Sipatung Kambi, Cerita Pendek
“Selamat malam, apa kabar sayang? gimana harimu apakah segalanya baik?. Ada cerita apa?. Tahukah kau Bee, aku sangat rindu, rasanya ingin memelukmu saat ini dan merasakan lagi kehangatan candamu seperti kemarin…” tulis Sipatung Kambi pada diary batunya. Diary batu dia pakai untuk menulis kisah hidupnya yang tak ingin diketahui oleh siapapun, harapannya adalah setelah menuliskan sesuatu udara akan segera menguapkannya, dengan demikian tak seorangpun akan mengetahui gejolak hatinya. Karena sangat rahasia. Begitulah sehari-hari.
Hari ini, dimalam yang biru, hatinya sangat rindu kepada Bee, sang cinta yang tak pernah ditemuinya. Sipatung Kambi selalu menulis didiarynya dengan perasaan yang berkecamuk antara dingin dan sepi.
“Ugh.. aku sepertinya akan sakit” ujar Sipatung Kambi sembari menyeka keringat dingin di dahinya. “Hari ini aku tak punya cerita, kisahku lenyap dihamparan kasur tua itu, aku benci paru-paru ini.” ucapnya sambil menoleh kearah kasur kapuk didipan kayu dan menepuk dadanya. Sipatung kambi mengingat-ingat kejadian yang mengiringi waktunya hari ini.
“Aku hanya punya huruf……”P”, ya, yang lain telah henyak entah kemana. Betapa sepi hariku sampai alfabetpun meninggalkanku, 365 hari, apa jadinya jika terus berlanjut? pastinya aku hanya menjadi pendonor mukhlis bagi tinggi-tinggi itu, bahkan mungkin berakpun aku disitu, aku semakin lupa” Ucapnya setelah mengambil buku tulis batunya. “Diary, walau setiap hari tubuhmu kucuci, tetapi jangan merengas dulu, aku masih ingin bersamamu, kamu milikku satu-satunya, yang setia dan rahasia”. Peluk Sipatung kambi pada lempengan batu berwarna abu-abu kehitaman miliknya.
“P” tulis Sipatung Kambi pada lempengan batu itu dengan air dan kuas china. “Maaf Bee, aku hanya menyapamu dengan ini, tetapi walau begini, aku ingin kamu tahu kalau aku sangat mencintaimu”. Ucap Sipatung Kambi. “Selamat malam, aku ingin lagi berenang pada mimpi dan ingin berjumpa denganmu, aku rindu, datanglah padaku…” Ucapnya setelah menulis huruf “P” sebelum kemudian beringsut ke dipan tua untuk memejamkan matanya.
Matahari terbangun dari tidur, demikian halnya Sipatung Kambi, dia bangkit dari dipan tua, duduk sebentar diatas kasur kapuk kemudian merapikan rambut panjangnya dan segera berjalan keluar rumah menuju tempat biasa dia mengintip Bee, Hutan Muara.
“Apa sekarang dia sedang disana? aku rindu sekali” ucap Sipatung Kambi sambil berjalan perlahan menyibaki tetumbuhan liar di Hutan Muara. Bebatuan besar berserakan di semua penjuru hutan belantara itu, disalahsatunya Sipatung Kambi duduk sembari mengusapkan tangannya. Sikap dan sorot matanya sendu meminta izin pada sang batu atas ritusyang dia lakukan saban harinya, menguapkan aksara.
“Aku ingin bertemu dengannya”. Sipatung Kambi berucap dengan hati yang pedih tertahan dan mata yang basah. Kemudian Sipatung Kambi mengambil kuas dari balik bajunya, dia usapkan ujung kuas itu diatas daun keladi yang menyimpan tetes-tetes embun disamping batu besar itu, yang menurut dia adalah takdir yang serangkai. Diapun menulis,“Aku Mencarimu..”
Setelah menulis dan duduk tertusuk rindu beberapa saat lamanya, Sipatung Kambi memandangi dan menerawang pikir didepan batu yang basah dan penuh puisi dari air embun daun keladi yang dibentuk menjadi aksara-aksara.
Satu jam kemudian Sipatung Kambi bangkit dan berdiri. Sejenak dia pandangi aksara-aksara itu dan berkata lagi; ”Aku rindu, aku sangat rindu” ucapnya. Dimasukkannya kuas kebalik bajunya sambil berjalan perlahan meninggalkan sang batu untuk meneruskan pencariannya. Hingga pada satu belokan yang tak jauh dari air terjun Hutan Muara, “Kau!” sentaknya tak terduga.
“Bee, kau disana” ucap Sipatung Kambi bahagia. “Aku menemukanmu, kau disini rupanya, sedang apa engkau? menunggukukah?, menunggukukah?” ucapnya berkali-kali. Sipatung Kambi merangsak maju menuju sesosok tubuh yang sangat dikenalinya.
Dari kejauhan Bee menoleh menunduk sembilan puluh derajat demi mendengar suara daun-daun berdesau tersibak. Dia tahu siapa yang datang, kemudian Bee memalingkan wajahnya lagi kedepan hingga saat sesosok tubuh memeluknya pelan-pelan dari belakang, erat…semakin erat…namun sama sekali tak menyakitinya.
“Aku rindu” ucap Sipatung Kambi sambil mendekap tubuh Bee yang dingin. Air matanya berderai bahagia. “Kenapa kau tak sambut aku?, bukankah penantianku sudah sangat lama?, kenapa tubuhmu dingin?”ucap Sipatung Kambi lagi sambil membau punggung Bee. Bee yang membelakangi Sipatung Kambi hanya terdiam membisu. Tak satupun daun-daun dan batu yang ada di hutan itu mengetahui isi hatinya.
“Aku tak pernah mengerti, mengapa aku begitu mencintaimu, Tuhanpun tak pernah berkata, apalagi membantuku mengais jiwamu. Mungkin langit telah mengutukku, atau sebenarnya justru Tuhan tak ikut campur dalam hal ini?, “Bee, hatiku hancur menjadi puing-puing, aku tak pernah mampu menguraimu. Cinta ini lahir dari batu-batu itu. Kisahnya menguap bersama hawa. Semua karena jumawa yang bukan salahmu, lantas siapa? Aku terlalu menukik jauh kedasar luka, menyusup hatiku semakin dalam kearah hitam, lalu tanpa sinar aku terkulai. Dengarkan ini, cintaku hanya batu-batu itu yang tahu, tentunya juga dirimu yang mampu merasa. Teriakan batinku hanyalah bisu. Derai-derai airmataku adalah anakan sungai jiwa yang tak berhulu, sepi, hampa dan pertanyaan-pertanyaan yang tak memiliki lelah.. bukan mengeluhku pada keadaan ini, cinta memang abu-abu, menusuk kejam pada jiwa yang tadinya tenteram. Memberi luka yang sangat pedih, Bee… dengarkan ini; aku kehabisan kata-kata, tapi rasakan…”. Sipatung Kambi memegang erat jemari Bee dan mengusap-ngusapnya perlahan namun kuat. “Aku tak ingin ini nadir, biar sendiri tak mengapa asal jiwamu itu milikku. “Aku rindu” ucap Sipatung Kambi lirih tertunduk mengisak.”
“Dengarkan Bee!, aku telah runtuh, hilang dalam hitam, nafasku ini bukan lagi nafas yang dulu tak berbau. Nikotin pekat telah merenggut senyum-senyum urat paruku, jika sangat mungkin aku ingin mati agar bisa menemukanmu yang kukira telah mati, kamu dimana selama ini?,
Jawablah Bee!!” jangan membisu!” teriak Sipatung Kambi.
“Jangan biarkan semak-semak gersang menutupi hatiku. Sirami akarnya dengan tanganmu sendiri. Agar Tuhan tahu, tanpa dirinya aku bisa, karena selama ini Tuhan hanya berbaik memberi tanda saja. Tetapi apakah cukup? Hampir nista diriku membabat nadi, sebagai jalan kususul arwahmu. Tetapi sang penyampai membisikiku kau ada.. aku sangat sepi. Jika kesesalan terus kukecap menjadi kata-kata yang mencuat, bukankah aku menjadi sangat hina? Maukah kau mencintai orang yang hina?! Hanya sebodoh yang akan melakukannya. Bee, pernahkah kau dengar saat kupanggil dalam diam? Adakah bulu-bulu yang ada ditelingamu menyampaikan pesan-pesan saat aku rindu?”
Sipatung Kambi luruh jatuh dikaki Bee. Dia makin terpuruk. Hutan tetap sunyi, hanya bunyi-bunyi alam yang masih mendendangkan lagunya tanpa mengerti apa yang sedang terjadi.
“Aku tahu tiap detik rasa yang kau cercap Kambi, dan aku tak kemanapun.., nafasmu adalah hidupku, matimu adalah tunaiku. Jika selama ini kau merasa tersakiti oleh ketiadaanku, kau sungguh salah, aku selalu ada saat kau berbaju..” Bee tiba-tiba memperdengarkan suaranya. Sangat merdu ditelinga Sipatung Kambi.
“Kau bicara Bee? Kau berkata..?? betapa tersanjung aku” ucap Sipatung Kambi terkejut demi mendengar Bee telah mau berucap untuknya.
“Kau tak sendiri”
“Tapi kenapa,…”
“Jangan kau tanya!, kau tak akan pernah mengerti dan mampu menyelaminya”
“Bee, selayak bulan yang menyinari bumi dimalam hari, diriku senantiasa menghitung tanggal, menunggumu”
“Tiada berguna”
“Jadi selama ini aku memang benar-benar hampa?”
“Aku mencintaimu pula Kambi”
Sipatung Kambi berdiri demi mendengar ucapan Bee, yang dirasainya bak guyuran tetes-tetes air hujan di padang gersang.
“Aku tak menyambutmu karena aku selalu berada didekatmu, dan penantianmu itu tak pernah ada, tubuhku dingin karena menginginkanmu”. “Cintamu telah terbalas tapi kau tak pernah tahu, jangan salahkan Tuhan karena Dialah yang memberi”. “Jiwaku bukan untuk kau kais, karena dia tak pernah terkubur. Jangan pernah kau mendustai langit, karena langit pastilah tahu, tempat ku tinggal dan bersemayam memikirkanmu yang Tuhan telah izinkan.”
“Jika aku menjadimu aku tak perlu berpolah menggandrungi bebatuan itu, tetapi aku sebagai aku tetap tak sanggup mengubah takdirnya, jumawa bukanlah tingkahku untuk menderitaimu”. “Ku sebuti dirimu adalah permata tak berbias tetapi demikian aku, mencinta pula kepada dirimu yang gontai”. “Derai airmatamu nafikan hina. Seluruh pertanyaanmu adalah jawaban. Cinta adalah fatamorgana dan misteri yang tak pernah tersingkapkan, selamanya. Dan sakit itu adalah bunganya.”
“Tiada nadir untuk sebuah cinta, darinya sekerat daging tumbuh menjadi tubuh. Kusesali derit parumu teracun sudah, karena aku yang tak pernah pergi. Bukan siksaan yang kutebarkan, tetapi sebuah sirat yang harus kau baca. Tak sanggup aku melawan taklif, dan kematian bukanlah jalan. Nestapa takkan hadir pada manusia yang santun..” Padamu cintaku tumbuh karena do’a, betapa suci tapi kutak akan pula sanggup berkata Kambi..”
“Dengan apa kusiram akar cintamu yang gersang? Aku hanya punya dosa, jika dosa itupun kau minta, tak mengapa Kambi..”.Bee menggigil kedinginan, suaranya parau dan badannya terkulai. “Sang penyampai itu adalah aku, demimu kusudahi karena hujatku, Tuhan maafkan aku..” Sipatung Kambi merengkuh tubuh Bee yang mendingin dan pucat. Dia terpana dan tak sanggup berkata-kata, air matanya bercucuran jatuh sebagai ungkapan cinta yang dalam.
“Kamu kenapa Bee, jawab aku..”
Bee yang terkulai lemah semakin meringkuk. Si patung Kambi memeluk tubuh itu seerat-eratnya.
“Kambi, ini inginmu dan aku tak bisa kian lama..”.
“Apa yang kau ucapkan kekasihku?” Ucap Sipatung Kambi tak mengerti.
“Nyawaku ini adalah dirimu sang penentu, aku mencintaimu haruslah tunjukkan dan berkorban, tetapi ambigu, pengorbananku ini selayaknya hanya berupa kesedihan bagimu. Aku sangat tahu”
“Bee, apa yang kau ucapkan?, aku tak mengerti”
“Kau akan benar-benar kehilanganku Kambi, karena aku akan tak ada”
“Kau mati?, Jangan lagi!” teriak Sipatung Kambi membahana di sepenjuru Hutan Muara.
“Jangan lagi tinggalkan aku Bee..” Mohon Sipatung Kambi.
“Aku hanya sekali meninggalkanmu Kambi, saat ini” Ucap Bee dengan muka pucat pasi. Sipatung Kambi memeluk tubuh Bee yang mulai membiru.
“Sayangku, lihatlah langit dibarat itu, Senja menunjuk tubuhku untuk rebah. Aku tahu hatimu pedih tatkala kujelang ajalku.. Makin cintakah kau padaku?,Sayangku, aku ingin mati mesra, dengan hati yang membumbung tinggi melekat menyatu melebur kita, bernyanyilah diujung telingaku lagu milik Tuhan Zimatku berpulang..”. “Sayangku, biarlah tubuh ini lemas meregang tanpa tangismu..” ucap Bee disaat hembusan nafas terakhirnya.
Sipatung Kambi meraung menangis melayukan dedaunan Hutan Muara sambil memeluk tubuh Bee yang telah membiru tak bernyawa. Diletakkannya kemudian dipangkuannya dan dia peluk. Tiba-tiba,
“Apa ini, Bee?”
Tumbuh perlahan dari punggung Bee dua buah tulang yang membesar, berkembang, menjadi sayap yang indah. Wajah Bee berubah menjadi semburat kuning gading yang bersih.
“Bee, belum lagi kau mati?” Ucap Sipatung Kambi yang bingung demi melihat keanehan pada diri Bee. Bee telah berubah menjadi makhluk yang indah.
“Sayapmu patah satu, sakitkah itu, beri padaku untuk berbagi” pinta Sipatung Kambi.
Bee menanggalkan patahan sayap yang menjadi tanda dosanya kepada Sipatung Kambi sekaligus sebagai tanda kesucian cinta yang dia tunjukkan dengan pengorbanan. Sipatung Kambi terpana. Memandangi patahan sayap Bee yang bersinar bagai mutiara.
“Bee, jelaskan padaku apa yang terjadi..” tunduknya pasrah. “ aku mencintaimu.”
“Bee, apa yang terjadi?!!” terlonjak kaget sipatung Kambi terbangun dari tidurnya. “Bee”, desahnya sedih.
Sipatung Kambi mendapati sayap Bee ditangannya. “Aku bermimpi yang nyata..”ucap Sipatung Kambi.
“Bee ada, Bee yang selalu menemaniku dalam bayangan-bayangan hitam, aku selalu mencintaimu, terbanglah, terbang yang tinggi kekasihku…”
Sipatung Kambi menoleh kedinding dan jam menunjukkan pukul 3 dini hari, dia bangkit dan mengambil diary batunya dan menuliskan mimpi yang baru saja terjadi. Dengan kalimat penutup: cinta adalah makna hidup yang hakiki, pengalaman yang menyenangkan ketika seseorang yang menjadi objek cinta kita hadir berada didekat kita dan kita dapat berinteraksi dengannya”.
“Aku semakin tahu, bahwa cinta itu nisbi, seperti batuku ini, dialah cintaku, ya, dan aku hanya mencintai diriku sendiri” ucapnya termangu.
Leave a Reply