengah hujan, kujemput kau di kantormu.. menunggu.. dan warung bakso itu.

Kau guru mesinku, kau ajari aku mereparasi motor-motorku, membongkar vespaku, memarahiku saat tak berhelem atau baju seragam yang tak kurapikan… ya, seragam itu hasil dari jahitanmu…

Betapa singkat waktuku berbakti padamu??? pelukanku belumlah cukup dipagi itu.

Pernah kau pangku aku dipaha saat kau supiri mobilmu. Kau letakkan tanganku di setirnya seolah-olah aku yang kecil ingin kau ajari menyupir.

Atau, ketika masih saja dengan cintamu kau cucikan baju-bajuku dan mengatakan: membilas harus bersih sampai tak ada busanya, karena jika masih berbusa baju akan cepat kotor.

Ritual yang selalu gagal kucontohi, mandi pagi-pagi dan gosok gigi setiap kali mau tidur dan bangun pagi…

Dan warung-warung yang pernah kita sambangi….

Pa, saat kudekap engkau sebelum pergi… aku ingin kau bahagia karena aku pulang!!

Aku mencintaimu… selamanya…

Aku adalah dirimu.

……………………………………………………………………………………………………….

Aku ingin, mencintaimu dengan sederhana

Dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin, mencintaimu dengan sederhana

Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada (kHALIL GIBRAN)

Puisi untuk mu yang terkasih…

November 2nd, 2008

Kepada Antara

Jauh kupendam dendam yang tak seharusnya kukatakan

Karena sungguh dendam itu milik angin

Angin yang dulu pernah mengajak berbicara kita

Saat itu, waktu hujan reda

Jauh antara yang kutelan dalam kesumat semu

Adalah jua awan-awan kelabu

Bersanding dengan selampir bunga lebur yang kurepih

Dari sisa-sisa makanan anjing

Dan aku tak pernah percaya

Potong saja? gejolak itu agar waktu bersahabat

Karena dendam itu sebenarnya bukan hanya milik angin

Juga malam yang membawa kelam

Jauh antara yang kuseka nanah dengan sapu tangan luka

Adalah kerinduan yang seperti lidah-lidah kelu

Merangas sepi diantara mimpi-mimpi yang asing

Yang kuhisap bagai vitamin kematian yang tak ragu

Jauh antara kuartikan makna dengan kata-kata indah

Kau pendusta

Sudah dekap siangku!

Cumbui aku saat cahaya memendar penuh

Agar kau tak berdusta,

Agar aku tahu kebohonganmu

Ya, lagi-lagi hanya lagu rindu yang kudendangkan….

(yogyes, 14 10 08, K.Art )

Karena angin selalu menguping, dia akan selamanya berdusta

Puisi ini tanpa makna apapun…

Papi

Gelap itu melucuti semua dendamku..

Dia memintaku untuk memelukmu, bahkan lama-lama

Membelai rambutmu dengan sentuhan paling lembutku

Sambil berbisik, aku disini…

Didekatmu…

Gelap itu menyuruhku menuang madu

Untuk kusajikan padamu dengan gelas tercantik

Menyuapkan padamu dengan senyumku

Menyeka tetes yang tertumpah dari bibirmu

Dan bernyanyi… Seluloqui Tuan Adi…

Kau sangat tahu luka hatiku,

Kau mengerti betapa biru

Sampai hari berganti aku yang masih saja membawa rasa sakit itu

Bersandar pada sepi yang dingin… dan dingin yang sepi…

Tapi Gelap diam-diam menjegal meja yang menjadi tempat sajian itu…

Papi terbaikku telah lemas……………………………………

Mengamini doaku tanpa suara

Dan tanpa siapapun…

Dia mati pada Antara

Papi, seribu dera yang telah ingin kujawab

Tak jua sempat kukatakan

Dan Gelap itu menemanimu

Berjalan tanpa aku…

Dan dia tetap diam…

Hingga saat dia mau berkata

Hah!,

Aku lupa merayu…

Yogyakarta, kamar UUT Oktober 2008

Hari yang aneh

October 25th, 2008

Ke Korea???

Mom…

October 22nd, 2008

Momiku yang cantik dan sekarang janda…

Aku mencintaimu dengan sepenuh hatiku…

Aku ingin memelukmu sampai kapanpun dan tak ingin kulepaskan…

Aku ingin menggendongmu saat kakimu sakit…

Aku ingin memijitmu saat tubuhmu lelah…

Tapi kita jauuh…

Jauuuh…

Aku rindu!

I love You!

Ungu yang rindu..

October 17th, 2008

Malam ini aku bertemu denganmu, kau berkata bahwa aku telah banyak berubah, aku semakin tampak lugu dalam gaun ungu ku. Atau? sebenarnya maksudmu aku tampak bodoh gitu?? nggak tahu! namun yang pasti, kata-katamu yang bagai lidah api itu menciutkan nyaliku. Aku sadar, aku tak secantik dewi bulan, aku tak seseksi matahari pagi, aku tak semolek senja.. aku hanya purukan luka yang telah membusuk. oh iya, aku punya tahi lalat berbentuk hati dipantatku, kau pasti suka.. yang dewi bulan tak punya, matahari pagi tak miliki dan senja yang mulus… oh tapi, tidak! tidak! pantatku tak boleh dilihat siapapun. Juga kamu yang sangat tampan itu. Pantatku ini sangat suci. Baru Tuhan saja yang menjilatnya.. oh… Tuhan menjilat pantatku! Anjrit begitu bodohnya dia! ooooh… Tuhan, Tuhan, bodohnya engkau!!

dari: disudut taman tuhanku

Don’t Make Me Mad (with Blender)

October 15th, 2008

hahahahahahahaahhaaa …………………

I think it was freeday when we went out that day
A simple gift to her, a blender
Oh boy, oh my Lord say oh you keep your hate straight
Oh no can I do that? yup-yup yup!

he really drives me mad
But it wasn’t all that bad
2 seconds to make me surrender and said
Oh please don’t make me So Mad

I think it was Moonday when we went out that day
A simple gift to her, a blender
Oh boy, oh my Lord say oh you keep your head straight
Oh no can I do that?

he really drives me mad
But it wasn’t all that bad
2 seconds to make me surrender and said
Oh please don’t make me So Mad

I think it was Starday when we went out that day
A simple gift to her, a blender
Oh boy, oh my Lord say oh you keep your head straight
Oh no I cannot I cannot do that? why why stupid

he really drives me mad
But it wasn’t all that bad
2 seconds to make me surrender and said
Surrender and sit!

Oh please oh please don’t make me So Mad
Oh please oh please don’t please make me So GLad

Oh please oh please don’t please dont’ make me so sad
Oh please oh please don’t please make me so Had

Oh please oh please don’t make me so Had
Oh please oh please oh please

Maaf ya Noe, telah kuhancurkan syair lagumu, iseng aja sih, otakku lagi nggak “balance” kata quantum ikhlas… Luv U

Towards Digitalization of Effective Prayers

October 14th, 2008

Neuroscience, neurotechnology, microelectronics, sound technology dan tuntunan bijak serta falsafah yang hidup dan sejak dahulu berkembang dimasyarakat adalah wilayah yang terlalu luas untuk bisa dibahas disini, namun berikut adalah sekilas tentang latar belakang teknologi dan pemahaman yang digunakan oleh DigitalPrayers.
The function of prayer is not to influence God, but rather to change the nature of the one who prays.
Soren Kierkegaard

Dalam berbagai tuntunan kita akan selalu diingatkan akan pentingnya memiliki kemampuan fokus konsentrasi mendalam atau khusyu’ dalam berdoa. Karena, ketika kita berdoa dengan khusyu’ maka doa itu akan lebih mungkin terkabul. Lalu apa dan bagaimanakah sebenarnya khusyu’ itu? Untuk menjawabnya kita perlu agak sedikit mundur kebelakang.

Tuntunan bijak serta falsafah hidup yang sejak dahulu berkembang dimasyarakat secara turun-temurun maupun berbagai tuntunan agama kurang lebih selalu mengatakan bahwa: Alam semesta beserta isinya berasal dari satu sumber enersi abadi yang kekal dan menyeluruh. Sumber ini memiliki kekuatan, kecerdasan dan kesadaran yang tak-terbatas. Dengan sifat alamiahnya yang maha bijak, penuh kedamaian, kasih-sayang, kebahagiaan dan maha lengkap-sempurna. Masih menurut berbagai tuntunan itu, manusia diciptakan oleh Sumber yang SATU itu pula. Dan memahami serta mengalami kembali hakekat per-SATU-an maupun ke-SATU-an sambil menikmati keaneka-ragaman adalah tujuan hakiki hidup kemanusiaan. Bhineka Tunggal Ika. Unity in Diversity.

Lama sudah manusia mempertanyakan: ” Jika kita adalah ciptaan yang paling sempurna berbahan-dasar yang berasal dari sumber yang maha dahsyat penuh kasih dan sayang, lalu mengapa hidup kita demikian banyak dipenuhi masalah? Mengapa kita tidak merasakan kedamaian dan kebahagian seperti hakekatnya sifat bahan-dasar kita. Dan para guru serta manusia bijak pun menjelaskan kurang lebih demikian, “Engkau tidak bisa mengalami sifat alamiahmu disebabkan oleh pikiranmu sendiri. Pikiranmu menghalangimu untuk bisa merasakan dan menghayati sifat dirimu yang sejati.”

Dan kini, kitapun tahu bahwa pikiran kita memang benar-benar mewarnai hidup kita seperti kacamata kita yang berwarna merah, hijau atau hitam memberi kita cahaya ilusi yang menipu. Ketika kita tumbuh besar otak kita sudah terprogram dengan segala sesuatu yang men”dua” seperti hal-hal yang “menyakitkan” dan perlu dihindari, serta segala hal yang “menyenangkan” untuk dicari dan dimiliki. Otak kita selalu mem”filter” kenyataan yang terjadi dan memastikan bahwa hal itu sesuai dengan (warna kacamata) yang kita yakini. Tidak mengherankan jika kita tidak mampu melihat kedamaian, kemakmuran, cinta dan kasih sayang sebagaimana adanya.

Berbagai penjelasan “tua” pun mengungkapkan bahwa enersi yang SATU itu menciptakan semua menjadi berpasangan atau DUA (dualisme). Pasangan-pasangan (dualisme) seperti lelaki dan perempuan, siang dan malam, panas dan dingin, benar dan salah karenanya adalah seperti satu sisi dari mata uang yang sama. Dan dari tarik-menarik (tension) antara DUA hal itulah kehidupan di alam semesta tercipta.

Dualisme dan tarik-menarik itupun terefleksi pada otak kita yang terbelah dengan kedua-sisinya dalam dua struktur yang berlawanan. Perbedaan ini diperparah oleh kenyataan bahwa semua orang umumnya memiliki “ketidak-seimbangan” atau kondisi brain-lateralization pada dua-sisi otaknya. Karena otak kita mem-filter kenyataan secara terpisah (split-brain) maka kitapun cenderung melihat dunia secara men-DUA dan karenanya penuh dengan pertentangan (problema) ketimbang melihat dunia dalam ke-SATU-an yang utuh penuh dengan persamaan yang sejuk dan damai.

Oleh sebab itu, jika kita bisa membuat otak kita “belajar” untuk mau bekerja-sama antara kedua sisinya secara lebih koheren dan holistik, - jika kedua sisi-otak kita bisa diajarkan untuk menyeimbangkan diri, mau lebih berinteraksi satu sama lainnya dan berfungsi sebagai satu ke-SATU-an otak kiri dan kanan - maka kemungkinan besar kenyataan hidup yang kita alami memang akan berbeda.

Semakin otak kita bekerja sendiri-sendiri (semakin tinggi lateralisasi dan tensi atau ketegangan diantara dua sisinya) semakin parah perbedaan yang terlihat oleh kita sehingga hidup kitapun akan lebih didominasi oleh perasaan terpisah, takut, cemas dan terkucil. Sebaliknya, dengan koherensi kedua sisi-otak yang meningkat, perbedaan di dunia akan terlihat lebih menipis atau bahkan menghilang sehingga rasa damai dan rasa menyatu dapat lebih dirasakan kehadirannya.

Technology of of Effective Prayer

Penelitian tentang otak pun menunjukkan bahwa dalam kondisi khusyu’ (deep relaxed focus-concentration) otak berfungsi dengan lebih seimbang sehingga terjadi harmonisasi di kedua sisinya. Banyak riset seperti ini menunjukkan bahwa berbagai ritual keagamaan yang dilakukan dengan benar sesungguhnya memang akan menghasilkan keseimbangan dan sinkronisasi pada kedua sisi otak. Tingkat keseimbangan yang terjadi bahkan secara akurat bisa diukur dengan electroencephalograph (EEG) untuk memeriksa pola gelombang-otak yang terjadi.

Sebelum Menggunakan DigitalPrayer

Spectogram, 4-8hz
Saat otak terlalu lateral (satu sisi terlalu dominan), gelombang-otaknya disebut BETA. Kondisi ini bercirikan, fokus-kesadaran keluar dan terpecah. Kondisi ini diperlukan untuk berfikir dan bekerja namun menimbulkan rasa tidak-nyaman dan stress jika dilakukan berlebihan.

Selama Menggunakan DigitalPrayer

Spectogram, 4-8hz

Ketika otak memulai proses sinkronisasinya (melalui aplikasi proses ritual yang tepat) kedua sisi-otak akan menampakkan kecenderungannya untuk lebih bekerjasama dan mulai berpindah menuju ke kondisi gelombang-otak ALPHA. Pada kondisi ini kita akan merasakan beberapa kondisi subyektif seperti “melayang”, “tenggelam”, “fokus-mendalam” atau berbagai kondisi berciri khusyu’ lainnya. Kondisi “seperti mengantuk” bercampur dengan “keterjagaan yang kuat” juga menimbulkan apa yang disebut sebagai kondisi “super learning”.

Jika kondisi ini dilanjutkan sinkronisasinya maka kita akan memasuki gelombang otak THETA atau kondisi “mimpi”. Jika seseorang cukup terlatih dan mampu terjaga dalam kondisi ini - dan ini dimungkinkan lewat aplikasi teknologi DigitalPrayers - maka ia bisa memasuki kondisi “khusyu’” yang lebih dalam lagi dimana kedua sisi otaknya dalam kondisi kerja-sama yang luar biasa optimal. Kreatifitas dan problem-solving sejati juga terjadi disini ketika otak dengan otomatis menemukan sintesa jawaban atas kebutuhan, masalah (dualisme) yang dialami pada gelombang-otak beta.

Saat kondisi sinkronisasi yang bercirikan very deep relaxation ini terus dilanjutkan lebih dalam lagi. Maka otak akan memasuki gelombang DELTA yang biasa diasosiasikan dengan kondisi tidur lelap, dimana kedua sisi otak sudah tidak lagi menampakkan ciri-ciri lateralisasinya dan mau bekerjasama dengan tingkat koherensi yang tinggi. Dan jika seseorang bisa tetap terjaga dalam kondisi ini maka ia akan melampaui dualisme kehidupan untuk merasakan kondisi khusyu’ (deep relaxed focus-concentration) yang luar-biasa dengan karakteristik pengalaman rasa persamaan, even-ness, perasaan menyatu, oneness, berSATU, manunggal dengan seluruh isi alam semesta.

Now, what is a prayer anyway?

Apakah (tepatnya) terbuat dari apakah - doa itu?

Dalam hal ini kami menganjurkan anda untuk melihat doa dari sisi yang lain. Yaitu doa sebagai kata-benda (noun) bukan sebagai kata-kerja (verb). Ilmu fisika quantum memberikan penjelasan yang luar biasa dalam hal ini: semua unsur ciptaan di alam semesta baik yang tampak seperti tanah dan batu, maupun yang tidak tampak seperti suara dan angin pada intinya terbuat, tercipta, berasal dari unsur yang sama dengan berbagai sifat yang berbeda. Unsur itu pada dasarnya adalah “enersi dan informasi”. Kuantum Fisika menambahkan, bahwa bentuk dasar dari semua unsur ciptaan yang tampak maupun tidak tampak adalah suatu “gelombang cahaya” (vibration atau wave).

Karenanya doa sebagai salah satu bentuk unsur ciptaan yang tidak tampak pada intinya juga merupakan gelombang atau vibration. Gelombang pikiran tentu saja. Pikiran sebagai kata benda. Karena itu semua pikiran anda, SEMUA pikiran yang anda miliki selama 24 jam, apakah itu positif atau negatif, esensinya merupakan doa anda.

Prayer = Thought

Doa = Pikiran

Doa [Pikiran] yang dilakukan dalam keadaan Khusyu’ [deep relaxed focus-concentration] adalah Doa [Pikiran] yang efektif

Dari WePe, Tnx u…

October 14th, 2008

Etimologi

Anarkisme berasal dari kata dasar anarki dengan imbuhan isme. Kata anarki merupakan kata serapan dari bahasa Inggris anarchy atau anarchie (Belanda/Jerman/Prancis), yang berakar dari kata Yunani anarchos/anarchein. Ini merupakan kata bentukan a (tidak/tanpa/nihil/negasi) yang disisipi n dengan archos/archein (pemerintah/kekuasaan atau pihak yang menerapkan kontrol dan otoritas - secara koersif, represif, termasuk perbudakan dan tirani). Anarchos/anarchein = tanpa pemerintahan atau pengelolaan dan koordinasi tanpa hubungan memerintah dan diperintah, menguasai dan dikuasai, mengepalai dan dikepalai, mengendalikan dan dikendalikan, dan lain sebagainya. Sedangkan Anarkis berarti orang yang mempercayai dan menganut anarki. Sedangkan isme sendiri berarti paham/ajaran/ideologi.

Anarkisme

“Anarkisme adalah sebuah sistem sosialis tanpa pemerintahan. Ia dimulai di antara manusia, dan akan mempertahankan vitalitas dan kreativitasnya selama merupakan pergerakan dari manusia” (Peter Kropotkin)
“Penghapusan eksploitasi dan penindasan manusia hanya bisa dilakukan lewat penghapusan dari kapitalisme yang rakus dan pemerintahan yang menindas” (Errico Malatesta)

Teori politik

Anarkisme adalah teori politik yang bertujuan untuk menciptakan masyarakat tanpa hirarkis (baik dalam politik, ekonomi, maupun sosial). Para Anarkis berusaha mempertahankan bahwa anarki, ketiadaan aturan-aturan, adalah sebuah format yang dapat diterapkan dalam sistem sosial dan dapat menciptakan kebebasan individu dan kebersamaan sosial. Anarkis melihat bahwa tujuan akhir dari kebebasan dan kebersamaan sebagai sebuah kerjasama yang saling membangun antara satu dengan yang lainnya. Atau, dalam tulisan Bakunin yang terkenal:

“kebebasan tanpa sosialisme adalah ketidakadilan, dan sosialisme tanpa kebebasan adalah perbudakan dan kebrutalan”[1]

Anarkisme dan kekerasan

Dalam sejarahnya, para anarkis dalam berbagai gerakannya kerap kali menggunakan kekerasan sebagai metode yang cukup ampuh dalam memperjuangkan ide-idenya, seperti para anarkis yang terlibat dalam kelompok Nihilis di Rusia era Tzar, Leon Czolgosz, grup N17 di Yunani. Slogan para anarkis Spanyol pengikutnya Durruti yang berbunyi:

Terkadang cinta hanya dapat berbicara melalui selongsong senapan

Yang sangat sarat akan penggunaan kekerasan dalam sebuah metode gerakan. Penggunaan kekerasan dalam anarkisme sangat berkaitan erat dengan metode propaganda by the deed, yaitu metode gerakan dengan menggunakan aksi langsung (perbuatan yang nyata) sebagai jalan yang ditempuh, yang berarti juga melegalkan pengrusakan, kekerasan, maupun penyerangan. Selama hal tersebut ditujukan untuk menyerang kapitalisme ataupun negara.

Namun demikian, tidak sedikit juga dari para anarkis yang tidak sepakat untuk menjadikan kekerasan sebagai suatu jalan yang harus ditempuh. Dalam bukunya What is Communist Anarchist, pemikir anarkis Alexander Berkman menulis:

“Anarkisme bukan Bom, ketidakteraturan atau kekacauan. Bukan perampokan dan pembunuhan. Bukan pula sebuah perang di antara yang sedikit melawan semua. Bukan berarti kembali kekehidupan barbarisme atau kondisi yang liar dari manusia. Anarkisme adalah kebalikan dari itu semua. Anarkisme berarti bahwa anda harus bebas. Bahwa tidak ada seorangpun boleh memperbudak anda, menjadi majikan anda, merampok anda, ataupun memaksa anda. Itu berarti bahwa anda harus bebas untuk melakukan apa yang anda mau, memiliki kesempatan untuk memilih jenis kehidupan yang anda mau serta hidup didalamnya tanpa ada yang mengganggu, memiliki persamaan hak, serta hidup dalam perdamaian dan harmoni seperti saudara. Berarti tidak boleh ada perang, kekerasan, monopoli, kemiskinan, penindasan, serta menikmati kesempatan hidup bersama-sama dalam kesetaraan.” (Alexander Berkman, What is Communist Anarchist 1870 - 1936)

Dari berbagai selisih paham antar anarkis dalam mendefinisikan suatu ide kekerasan sebagai sebuah metode, kekerasan tetaplah bukan merupakan suatu ide eksklusif milik anarkisme, sehingga anarkisme tidak bisa dikonotasikan sebagai kekerasan, seperti makna tentang anarkisme yang banyak dikutip oleh berbagai media di Indonesia yang berarti sebagai sebuah aksi kekerasan. Karena bagaimanapun kekerasan merupakan suatu pola tingkah laku alamiah manusia yang bisa dilakukan oleh siapa saja dari kalangan apapun.

Sejarah dan dinamika filsafat anarkisme

Anarkisme sebagai sebuah ide yang dalam perkembangannya juga menjadi sebuah filsafat yang juga memiliki perkembangan serta dinamika yang cukup menarik.

Anarkisme dan Marxisme

Lihat pula: Anarkisme dan Marxisme

Marxisme dalam perkembangannya setelah Marx dan Engels berkembang menjadi 3 kekuatan besar ideologi dunia yang menyandarkan dirinya pada pemikiran-pemikiran Marx. Ketiga ideologi itu adalah : (1) Komunisme, yang kemudian dikembangkan oleh Lenin menjadi ideologi Marxisme-Leninisme yang saat ini menjadi pegangan mayoritas kaum komunis sedunia; (2) Sosialisme Demokrat, yang pertama kali dikembangkan oleh Eduard Bernstein dan berkembang di Jerman dan kemudian berkembang menjadi sosialis yang berciri khas Eropa; (3) Neomarxisme dan Gerakan Kiri Baru, yang berkembang sekitar tahun 1965-1975 di universitas-universitas di Eropa.

Walaupun demikian, ajaran Marx tidak hanya berkutat pada ketiga aliran besar itu karena banyak sekali sempalan-sempalan yang memakai ajaran Marx sebagai basis ideologi dan perjuangan mereka. Aliran lain yang berkembang serta juga memakai Marx sebagai tolak pikirnya adalah Anarkisme.

Walaupun demikian anarkisme dan Marxisme berada dipersimpangan jalan dalam memandang masalah-masalah tertentu. Pertentangan mereka yang paling kelihatan adalah persepsi terhadap negara. Anarkisme percaya bahwa negara mempunyai sisi buruk dalam hal sebagai pemegang monopoli kekuasaan yang bersifat memaksa. Negara hanya dikuasai oleh kelompok-kelompok elit secara politik dan ekonomi, dan kekuatan elit itu bisa siapa saja dan apa saja termasuk kelas proletar seperti yang diimpikan kaum Marxis. Dan oleh karena itu kekuasaan negara (dengan alasan apapun) harus dihapuskan. Disisi lain, Marxisme memandang negara sebagai suatu organ represif yang merupakan perwujudan kediktatoran salah satu kelas terhadap kelas yang lain. Negara dibutuhkan dalam konteks persiapan revolusi kaum proletar, sehingga negara harus eksis agar masyarakat tanpa kelas dapat diwujudkan. Lagipula, cita-cita kaum Marxis adalah suatu bentuk negara sosialis yang bebas pengkotakan berdasarkan kelas.

Selain itu juga, perbedaan kentara antara anarkisme dengan Marxisme dapat dilihat atas penyikapan keduanya dalam seputar isu kelas serta seputar metoda materialisme historis

Pierre-Joseph Proudhon

Pierre Joseph Proudhon

Pierre Joseph Proudhon

Lihat pula: Pierre-Joseph Proudhon

Pierre-Joseph Proudhon, adalah pemikir yang mempunyai pengaruh jauh lebih besar terhadap perkembangan anarkisme; seorang penulis yang betul-betul berbakat dan ‘serba tahu’ dan merupakan tokoh yang dapat dibanggakan oleh sosialisme moderen. Proudhon sangat menekuni kehidupan intelektual dan sosial di zamanya, dan kritik-kritik sosialnya didasari oleh pengalaman hidupnya itu. Diantara pemikir-pemikir sosialis di zamannya, dialah yang paling mampu mengerti sebab-sebab penyakit sosial dan juga merupakan seseorang yang mempunyai visi yang sangat luas. Dia mempunyai keyakinan bahwa sebuah evolusi dalam kehidupan intelektual dan sosial menuju ke tingkat yang lebih tinggi harus tidak dibatasi dengan rumus-rumus abstrak.

Proudhon melawan pengaruh tradisi Jacobin yang mendominasi pemikiran demokrat-demokrat di Perancis dan kebanyakan sosialis pada saat itu, dan juga pengaruh negara dan kebijaksanaan ekonomi dalam proses alami kemajuan sosial. Baginya, pemberantasan kedua-dua perkembangan yang bersifat seperti kanker tersebut merupakan tugas utama dalam abad kesembilan belas. Proudhon bukanlah seorang komunis. Dia mengecam hak milik sebagai hak untuk mengeksploitasi, tetapi mengakui hak milik umum alat-alat untuk ber produksi, yang akan dipakai oleh kelompok-kelompok industri yang terikat antara satu dengan yang lain dalam kontrak yang bebas; selama hak ini tidak dipakai untuk mengeksploitasi manusia lain dan selama seorang individu dapat menikmati seluruh hasil kerjanya. Jumlah waktu rata-rata yang dibutuhkan untuk memproduksi sebuah benda menjadi ukuran nilainya dalam pertukaran mutual. Dengan sistem tersebut, kemampuan kapital untuk menjalankan riba dimusnahkan. Jikalau kapital tersedia untuk setiap orang, kapital tersebut tidak lagi menjadi sebuah instrumen yang bisa dipakai untuk mengeksploitasi.

Internationale pertama

Lihat pula: Mikhail Bakunin

Tokoh utama kaum anarkisme adalah Mikhail Bakunin, seorang bangsawan Rusia yang kemudian sebagian besar hidupnya tinggal di Eropa Barat. Ia memimpin kelompok anarkis dalam konverensi besar kaum Sosialis sedunia (Internasionale I) dan terlibat pertengkaran dan perdebatan besar dengan Marx. Bakunin akhirnya dikeluarkan dari kelompok Marxis mainstream dan perjuangan kaum anarkis dianggap bukan sebagai perjuangan kaum sosialis. Sejak Bakunin, anarkisme identik dengan tindakan yang mengutamakan kekerasan dan pembunuhan sebagai basis perjuangan mereka. Pembunuhan kepala negara, pemboman atas gedung-gedung milik negara, dan perbuatan teroris lainnya dibenarkan oleh anarkhisme sebagai cara untuk menggerakkan massa untuk memberontak.[2]Mikhail Bakunin merupakan seorang tokoh anarkis yang mempunyai energi revolusi yang dashyat. Bakunin merupakan ‘penganut’ ajaran Proudhon, tetapi mengembanginya ke bidang ekonomi ketika dia dan sayap kolektivisme dalam First International mengakui hak milik kolektif atas tanah dan alat-alat produksi dan ingin membatasi kekayaan pribadi kepada hasil kerja seseorang. Bakunin juga merupakan anti komunis yang pada saat itu mempunyai karakter yang sangat otoritar.

Pada salah satu pidatonya dalam kongres ‘Perhimpunan Perdamaian dan Kebebasan’ di Bern (1868), dia berkata:

Saya bukanlah seorang komunis karena komunisme mempersatukan masyarakat dalam negara dan terserap di dalamnya; karena komunisme akan mengakibatkan konsentrasi kekayaan dalam negara, sedangkan saya ingin memusnahkan negara –pemusnahan semua prinsip otoritas dan kenegaraan, yang dalam kemunafikannya ingin membuat manusia bermoral dan berbudaya, tetapi yang sampai sekarang selalu memperbudak, mengeksploitasi dan menghancurkan mereka.

Bakunin dan anarkis-anarkis lain dalam First International percaya bahwa revolusi sudah berada di ambang pintu, dan mengerahkan semua tenaga mereka untuk menyatukan kekuatan revolusioner dan unsur-unsur libertarian di dalam dan di luar First International untuk menjaga agar revolusi tersebut tidak ditunggangi oleh elemen-elemen kediktatoran. Karena itu Bakunin menjadi pencipta gerakan anarkisme moderen. Peter Kropotkin adalah seorang penyokong anarkisme yang memberikan dimensi ilmiah terhadap konsep sosiologi anarkisme.

Anarkisme model Bakunin, tidaklah identik dengan kekerasan. Tetapi anarkisme setelah Bakunin kemudian berkembang menjadi sebuah gerakan yang menjadikan kekerasan sebagai jalur perjuangan mereka. Dan puncaknya adalah timbulnya gerakan baru yang juga menjadikan sosialisme Marx sebagai pandangan hidupnya, yaitu Sindikalisme. gerakan ini menjadikan sosialisme Marx dan anarkisme Bakunin sebagai dasar perjuangan mereka. Bahkan gerakan mereka disebut Anarko-Sindikalisme.

Varian-varian anarkisme

Anarkisme, yang besar dan kemudian berbeda jalur dengan Marxisme, bukan merupakan suatu ideologi yang tunggal. Di dalam anarkisme sendiri banyak aliran-aliran pemikiran yang cukup berbeda satu dengan yang lain. Perbedaan itu terutama dalam hal penekanan dan prioritas pada suatu aspek. Aliran-aliran dan pemikiran-pemikiran yang berbeda di dalam Anarkisme adalah suatu bentuk dari berkembangnya ideologi ini berdasarkan perbedaan latar belakang tokoh, peristiwa-peristiwa tertentu dan tempat/lokasi dimana aliran itu berkembang.

Anarkisme-kolektif

Kelompok anarkisme-kolektif sering diasosiasikan dengan kelompok anti-otoritarian pimpinan Mikhail Bakunin yang memisahkan diri dari Internationale I. Kelompok ini kemudian membentuk pertemuan sendiri di St. Imier (1872). Disinilah awal perbedaan antara kaum anarkis dengan Marxis, diman sejak saat itu kaum anarkis menempuh jalur perjuangan yang berbeda dengan kaum Marxis. Perbedaan itu terutama dalam hal persepsi terhadap negara.

Doktrin utama dari anarkis-kolektif adalah “penghapusan segala bentuk negara” dan “penghapusan hak milik pribadi dalam pengertian proses produksi”. Doktrin pertama merupakan terminologi umum anarkisme, tetapi kemudian diberikan penekanan pada istilah “kolektif” oleh Bakunin sebagai perbedaan terhadap ide negara sosialis yang dihubungkan dengan kaum Marxis. Sedangkan pada doktrin kedua, anarkis-kolektif mengutamakan penghapusan adanya segala bentuk hak milik yang berhubungan dengan proses produksi dan menolak hak milik secara kolektif yang dikontrol oleh kelompok tertentu. Menurut mereka, pekerja seharusnya dibayar berdasarkan jumlah waktu yang mereka kontribusikan pada proses produksi dan bukan “menurut apa yang mereka inginkan”.

Pada tahun 1880-an, para pendukung anarkis kebanyakan mengadopsi pemikiran anarkisme-komunis, suatu aliran yang berkembang terutama di Italia setelah kematian Bakunin. Ironisnya, label “kolektif” kemudian secara umum sering diasosiasikan dengan konsep Marx tentang negara sosialis.

Anarkisme komunis

Lihat pula: Anarko-Komunisme
William Godwin

William Godwin

Ide-ide anarkis bisa ditemui dalam setiap periode sejarah, walaupun masih banyak penelitian yang harus dilakukan dalam bidang ini. Kita menemuinya dalam karya filsuf Tiongkok, Lao-Tse (yang berjudul Arah dan Jalan yang Benar[3].) dan juga filsuf-filsuf Yunani seperti Hedonists[4] dan Cynics[5] dan orang-orang yang mendukung ‘hukum alam’, khususnya Zeno yang menemukan aliran ‘Stoic’ yang berlawanan dengan Plato. Mereka menemukan ekspresi dari ajaran-ajaran Gnostics, Karpocrates di Alexandria dan juga dipengaruhi oleh beberapa aliran Kristen di Zaman Pertengahan di Prancis, Jerman dan Belanda. Hampir semua dari mereka menjadi korban represi. Dalam sejarah reformasi Bohemia, anarkisme ditemui dalam karya Peter Chelciky (The Net of Faith) yang mengadili negara dan gereja seperti yang dilakukan oleh Leo Tolstoy di kemudian hari.

Humanis besar lainnya adalah Rabelais yang dalam karyanya menggambarkan kehidupan yang bebas dari semua cengkraman otoritas. Sebagian dari pemrakarsa ideologi libertarian lainnya adalah La Boetie, Sylvan Marechal, dan Diderot. Karya William Godwin yang berjudul ‘Pertanyaan Mengenai Keadilan Politik dan Pengaruhnya Terhadap Moralitas dan Kebahagiaan’, merupakan bagian penting dari sejarah anarkisme kontemporer. Dalam karyanya tersebut Godwin menjadi orang pertama yang memberikan bentuk yang jelas mengenai filsafat anarkisme dan meletakannya dalam konteks proses evolusi sosial pada saat itu. Karya tersebut, boleh kita bilang adalah ‘buah matang’ yang merupakan hasil daripada evolusi yang panjang dalam perkembangan konsep politik dan sosial radikal di Inggris, yang meneruskan tradisi yang dimulai oleh George Buchanan sampai Richard Hooker, Gerard Winstanley, Algernon Sydney, John Locke, Robert Wallace dan John Bellers sampai Jeremy Bentham, Joseph Priestley, Richard Price dan Thomas Paine.

Godwin menyadari bahwa sebab-sebab penyakit sosial dapat ditemukan bukanlah dalam bentuk negara tetapi karena adanya negara itu. Pada saat ini, negara hanyalah merupakan karikatur masyarakat, dan manusia yang ada dalam cengkraman negara ini hanyalah merupakan karikatur diri mereka karena manusia-manusia ini digalakkan untuk menyekat ekspresi alami mereka dan untuk melakukan tindakan-tindakan yang merusak akhlaknya. Hanya dengan cara-cara tersebut, manusia dapat dibentuk menjadi hamba yang taat. Ide Godwin mengenai masyarakat tanpa negara mengasumsikan hak sosial untuk semua kekayaan alam dan sosial, dan kegiatan ekonomi akan dijalankan berdasarkan ko-operasi bebas diantara produsen-produsen; dengan idenya, Godwin menjadi penemu Anarkisme Komunis.

Errico Malatesta (1853–1932)

Errico Malatesta (1853–1932)

Namun demikian, kelompok anarkisme-komunis pertama kali diformulasikan oleh Carlo Cafiero, Errico Malatesta dan Andrea Costa dari kelompok federasi Italia pada Internasionale I. Pada awalnya kelompok ini (kemudian diikuti oleh anarkis yang lain setelah kematian Bakunin seperti Alexander Berkman, Emma Goldman, dan Peter Kropotkin) bergabung dengan Bakunin menentang kelompok Marxis dalam Internasionale I.

Berbeda dengan anarkisme-kolektif yang masih mempertahankan upah buruh berdasarkan kontribusi mereka terhadap produksi, anarkisme-komunis memandang bahwa setiap individu seharusnya bebas memperoleh bagian dari suatu hak milik dalam proses produksi berdasarkan kebutuhan mereka.

Kelompok anarkisme-komunis menekankan pada egalitarianism (persamaan), penghapusan hirarki sosial (social hierarchy), penghapusan perbedaan kelas, distribusi kesejahteraan yang merata, penghilangan kapitalisme, serta produksi kolektif berdasarkan kesukarelaan. Negara dan hak milik pribadi adalah hal-hal yang tidak seharusnya eksis dalam anarkisme-komunis. Setiap orang dan kelompok berhak dan bebas untuk berkontribusi pada produksi dan juga untuk memenuhi kebutuhannya berdasarkan pilihannya sendiri.

Anarko-Sindikalisme

Lihat pula: Anarko-Sindikalisme
Bendera yang digunakan dalam gerakan Anarko-Sindikalisme.

Bendera yang digunakan dalam gerakan Anarko-Sindikalisme.

Salah satu aliran yang berkembang cukup subur di dalam lingkungan anarkisme adalah kelompok anarko-sindikalisme. Tokoh yang terkenal dalam kelompok anarko-sindikalisme antara lain Rudolf Rocker, ia juga pernah menjelaskan ide dasar dari pergerakan ini, apa tujuannya, dan kenapa pergerakan ini sangat penting bagi masa depan buruh dalam pamfletnya yang berjudul Anarchosyndicalism pada tahun 1938.[6] Pada awalnya, Bakunin juga adalah salah satu tokoh dalam anarkisme yang gerakan-gerakan buruhnya dapat disamakan dengan orientasi kelompok anarko-sindikalisme, tetapi Bakunin kemudian lebih condong pada anarkisme-kolektif.

Anarko-sindikalisme adalah salah satu cabang anarkisme yang lebih menekankan pada gerakan buruh (labour movement). Sindikalisme, dalam bahasa Perancis, berarti “trade unionism”. Kelompok ini berpandangan bahwa serikat-serikat buruh (labor unions) mempunyai kekuatan dalam dirinya untuk mewujudkan suatu perubahan sosial secara revolusioner, mengganti kapitalisme serta menghapuskan negara dan diganti dengan masyarakat demokratis yang dikendalikan oleh pekerja. Anarko-sindikalisme juga menolak sistem gaji dan hak milik dalam pengertian produksi. Dari ciri-ciri yang dikemukakan diatas, anarko-sindikalisme sepertinya tidak mempunyai perbedaan dengan kelompok-kelompok anarkisme yang lain.

Prinsip-prinsip dasar yang membedakan anarko-sindikalisme dengan kelompok lainnya dalam anarkisme adalah : (1) Solidaritas pekerja (Workers Solidarity); (2) Aksi langsung (direct action); dan (3) Manajemen-mandiri buruh (Workers self-management).

Anarkisme individualisme

Lihat pula: Anarkisme individualisme

Anarkisme individualisme atau Individual-anarkisme adalah salah satu tradisi filsafat dalam anarkisme yang menekankan pada persamaan kebebasan dan kebebasan individual. Konsep ini umumnya berasal dari liberalisme klasik. Kelompok individual-anarkisme percaya bahwa “hati nurani individu seharusnya tidak boleh dibatasi oleh institusi atau badan-badan kolektif atau otoritas publik”. Karena berasal dari tradisi liberalisme, individual-anarkisme sering disebut juga dengan nama “anarkisme liberal”.

Tokoh-tokoh yang terlibat dalam individual-anarkisme antara lain adalah Max Stirner, Josiah Warren, Benjamin Tucker, John Henry Mackay, Fred Woodworth, dan lain-lain. Kebanyakan dari tokoh-tokoh individual-anarkisme berasal dari Amerika Serikat, yang menjadi basis liberalisme. Dan oleh karena itu pandangan mereka terhadap konsep individual-anarkisme kebanyakan dipengaruhi juga oleh alam pemikiran liberalisme.

Individual-anarkisme sering juga disebut “anarkisme-egois”, karena salah satu tokohnya, Max Stirner, menulis buku “Der Einzige und sein Eigentum” (b.Inggris : The Ego and Its Own / b.Indonesia : Ego dan Miliknya)[7] yang dengan cepat dilupakan, tetapi mengalami kebangkitan lima puluh tahun kemudian, buku tersebut lebih menonjolkan peran individu.

Buku Stirner itu pada dasarnya adalah karya filsafat yang menganalisa ketergantungan manusia dengan apa yang dikenal sebagai ‘kekuasaan yang lebih tinggi’ (higher powers). Dia tidak takut memakai kesimpulan- kesimpulan yang diambil dari hasil survei. Buku tersebut merupakan pembrontakan yang sadar dan sengaja yang tidak menunjukan kehormatan kepada otoritas dan karenanya sangat menarik bagi pemikir mandiri.

Varian-varian anarkisme lainnya

Selain aliran-aliran yang disebut diatas, masih banyak lagi aliran lain yang memakai pemikiran anarkisme sebagai dasarnya. Antara lain :

  • Post-Anarchism, yang dikembangkan oleh Saul Newman dan merupakan sintesis antara teori anarkisme klasik dan pemikiran post-strukturalis.
  • Anarki pasca-kiri, yang merupakan sintesis antara pemikiran anarkisme dengan gerakan anti-otoritas revolusioner diluar pemikiran “kiri” mainstream.
  • Anarka-Feminisme, yang lebih menekankan pada penolakan pada konsep patriarka yang merupakan perwujudan hirarki kekuasaan. Tokohnya antara lain adalah Emma Goldman.
  • Eko-Anarkisme dan Anarkisme Hijau, yang lebih menekankan pada lingkungan.
  • Anarkisme insureksioner, yang merupakan gerakan anarkis yang menentang segala organisasi anarkis dalam bentuk yang formal, seperti serikat buruh, maupun federasi. Definisi tentang anarkisme insureksioner dijelaskan dalam jurnal Do or Die dan pamflet-pamflet grup Venomous Butterfly yang insureksionis :
Adalah suatu bentuk, yang tidak dapat terbakukan dalam satu kubu, serta sangat beragam dalam perspektifnya. Anarkisme Insureksioner bukanlah sebuah solusi ideologis bagi masalah-masalah sosial, dan juga bukan komoditi dalam pasar ideologi yang digelar kapitalisme. Melainkan, ia adalah praktek berkelanjutan yang bertujuan untuk mengakhiri dominasi negara dan berteruskembangnya kapitalisme, yang membutuhkan analisa-analisa dan diskusi-diskusi untuk menjadikannya semakin maju dan berkembang. Menurut sejarahnya, kebanyakan anarkis, kecuali mereka yang percaya bahwa peradaban kapitalisme akan terus berkembang hingga titik kehancurannya sendiri, percaya bahwa sebentuk aktivitas insureksioner dibutuhkan untuk dapat mentransformasikan masyarakat secara radikal. Dalam artian ini, negara harus dipukul mundur dari eksistensinya oleh mereka yang tereksploitasi dan termarjinalkan, dengan demikian para anarkis harus menyerang: menunggu sistem ini melenyap dan menghancurkan dirinya sendiri adalah sebuah kekalahan telak.

Anarkisme dan agama

Lihat pula: Anarkisme dan agama

Pada dasarnya, sejak mulai dari Proudhon, Bakunin, Berkman, dan Malatesta sampai pada kelompok-kelompok anarkis yang lain, anarkisme selalu bersikap skeptik dan anti terhadap institusi agama. Dalam pandangan mereka, institusi keagamaan selalu bersifat hirarki dan mempunyai kekuasaan seperti layaknya negara, dan oleh karena itu harus ditolak. Tetapi dalam agama sendiri (Kristen, Yahudi, Islam, dll) sebenarnya pemikiran akan “anarkisme” dalam pengertian “without ruler” sudah banyak ditemui.

Anarkis-kristen

Dalam agama Kristen, konsep yang dipakai oleh kaum anarkis-kristen adalah berdasarkan konsep bahwa hanya Tuhan yang mempunyai otoritas dan kuasa di dunia ini dan menolak otoritas negara, dan juga gereja, sebagai manifestasi kekuasaan Tuhan. Dari konsep ini kemudian berkembang konsep-konsep yang lain misalnya pasifisme (anti perang), non-violence (anti kekerasan), abolition of state control (penghapusan kontrol negara), dan tax resistance (penolakan membayar pajak). Semuanya itu dalam konteks bahwa kekuasaan negara tidak lagi eksis di bumi dan oleh karena itu harus ditolak. Tokoh-tokoh yang menjadi inspirasi dalam perkembangan gerakan anarkis-kristen antara lain : Soren Kierkegaard, Henry David Thoreau, Nikolai Berdyaev, Leo Tolstoy, dan Adin Ballou.

Anarkisme dan Islam

Lihat pula: Islam dan anarkisme
Hakim Bey

Hakim Bey

Dalam agama Islam, kelompok anarkisme melakukan interpretasi terhadap konsep bahwa Islam adalah agama yang bercirikan penyerahan total terhadap Allah (bahasa Arab allāhu الله), yang berarti menolak peran otoritas manusia dalam bentuk apapun. Anarkis-Islam menyatakan bahwa hanya Allah yang mempunyai otoritas di bumi ini serta menolak ketaatan terhadap otoritas manusia dalam bentuk fatwa atau imam. Hal ini merupakan elaborasi atas konsep “tiada pemaksaan dalam beragama”. Konsep anarkisme-islam kemudian berkembang menjadi konsep-konsep lainnya yang mempunyai kemiripan dengan ideologi sosialis seperti pandangan terhadap hak milik, penolakan terhadap riba, penolakan terhadap kekerasan dan mengutamakan self-defense, dan lain-lain. Kelompok-kelompok dalam Islam yang sering diasosiasikan dengan anarkisme antara lain : Sufisme dan Kelompok Hashshashin.

Salah seorang tokoh muslim anarkis yang berpengaruh yaitu Peter Lamborn Wilson, yang selalu menggunakan nama pena Hakim Bey. Dia mengkombinasikan ajaran sufisme dan neo-pagan dengan anarkisme dan situasionisme. Dia juga merupakan seorang yang terkenal dengan konsepnya Temporary Autonomus Zones[1].

Yakoub Islam, seorang anarkis muslim, pada 25 Juni 2005 mempublikasikan Muslim Anarchist Charter (Piagam Muslim Anarkis), yang berbunyi :

  • Tiada tuhan selain Allah dan nabi Muhammad adalah utusannya;
  • Tujuan dari hidup ialah untuk membangun sebuah hubungan kasih yang damai dengan Yang Maha Esa melalui pemahaman untuk bertindak sesuai ajaran, wahyu, serta tanda-tandanya di dalam Penciptaannya juga hati manusia;
  • Demi tujuan seperti itu kita harus memiliki komitmen yang kuat untuk mempelajarinya dengan kehendak hati yang bebas, dan secara sadar menolak setiap bentuk kompromi dengan institusi kekuasaan, entah dalam bentukbnya yang yuridis, relijius, sosial, korporatik maupun politis;
  • Demi tujuan seperti itu kita harus aktif di dalam kegiatan merealisasikan keadilan yang bertujuan untuk membangun sebuah komunitas-komunitas dan masyarakat dimana pembangunan jiwa yang spiritual tidak terbatasi lagi oleh kemiskinan, tirani, dan ketidakpedulian.

Muslim Anarchist Charter menolak:

  • Kekuatan fasis yang bertujuan untuk memapankan kebenaran tunggal yang absolut, termasuk patriarki, kerajaan, dan kapitalisme.

Kritik atas anarkisme

Baik secara teori ataupun praktek, anarkisme telah menimbulkan perdebatan dan kritik-kritik atasnya. Beberapa kritik dilontarkan oleh lawan utama dari anarkisme seperti pemerintah. Beberapa kritik lainnya bahkan juga dilontarkan oleh para anarkis sendiri serta ada juga yang muncul dari kalangan kaum kiri otoritarian seperti yang dilontarkan oleh kalangan marxisme. Kritik biasanya dilontarkan sekitar permasalahan idealisme anarkisme yang mustahil dapat diterapkan di dunia nyata, seperti apa yang banyak dipecaya oleh para anarkis mengenai ajaran bahwa manusia pada dasarnya baik dan bisa menggalang solidaritas kemanusiaan untuk kesejahteraan manusia tanpa penindasan oleh sebagiannya yang hal tersebut banyak dibantah oleh para ekonom. Dan juga mengenai ajaran bahwa setiap manusia lahir bebas setara yang juga dibantah oleh para pakar sosiolog.[8]

Kritik juga dilontarkan atas penolakan anarkisme terhadap organisasi sentralis seperti pemerintahan kaum buruh, partai revolusioner, dan lain sebagainya, yang dianggap oleh banyak pihak justru akan melemahkan posisi kaum anarkis apabila revolusi terjadi. Hal ini juga yang dituduhkan kepada para anarkis saat revolusi Spanyol terjadi, paska pengambilan kekuasaan oleh kaum proletariat atas rezim fasis yang pada saat itu berkuasa di Spanyol.[9]

Catatan dan referensi

  1. ^ The Political Philosophy of Bakunin, Hal. 269, Mikhail Bakunin
  2. ^ Franz Magnis Suseno. Pemikiran Karl Marx : Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme, Jakarta, 1999
  3. ^ Lao tse, Arah dan Jalan yang Benar. diterjemahkan kedalam bahasa inggris dari the German of Alexander Ular. Penerbit the Inselbucherei, Leipzig
  4. ^ Salah satu Hedonis awal adalah Cyrenaics (400 SM), yang menggagaskan ide bahwa seni kehidupan adalah memaksimalkan setiap detik kehidupan untuk kenikmatan yang memuaskan indera dan intelek
  5. ^ Para pengikut Diogenes (400-325 SM), yang mengemukakan filsafat hidup bahwa dengan mereduksi keinginan seseorang sampai pada kebutuhan minimal, disatu sisi memerlukan disiplin diri yang keras, tapi disis lain akan mengantar pada swasembada/ketidaktergantungan dan kebebasan. Mazhab ini mengalami masa kejayaan pada tahun abad 3 SM dan muncul lagi pada abad 1 M.
  6. ^ Anarchosyndicalism oleh Rudolph Rocker diterbitkan kembali pada 7 September 2006
  7. ^ Stirner, Max (1907). The Ego and His Own. Diterjemahkan dari bahasa Jerman ke dalam bahasa inggris oleh Steven T. Byington. New York: Benj. R. Tucker
  8. ^ Zaro Sastrowardoyo, Anarkisme Sosial
  9. ^ Manifesto WORLD REVOLUTION

Daftar pustaka

My Downgrade, Bayar Utang itu Perlu…

October 14th, 2008

Mom, utangku banyak ke kamu. Dan rasa-rasanya kertas bonku sudah sekian tumpuk selalu penuh.
Kenapa kamu tak pernah menagih?

oh… malunya aku.

Aku tahu sih mom, apa yang telah kamu perbantukan ke aku adalah ikhlasmu.

Justru ini yang semakin membuatku malu padamu. Aku selalu merepotimu.


Aku menjadi beban hidupmu walau berkali-kali kau katakan kau tak minta kembalian..

Hai mom, kamu begitu baik. Sekali lagi aku malu..

Mom, i love you!!

Super Mom

October 3rd, 2008

Super Mom

Mom, you’re a wonderful mother,
So gentle, yet so strong.
The many ways you show you care
Always make me feel I belong. You’re patient when I’m foolish;
You give guidance when I ask;
It seems you can do most anything;
You’re the master of every task. You’re a dependable source of comfort;
You’re my cushion when I fall.
You help in times of trouble;
You support me whenever I call. I love you more than I can express;
You have my total respect.
If I had my choice of mothers,
You’d be the one I’d select!
By Joanna Fuchs

Jimatullah…

October 2nd, 2008
YAA SIIN:
KHUSUSSON ILLA:
SOEPRIYONO RIYADI
yaa-siin
[36:1] Yaa siin1264
waalqur-aani alhakiimi
[36:2] Demi Al Quraan yang penuh hikmah,
innaka lamina almursaliina
[36:3] Sesungguhnya kamu salah seorang dari rasul-rasul,
‘alaa shiraathin mustaqiimin
[36:4] (yang berada) diatas jalan yang lurus,
tanziila al’aziizi alrrahiimi
[36:5] (sebagai wahyu) yang diturunkan oleh Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang,
litundzira qawman maa undzira aabaauhum fahum ghaafiluuna
[36:6] Agar kamu memberi peringatan kepada kaum yang bapak-bapak mereka belum pernah diberi peringatan, karena itu mereka lalai.
laqad haqqa alqawlu ‘alaa aktsarihim fahum laa yu/minuuna
[36:7] Sesungguhnya telah pasti berlaku perkataan (ketentuan Allah) terhadap kebanyakan mereka, kerena mereka tidak beriman.
innaa ja’alnaa fii a’naaqihim aghlaalan fahiya ilaa al-adzqaani fahum muqmahuuna
[36:8] Sesungguhnya Kami telah memasang belenggu dileher mereka, lalu tangan mereka (diangkat) ke dagu, maka karena itu mereka tertengadah.
waja’alnaa min bayni aydiihim saddan wamin khalfihim saddan fa-aghsyaynaahum fahum laa yubshiruuna
[36:9] Dan Kami adakan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka dinding (pula), dan Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat.
wasawaaun ‘alayhim a-andzartahum am lam tundzirhum laa yu/minuuna
[36:10] Sama saja bagi mereka apakah kamu memberi peringatan kepada mereka ataukah kamu tidak memberi peringatan kepada mereka, mereka tidak akan beriman.
innamaa tundziru mani ittaba’a aldzdzikra wakhasyiya alrrahmaana bialghaybi fabasysyirhu bimaghfiratin wa-ajrin kariimin
[36:11] Sesungguhnya kamu hanya memberi peringatan kepada orang-orang yang mau mengikuti peringatan1265 dan yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah walaupun dia tidak melihatnya. Maka berilah mereka kabar gembira dengan ampunan dan pahala yang mulia.
innaa nahnu nuhyii almawtaa wanaktubu maa qaddamuu waaatsaarahum wakulla syay-in ahsaynaahu fii imaamin mubiinin
[36:12] Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuzh).
waidhrib lahum matsalan ash-haaba alqaryati idz jaa-ahaa almursaluuna
[36:13] Dan buatlah bagi mereka suatu perumpamaan, yaitu penduduk suatu negeri ketika utusan-utusan datang kepada mereka.
idz arsalnaa ilayhimu itsnayni fakadzdzabuuhumaa fa’azzaznaa bitsaalitsin faqaaluu innaa ilaykum mursaluuna
[36:14] (yaitu) ketika Kami mengutus kepada mereka dua orang utusan, lalu mereka mendustakan keduanya; kemudian Kami kuatkan dengan (utusan) yang ketiga, maka ketiga utusan itu berkata: “Sesungguhnya kami adalah orang-orang di utus kepadamu”.
qaaluu maa antum illaa basyarun mitslunaa wamaa anzala alrrahmaanu min syay-in in antum illaa takdzibuuna
[36:15] Mereka menjawab: “Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami dan Allah Yang Maha Pemurah tidak menurunkan sesuatupun, kamu tidak lain hanyalah pendusta belaka”.
qaaluu rabbunaa ya’lamu innaa ilaykum lamursaluuna
[36:16] Mereka berkata: “Tuhan kami mengetahui bahwa sesungguhnya kami adalah orang yang diutus kepada kamu”.
wamaa ‘alaynaa illaa albalaaghu almubiinu
[36:17] Dan kewajiban kami tidak lain hanyalah menyampaikan (perintah Allah) dengan jelas”.
qaaluu innaa tathayyarnaa bikum la-in lam tantahuu lanarjumannakum walayamassannakum minnaa ‘adzaabun aliimun
[36:18] Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami bernasib malang karena kamu, sesungguhnya jika kamu tidak berhenti (menyeru kami), niscaya kami akan merajam kamu dan kamu pasti akan mendapat siksa yang pedih dari kami”.
qaaluu thaa-irukum ma’akum a-in dzukkirtum bal antum qawmun musrifuuna
[36:19] Utusan-utusan itu berkata: “Kemalangan kamu adalah karena kamu sendiri. Apakah jika kamu diberi peringatan (kamu bernasib malang)? Sebenarnya kamu adalah kaum yang melampui batas”.
wajaa-a min aqshaa almadiinati rajulun yas’aa qaala yaa qawmi ittabi’uu almursaliina
[36:20] Dan datanglah dari ujung kota, seorang laki-laki dengan bergegas-gegas ia berkata: “Hai kaumku, ikutilah utusan-utusan itu”.
ittabi’uu man laa yas-alukum ajran wahum muhtaduuna
[36:21] Ikutilah orang yang tiada minta balasan kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.
wamaa liya laa a’budu alladzii fatharanii wa-ilayhi turja’uuna
[36:22] Mengapa aku tidak menyembah (Tuhan) yang telah menciptakanku dan yang hanya kepada-Nya-lah kamu (semua) akan dikembalikan?
a-attakhidzu min duunihi aalihatan in yuridni alrrahmaanu bidhurrin laa tughni ‘annii syafaa‘atuhum syay-an walaa yunqidzuuni
[36:23] Mengapa aku akan menyembah tuhan-tuhan selain Nya jika (Allah) Yang Maha Pemurah menghendaki kemudharatan terhadapku, niscaya syafaat mereka tidak memberi manfaat sedikitpun bagi diriku dan mereka tidak (pula) dapat menyelamatkanku?
innii idzan lafii dhalaalin mubiinin
[36:24] Sesungguhnya aku kalau begitu pasti berada dalam kesesatan yang nyata.
innii aamantu birabbikum faisma’uuni
[36:25] Sesungguhnya aku telah beriman kepada Tuhanmu; maka dengarkanlah (pengakuan keimanan) ku.
qiila udkhuli aljannata qaala yaa layta qawmii ya’lamuuna
[36:26] Dikatakan (kepadanya): “Masuklah ke syurga”1266. Ia berkata: “Alangkah baiknya sekiranya kamumku mengetahui.
bimaa ghafara lii rabbii waja’alanii mina almukramiina
[36:27] Apa yang menyebabkan Tuhanku memberi ampun kepadaku dan menjadikan aku termasuk orang-orang yang dimuliakan”.
wamaa anzalnaa ‘alaa qawmihi min ba’dihi min jundin mina alssamaa-i wamaa kunnaa munziliina
[36:28] Dan kami tidak menurunkan kepada kaumnya sesudah dia (meninggal) suatu pasukanpun dari langit dan tidak layak Kami menurunkannya.
in kaanat illaa shayhatan waahidatan fa-idzaa hum khaamiduuna
[36:29] Tidak ada siksaan atas mereka melainkan satu teriakan suara saja; maka tiba-tiba mereka semuanya mati.
alam yaraw kam ahlaknaa qablahum mina alquruuni annahum ilayhim laa yarji’uuna
[36:31] Tidakkah mereka mengetahui berapa banyaknya umat-umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan, bahwasanya orang-orang (yang telah Kami binasakan) itu tiada kembali kepada mereka1267.
waaayatun lahum annaa hamalnaa dzurriyyatahum fii alfulki almasyhuuni
[36:41] Dan suatu tanda (kebesaran Allah yang besar) bagi mereka adalah bahwa Kami angkut keturunan mereka dalam bahtera yang penuh muatan.
wakhalaqnaa lahum min mitslihi maa yarkabuuna
[36:42] dan Kami ciptakan untuk mereka yang akan mereka kendarai seperti bahtera itu1269.
wa-in nasya/ nughriqhum falaa shariikha lahum walaa hum yunqadzuuna
[36:43] Dan jika Kami menghendaki niscaya Kami tenggelamkan mereka, maka tiadalah bagi mereka penolong dan tidak pula mereka diselamatkan.
illaa rahmatan minnaa wamataa‘an ilaa hiinin
[36:44] Tetapi (Kami selamatkan mereka) karena rahmat yang besar dari Kami dan untuk memberikan kesenangan hidup sampai kepada suatu ketika.
wa-idzaa qiila lahumu ittaquu maa bayna aydiikum wamaa khalfakum la’allakum turhamuuna
[36:45] Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Takutlah kamu akan siksa yang dihadapanmu dan siksa yang akan datang supaya kamu mendapat rahmat”, (niscaya mereka berpaling).
wamaa ta/tiihim min aayatin min aayaati rabbihim illaa kaanuu ‘anhaa mu’ridhiina
[36:46] Dan sekali-kali tiada datang kepada mereka suatu tanda dari tanda tanda kekuasaan Tuhan mereka, melainkan mereka selalu berpaling daripadanya.
wa-idzaa qiila lahum anfiquu mimmaa razaqakumu allaahu qaala alladziina kafaruu lilladziina aamanuu anuth‘imu man law yasyaau allaahu ath‘amahu in antum illaa fii dhalaalin mubiinin
[36:47] Dan apabila dikatakakan kepada mereka: “Nafkahkanlah sebahagian dari reski yang diberikan Allah kepadamu”, maka orang-orang yang kafir itu berkata kepada orang-orang yang beriman: “Apakah kami akan memberi makan kepada orang-orang yang jika Allah menghendaki tentulah Dia akan memberinya makan, tiadalah kamu melainkan dalam kesesatan yang nyata”.
wayaquuluuna mataa haadzaa alwa’du in kuntum shaadiqiina
[36:48] Dan mereka berkata: “Bilakah (terjadinya) janji ini (hari berbangkit) jika kamu adalah orang-orang yang benar?”.
maa yanzhuruuna illaa shayhatan waahidatan ta/khudzuhum wahum yakhishshimuuna
[36:49] Mereka tidak menunggu melainkan satu teriakan saja1270 yang akan membinasakan mereka ketika mereka sedang bertengkar.
falaa yastathii’uuna tawshiyatan walaa ilaa ahlihim yarji’uuna
[36:50] lalu mereka tidak kuasa membuat suatu wasiatpun dan tidak (pula) dapat kembali kepada keluarganya.
wa-in kullun lammaa jamii’un ladaynaa muhdaruuna
[36:32] Dan setiap mereka semuanya akan dikumpulkan lagi kepada Kami.
waaayatun lahumu al-ardhu almaytatu ahyaynaahaa wa-akhrajnaa minhaa habban faminhu ya/kuluuna
[36:33] Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah bumi yang mati. Kami hidupkan bumi itu dan Kami keluarkan dari padanya biji-bijian, maka daripadanya mereka makan.
waja’alnaa fiihaa jannaatin min nakhiilin wa-a’naabin wafajjarnaa fiihaa mina al’uyuuni
[36:34] Dan Kami jadikan padanya kebun-kebun kurma dan anggur dan Kami pancarkan padanya beberapa mata air,
liya/kuluu min tsamarihi wamaa ‘amilat-hu aydiihim afalaa yasykuruuna
[36:35] supaya mereka dapat makan dari buahnya, dan dari apa yang diusahakan oleh tangan mereka. Maka mengapakah mereka tidak bersyukur?
subhaana alladzii khalaqa al-azwaaja kullahaa mimmaa tunbitu al-ardhu wamin anfusihim wamimmaa laa ya’lamuuna
[36:36] Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui.
waaayatun lahumu allaylu naslakhu minhu alnnahaara fa-idzaa hum muzhlimuuna
[36:37] Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah malam; Kami tanggalkan siang dari malam itu, maka dengan serta merta mereka berada dalam kegelapan.
waalsysyamsu tajrii limustaqarrin lahaa dzaalika taqdiiru al’aziizi al’aliimi
[36:38] dan matahari berjalan ditempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.
waalqamara qaddarnaahu manaazila hattaaaada kaal’urjuuni alqadiimi
[36:39] Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir) kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang tua1268.
laa alsysyamsu yanbaghii lahaa an tudrika alqamara walaa allaylu saabiqu alnnahaari wakullun fii falakin yasbahuuna
[36:40] Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya.
wanufikha fii alshshuuri fa-idzaa hum mina al-ajdaatsi ilaa rabbihim yansiluuna
[36:51] Dan ditiuplah sangkalala1271, maka tiba-tiba mereka keluar dengan segera dari kuburnya (menuju) kepada Tuhan mereka.
qaaluu yaa waylanaa man ba’atsanaa min marqadinaa haadzaa maa wa’ada alrrahmaanu washadaqa almursaluuna
[36:52] Mereka berkata: “Aduhai celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat-tidur kami (kubur)?”. Inilah yang dijanjikan (Tuhan) Yang Maha Pemurah dan benarlah Rasul-rasul(Nya).
in kaanat illaa shayhatan waahidatan fa-idzaa hum jamii’un ladaynaa muhdaruuna
[36:53] Tidak adalah teriakan itu selain sekali teriakan saja, maka tiba-tiba mereka semua dikumpulkan kepada Kami.
faalyawma laa tuzhlamu nafsun syay-an walaa tujzawna illaa maa kuntum ta’maluuna
[36:54] Maka pada hari itu seseorang tidak akan dirugikan sedikitpun dan kamu tidak dibalasi, kecuali dengan apa yang telah kamu kerjakan.
inna ash-haaba aljannati alyawma fii syughulin faakihuuna
[36:55] Sesungguhnya penghuni syurga pada hari itu bersenang-senang dalam kesibukan (mereka).
hum wa-azwaajuhum fii zhilaalin ‘alaa al-araa-iki muttaki-uuna
[36:56] Mereka dan isteri-isteri mereka berada dalam tempat yang teduh, bertelekan di atas dipan-dipan.
lahum fiihaa faakihatun walahum maa yadda’uuna
[36:57] Di syurga itu mereka memperoleh buah-buahan dan memperoleh apa yang mereka minta.
salaamun qawlan min rabbin rahiimin
[36:58] (Kepada mereka dikatakan): “Salam”, sebagai ucapan selamat dari Tuhan Yang Maha Penyayang.
waimtaazuu alyawma ayyuhaa almujrimuuna
[36:59] Dan (dikatakan kepada orang-orang kafir): “Berpisahlah kamu (dari orang-orang mu’min) pada hari ini, hai orang-orang yang berbuat jahat.
alam a’had ilaykum yaa banii aadama an laa ta’buduu alsysyaythaana innahu lakum ‘aduwwun mubiinun
[36:60] Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah syaitan? Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu”,
wa-ani u’buduunii haadzaa shiraathun mustaqiimun
[36:61] dan hendaklah kamu menyembah-Ku. Inilah jalan yang lurus.
walaqad adhalla minkum jibillan katsiiran afalam takuunuu ta’qiluuna
[36:62] Sesungguhnya syaitan itu telah menyesatkan sebahagian besar diantaramu, Maka apakah kamu tidak memikirkan ?.
haadzihi jahannamu allatii kuntum tuu’aduuna
[36:63] Inilah Jahannam yang dahulu kamu diancam (dengannya).
ishlawhaa alyawma bimaa kuntum takfuruuna
[36:64] Masuklah ke dalamnya pada hari ini disebabkan kamu dahulu mengingkarinya.
alyawma nakhtimu ‘alaa afwaahihim watukallimunaa aydiihim watasyhadu arjuluhum bimaa kaanuu yaksibuuna
[36:65] Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan.
walaw nasyaau lathamasnaa ‘alaa a’yunihim faistabaquu alshshiraatha fa-annaa yubshiruuna
[36:66] Dan jikalau Kami menghendaki pastilah Kami hapuskan penglihatan mata mereka; lalu mereka berlomba-lomba (mencari) jalan, Maka betapakah mereka dapat melihat(nya).
walaw nasyaau lamasakhnaahum ‘alaa makaanatihim famaa istathaa‘uu mudhiyyan walaa yarji’uuna
[36:67] Dan jikalau Kami menghendaki pastilah Kami rubah mereka di tempat mereka berada; maka mereka tidak sanggup berjalan lagi dan tidak (pula) sanggup kembali.
waman nu’ammirhu nunakkis-hu fii alkhalqi afalaa ya’qiluuna
[36:68] Dan barangsiapa yang Kami panjangkan umurnya niscaya Kami kembalikan dia kepada kejadian(nya)1272. Maka apakah mereka tidak memikirkan?
wamaa ‘allamnaahu alsysyi’ra wamaa yanbaghii lahu in huwa illaa dzikrun waqur-aanun mubiinun
[36:69] Dan Kami tidak mengajarkan syair kepadanya (Muhammad) dan bersyair itu tidaklah layak baginya. Al Quraan itu tidak lain hanyalah pelajaran dan kitab yang memberi penerangan.
liyundzira man kaana hayyan wayahiqqa alqawlu ‘alaa alkaafiriina
[36:70] supaya dia (Muhammad) memberi peringatan kepada orang-orang yang hidup (hatinya) dan supaya pastilah (ketetapan azab) terhadap orang-orang kafir.
awa lam yaraw annaa khalaqnaa lahum mimmaa ‘amilat aydiinaa an’aaman fahum lahaa maalikuuna
[36:71] Dan apakah mereka tidak melihat bahwa sesungguhnya Kami telah menciptakan binatang ternak untuk mereka yaitu sebahagian dari apa yang telah Kami ciptakan dengan kekuasaan Kami sendiri, lalu mereka menguasainya?
wadzallalnaahaa lahum faminhaa rakuubuhum waminhaa ya/kuluuna
[36:72] Dan Kami tundukkan binatang-binatang itu untuk mereka; maka sebahagiannya menjadi tunggangan mereka dan sebahagiannya mereka makan.
walahum fiihaa manaafi’u wamasyaaribu afalaa yasykuruuna
[36:73] Dan mereka memperoleh padanya manfaat-manfaat dan minuman. Maka mengapakah mereka tidak bersyukur?
waittakhadzuu min duuni allaahi aalihatan la’allahum yunsharuuna
[36:74] Mereka mengambil sembahan-sembahan selain Allah, agar mereka mendapat pertolongan.
laa yastathii’uuna nashrahum wahum lahum jundun muhdaruuna
[36:75] Berhala-berhala itu tiada dapat menolong mereka; padahal berhala-berhala itu menjadi tentara yang disiapkan untuk menjaga mereka.
falaa yahzunka qawluhum innaa na’lamu maa yusirruuna wamaa yu’linuuna
[36:76] Maka janganlah ucapan mereka menyedihkan kamu. Sesungguhnya Kami mengetahui apa yang mereka rahasiakan dan apa yang mereka nyatakan.
awa lam yaraa al-insaanu annaa khalaqnaahu min nuthfatin fa-idzaa huwa khashiimun mubiinun
[36:77] Dan apakah manusia tidak memperhatikan bahwa Kami menciptakannya dari setitik air (mani), maka tiba-tiba ia menjadi penantang yang nyata!
wadharaba lanaa matsalan wanasiya khalqahu qaala man yuhyii al’izhaama wahiya ramiimun
[36:78] Dan ia membuat perumpamaan bagi Kami; dan dia lupa kepada kejadiannya; ia berkata: “Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang, yang telah hancur luluh?”
qul yuhyiihaa alladzii ansya-ahaa awwala marratin wahuwa bikulli khalqin ‘aliimun
[36:79] Katakanlah: “Ia akan dihidupkan oleh Tuhan yang menciptakannya kali yang pertama. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk.
alladzii ja’ala lakum mina alsysyajari al-akhdhari naaran fa-idzaa antum minhu tuuqiduuna
[36:80] yaitu Tuhan yang menjadikan untukmu api dari kayu yang hijau, maka tiba-tiba kamu nyalakan (api) dari kayu itu”.
awa laysa alladzii khalaqa alssamaawaati waal-ardha biqaadirin ‘alaa an yakhluqa mitslahum balaa wahuwa alkhallaaqu al’aliimu
[36:81] Dan tidaklah Tuhan yang menciptakan langit dan bumi itu berkuasa menciptakan yang serupa dengan itu? Benar, Dia berkuasa. Dan Dialah Maha Pencipta lagi Maha Mengetahui.
innamaa amruhu idzaa araada syay-an an yaquula lahu kun fayakuunu
[36:82] Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: “Jadilah!” maka terjadilah ia.
fasubhaana alladzii biyadihi malakuutu kulli syay-in wa-ilayhi turja’uuna
[36:83] Maka Maha Suci (Allah) yang di tangan-Nya kekuasaaan atas segala sesuatu dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan.

Bam Bim Boom Bom!! Marketofobi?

September 26th, 2008

“Kok ada orang gila yang mau membeli lukisan anak muda dari yogyakarta dengan harga setinggi itu? Saya sendiri heran sampai sekarang” kata Nyoman Masriadi seperti dikutip dari kompas tanggal 17 Juni 2007. Begitulah ungkapan pelukis muda Nyoman Masriadi yang pada booming ke empat seni lukis Indonesia ─ setelah tahun 1987, 1991-1992 dan tahun 1999-2000. Karyanya laku terjual senilai Sing $ 360.000 atau sekitar Rp. 2,2 Milyar. Rasa heran, kaget sekaligus menakjubi sepak terjang pemilik modal yang diungkapkan Masriadi diatas tentulah tercurah pula oleh siapapun yang mendengarnya.

Lukisan, seperti yang kita ketahui, kini telah melampaui ranah asalnya. Tak lagi benda dua dimensional itu berfungsi sebagai media transendental─transformasi dari bentuk, rupa, dan wujud yang dilakukan oleh seseorang yang memiliki kelebihan mengolah rasa─Plato menyebutnya sebagai mimesis mimeseos. Perkembangan lukisan, sejak dari zaman purbakala hingga saat ini selalu seiring dengan kondisi sosial, politik hingga sampai pada masa kini, ekonomi telah menyeruak menyusup sistemis kesenirupaan yang pada prakteknya acapkali menimbulkan dampak-dampak yang paradoksal. Namun begitu lukisan telah memiliki takdir mujurnya sebagai primadona dibanding dengan benda-benda seni lainnya─karya seni grafis, patung, kriya dll. Alih-alih fungsi lukisan yang senantiasa fleksibel dan terkesan istimewa, para pemilik modalpun berbondong-bondong menginvestasikan uangnya untuk benda ajaib ini. Salah satu alasan yang logis menurut mereka karena lukisan mempunyai nilai artefak yang tinggi, dengan kata lain harga lukisan akan terus naik sehingga sangat aman untuk dijadikan investasi. Seperti penuturan seorang pemilik modal kepada penulis beberapa waktu lalu; “ Saya membeli sebuah lukisan affandi, kemudian saya jual lagi di Singapura, laba dari memutar lukisan itu saya gunakan untuk jalan-jalan ke Eropa.”

Berdasarkan penuturan pemilik modal diatas kepada penulis, bisa disimpulkan bahwa betapa lukisan sangat prospek untuk dijadikan mengais rupiah berkali lipat dari modal yang telah dikeluarkan. Hal ini kemudian menjadi alternatif yang signifikan bagi pemilik modal lain yang keberadaanya kini kian meningkat dengan geliat yang pesat. Yang sangat menyesakkan adalah ketika para pemilik modal itu tak lagi mengindahkan kaidah nilai dari karya itu sendiri, atau dengan kata lain mereka hanya berkeinginan menuai pundi-pundi rupiah saja─berinvestasi atas dasar tren bisnis dan mencari aman.

Tentang Idealisme

Dalam wilayah Art World terjadi pula pergeseran yang hingga saat ini menimbulkan beberapa indikator ketimpangan diantaranya adalah idealisme dan paradigma baik bagi seniman, galeri, kurator, kolektor, kolekdol, dan makelar. Arahmaiani menyebuti kondisi ini sebagai ironical boom; membawa cerah mentari sekaligus kemelut mendung atau disamping mendatangkan manfaat juga mendatangkan berbagai persoalan. Pendapat Arahmaiani bisa dikaji lebih dalam secara fenomenal. Salah satu diantaranya adalah idealisme seniman yang terkesan semrawut imbas dari geliat pasar yang sebenarnya sangat spekulatif.

Beberapa idealisme seniman di Indonesia dikategorikan Erianto Anas sebagai berikut:

  1. Seniman yang berpandangan bahwa idealisme itu sesuatu yang amat prinsip (kadang juga sakral) yang tanpa itu seniman bisa digugat keabsahan kesenimanannya. Tipologi idealisme ini sesuai dengan slogan seni untuk seni. Seni tidak boleh ditunggangi oleh apapun, termasuk dari unsur komersial atau pasar. Kata laku, terjual, pasar apalagi pemasaran terasa sangat menggelikan, yang secara psikologis seakan melucuti iman berkesenian atau semacam dosa kreativitas. Karya yang diusung dipasar dinilai akan merusak kemurnian karyanya. Boleh dikatakan ini sebentuk idealisme yang paling kental.
  2. Seniman yang memaknai idealisme secara agak lunak, sebutlah idealisme yang moderat. Bagi seniman tipe ini pasar memang tidak bisa dielakkan, malah harus. Dirinya tidak enggan terlibat bahkan setuju dalam mempublikasikan dan mensiasati pasar. Prinsipnya adalah bergayut dalam proses berkarya, bukan diluar karya. Dalam pengertian bahwa ketika berkarya dosa besar bagi si seniman membayangkan selera pasar (otentik, orisinal). Tetapi begitu karya yang dibuat itu selesai, maka karya itu sah untuk meluncur kemana ia akan bergulir, bisa sebagai koleksi atau dijual dipasaran. Baginya hal itu tidak mengurangi kemurnian sebagai sebuah karya yang otentik karena toh proses kreatifnya sudah berlalu.
  3. Seniman yang berpendirian bahwa sebuah karya memang untuk dijual, lain itu tidak. Membuat karya yang sesuai dengan selera pasar baginya tidak menjadi masalah (termasuk pesanan), malah dinilai sebagai kepekaan membaca situasi. Seniman tipologi ini sangat kooperatif dengan pasar, yang oleh pandangan lain bisa dinilai sebagai pelacur seni yang tidak memiliki keotentikan sendiri.
  4. Seniman dengan idealisme hipokrit (munafik). Istilah ini lebih mengacu kepada watak dan perilaku seniman saat berhadapan dengan pasar, ketimbang konsep dan sikap dalam berkarya. Dalam berkarya bisa jadi mereka termasuk dalam salah satu kategori diatas, namun ketika bersentuhan dengan dunia luar, apalagi pasar, maka sikapnya mulai mengambang yang oleh pihak lain sulit ditebak, lain dimuka lain dibelakang.

Dari pengkategorian diatas bisa dipahami bahwa permacaman idealisme seniman tidak bisa dilepaskan dari sudut mana si seniman memberlakukan harkat kejeniusan yang dimiliki. Dengan kata lain faktor kebutuhan mendasar atas seni itu sendirilah yang bakal mengantar mau ke arah mana ia akan melaju. Satu hal yang fa’al dan harus menjadi dasar sikap bagi seniman adalah bagaimana menciptakan suatu kondisi yang tidak merugikan diri sendiri. Kritisisme selayaknya mampu dijadikan sebuah acuan penting agar sebagai seniman tidak lantas menjadi alat propaganda yang hanya tersubordinasi oleh pihak-pihak yang hanya bersiap memanfaatkan atas dasar kepentingan individu mereka, karena bagaimanapun juga seniman adalah orang yang bekerja dengan menegasi diri sendiri. Sebagaimana Vincent Van Gogh berseloroh, “Tuhan telah gagal menciptakan dunia, dan senimanlah penyempurnanya.” Dalam kurun masa kini seloroh Van Gogh ini bisa di jadikan acuan bahwa para pemilik modal─kapitalis telah terhipnotis oleh para seniman sehingga mereka berbondong-bondong berpolitik dengan menggandakan uangnya. Penulis mengakronimkan para pemilik modal tersebut sebagai POLKADOT, Politik Kaum Dominasi Tulen. Mereka akan memakai jalan apa saja untuk makin mempertebal kantongnya, termasuk hasil-hasil kesenian yang sangat bisa dijadikan uang.

Geliat dan Geliut

Seperti yang kita ketahui seni rupa di tanah air terkasih ini baru saja tertimpa bom dari negeri china yang berbunyi BOOM!!! karenanya, bukanlah luluhlantak bumi dan material yang berhamburan namun luluhlantak dalam hal ini adalah paradigma art world yang tidak bisa dipungkiri mengimbaskan kusut masai yang naik turun. Ada pihak-pihak yang diuntungkan─seperti ungkapan Arahmaiani diatas, dan ada pihak-pihak yang menjerit mengaduh atas kondisi ini. Siapakah mereka?

Seniman, pastinya sebagai episentrum dari karya itu sendiri, tak sedikit yang merasa diuntungkan dari booming kali ini. Akibat dari gelombang negeri tirai bambu yang merajai pasar lukisan, para kolektor, kolekdol dan pemilik galeri sesegera mungkin mencari karya-karya bumiputera yang kechina-chinaan. Dalam salah satu tulisannya kritikus seni Agus Dermawan T. mendefinisikan karya tersebut sebagai karya yang bening, punya wacana, aneh-aneh dikit, berukuran besar─minimal dua depa, dan bisa dijual dari berbagai pintu. Inilah kontemporer itu, dan sesuai dengan pengamatan penulis selama ini, seniman muda khususnya kini sangat jarang yang berani menjadi diri mereka sendiri─walaupun pada tataran ini tidaklah salah namun sangat disayangkan jika berkarya hanya untuk mentarget ke-laku-annya─korban tren yang fatamorgana. Imbas dari hal itu adalah keseragaman karya dan saya yakin dan anda yang membaca tulisan ini jujur, kondisi ini sangat membosankan. Bolehlah seniman jadi jutawan mendadak, kolekdol yang makin kuat modalnya, galeri yang harus memenuhi kebutuhan pencari lukisan, selain seniman─ terutama yang muda tergeliut-geliut oleh dilema bak kapal yang terhempas gelombang besar, juga ada publik atau audiens yang menjadi korban. Publik kecewa karena imbas kontemporisasi, keragaman karya menjadi nyaris hilang, dan masyarakat yang belum pandai mengapresiasi karya seni kini harus tertinggal lagi akibat para spekulan yang sudah terjamin bakal semakin kaya tesebut.

Kurator, sebagai pembingkai wacana tak jauh berbeda kondisinya. Keberadaanyapun tergeliut oleh keharusan pemenuhan tuntutan pasar yaitu visualitas karya yang diusung disebuah galeri─mengedepankan karya kechina-chinaan yang lagi tren sebagai prioritas misalnya. Akibat dari kondisi tersebut tak jarang karya yang tergolong buruk secara estetika mati-matian berusaha dibedaki dan dimediasi sedemikian rupa. Harapannya adalah agar kolektor maupun art dealer mau membelinya, sedangkan karya yang memiliki nilai baik─dari gagasan dan estetika menjadi tersingkirkan dan tidak ter-cover.

Marketofobi

Marketofobi dalam bahasa Indonesia berarti ketakutan terhadap pasar. Dalam ranah seni rupa, pasar berarti jual beli karya seni oleh seniman dan peminatnya (Art dealer, kolektor, galeri dll). Menurut Kuss Indarto, pasar seni rupa terbentuk oleh empat hal:

Pertama: Gejala sistem pengetahuan. Seorang kolektor memutuskan untuk mengoleksi karya ditunjang oleh latar pendidikan, pergaulan sosial dan kultural yang mampu membentuk kesadaran apresiatif terhadap karya seni.

Kedua: Pasar dibentuk oleh meluber dan meruahnya modal kapitalis. Tendensi investasi bergeser semula dari properti dan produk-produk lainnya ke benda seni. Selanjutnya keyakinan membuat pusaran arus yang kuat bagi perpindahan modal kapitalis ke pasar seni rupa. Dari sini motif untuk mengembangkan kapital menjadi tendensi utama dalam berburu karya seni, pada prakteknya adalah dengan mengoleksi untuk kemudian menjual lagi dengan tujuan utama yaitu melipat gandakan margin keuntungan.

Ketiga: Pengintegrasian dari dua hal diatas. Pengetahuan dan melipahnya modal kapital. Apresiasi dan kemampuan untuk mengoleksi karya oleh sang kolektor merujukkannya pada tendensi dalam pencapaian kepentingan spiritual atau pleasure.

Keempat: Pasar terbentuk oleh kekuasaan yang terkonstruksi secara struktural. Kondisi ini terjadi karena telah terpatronkannya karya seni oleh hirarki birokrasi. Sebagai contoh ketika Presiden Soekarno mengoleksi karya beberapa pelukis, maka pejabat-pejabat lain tergerak pula melakukannya.

Pandangan bahwa pasar bersikap arbitrer kepada seniman pastinya bukan tanpa sebab. Sangat beralasan memang jika seniman berpandangan seperti itu mengingat ambisiusme polkadot yang membabi buta sangat merugikan seniman. Sebagai contoh, pernah ada art dealer yang menawar karya dengan harga yang sangat murah─tentunya hal ini mengatasnamakan hokum pasar, akibatnya seniman tersinggung karena tahu bahwa akan ada permainan dibalik itu. Sikap-sikap arogan yang mengesampingkan penghargaan kerja sang seniman inilah yang selalu menjadi sampah dan mengotori apresiasi publik. Seniman seperti petani, pihak yang selalu merasa dirugikan oleh tengkulak yang mencari keuntungan sebesar-besarnya. Inikah yang menjadi pemicu dari marketofobi? Pastinya pertanyaan sederhana ini memiliki kemungkinan jawaban yang teramat kompleks, rumit dan bahkan subjektif.

Dari kacamata “korban” terutama seniman yang pernah merasa dirugikan oleh pasar, pastinya dia memandang pasar senirupa adalah sebuah kebrutalan yang ngawur. Kejadian yang sering muncul adalah ”pembunuhan karakter” dan pengucilan karya. Jika dalam posisi ini seniman tak memiliki bargaining position sebelum bersinggungan dengannya, pastilah dia akan tak luput dari silang sengkulit dunia yang tak pernah pasti ini. Ingat! Pasar tak pernah pasti, PR nya adalah bagaimana seniman menyikapi dengan cerdas sehingga apa yang penulis ungkapkan diatas, bahwa seniman seperti petani tidak menggerus daya tawar sebagai individu yang menegasi dirinya sendiri. Alih-alih menyikapi pasar dengan paradigma arif adalah bagaimana menjalani “bisnis”─karena lukisan telah digeser fungsinya sebagai komoditi atau barang dagang dengan mengusahakan investasi seni para polkadot itu kearah yang sehat dan baik-baik saja. Siapakah yang sanggup melakukannya? Adalah pemilik modal yang sehat pula, mencintai karya seni seperti mencintai uangnya, mengembangkan kesenian seperti menggandakan uangnya, peduli terhadap nasib seniman seperti ketika dia mengangkangi dengan arogansinya.

Penulis menyadari bahwa segmentasi pasar senirupa sendiri sangat beragam, bukan hanya berpusar di galeri, balai lelang maupun studio seniman. Tetapi dalam tataran yang luas, saat penulis bertransaksi harga melukis mural untuk sekolahan misalnya, penulis menyadari bahwa kredibilitas selalu mengikuti dan pasar bisa dimanapun. Artinya, bagi seniman, selayaknya tidak menganggap urusan pasar adalah masalah kete belece, tetapi sesuatu yang akan bermuara entah kemana nantinya. Sebagai rambunya adalah idealisme dan karya itu sendiri.

Lagi, mencerna ungkapan Nyoman Masriadi di paragraf pertama, ada kegetiran yang terseruak dan kebanggaan yang terpendam… Bagaimana dengan anda jika menjadi Masriadi-Masriadi yang baru? Saya kira jawabannya sangat relatif, serelatif pasar itu sendiri. Semoga baik-baik saja.

Salam Budaya!

D.Kartika R.

(Mahasiswi Seni Lukis ISI Yogyakarta)

PROPOSAL pameran Hello Darkness Kartika

September 25th, 2008

PROPOSAL Pameran Seni Rupa

Hello, Darkness!

A. Latar Belakang

Mengacu pada konsep semiotika, karya seni––dalam hal Ini adalah seni rupa––adalah teks kebahasaan yang hadir dalam bentuk media-media yang terindera dan mewakili suatu konsep estetika tertentu dalam menyampaikan pesan. Dalam seni rupa penginderaan berkenaan dengan relasi antara realitas kebercahayaan atas suatu obyek visual dengan terkirimnya realitas-realitas yang tercahayai kepada penerima pesan. Lantas, Cahaya dan juga pencahayaan pun berkenaan dengan hukum fisika tentang terinderanya sebuah obyek oleh mata manusia.

Ketika semiotika mempostulatkan kehadiran sebuah teks dianggap ada setelah terjadinya proses pengiriman pesan yang termuat dalam karya seni rupa kepada alamat pesan dan pesan tersebut diterima oleh penerima dalam bentuk pemaknaan atas konsep yang terkirim, maka hukum fisika menjelaskan bahwa pengiriman tersebut berlangsung lewat medium cahaya; pengenalan obyek melalui alat Indera visual bergantung pada kondisi cahaya. Artinya, obyek seni rupa menjadi nihil apabila tidak tersedia cahaya (yang memadai) untuk menampakkan obyek yang hendak diinderai oleh penerima pesan. Ketika obyek seni rupa tercahayai untuk mewujudkannya, maka dalam pencahayaan tersebut pun berlangsung proses-proses penghadiran teks-teks yang terkandung dalam karya seni melalui medium-medium kebahasaan. Oleh karena itu, terdapat bidang yang sebangun antara pencahayaan dengan medium kebahasaan.

Lantas, proses pengiriman pesan kepada penerima pesan yang menghasilkan suatu penginderaan yang berujung pada pemahaman dan pemaknaan atas obyek penginderaan––baik melalui terminologi semiotika dan juga fisika––menyangkat masalah bagaimana proses pengiriman dikelola; bagaimana kualitas dan kuantitas pencahayaan dan medium kebahasaan menghadirkan pesan.

Proses pengiriman pesan yang tertampung dalam sebuah karya seni rupa atau obyek penginderaan melalui mata memerlukan sarana-sarana pengiriman; cahaya. Oleh karena Itu, tanpa cahaya, tidak pernah ada obyek penginderaan visual dan dengan sendirinya tidak ada seni rupa: tanpa medium-medium kebahasan, pesan-pesan dalam karya seni tak termaknai sehingga dianggap tidak ada.

Selanjutnya, landasan pemikiran serupa ini menjadi alat untuk menelaah perkembangan seni rupa di Indonesia dan kemudian dikerucutkan pada aspek-aspek kesenirupaan di Yogyakarta yang dipandang sebagai salah satu kantong geliat seni rupa di Indonesia.

1. Pameran sebagai Medium

Barangkali, sebelum terciptanya tradisi berpameran, seorang pekarya1 akan berkunjung ke rumah-rumah audiensnya untuk menghantarkan pesan dalam bentuk karya seni rupa. Mungkin dulu demikian. Namun ketika kita bersepakat bahwa relasi antara pekarya sebagai sebuah praktek kebudayaan, maka akan terlihat suatu kompleksitas antara pekarya-karyanya dengan audiens.

Kompleksitas yang dimaksud di sini mencakup persoalan kuratorial atau wilayah kritik seni dan bentuk penyajiannya sehingga tercipta medium-medium kultural antara karya dengan audiens. Melalui dan dalam medium-medium kultural inilah beropesi hukum fisika dan semiotika yang menciptakan realitas tertentu terhadap seni rupa secara umum.

Lantas kita pun dapat mengajukan suatu pernyataan bahwa ketersampaian pesan-pesan yang termuat dalam karya seni rupa bergantung pada siapa yang menguasai medium-medium kultural tersebut. Penguasaan atas medium-medium kultural dalam membangun relasi antara karya seni dengan audiens inilah yang kerap menjadi gonjang-ganjing dan peroalan pelik tentang keberadaan seorang pekarya dan otonomi dirinya terhadap karya dan proses berkarya atau keleluasaannya dalam menghimpun pesan melalui karya seni rupa.

Melalui penguasaan atas medium-medium kultural, pihak-pihak tertentu, seperti yang menggelisahkan bagi pekarya-pekarya baru, muncul pengendalian bentuk, corak dan langgam karya yang di dorong oleh kepentingan ekonomi. Kepentingan ekonomi yang hadir dalam medium-medium kultural ini mampu menjinakkan idealisme dan proses berkarya seorang pekarya agar dapat memasuki pasar. Maka tak jarang, pekarya-pekarya baru yang hendak merintis keberadaannya melalui dunia seni rupa harus menggadaikan idealisme kesenirupaannya demi keberterimaan pasar terhadap karyanya. Perihal yang amat mencengangkan dan juga sangat mengkhawatirkan adalah, perupa kemudian dibuat terdesak oleh pihak yang menguasai medium-medium kultural terhadap tuntutan ekonomis yang bersifat elementar: Kebutuhan untuk bertahan hidup dan sedikit demi sedikit menapaki jalan untuk dapat melanjutkan hidup yang telah dipertahankan dengan susah payah.

Tuntutan ekonomi ini pun berkenaan dengan realitas umum ekonomi-politik di Indonesia yang memaksakan diri memasuki pasar ekonomi pasar global yang amat bergantung pada penguasaan modal sehingga tidak semua orang punya kesempatan untuk hidup layak (meski hidup layak sendiri pun bergantung pada kebijakan politik penguasa dalam mengidentifikasi standar hidup dan merumuskan konsep kesejahteraan). Maka, dengan sendiri self-determination pekarya terhadap dirinya menjadi sangat lemah sehingga muncullah praktek-prektek penggadaian idealisme kesenian dan proses kesenian oleh pekerya-pekarya yang telah dibuat terdesak dan kehilangan otonomi.

Dalam praktek penguasaan medium-medium kultural ini, kritik seni dan juga praktek kuratorial terhadap karya seni justru berjalan melalui praktek-praktek kehumasan guna mendekatkan dan mengakrabkan hasil karya seorang pekarya dengan keinginan pasar. Artinya di sini, kritik seni dan juga praktek kuratorial sebagai aktivitas kehumasan, bertujuan untuk menciptakan pasar agar pasar seni dapat diukur, dikendalikan dan kemudian memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Dari sinilah muncul trend terhadap corak, gaya, langgam dan juga mazhab––bila dapat dinamai demikian––kesenirupaan. Dan keberadaan seorang pekarya amat bergantung pada kemampuannya untuk memasuki corak, gaya, langgam dan juga mazhab kesenirupaan yang tengah dominan. Lantas, galeri seni rupa, pameran-pameran seni rupa, kurasi dan kritik seni diperalat untuk membuktikan betapa berterimanya corak, gaya, langgam dan mazhab kesenirupaan tersebut.

Dari pengamatan secara fisika dan semiotika terhadap medium-medium kultural dalam membangun relasi antara karya dengan audiens–– terutama kolektor––inilah muncul ketidakadilan bagi sekelompok pekarya sehingga bagi mereka, karyanya tak sempat dicahayai. Ketidaksempatan inilah yang kemudian keberadaan seorang pekarya pun hilang, sebagaimana kita tak dapat menangkap citra visual atas karya-karya seni rupa ketika mati lampu atau dalam keadaan gelap gulita.

Maka, lahirlah suatu kegelapan dalam realitas kesenirupaan bagi kelompok tertentu yang tidak punya “kemampuan” berdamai dengan pihak penguasa medium-medium kultural. Atas realitas kesenirupaan seperti itu, maka lahirlah suatu parodi eksistensial dalam konsep cartesian. diriku ada ketika karyaku dicahayai.

2. Kegelapan Sebagai Metafor

Pada prinsipnya, manusia dapat melihat kegelapan namun tidak dapat melihat dalam kegelapan. Melalui kredo semacam ini, maka kegelapan menjadi metafora atas realitas kesenirupaan; metafora atas penguasaan medium-medium kultural dalam menghadirkan karya oleh pihak-pihak yang berdiri tegak demi kepentingan ekonomi pasar.

Manakala kegelapan diposisikan sebagai metafora, maka ia pun memuat berbagai pesan. Dari sinilah dapat digagas dan kemudian dikembangkan suatu dialektika atas realitas kesenirupaan yang mewujud dalam komodifikasi karya seni yang menghasilakan booming lukisan yang amat mencengangkan sehingga menguntungkan kurator dan galeri, mematikan kritik seni, memperpanjang nafas kolektor dan menciptakan wilayah pusat dan pinggiran dalam penghadiran sebuah karya kepada audiens yang luas. Dialektika itu bisa jadi berbentuk antitesis dan dapat pula sintesa atas kegelapan yang tengah berlangsung.

B. Pameran yang Bercerita tentang Kegelapan

Berangkat dari kenyataan bahwa medium-medium kultural dalam menghadirkan karya seni rupa kepada audiens dikuasi oleh pihak tertentu untuk memaksimalkan peluang-peluang ekonomi, maka perlu digagas sebuah pameran yang mampu berkata tentang keliyanan (the otherness) tanpa memperkukuh mentalitas perkubu-kubuan dan tanpa memerangi dan memusnahkan corak, gaya, langgam dan mazhab kesenirupaan yang telah ada. Sesuatu yang telah ada dalam relasi antara pekarya-karya dengan audiens selama ini, membutuhkan mitra dialog dengan pihak-pihak yang diliyankan; pekarya baru, pekarya perempuan atau pekarya yang tidak terhimpun dalam kantong-kantong senirupa yang dominasi (secara ekonomis).

Dari sini, pameran seni rupa pun musti dipandang sebagai sebuah pengejawantahan suatu dialektika atas realitas seni rupa mayor yang mewakili narasi-narasi (yang sedang) besar (grand narration). Oleh karena itu, penggagasan suatu pameran bisa jadi berangkat dari realitas kesenirupaan yang memunculkan pihak liyan yang terjebak dalam komidifikasi praktek kesenirupaan sebagai obyek kepentingan ekonomi. Maka kini, tengah digagas sebuah pameran atas potensi-potensi pengiriman pesan melalui medium-medium kultural untuk mencapai alamat-alamat penerima agar kehadiran dalam kondisi tanpa cahaya bagi karya-karya yang terabaikan menjadi tercahayai sehingga keberdaannya terinderai dan bergerak menuju wilayah-wilayah pemaknaan para audiens.

C. Maksud dan Tujuan

1. Dari Kehendak menuju Otonomi Pekarya

Pameran yang tengah digagas ini, di samping hendak memunculkan sebuah dialektika atas realitas kesenirupaan saat ini yang kerap menghasilkan liyan, pun digagas sebagai upaya menghadirkan pihak liyan yang selama ini terkurung dalam kegelapan. Dengan demikian, sebagai sebuah obyek visual, pameran ini bermaksud untuk menghadirkan berbagai karya kepada khalayak melalui aspek-aspek pencahayaan yang dikuasi oleh pihak yang memegang kendali penghadiran melalui medium-medium kultural dalam membangun relasi antara pekarya-karya dengan audiens.

2. Dari Otonomi Pekarya menuju ke Kehadiran Penuh

Kehendak dalam menggagas pameran yang berangkat dari kegelapan sebagai metafora, bertujuan untuk mengirim berbagai pesan dalam bentuk seni rupa kepada audiens. Lantas upaya pengiriman pesan melalui penghadiran karya-karya seni rupa terpilih dalam pameran ini pun dimaksudkan untuk mengurai kembali kekusutan dalam relasi antara pekarya sebagai produsen pesan dalam bentuk karya seni rupa kepada penerima pesan. Sampainya berbagai pesan ke pemilik alamat, tentu akan menghasilkan berbagai bentuk pemaknaan oleh penerima dan juga membuka peluang terciptanya berbagai corak, gaya, langgam dan mazhab kesenirupaan yang mampu memeriahkan dialog-dialog kesenian.

D. Tema Pameran

Pameran yang berangkat atas landasan berfikir fisika dan semiotika atas keteinderaan obyek-obyek visual, mengusung tema:

“Melongok ke dalam Gelap, Bergerak menuju Kehadiran”

E. Judul Pameran

Melalui “Melongok ke dalam Gelap, Bergerak menuju Kehadiran,” maka terpautlah suatu jalinan antarteks atas kegelapan sebagai metafora dengan kegelapan dan kebisuan yang didendangkan oleh Simon and Garfunkel melalui syair lagu The Sound of Silence seperti berikut ini:

Hello, darkness, my old friend

I’ve come to talk with you again

Because a vision softly creeping

Left its seeds while I was sleeping

And the vision

That was planted in my brain

Still remains

Within the sound of silence

And in the naked light I saw
Ten thousand people, maybe more
People talking without speaking
People hearing without listening
People writing songs that voices never share…
And no one dare
Disturb the sound of silence.

“Fools,” said I, “you do not know
Silence like a cancer grows.”
“Hear my words that I might teach you,
Take my arms that I might reach you.”
But my words like silent raindrops fell,
And echoed in the wells of silence.

And the people bowed and prayed
To the neon god they made.
And the sign flashed out its warning
In the words that it was forming.
And the signs said: “The words of the prophets
Are written on the subway walls
And tenement halls,
And whisper’d in the sound of silence.”

Melalui intertekstualitas “Melongok ke dalam Gelap, Bergerak menuju Kehadiran,” sebagai pembahasaan atas tema pameran dengan lagu The Sound of Silence ini, maka pameran ini diberi judul:

Hello, Darkness!”

Untuk menggenapi keterwakilan karya-karya terpilih melalui judul pameran ini, disertai pula anak judul:

“the sign flashed out its warning in the words that it was forming.”

Secara utuh, pameran ini berjudul:

Hello, Darkness!: The Sign Flashed out its warning in the words that it was forming.” – Sebuah Pameran Tunggal Dwi Kartika Rahayu

Dari penggunaan judul ini, maka yang dimaksud dengan in the words that it was forming dalam pameran ini adalah lukisan-lukisan dan materi-materi pameran seni rupa yang terpilih.

F. Pemilahan Karya

Dalam pameran ini, Dwi Kartika Rahayu memiliki otonomi yang luas dalam memuati pameran dengan materi-materi seni rupa yang hendak dipamerkan berdasarkan tema pameran ini. Karya-karya yang dihadirkan dipilih berdasarkan pemaknaan yang dilakukan oleh Dwi Kartika Rahayu atas kegelapan sebagai metafora yang secara umum diwakili oleh judul pameran.

Langkah-langkah kuratorial dijalankan melalui pengamatan atas berbagai aktivitas berkesenian pekarya oleh kurator yang diperoleh dari pesan-pesan yang termaktub dalam karya-karya yang dipilih oleh pakarya. Dalam pameran ini, kuratorial berarti, identifikasi obyek-obyek seni rupa oleh pihak di luar pekarya melalui kegelapan sebagai metafora dalam bentuk penafsiran semiotis.

G. Waktu Pelaksanaan

Pameran ini akan dilaksanakan pada:

Hari : Minggu (Pembukaan Pameran)

Tanggal : 25 s.d. 31 Mei 2009

Tempat : Raya Contemporary Art Gallery (RCA Gallery)

H. Agenda Pameran

  1. Pembukaan – Sindhunata

  2. Penutupan – Suwarno Wisetrotomo (kritikus seni)

  3. Lelang Karya

I. Sasaran Pameran

1. Seniman

2. Pengamat / Kritikus Seni

3. Kolektor Karya

4. Galleriawan / Pengusaha Galleri Seni

5. Pelajar / Mahasiswa

6. Budayawan

7. Umum

J. Anggaran Pembiayaan

Berdasarkan rekapitulasi pembiayaan (rincian terlampir), pameran ini membutuhkan biaya sebesar, Rp 150.000.000,-

  1. Ketersediaan Dana: Rp. 25. 000.000,-

  2. Kekurangan Dana: Rp. 125. 000.000,-

  3. Target Fundraising Rp. 125.000.000,-

K. Publikasi

    1. Media Publikasi

    2. Peliputan

    3. Kritik Seni (Bekerja sama dengan media masa cetak tertentu untuk memuat suatu analisis seni atas pameran secara keseluruhan oleh kritikus yang memahami karya seni sebagai pesan – semiotika)

L. Kepanitiaan

Sebagai sebuah peristiwa kesenian, penyelanggaraan pameran ini diketuai oleh Susilo Bambang Yudhoyono, dengan susunan kepanitian tertera dalam lampiran.

M. Penutup

Demikian proposal ini dibuat untuk dapat dipelajari oleh pihak-pihak yang tertarik untuk mewujudkan pameran ini.

Yogyakarta, 4 Juni 2008

Dwi Kartika Rahayu

Lampiran 1

Anggaran

  1. Kesekretariatan

(telp, computer, surat menyurat, proposal) Rp. 2.000.000,-

2. Dokumentasi Rp. 5.000.000,-

3. Publikasi Rp. 3.000.000,-

4. Penerbitan buku/katalog

a. Biaya produksi Rp. 70.000.000,-

b. Fee Penulis @ Rp. 2.500.000,- x 2 orang Rp. 5.000.000,-

c. Translater (English) Rp. 2.000.000,-

d. Editor Rp. 3.000.000,-

5. Produksi Karya Rp. 60.000.000,-

6. Acara pembukaan Rp. 4.000,000,-

7. Konsumsi (panitia, pembukaan, diskusi) Rp. 3.000.000,-

8. Perlengkapan dan Display Rp. 6.000.000,-

9. Akomodasi panitia Rp. 3.000.000,-

10. Transportasi Rp. 2.000.000,-

Jumlah Rp. 150.000.000,-

Lampiran 2

BENTUK PARTISIPASI

PENAWARAN PARTISIPASI DAN SPONSOR

Untuk mensukseskan kegiatan “Pameran Tunggal Dwi Kartika Rahayu”

maka panitia menawarkan kepada berbagai pihak/Perusahaan/Pribadi untuk berpartisipasi dalam bentuk sponsor, yang terdiri dari :

I. SPONSOR CROWN dengan nilai sponsorship Rp. 100.000.000,-

II. SPONSOR DIAMOND dengan nilai sponsorship Rp. 40.000.000,-

III. SPONSOR PLATINUM dengan nilai sponsorship Rp. 25.000.000,-

IV. SPONSOR GOLD dengan nilai sponsorship Rp. 15.000.000,-

V. SPONSOR SILVER dengan nilai sponsorship Rp. 7.500.000,-

VI. SPONSOR COOPER dengan nilai sponsorship Rp. 5.000.000,-

VII. SPONSOR BRASS dengan nilai sponsorship Rp. 3.500.000,-

VIII. SPONSOR FERRUM dengan nilai sponsorship Rp. 1.750.000,-

IX. DONATUR tidak mengikat

Adapun kompensasi / imbalan yang akan diperoleh masing-masing sponsor dapat dilihat pada tabel yang terdapat pada tabel berikut (tentang keterangan kompensasi/imbalan yang akan diperoleh sponsor).

KOMPENSASI / IMBALAN YANG AKAN DIPEROLEH SPONSOR

A. Media Cetak

No

Imbalan

JML

Keterangan

Sponsor

I

II

III

IV

V

VI

VII

VIII

IX

1

Katalog

1000

1

1

1

1

1

1

1

1

2

Undangan Pameran

500

1

1

1

1

1

1

1

1

3

Undangan Pembukaan Pameran

250

1

1

1

4

Tanda Panitia

200

1

1

1

5

Poster Pameran

500

1

1

1

6

Kaos Panitia

100

1

Jumlah Jenis kompensasi

6

5

3

2

2

2

2

2

2


B. Media Promosi Outdoor

No

Imbalan

JML

Keterangan

Sponsor

I

II

III

IV

V

VI

VII

VIII

IX

1

Spanduk

10

1

1

2

Umbul-umbul

10

1

3

Baligo

3

1

Jumlah Jenis kompensasi

3

1


DAFTAR MEDIA PROMOSI YANG DISEDIAKAN

A. Media Cetak

No

Jenis Media

Ukuran Space

Sponsor

Nilai Sponsorship
Per Buah (Rp)

Eksp

Keterangan

1

Poster
43 x 48 cm

Halaman Muka

4 x 10 cm

5.000

2000

Full Colour
Kertas Art Paper

2

katalog

23 x 32 cm
35 Hal.

a. Halaman Muka Luar
6 x 11 cm

4.000

1000

3 Warna

b. Halaman Muka Dalam
20 x 11 cm

4.000

1000

1 Warna

c. Halaman Belakang Luar
20 x 11 cm

2.000

1000

3 Warna

d. Halaman Belakang Dalam
20 x 11 cm

1.500

1000

1 Warna

e. Halaman Isi
20 x 11 cm

1.000/hal.

1000

1 Warna tersedia 3 halaman

3

Tanda Panitia

9,5 x 5,5 cm

2,5 x 2,5 cm

5.000

50

3 Warna

4

Undangan Pameran
20 x 30 cm

a. Amplop

5 x 10 cm

5.000

1000

Fancy Paper Fullcolour

b. Isi Undangan bagian muka luar

2 x 18 cm

2.000

1000

Fancy Paper Fullcolour

c. Isi Undangan bagian belakang

18 x 18 cm

8.000

1000

Fancy Paper Fullcolour

8

Undangan Pembukaan Pameran
20 x 30 cm

a. Amplop

5 x 10 cm

5.000

300

Fancy Paper Fullcolour

b. Isi Undangan bagian muka luar

2 x 18 cm

2.000

300

Fancy Paper Fullcolour

c. Isi Undangan bagian belakang

18 x 18 cm

8.000

300

Fancy Paper Fullcolour

B. Media Promosi Outdoor

No

Jenis Media

Ukuran Space

Sponsor

Nilai Sponsorship
Per Buah (Rp)

Eksp

Keterangan

1

Spanduk

90 x 800 cm

a. 100 x 90 cm
(Sebelah kiri)

300.000

10

Dipasang dilokasi strategis

b. 100 x 90 cm (Sebelah Kanan)

300.000

10

Dipasang dilokasi strategis

2

Umbul-umbul

500 x 90 cm

a. 90 x 100 cm

250.000

20

Dipasang dihalaman depan dan belakang Hotel Savoy Homann

b. 80 x 100 cm

200.000

20

Dipasang dihalaman depan dan belakang Hotel Savoy Homann

3

Baligo

200 x 400 cm

50 x 200 cm

5.000.000

3

Acrilyc Transparant

C. Media Elektronik

Disebutkan oleh seniman sebagai perusahaan pendukung kegiatan pada saat wawancara dengan TVRI untuk acara dunia dalam berita.

D. Media Promosi Indoor

No

Jenis

Nilai Sponsorship
per satuan (Rp)

Keterangan

1

Memasang spanduk perusahaan
ukuran 300 x 90 cm di Ballroom
tanggal 25 – 31 Mei 2009

500.000/ Spanduk

Max. 8 Spanduk

2

Memasang spanduk perusahaan
ukuran 300 x 90 cm di Public Area
tanggal 25 – 31 Mei 2009

500.000/Spanduk

E. Penjualan Stand

No

Jenis

Nilai Sponsorship
per satuan (Rp)

Keterangan

1

Area parkir halaman depan
tempat kegiatan
tanggal 25 – 31 Mei 2009

20.000.000

Terbagi menjadi 5 kavling

2

Ruang tunggu
ukuran 2 x 3 m
tanggal 25 – 31 Mei 2009

5.000.000

Dapat menjual produk/jasa

3

Coridor belakang Ballroom
ukuran 1,5 x 2 m
tanggal 25 – 31 Mei 2009

1.000.000

Tersedia 8 kavling

Lampiran 3

ORGANISASI KEPANITIAAN

Pelindung :

Menteri Seni dan Budaya

Prof. Dr. Soepriyono Riyadi

Penasehat :

  1. Suwarno Wisetrotomo (kritikus dan kurator internasional)

  2. Mikke Susanto (Kurator Handal)

  3. Y. Sumaryanto Nurjoko (Pelukis dan staf pengajar ISI Yogyakarta)

Penanggung Jawab :

Susilo bambang Yudoyono

koordinator umum:

Ucok Siregar

Timkerja Martogolek Yogyakarta

Ketua Umum :

Sadat Laope

Sekretaris Umum :

Anastasia Jessica

Bendahara Umum :

Nurul Aini Nastiti


SEKSI-SEKSI :

  1. Sie Acara :

    • Icha (Timkerja Martogolek Yogyakarta)

    • Y.E. Agung

  2. Sie Humas & Publikasi :

    • Sandra Loecia

    • Ratna Wuni

  3. Sie Perlengkapan & Penataan Ruang :

    • Sigit Vario

    • Agus Adi

    • Wisnu Auri Wibowo

    • Sunardi

    • Rudi Wuryoko

    • Antok

    • Didit Pratomo

  4. Sie Dokumentasi & Transportasi : Novena Assen

  5. Sie Konsumsi : Fitria Asmawitra

  6. Sie Perencanaan & Desain Grafis :

    • Olsy Vinoli Arnof

    • Numan Maufur

    • Teguh

Lampiran 4

AGENDA PAMERAN

19.00 – 19.30

Persiapan penerimaan tamu undangan. (diiringi oleh musik)

  • Pengklasifikasian undangan.

  • Undangan diterima panitia.

  • Tamu mengisi buku tamu ditempat yang disediakan.

  • Pembagian Katalog

19.30 - 19.40

Semua peserta/undangan siap.
MC,menyambut kedatangan Menteri Seni dan Budaya.

19.40 - 20.00

Upacara siap dimulai.

20.00 - 20.10

Pembacaan Susunan Acara (MC).

20.15 – 20.20

Sambutan Dwi Kartika Rahayu

20.20 – 20.25

Orasi Budaya oleh Rm. Sindhunata

20.25 – 20.30

Sambutan dari Menteri Seni dan Budaya dilanjutkan peresmian.

20.30 – 22.00

Melihat Lukisan

22.00 - ……..

Ramah tamah / bebas.

Lampiran 5

KONDISI PAMERAN

  1. Lokasi Pameran

  2. Skema Display

  3. Bagan Ruang Pamer

  4. Materi-materi Pameran (Karya, peralatan tata cahaya dan pendukung, dll.)

Lampiran 6

PORTO FOLIO

Nama : Dwi Kartika Rahayu

Tempat tanggal lahir : Magetan 25 Mei 1980

Alamat : Jl.Parangtritis 140

Yogyakarta

Hp : 087838222599

Pameran Seni Rupa Akademik

2007 : Pameran Seni Lukis VI di Lorong Seni Murni ISI Yogyakarta.

2003 : Pameran Sketsa Dua di Lorong Seni Murni ISI Yogyakarta.

  1. : Pameran Lukisan Alam Benda Di Gedung Modern School of

Design

Pameran Seni Lukis Cat Minyak Di Gedung Modern School of

Design

  1. : Pameran Seni Lukis Cat Air Di Gedung Modern School of Design

Pameran Nirmana Di Gedung Modern School of Design

Pameran Seni Rupa Non Akademik:

Pameran Tunggal

  1. : “Hello Darkness!” Raya Art Gallery

  1. : “I am like a bird” Pitt Art Museum of America*

Pameran Bersama

  1. : “Back Home”, Simply Gallery, Kainstlir Lingersty, London.*

Yes, I do” di Jogja Nasional Museum Indonesia

  1. : “Bersahabat Dengan Sang Cincin Api” Gabusan Yogyakarta

Rechte Vorbeluyken”, Hueber gallery, Munich, Jerman.*

Nothing Chill Una De Gung” Papillon Gallery, Perancis.*

  1. : “Portion” Galeri Sembilan Ubud, Bali

The Backpacker” Maharani Hotel, Bali

“KMK, Peringatan Paskah di Kampus Duta Wacana Yogyakarta

Independent” Kafe Deket Rumah, Yogyakarta

“Pembukaan UKM Seni Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

  1. : “Borobudur International Festival”, Pondok tingal Magelang

Ngerumpi di Mall” Trio Plaza Magelang

Komunitas Akar Bambu” di Kampung Godean Yogyakarta

Pameran Seleksi

  1. : “Nisbi” Galeri Katamsi FSR ISI Yogyakarta

  1. : “Indonesia/ASEAN Art Award” by Phillip Morris dan YSRI di

Jakarta dan Medan Sumatera Utara.

Pameran Undangan

  1. : “No Name” Galeri Semarang, Semarang

  2. : “My Life Without Me” Gracia Art Gallery Surabaya (anulir)

Violence” Outmag Artuary Yogyakarta

Pameran Fundrising

  1. : “Sebentar, sabar ya!” Di Via-Via Kafe Yogyakarta

Karya Instalasi : Pesta Instalasi BEM FSR ISI Yogyakarta ”?”

Performance Art

  1. : “…Setelah baca, kembalikan…” di Jl. Malioboro s.d Nol Kilometer

Yogyakarta

2007 : “I am so Complicated” via-via kafe Yogyakarta

  1. : “Freedom” Nol Kilometer Yogyakarta

Penghargaan

2003: nominee Indonesia ASEAN Art Award

2001: The Best Water Colour dari dosen Modern School Of Design Yogyakarta

1995: Juara II Kaligrafi Classmeeting MTsN Madiun

Lampiran 7

Daftar Karya

The Sound Of Silence”

Akrilic On Canvas, 600 CM X 400 CM, 2009

Unity”

Acrilic On Canvas, 300 CM X 150 CM, 2009

1 Kata “pekarya” ini dipakai untuk menggantikan kata “seniman” dan “seniwati” yang secara sosio-kultural kerap mengandung beban bias jender.

Dimana?/ salam duka dari ibu-sebelum bapak meninggal dunia

September 25th, 2008

Aku percaya bahwa yang terjadi pada kita manusia adalah salah satu yang telah tuhan takdirkan, Seperti kenyataan-kenataan yang mewujud atas ketaksadaran yang terjadi, misalnya adalah ketika kecil kita kehilangan kasih sayang dari kedua orang tua kita, atau ketika beranjak besarpun kita tak mendapatkan apapun dari orang tua kita… aku mencintainya… aku merindukannya… ibuuuuu… aku ingin semuanya indah, aku rindu kalian semua, aku ingin kalian semua tersenyum dan bahagia seperti yang lainnya. Kapan atau dimanakah semua itu atau dimanakah semuanya itu atau dimanakah kebahagiaan itu… aku ingin… aku ingin… aku ingin…. Dimana dia ????? dimana dia aku mencintainya dan aku tak ingin berhenti dari pengharapan ini…. Kau mencintainya… aku mencintainya kau ingin memilikinnya semua tentang kasih sayang itu aku ingin bicara aku mencintainya aku ingin bicara aku mencintainya…. Kau ingin bicara…… aku ingin bicara aku mencintainnya… aku kesepian dan aku ingin tertawa seperti dulu…. Dulu… dulu…….. sekarang aku sudah besar dan ingin segera punya bahagia!!! Dapatkah aku memilikinya dapatkah dapatkah dapatkah dapatkah dapatkah??? Salam duka dari ibu………….

Prosa untuk seorang kawan yang rindukan perempuan

September 17th, 2008  Tagged

Derai angin rambat mengalun tertata, seperti denting piano lirih yang ditekan dengan perasaan luka, semakin lama semakin menghilang .. jauhhhh…. sekilas tampak matahari terhuyung menuju pelataran rumahku, bermuka pucat dan muntah-muntah. “Aku habis minum, aku ingin perempuan untuk ku minta menghangatiku… lalu kubuang…!” ” aku akan tiduri dia… bermalam-malam sampai aku bosan, lalu aku buang…, alat kelaminku ini sudah lama menganggur… jiwaku sudah lama tak tenang, kepelacuran diriku jera… ogh… asem tenan ki, aku ora tahaaaaaaannnnn….. ASU!!! Tiba-tiba matahari terjerembab di undakan beranda rumahku. “Bulan, terimalah cintaku, aku ini orang yang butuh kehangatan…. aku butuh kelaminmu Bulan…” matahari terus mengoceh hingga tanpa sadar dirinya terjatuh dan terlelap disampaing bunga krisan kuningku.

Aku tak pantas di cintai matahari, aku tak punya apa-apa… aku miskin bahkan cahaya pun… aku hanya mengandalkan yang lain untuk mneyinariku… sebenarnay di matahari itu, namun apalah aku ini….

Derai angin kembali menrpa du ainsan yang sama-sama bergelayut dengan pikiran masig-masing, matahari terlelap di teras sedangkan bulan tertidur di kursi ruang tengah.

Jika cinta hanya masalah kelamin, biarlah kelaminku ini ku lepas untuk kuberikan padanya, dia akan bahagia… lagi pula aku tak pantas untuknya.. bulan pergi ke kamar mandi kemudian keluar lagi sambil membawa kelaminnya , lalu diletakkan disamping matahari yang tertelap tidur…, sesaat kemudian, bulan pun mati….

ŠÖÉΡΓΙÿÕΠÓ ΓÍäÐΥ

September 17th, 2008

Sesuatu yang terhebat yang pernah aku alami adalah ketika melihat nyawa tercerabut dari raga….. indah… dan akupun merasa bersama Tuhan…. Kematian begitu dekat dengan kita, dan siapa yang tahu kita akan mati kapan, seperti aku tak pernah menyangka secepat itu ayahku meninggalkanku, disaat aku belum bisa membahagiakan dia, disaat aku belum bisa mewujudkan apa yang menjadi keinginnannya, tetapi aku yakin bahwa dia adalah milik Tuhan sepenuhnya dan Tuhan tak menginginkan apa-apa selain keberserahan……. aku sangat mencintainya….. Tuhan dan ayahku menyatu…. Dia tidur…… dipaha Tuhanku ALLAH SWT ♥♥♥

Kutipan

September 17th, 2008

Falsafah Islam: Unsur-Unsur Hellenisme di Dalamnya (1/3)

Di antara empat disiplin keilmuan Islam tradisional: fiqh, kalam, tasawuf dan falsafah, yang disebutkan terakhir ini barangkali adalah yang paling sedikit dipahami, bisa juga berarti paling banyak disalahpahami, sekaligus juga yang paling kontroversial. Sejarah pemikiran Islam ditandai secara tajam antara lain oleh adanya polemik-polemik sekitar isi, subyek bahasan dan sikap keagamaan falsafah dan para failasuf. Karena itu pembahasan tentang falsafah dapat diharapkan menjadi pengungkapan secara padat dan mampat tentang peta dan perjalanan pemikiran Islam di antara sekalian mereka yang terlibat.

Sebelum yang lain-lain, di sini harus ditegaskan bahwa sumber dan pangkal tolak falsafah dalam Islam adalah ajaran Islam sendiri sebagaimana terdapat dalam al-Qur’an dan Sunnah. Para failasuf dalam lingkungan agama-agama yang lain, sebagaimana ditegaskan oleh R.T. Wallis, adalah orang-orang yang berjiwa keagamaan (religious), sekalipun berbagai titik pandangan keagamaan mereka cukup banyak berbeda, jika tidak justru berlawanan, dengan yang dipunyai oleh kalangan ortodoks.[1] Dan tidak mungkin menilai bahwa falsafah Islam adalah carbon copy pemikiran Yunani atau Hellenisme.[2]

Meskipun begitu, kenyataannya ialah bahwa kata Arab “falsafah” sendiri dipinjam dari kata Yunani yang sangat terkenal, “philosophia”, yang berarti kecintaan kepada kebenaran (wisdom). Dengan sedikit perubahan, kata “falsafah” itu di-Indonesia-kan menjadi “filsafat” atau, akhir-akhir ini, juga “filosofi” (karena adanya pengaruh ucapan Inggris, “philosophy”). Dalam ungkapan Arabnya yang lebih “asli”, cabang ilmu tradisional Islam ini disebut ‘ulum al-hikmah atau secara singkat “alhikmah” (padanan kata Yunani “sophia”), yang artinya ialah “kebijaksanaan” atau, lebih tepat lagi, “kawicaksanaan” (Jawa) atau “wisdom” (Inggris). Maka “failasuf’ (ambilan dari kata Yunani “philosophos”, pelaku filsafat), disebut juga “al-hakim” (ahli hikmah atau orang bijaksana), dengan bentuk jamak “al-hukama”.

Dari sepintas riwayat kata “filsafah” itu kiranya menjadi jelas bahwa disiplin ilmu keislaman ini, meskipun memiliki dasar yang kokoh dalam sumber-sumber ajaran Islam sendiri, banyak mengandung unsur-unsur dari luar, yaitu terutama Hellenisme atau dunia pemikiran Yunani.[3] Disinilah pangkal kontroversi yang ada sekitar falsafah: sampai di mana agama Islam mengizinkan adanya masukan dari luar, khususnya jika datang dari kalangan yang tidak saja bukan “ahl al-kitab” seperti Yahudi dan Kristen, tetapi malahan dari orang-orang Yunani kuna yang “pagan” atau musyrik (penyembah binatang). Sesungguhnya beberapa ulama ortodoks, seperti Ibn Taymiyyah dan Jalal al-Din al-Suyuthi (salah seorang pengarang tafsir Jalalayn), menunjuk kemusyrikan orang-orang Yunani itu sebagai salah satu alasan keberatan mereka terhadap falsafah. Tetapi sebelum membahas lebih jauh segi-segi polemis ini, lebih dahulu dibahas pertumbuhan falsafah dalam sejarah pemikiran Islam.

Pertumbuhan

Falsafah tumbuh sebagai hasil interaksi intelektual antara bangsa Arab Muslim dengan bangsa-bangsa sekitarnya. Khususnya interaksi mereka dengan bangsa-bangsa yang ada di sebelah utara Jazirah Arabia, yaitu bangsa-bangsa Syria, Mesir, dan Persia.

Interaksi itu berlangsung setelah adanya pembebasan-pembebasan (al-futuhat) atas daerah-daerah tersebut segera setelah wafat Nabi s.a.w., dibawah para khalifah. Daerah-daerah yang segera dibebaskan oleh orang-orang Muslim itu adalah daerah-daerah yang telah lama mengalami Hellenisasi. Lebih dari itu, kecuali Persia, daerah-daerah yang kemudian menjadi pusat-pusat peradaban Islam itu adalah daerah-daerah yang telah terlebih dahulu mengalami Kristenisasi. Bahkan sebenarnya daerah-daerah Islam sampai sekarang ini, sejak dari Irak di timur sampai ke Spanyol di barat, adalah praktis bekas daerah agama Kristen, termasuk heartlandnya, yaitu Palestina. Daerah-daerah itu, dibawah kekuasaan pemerintahan orang-orang Muslim, selanjutnya memang mengalami proses Islamisasi. Tetapi proses itu berjalan dalam jangka waktu yang panjang, selama berabad-abad, dan secara damai. Bahkan daerah-daerah Kristen itu tidak hanya mengalami proses Islamisasi, tetapi juga Arabisasi, disamping adanya daerah-daerah yang memang sejak jauh sebelum Islam secara asli merupakan daerah suku Arab tertentu seperti Libanon (keturunan suku Bani Ghassan Yang Kristen, satelit Romawi). Namun berkat politik keagamaan para penguasa Muslim berdasarkan konsep toleransi Islam, sampai sekarang masih banyak kantong-kantong minoritas Kristen dan Yahudi yang tetap bertahan dengan aman. Karena adanya konsep Islam tentang kontinuitas agama-agama (yaitu, bahwa agama Nabi Muhammad adalah kelanjutan agama para nabi sebelumnya, khususnya Nabi-nabi Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub atau Isra’il, Musa dan Isa-Yahudi dan Kristen),[4] orang-orang Muslim menyimpan rasa dekat atau afinitas tertentu kepada mereka itu. Dan rasa dekat itu ikut melahirkan adanya sikap-sikap toleran, simpatik dan akomodatif terhadap mereka dan pikiran-pikiran mereka. (Toleransi dan sikap akomodatif Islam ini ternyata kelak menimbulkan situasi ironis di zaman moderen, akibat adanya kolonialisme Barat, seperti adanya hubungan tidak mudah antara kaum Muslim dengan kaum Yahudi di Palestina, dengan kaum Maronite di Libanon, dan dengan kaum Koptik di .Mesir).

Toleransi dan keterbukaan orang-orang Islam dalam melihat kaum agama lain, khususnya Ahli Kitab tersebut mendasari adanya interaksi intelektual yang positif di kalangan mereka, dengan sedikit sekali kemasukan unsur prasangka yang berlebihan. Disamping itu, dan sebagaimana telah dikemukakan dalam pembahasan kita tentang Islam dan pengembangan ilmu pengetahuan yang lalu, kelebihan orang-orang Muslim Arab itu ialah kepercayaan kepada diri sendiri yang sedemikian mantap. Kemantapan itu kemudian memancar pada sikap-sikap mereka yang positif kepada bangsa-bangsa dan budaya-budaya lain, dengan kesediaan yang besar untuk menyerap dan mengadopsinya sebagai milik sendiri. Posisi psikologis yang menguntungkan itu berada tidak hanya dalam hubungannya dengan kaum Ahli Kitab yang memang dekat dengan orang-orang Muslim, tetapi juga dengan kelompok-kelompok keagamaan lain seperti kaum Majusi (orang-orang Persi pengikut ajaran Zoroaster) dan kaum Sabean dari Harran, di utara Mesopotamia. Sebab sekalipun ilmu pengetahuan Yunani merupakan bagian paling penting ilmu pengetahuan yang diserap orang-orang Muslim Arab, namun mereka ini juga dengan penuh kebebasan dan kepercayaan diri menyerap dari orang-orang Majusi dan Sabean tersebut tadi, bahkan juga dari orang-orang Hindu dan Cina. Karena futuhat, bangsa-bangsa non-Muslim itu berada dibawah kekuasaan politik orang-orang Arab Muslim. Tetapi biarpun orang-orang Arab itu memiliki keunggulan militer dan politik, mereka tetap menunjukkan sikap-sikap penuh penghargaan dan pengertian kepada bangsa-bangsa dan budaya-budaya (termasuk agama-agama) yang mereka kuasai. Hasilnya ialah, seperti dikatakan Halkin sebagai berikut (kutipan yang penting untuk memahami pembahasan):

…It is to the credit of the Arabs that although they were the victors militarily and politically, they did not regard the civilization of the vanquished lands with contempt. The riches of Syrian, Persian, and Hindu cultures were no sooner discovered than they were adapted into Arabic. Caliphs, governors, and others patronized scholars who did the work of translation, so that a vast body of non-Islamic learning became accessible in Arabic. During the ninth and tenth centuries, a steady flow of works on Greek medicine, physics, astronomy, mathematics, and philosophy, Persian belles-lettres, and Hindu mathematics and astronomy poured into Arabic.[5]

(…Adalah jasa orang-orang Arab bahwa sekalipun mereka itu para pemenang secara militer dan politik, mereka tidak memandang peradaban negeri-negeri yang mereka taklukkan dengan sikap menghina. Kekayaan budaya-budaya Syria, Persia, dan Hindu mereka salin ke bahasa Arab segera setelah diketemukan. Para khalifah, gubernur, dan tokoh-tokoh yang lain menyantuni para sarjana yang melakukan tugas penterjemahan, sehingga kumpulan ilmu bukan-Islam yang luas dapat diperoleh dalam bahasa Arab. Selama abad-abad kesembilan dan kesepuluh, karya-karya yang terus mengalir dalam ilmu-ilmu kedokteran, fisika, astronomi, matematika, dan filsafat dari Yunani, sastra dari Persia, serta matematika dan astronomi dari Hindu tercurah ke dalam bahasa Arab).

Interaksi intelektual orang-orang Muslim dengan dunia pemikiran Hellenik terutama terjadi antara lain di Iskandaria (Mesir), Damaskus, Antioch dan Ephesus (Syria), Harran (Mesopotamia) dan Jundisapur (Persia). Di tempat-tempat itulah lahir dorongan pertama untuk kegiatan penelitian dan penterjemahan karya-karya kefilsafatan dan ilmu pengetahuan Yunani kuna, yang kelak kemudian didukung dan disponsori oleh para penguasa Muslim.

Suatu hal yang patut sekali mendapat perhatian lebih besar di sini ialah suasana kebebasan intelektual di zaman klasik Islam itu. Interaksi positif antara orang-orang Arab Muslim dengan kalangan bukan-Muslim itu dapat terjadi hanya dalam suasana penuh kebebasan, toleransi dan keterbukaan. Sebab meskipun orang-orang Arab itu mempunyai ajaran agamanya yang sangat tegas dan gamblang, dengan penuh lapang dada membiarkan semua kegiatan intelektual di pusat-pusat yang ada sejak sebelum kedatangan dan pembebasan oleh mereka. Seperti dikatakan oleh C.A. Qadir:

“…the centers of learning led by the Christians continued to function unmolested even after they were subjugated by the Muslims. This indicates not only the intellectual freedom that prevailed under Muslim rule in those days, but also testifies to the Muslims’ love of knowledge and the respect they paid to the scholars irrespective of their religion.”[6]

(…pusat-pusat pengajaran yang dipimpin oleh orang-orang Kristen terus berfungsi tanpa terusik bahkan setelah mereka itu ditaklukkan oleh orang-orang Muslim. Ini menunjukkan tidak saja kebebasan intelektual yang terdapat di mana-mana di bawah pemerintahan Islam zaman itu, tetapi juga membuktikan kecintaan orang-orang Muslim kepada ilmu dan sikap hormat yang mereka berikan kepada para sarjana tanpa mempedulikan agama mereka).

Interaksi intelektual itu memperoleh wujudnya yang nyata semenjak masa dini sekali sejarah Islam. Disebut-sebut bahwa al-Harits ibn Qaladah, seorang Sahabat Nabi, sempat mempelajari ilmu kedokteran di Jundisapur, Persia, tempat berkumpulnya beberapa failasuf yang dikutuk gereja Kristen karena dituduh telah melakukan bid’ah. Disebut-sebut juga bahwa Khalid ibn Yazid (ibn Mu’awiyah) dan Ja’far al-Shadiq sempat mendalami alkemi (al-kimya) yang menjadi cikal-bakal ilmu kimia moderen.[7] Bahkan seorang khalifah Bani Umayyah, Marwan ibn al-Hakam (683-685 M), memerintahkan agar buku kedokteran oleh Harun, seorang dokter dari Iskandaria Mesir, diterjemahkan dari bahasa Suryani (Syriac) ke bahasa Arab.[8]

Harus diketahui bahwa dalam pembagian ilmu pengetahuan zaman itu, baik ilmu kedokteran maupun alkemi, sebagaimana juga metafisika, matematika, astronomi, bahkan musik dan puisi, dan seterusnya, termasuk falsafah. Sebab istilah falsafah itu, dalam pengertiannya yang luas, mencakup bidang-bidang yang sekarang bisa disebut sebagai “ilmu-pengetahuan umum”, yakni, bukan “ilmu pengetahuan agama”, yaitu dunia kognitif yang dasar perolehannya bukan wahyu tetapi akal, baik yang dari penalaran deduktif maupun yang dari penyimpangan empiris. Ini penting disadari, antara lain untuk dapat dengan tepat melihat segi-segi mana dari sistem falsafah itu yang kontroversial karena dipersoalkan oleh kalangan ortodoks. Umumnya mereka ini, seperi Ibn Taymiyyah dan lain-lain, menolak yang bersifat penalaran murni dan deduktif, dalam hal ini khususnya metafisika (al-falsafah al-ula), karena dalam banyak hal menyangkut bidang yang bagi mereka merupakan wewenang agama. Tetapi mereka membenarkan yang induktif dan empiris.

Wah ini suatu kesalahan baru

September 10th, 2008

Pada hari ini aku menyatakan bahwa diriku telah terpuruk dalam kelam yang tak kunjung padam….. bukan apa-apa sih bro cuman aku pingin ketawa aja rasanya….. beberapa detik yang lalu aku masih memuja seseorang, tapi kini semua telah berlalu…….. sidang organ??? sidang organ apaan?????? semua guyonan waton dari Tuhan, Bapakku meninggal dunia sebagai seorang yang tenang .. jadi tidak ada alasan bagi aku untuk berontak pada waktu, karena waktu telah begitu baik,,,, contohnya hari ini, dia memberiku sesuatu yang indah…. kehilangan itu….. bukan berarti dia bukan orag yag tidak baik, namun tampakknya Tuhan berkehendak lain….. cukuplah cintaku untuk-Nya saja…..

belajar-belajar-belajar untuk tetap menjadi besar….. i love you Tuhan aku bercinta denganmu saja……. jjjjjjjaaaaaaaaaaaaaaaaauuhhhhhhh lebih indah bukan??????? …………….

Sidang Organ, Uhibbu Anta Ya Syamsyi

September 5th, 2008

Kepada Roket Matahari

Yang terdakwa adalah aku; seluruhnya: rambutku, mataku, mulutku, tubuhku, tanganku, kakiku dan hatiku …

Nuraniku berteriak menuntut komitmen, sebagian lagi justru terus-terusan membisikkan kata malu …

Gelisah membuncah ini selaik penghakiman. Kurasai sebagai sidang atas nama cinta, yang telah kutandang dan simpan dalam lubuk hati yang paling dalam, semua itu kubungkus dengan lembaran-lembaran hitam dan biru … semuanya seakan-akan menyiksaku, tapi rasa ini terlalu indah untuk disebut sebagai penyiksa…

*Kurasai diriku bagai terduduk sendiri disebuah ruang, berjajar bangku kosong dengan sehelai kain hijau bergambar palu menatapku membisu…

Lalu mereka berkata:

Nurani: “Kartika, kami tahu kau sedang menderita! katakan, kami meminta penjelasan …!

Kartika: “Terkadang aku lupa nurani, bahkan seberapa penting pengakuan itu perlu untuk dijelaskan..!”

Nurani”semua bukan tanpa sebab, alasannya adalah dia yang pernah bertanya, dirimu, ruhmu, Tuhanmu, dan semua …!”

Kartika:”Aku paham dan merasa bersalah jika tidak, baiklah … kucoba mengurangi resah…

“awalnya aku sedang jatuh cinta, namun aku menahan diri sekuat-kuatnya karena bagiku belumlah cukup waktu, juga kondisi yang tak memungkinkan… aku menjadi seorang birokrat kecil-kecilan, sebagai ketua 2 atau wakil ketua bahkan aku sering bingung atas jabatannya. Bayangkan, alangkah terbengkalainya nanti segala urusanku, betapa nanti terpecah fokusku karena sakit hati, apa kata kawan-kawanku??? Semua itu menjadi pertimbangan yang utama, dilema yang ambigu sekaligus kaku. Namun begitu aku hanyalah manusia biasa yang tetap tak mampu untuk menampung perasaan itu. Kuungkapkan kepada seorang kawan yang pada akhirnya mengharapkanku untuk tetap memperjuangkan dan menunjukkan rasa cinta itu. Aku tahu diriku bukanlah seorang perempuan sempurna yang pandai menggoda orang yang kucinta, aku bukanlah seorang perempuan yang selalu terjaga untuk selalu berada didekat orang yang dipuja… aku hanyalah pekerja lapangan yang selalu nyaris hidup tanpa cinta dan kekasih… Sehingga ketika dia sakit kutak punya waktu jeda untuk sekedar menyentuh dahinya dan menanyakan “gimana kesehatanmu hari ini???” dllnya…

Nurani, mungkin ini saja dulu yang kujelaskan padamu agar dia tak bertanya-tanya dan salah persepsi atas persepsi yang sebenarnya aku ikut membangunnya. Kutak berani mengharap apapun karena aku sangat menghormatinya. hanya satu yang ingin kukatakan padanya” akulah orang yang selama ini dia cari, seorang yang katanya perhatian kepadanya… Po, i love you…. aku pernah mengatakan ini kpdmu lewat telepon dan kau jawab i love you too …, kusadar sepenuhnya itu belumlah cukup untuk membuka sebuah hati untuk mau menerima sebuah hati yang lain…

Nurani:”Terimaksih…..”

—————————————————————

Sebenarnya telah kugantung rasa cintaku dilangit bersama Tuhan.. Pada akhir 2003 yang lalu.

Selama kurang lebih 6 tahun ini cinta datang dan pergi silih berganti namun belum juga membuka mata hatiku untuk berani mengungkapkan cinta. Sampai akhirnya ketemukan serpihan mutiara yang menyala bersinar-sinar terang bagai matahari. Indah…. kamu adalah matahari itu…..

Aku masih sibuk dengan ayahku… ibuku belum pulang… jadi lewat posting blog ini kuharap po mengerti yang sebenarnya… terimakasih ya…. Miss You, Jesus Bless You forever……………..