SEPULUH TAHUN BERKESENIAN DWI KARTIKA RAHAYU
March 27th, 2009
Berbagai peristiwa telah kualami selama sepuluh tahun berkesenian, susah senang, pedih dan bahagia terus datang silih berganti. Fase demi fase telah aku lalui dengan rintangan, halangan yang mencairkan otakku untuk mencari solusi dan ini bagi aku adalah sesuatu yang sangat luar biasa.
Awal aku berkecimpung di dunia senirupa adalah pada tahun 2000. saat aku bertekad untuk studi seni lukis disebuah institusiseni di Yogyakarta.
Ini sebuah review:
- pada tahun 2000 aku mendaftarkan diri sebagai mahasiswi di ISI Yogyakarta, dan saat itu tes ku yang pertama kali gagal karena faktor persaingan yang sangat ketat, rival antar pendaftar kira-kira satu banding tujuh. Waktu itu ISI Yogyakarta menjadi primadona tiada tersaingi, karena menjadi seorang seniman waktu itu mungkin sebuah pilihan hidup yang sangat eksklusif dan elitis, luar biasa, karenanya banyak orang yang ingin menjadi seniman, namun pada kenyaatnnya tak bisa dipungkiri bahwa kondisi tersebut sebenarnya paradoksal, masyarakat awam masih memandang seniman adalah profesi yang mubadzir, hanya untuk kesenangan saja dan libido hobi. Paradigma masyarakat yang mengkategorikan bahwa anak-anak yang sekolah di institusi seni adalah anak-anak orang kaya, masih berlaku, dan masih banyak lagi paradigma-paradigma lain yang mungkin luput dari catatan pemikiranku.
- Tahun 2000, aku gagal masuk sebagai mahasiswi ISI Yogyakarta dengan faktor diatas, namun semangat tak surut untuk mencoba lagi ditahun pelajaran setelahnya. Masa-masa menunggu awal tahun ajaran baru aku memutuskan untuk studi di Modern School of Design, Yogyakarta dengan mengambil minat utama seni lukis.
- Lulus tahun 2001 dengan membawa satu penghargaan yang tak pernah kusangka, suatu reward atas semangatku ingin menjejaki jalan-jalan kesenian dengan menaikkan level institusi yang lebih bergengsi, ISI Yogyakarta. Aku melukis pantai parangtritis dengan panjang sepuluh meter untuk mata kuliah minat utama dan mendapat penghargaan bintang kesatu.
- Tahun 2001, entah kenapa tiba-tiba pikiranku nyalang dan langsung berubah haluan dengan ingin menjadi seorang empu pengadu antara logam dan api, aku mendaftarkan diri dan ingin studi tentang kekriyaan, sebuah pilihan spekulatif, dan pilihan ini gagal karena waktu itu aku tidak cukup menguasai dunia kekriyaan terutama teknik dan metode-metode pembuatan skala dalam desiain, sehingga aku harus mengenyam lagi pil pahit untuk mengulang dan menunggu awal tahun ajaran baru. Namun boleh dibilang pilihan ini hanyalah alasan agar dapat diterima di ISI Yogyakarta yang waktu itu menjadi primadona dan sangat sulit menembusnya, konon setelah berhasil masuk institusi khususnya seni rupa ini bisa kemudian pindah kejurusan yang diinginkan setelah dua semester atau lolos dari tuntutan 50 kredit sks.
- Tahun 2002 aku kembali keiman yag pertama, studi seni lukis. Aku diterima masuk dengan gelora yang menggebu sebagai seorang pelukis. Tahun pertama di semester pertama kondisi masih baik-baik saja, tanpa ada gangguan yang berarti, namun semester kedua, kondisi berubah dengan munculnya personal-personal yang ambisius, arogan dan penuh dengan intrik untuk mencapai sesuatu yang banal yang sama sekali tidak kumengerti. Kesadaran waktu itu adalah dunia yangkupijaki ini ternyata penuh dengan intrik, sesuatu yang tak pernah terpikirkan sebelumnya, mengingat bagiku dunia seni rupa awalnya adalah indah-indah saja dan intens kearah kreatifisme yang total, kenyataanya disana penuh dengan libido eksistensi dan tuntutan untuk survival dengan titik darah penghabisan dengan saling sikut dan pembunuhan karakter, terutama bagi para siswa yang maha yang ingin menggenggam predikat seorang seniman sejati dan dikagumi. Sebuah heroisme yang banal dan menyesatkan.
- Tahun 2003 Tuhan memberi berkah yang luar biasa, aku masuk sebagai nominee dalam satu kompetisi bergengsi tahun itu yaitu Phillip Art Award dengan label kompetisi se-ASEAN, berkah yang selalu diimpi2kan oleh para senior bahkan setiap pelukis waktu itu. Sebagai seorang yunior yang masih hijau tak luput dari pembunuhan karakter dan “holocaust” yang kejam dari senior yang tidak terima akan kekalahan dan mereka tidak sadar telah membenci diri mereka sendiri.
- 2004, aku mulai kenal dengan dunia gallery yang ternyata sama sekali jauh dari penilaianku yang santun, percepatan dunia seni rupa yang dipegang pemodal mempertemukan aku dengan seorang kurator keras kepala dan menjenuhkan karena menginginkan aku untuk tampil sebagai perupa perempuan muda terdepan-avandt gardist kala itu degan cara yang instan. Aku menolak dengan alasan, seniku masih dalam proses dan proses inilah yang akan menuju kearah sana-maksudku perupa perempuan sejati, dan dunia laku atau pasar bukanlah visi utamaku dalam berkesenian. Kemudian orientasi dan konteks seni rupa yang terhegemoni oleh pasar semakin memperparah ketidakpercayaanku pada mereka dan kenisbian. Aku menjadi skeptis dengan para kurator dengan anggapan bahwa mereka hanya mendompleng popularitas perupa untuk popularitas diri mereka sendiri.
- Tahun 2005 adalah tahun terparah dalam prosesku berkesenian, aku sakit karena disakiti oleh realitas, aku lemah dan menjadi tidak percaya diri karena diriku sendiri yang tidak mempercayai siapapun dalam dunia yang aku cintai.
- 2006, masa-masa koma tetapi masih berusaha bernafas dan ingin hidup di belantara kematian yang tentu saja jika kulanjuti akan menjerumuskanku pada kematian yang sebenarnya dantanpa arti, aku tidak ingin itu terjadi. Tak bisa kupungkiri penolakanku pada genre baru karya-karya postmodern yang sedang banyak digembar-gemborkan oleh orang-orang yang kuhindari membuatku tak banyak berkutik, aku terkungkung dalm pemikiran personalku dengan mempertahankan idealisme yang anti pasar, bagiku pasar adalah pengrusak estetika seniman dan konsep-konsep dalam berkesenian. Hal ini kupahami akibat sikap skeptisme yang akut dalam percaturan dunia kesenian yang waktu itu dipegang oleh orang-orag yang berlatar belakang bukan dari dunia kesenian khususnya seni rupa tapi sok tahu. Masa-masa kritis ini meskipun menjeratku dalam kesusahan batin yang luar biasa namun aku masih menolak untuk larut dalam hegemoninya, aku menyibukkan diri dengan kegiatan sosial yang luar biasa. Gempa Jogja membuka mataku untuk kembali intens dan menghindari para parasit dengan eksplorasi seni dengan dunia edukasi.
- 2007, “kesehatanku” mulai membaik, tentu saja ini karena kawan-kawanku yang sangat luar biasa yang ada disekelilingku. Mencoba mencintai dunia sastra dan tulis-menulis aku gali kembali, setelah terakhir tahun 2001 aku gagal membukukan karya puisiku menjadi sebuah kumpulan karena buku itu raib dari tanganku. Beratus-ratus puisi yang kutulis memenjak aku masih sekolah di Madrasah Ibtidaiyah atau sekolah Islam setingkat SD hilang.
- 2008, tulisan pertamaku nongol disebuah bulletin yang boleh dibilang berkonsep kurang “radikal” dan biasa-biasa saja, tidak dibayar pula, tapi aku senang karena dengan terpublikasikannya tulisanku paling tidak orang akan menilai bahwa kartika masih hidup dan mencintai dunia keseniannya. Tahun ini pula aku mendapatkan anugrah yang luarbiasa dalam percaturan realitas dalam lingkungan, disana aku diajarkan bagaimana hidup dan menjalani kehidupan bersosial meskipun aku masih sering gagal. Pada bulan Sembilan pula aku kehilangan sosok yang luar biasa dalam hidupku, ayahku meninggal dunia dalam usia yang boleh dibilang masih muda dan produktif akibat diabetes. Sebuah peristiwa yang memukul dan membukakan mata bathinku untuk lebih bijaksana dalam memaknai hidup dan tidak kalah dengan situasi dan kondisi.
- 2009, Sepuluh tahunku yang menentukan aku akan menjadi apa, sesuatu yang aku benci-dunia kuratorial yang kupandang parasit justru kini akan kujejaki dan kucoba dengan penuh damai, dengan visi mengembalikan seni pada tahtanya atau meminimalisir dunia material yang selama ini menjadi satu-satunya penghancur ideologi berkesenianku, sebuah visi yang murni hanya untuk mengeksplorasi kekaryaan dan konsep-konsep estetika. Insyaalloh kesepuluh tahun aku berkesenian ini semakin menjadikan aku sebagai orang yang berguna bagi siapapun, khususnya aku sendiri, paling tidak hidup sebelum mati aku bisa menghasilkan sesuatu yang bermakna dan jauh dari godaan-godaan materialisme yang kadang menjeruskan dalam lubang hitam yang jalang. Hidupku kudedikasikan untuk seni dan aku cinta seni.
Leave a Reply