Masa-masa terakhir bahagia

February 28th, 2009

MUNGKIN! ini adalah catatan iseng yang tak perlu dimenung-menungi, oleh siapapun. Catatan ini hanya ungkapan gelisah yang mungkin sedikit jauh dari solusi. Catatan ini hanya antara. Masa-masa terakhir bahagia itu di penghujung tahun lalu………………………….. saat biru belum dikata hijau atau merah menjadi jingga…  Tuhan, selamanya aku hanya milikmu………..

AKH AKU JUGA GAK TAHU TULISAN INI UNTUK APA…AKU KANGEN AJA NULIS DI BLOG INI. Caw……. !!

Aku rindu.

Lapor Pak!!!

February 18th, 2009

KATA PENGANTAR

Salam Budaya

Tak terasa waktu telah bergulir mengantar kita pada akhir semester gasal 2008/2009, dimana setiap mahasiswa Institut Seni Indonesia Yogyakarta wajib menyelesaikan semua tugas-tugas kuliah yang dibebankan kepadanya. Begitu pula dengan penulis yang mengambil minat utama Seni Lukis, yang harus menyelesaikan semua tugas-tugas kuliah. Terutama pada mata kuliah seni Lukis VII, yang dibimbing olehBpk. Dr. M. Agus Burhan dan Drs. Subroto M.Hum.

Pada mata kuliah seni lukis VII penulis mengambil tema Memorabilia Papa sebagai dasar penciptaan lukisan. Dengan tema yang ditawarkan tersebut diharapkan akan menambah kesadaran dalam diri penulis maupun audiens sebagai apresian akan realitas yang menyangkut kita sebagai manusia dan bagaimana kita memaknai realitas tersebut.

Penulis menyadari bahwa peristiwa kematian adalah realitas yang akan dialami oleh setiap manusia di muka bumi ini. Segala sesuatunya akan terputus kecuali tiga hal, yaitu anak yang selalu mendoakan kedua orang tuanya, amal jariyah, dan ilmu yang bermanfaat. Sebab itulah penulis merasa sangat tertarik dan juga ditambah oleh pengalaman pribadi (empirik) ketika menyaksikan sakaratul maut kewafatan ayah penulis untuk merealisasikan dan mentransformasikannya ke dalam sejumlah karya seni lukis.

Karya-karya seni lukis VII ini seluruhnya berjumlah 13 karya. Sebelumnya penulis mengerjakan karya-karya yang bertemakan sisi-sisi manusia dalam realitas kehidupan dengan pendekatan ilmu filsafat. Tema-tema tersebut akhirnya mengerucut pada tahap kematian sebagai peristiwa manusia yang paling puncak.

Dari sini penulis mencoba untuk mencari kemungkinan terluas dari komunikasi dengan penikmatnya atau publik seni. Akhirnya penulis mengucapokan banyak terima kasih kepada dosen pembimbing dalam perkuliahan ini dan kepada teman-teman di kelas seni lukis VII yang telah memberikan kritik dan saran walaupun kritik dan saran tersebut hanya bersifat formalitas dalam perkuliahan seni lukis VII.

Sebagai penutup penulis ingin juga menyampaikan banyak-banyak terima kasih kepada: Allah SWT atas segala rahmat dan karunianya, Surat Al Alaq yang dengan sangat luar biasa menyumbangkan inspirasi tiada henti dalam karya-karya penulis, kepada almarhum ayah tercinta H. Soepriyono Riady, ibunda yang perkasa dan saudara-saudara penulis semua. Dr. M. Agus Burhan dan Drs. Subroto M.Hum. yang telah dengan sangat sabar membimbing penulis di perkuliahan terutama kelas-kelas seni lukis Institut Seni Indonesia Yogyakarta,matahari yang dengan sabar membaca puluhan sms, orang-orang hebat yang menyumbang motivasi, serta semua pihak yang tidak bisa penulis sebut satu persatu, semoga kelak apa yang penulis dapat sampai saat ini akan bermanfaat bagi kita semua. Terima kasih.

Yogyakarta, 16 Januari 2009

Penulis

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDULi

KATA PENGANTARii

DAFTAR ISIiii

BAB I PENDAHULUAN 1

  1. Penegasan Judul2
  2. Latar belakang Timbulnya Ide3
  3. Tujuan dan Manfaat4

BAB II IDE dan KONSEP PERWUJUDAN6

  1. Ide Penciptaan6
  2. Konsep Perwujudan8

BAB III PROSES PERWUJUDAN 10

A. Persiapan: Bahan, alat dan tekhnik10

  1. Tahap-tahap Perwujudan12
  1. Sketsa-sketsa Alternatif 12
  2. Pemindahan sketsa pada bidang lukisan12
  3. Tahap pelukisan atau pewarnaan12
  4. Tahap Akhir (finishing touch)13

C. Tahap Penampilan (framing) dan penyajian dalam pameran.13

BAB IVPENUTUP14

LAMPIRAN18

1.Foto-foto Karya Lukis VII18

2.Foto Referensi31

DAFTAR PUSTAKA51

BAB I

PENDAHULUAN

Seni merupakan perwujudan dorongan kreatifitas yang terdiri dari unsur cipta, rasa dan karsa manusia yang tidak bisa terlepas dari budaya dan peri kehidupan. Seni akan selalu hadir mewarnai setiap aspek peradaban dengan progresifitas yang akan terus berkembang sesuai dengan geliat zaman. Perkembangan seni hadir secara serta merta dalam peradaban manusia dalam kondisi sadar maupun tidak, kehadiran tersebut meretas batas ruang dan waktu serta perbedaan individu setiap perupanya. Hal tersebut timbul dari kristalisasi pengalaman, pengamatan maupun daya imajinasi yang terasah serta bersinggungan dengan segala aspek-aspek makro dan mikro kosmik secara empirik.

Dalam pengkristalan cipta, rasa dan karsa oleh seorang perupa tidak akan terlepas dari ide penciptaan yang merupakan cikal bakal lahirnya sebuah karya seni. Dalam hal ini perupa sebagai pencipta karya seni tidak mungkin terlepas dari pengaruh lingkungan sosialnya.

Dari realitas tersebut diperoleh berbagai pemikiran dan pengertian tentang karya seni, salah satunya antara lain: seni adalah hasil karya manusia yang mengkomunikasikan pengalaman-pengalaman batinnya; pengalaman batin tersebut disajikan secara indah atau menarik sehingga merangsang timbulnya pengalaman batin pula kepada manusia lain yang menghayatinya[1]

Bagi penulis, seni adalah media yang paling penting untuk mengkomunikasikan dan mengekspresikan segala perasaan sebagai manusia secara damai. Demikian pula dengan penulis yang berusaha mengkristalkan pengalaman empirisnya kedalam media dua dimensional dengan bahasa simbol-simbol yang subjektif. Dari perasaan, kesadaran dan penilaian yang subjektif tersebut penulis ingin mengkomunikasikan dalam karya-karya seni lukis VII yang mengambil tema besar tentang memorabel. Sebuah catatan harian atau narasi tentang kisah penulis yang ditinggal mati ayahnya sebelum mampu menunjukkan keberhasilannya kepada sang ayah. Tema besar tersebut kemudian penulis kerucutkan menjadi sebuah narasi dalam 13 buah karya lukisan dengan tajuk “Memorabilia Papa”.

A.Penegasan Judul

Untuk menghindari kesalah pahaman dan meluasnya arti kata dan interprestasi berlainan dengan judul diatas, maka perlu dijelaskan batasan arti dan judul yang dimaksud.

Memorabel: patut/ dapat dikenang; yang patut menjadi kenang-kenangan; mengesankan.[2]

Memorabilia: sesuatu yang patut dikenang.[3]

Papa: Ayah.[4]

Dalam memilih judul tersebut diatas, penulis tertarik untuk mensitetiskan sebuah peristiwa yang sangat dahsyat dalam kehidupan setiap manusia, adalah kematian. Dalam hal ini adalah narasi kematian ayah penulis pada bulan September 2008 yang lalu. Pada peristiwa tersebut penulis mengamati proses manusia dalam kondisi sakit, sakaratul maut hingga proses meninggal dunia. Tentu saja pengamatan tersebut bersumber dari empiris penulis yang diolah secara spiritual. Penulis memilih kacamata agama islam untuk memandang kematian. Kacamata ini dipilih karena dekat dengan keseharian penulis. Agama memberikan kekuatan ketika penulis mengalami guncangan yang diakibatkan kematian.

B.Latar belakang Timbulnya Ide

Segala sesuatu yang terjadi pada manusia baik peristiwa, tragedi maupun fenomena selalu menimbulkan dampak psikologi tertentu. Dalam keseharian, penulis hidup bersama maupun terpisah dengan lingkungan. Penulis banyak menjalin hubungan yang saling membutuhkan, dengan kata lain penulis tidak hidup untuk diri sendiri. Hal tersebut penulis rasakan secara seutuhnya adalah salah satu bagian dari makro kosmos ciptaanNya, yang secara lahiriah memiliki banyak kekurangan daya dan upaya dalam menjalani kehidupan. Penulis membutuhkan dan mengharuskan diri memberikan bantuan dari dan untuk siapapun.

Disaat-saat sendiri penulis sering merenung tentang kejadian-kejadian yang telah berlalu. Ketika penulis menjumpai situasi atau kondisi yang serba rumit, biasanya penulis selalu memulangkan segala permasalahan tersebut kepada hakekatnya[5]. Sebagai manusia yang penuh dengan kelemahan penulis hanya bisa mencerna dan berusaha untuk mencari solusi terbaik. Penulis selalu beranggapan bahwa peristiwa atau kejadian baik atau buruk adalah serpihan ilmu yang diberi oleh-Nya. Ilmu tersebut untuk dimaknai sebijak mungkin, alih-alih segala peristiwa adalah proses manusia untuk belajar.

Manusia, seperti yang diterangkan dalam Al Qur’an adalah kalifah dimuka bumi. Mengemban tugas berat yaitu menebarkan kebajikan. Mengacu pada ayat tersebut penulis ingin menyampaikan sedikit kisah personal berupa kematian yang sangat memungkinkan untuk diwacanakan secara umum melalui karya-karya visual.

C.Tujuan dan Manfaat

F.B. Feldman menyebutkan tiga fungsi yaitu seni sebagai fungsi psikologi, kepentingan ideologi dan politik serta sosial kemasyarakatan, seni dibedakan pada kegiatan fisik, sedang Husman memberikan tambahan seni memiliki fungsi untuk diri sendiri. [6]

Adapun tujuan dan manfaat yang ingin penulis sampaikan melalui karya seni lukis VII adalah:

  1. Untuk menarasikan kesedihan pribadi akibat kematian melalui visual atas peristiwa yang penulis alami secara empirik kepada audiens agar menjadi acuan dan pelajaran berharga bagi siapa saja.
  2. Mengagendakan peristiwa besar tersebut–kematian dengan simbol-simbol visual secara personal.

Tujuan tersebut memberikan suatu pegangan atau semangat untuk terus menerus mencerna setiap masalah kehidupan yang timbul serta mampu merenungkannya sehingga akan mendapatkan kebenaran-kebenaran yang ideal seperti yang diharapkan. Penulisberharap karya-karya ini bermanfaat dan dapat diapresiasi oleh penikmat seni tanpa batas. Adapun manfaat yang diinginkan adalah:

  1. Menampilkan ekspresi personal yang dibalut estetika sebagai bahasa universal dalam media dua dimensional.
  2. Mengenali hal-hal yang akan terjadi kepada penulis maupun audiens sebagai manusia yang menunggu giliran kematiannya.
  3. Merangsang penikmat seni ataupun audiens secara umum untuk mewacanakan kematian dan efek-efeknya sebagai katarsis–pelepasan atau menetralisir perasaan tegang dan takut yang disebabkan oleh suatu tragedi, dsb.[7]

BAB II

IDE DAN KONSEP PERWUJUDAN

A.Ide Penciptaan

Dalam menjalani kehidupan ini penulis banyak melakukan aktifitas menulis kejadian-kejadian sehari-hari sebagai agenda sebuah fenomena maupun sekedar catatan harian biasa. Menulis adalah kegiatan yang penulis lakukan secara intens sebagai hobi. Kisah sehari-hari tersebut penulis maknai dengan menggabungkan dengan literatur maupun diskusi dengan teman-teman dekat penulis.

Kebanyakan fenomena yang penulis catat adalah tentang hal-hal yang menyangkut manusia dengan segala kompleksitas sifat-sifatnya. Baik kelahiran hingga kematian. Dalam proses perjalanan penulis sendiri terdapat hal-hal yang sangat ironis dan penuh dengan permasalahan eksistensi sebagai manusia yang menjadi bagian dari sebuah kosmik besar alam ini. Penulis sadar sebagai manusia biasa yang tidak hanya menyajikan satu realitas estetik bagi konsumsi mata, perlu kiranya penulis menyajikan hal lain dibalik visual seni lukis. Penulis berusaha jujur dalam berkarya dengan menggunakan simbol-simbol yang personal dan berupaya mengkomunikasikannya dengan audiens terutama tentang peristiwa besar dalam proses kehidupan yang sedang direnungkan saat ini. Terutama tentang sebuah peristiwa kematian.

Kematian, adalah sebuah peristiwa final bagi seluruh manusia yang hidup. Pada prosesnya, kematian selalu disebabkan oleh sesuatu hal, sakit, kecelakaan, pembunuhan maupun bunuh diri. Seperti yang tercantum dalam ayat:

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan.” [8]

Tiap orang yang pernah hidup di muka bumi ini ditakdirkan untuk mati tanpa kecuali.Sebagaimana almarhum ayah penulis yang telah meninggal dunia. Diterangkan Allah S.W.T. dalam Al Qur’an:

Katakanlah: “Lari itu sekali-kali tidaklah berguna bagimu, jika kamu melarikan diri dari kematian atau pembunuhan, dan jika (kamu terhindar dari kematian) kamu tidak juga akan mengecap kesenangan kecuali sebentar saja.” [9]

Kebanyakan orang menghindari untuk berpikir tentang kematian. Dalam kehidupan modern ini, seseorang biasanya menyibukkan dirinya dengan hal-hal yang sangat bertolak belakang [dengan kematian]; mereka berpikir tentang: di mana mereka akan kuliah, di perusahaan mana mereka akan bekerja, baju apa yang akan mereka gunakan besok pagi, apa yang akan dimasak untuk makan malam nanti, hal-hal ini merupakan persoalan-persoalan penting yang sering dipikirkan. Kehidupan diartikan sebagai sebuah proses kebiasaan yang dilakukan sehari-hari. Pembicaraan tentang kematian sering dicela oleh mereka yang merasa tidak nyaman mendengarnya. Mereka menganggap bahwa kematian hanya akan terjadi ketika seseorang telah lanjut usia, seseorang tidak ingin memikirkan tentang kematian dirinya yang tidak menyenangkannya ini. Sekalipun begitu ingatlah selalu, tidak ada yang menjamin bahwa seseorang akan hidup dalam satu jam berikutnya. Tiap hari, orang-orang menyaksikan kematian orang lain di sekitarnya tetapi tidak memikirkan tentang hari ketika orang lain menyaksikan kematian dirinya. Ia tidak mengira bahwa kematian itu sedang menunggunya.

Ketika kematian dialami oleh seorang manusia, semua “kenyataan” dalam hidup tiba-tiba lenyap. Tidak ada lagi kenangan akan “hari-hari indah” di dunia ini. Seperti ketika penulis menyaksikan sendiri keluarbiasaan proses kematian. Segala Sesuatu telah berhenti dan titik.

Bagi penulis peristiwa kematian ayah adalah suatu goncangan yang besar yang patut diwacanakan karena peristiwa ini akan dialami oleh seluruh manusia. Banyak sekali terdapat ilmu dan efek-efek yang ditimbulkan setelahnya. Segala kesedihan dan rasa kehilangan mempengaruhi jiwa dan pikiran penulis, yang kemudian melatar belakangi keinginan mengungkapkannya kedalam karya visual dengan gaya ekspresionistik.

B. Konsep Perwujudan

Untuk mewujudkan ide dan gagasan visual diatas menjadi satu kesatuan karya seni lukis, pertama-tama langkah adalah dengan membuat sketsadan warna latar dengan ekspresif tetapi tetap mengatur atau mengontrol ketebalan dan ketipisan warnanya. Hal ini bertujuan agar center tidak kalah dengan warna latar. Dengan begitu penulis mengarahkan pandangan mata penikmat kepada satu center of interest. Warna-warna yang dipilih berdasarkan emosi atau perasaan yang penulis hadapi waktu itu. Hal ini adalah upaya untuk bersikap jujur dengan diri sendiri. Untuk objek utama penulis memakai warna-warna panas dengan aksentuasi gelap terang pada permukaannya, juga menggunakan kontur garis pada sisi-sisinya.

Karya-karya dalam seni lukis VII ini menggunakan bahan dari cat akrilik, cat poster, tinta china dan pensil warna, di atas bidang kanvas.

BAB III

PROSES PERWUJUDAN

Dalam tahap proses perwujudan karya, penulis melakukan beberapa proses dalam persiapan maupun eksekusinya. Tahapan awal yang penulis lakukan adalah pencarian ide pokok untuk simbol visualisasi. Dilanjutkan kemudian dengan pencarian referensi untuk pengembangan ide konseptualnya dari kitab suci Al Qur’an, buku, film, karya sastra dll.

Dari data-data visual maupun referensi konsep yang penulis peroleh dari media-media tersebut diatas, kemudian diolah menjadi bentuk-bentuk deformatif berupa sketsa kasar atau global untuk dilanjutkan pada proses eksekusi diatas kanvas.

A.Persiapan: Bahan, alat dan tekhnik

Mengenai visualisasi karya pada kanvas, tentunya terdapat proses kreatifitas yang tidak lepas dari pertimbangan artistik dengan keterampilan tekhnik yang akurat dan disesuaikan dengan visual atau gagasan yang ingin disampaikan. Selanjutnya penulis paparkan mengenai bahan, tekhnik, dan proses melukis.

1.Bahan

Bahan yang digunakan dalam proses berkarya penulis sebagian besar adalah bahan-bahan lukis moderen yang bersifat konvensional, antara lain:

a.Kanvas

Penulis menggunakan kanvas buatan sendiri, setelah kain kanvas dibentang di kayu spanram kemudian dilapoisi dengan lem PVC bermerek Fox dan cat tembok merek “Mowilek” putih super white.

Dengan urutan pengerjaan pelamuran kanvas dengan pasta lem terlebih dahulu untuk menutup pori-pori kain kanvas, dilanjutkan kemudian proses pemlamiran[10] dua hingga tiga kali.

b.Cat/ Warna

Cat akrilik dengan merek Galeria produk Winsor And Newton merah, biru, kuning, hitam dan putih. Pigmen Cat Sendy merah, biru, dan kuning. Cat poster warna pink No.9 merek Snowman. Pensil warna water colour merek Faber-Castell.

2. Alat

Yang dimaksud disini adalah segala alat yang digunakan penulis untuk membuat bahan kanvas hingga alat untuk melukis:

1.Kayu spanram, kain kanvas, guntacker, isi staplesdan tang.

2.Kuas untuk melukis menggunakan kuas cat minyak yang berbentuk pipih dengan merek Eterna China, Picasso nomor 1 s.d. 12, dan kuas cat tembok.

3.Kain katun untuk membuat efek tekstur semu.

4.Teknik

Dalam eksekusi 13 karya lukisan, penulis menggunakan teknik ekspresionistik. Teknik ini merupakan teknik karakter yang dimiliki oleh penulis dengan mengandalkan garis spontanitas sebagai media pengekspresian.

B.Tahap-tahap Perwujudan

Dalam tahap perwujudan karya seni lukis, penulis memakai berbagai tahap dalam pembuatannya, diantaranya adalah:

  1. Sketsa-sketsa Alternatif

Penulis membuat beberapa sketsa diatas kertas HVS tentang objek yang akan digambar diatas kanvas dengan menggunakan pensil, tinta bak maupun akrilik. Sketsa berbentuk objek secara global disertai catatan konsep. Sketsa diperoleh dari imajinasi dan referensi yang penulis dapatkan dari benda-benda peninggalan ayah, karya-karya pelukis lain, internet dan benda-benda dilingkungan sekitar untuk penambahan estetika visualnya.

  1. Pemindahan sketsa pada bidang lukisan (kanvas, kertas, panel, dll)

Pada proses pemindahan sketsa pada kanvas penulis lakukan dengan menggunakan media pensil warna water colour dengan perhitungan bahwa pensil warna water colour akan melebur dengan cat akrilik bila dilukis. Dan tidak meninggalkan gurat-gurat seperti ketika membuat sketsa dengan pensil biasa.

  1. Tahap pelukisan atau pewarnaan

Pada tahap pelukisan atau setelah sketsa ditorehkan, dilanjutkan dengan pemberian warna pada kanvas sebagai background dengan memperhitungkan efek-efek artistik tertentu. Kemudian penulis melukis dengan sketsa yang telah ada disertai panduan intuisi dalam menyelesaikan lukisannya.

  1. Tahap Akhir (finishing touch)

Tahapan akhir dalam penyelesaian karya-karya lukisan, penulis melamurkan wood stain “Mowilek” transparent sebagai finishing touch-nya. Dengan tujuan untuk pengawetan dan memunculkan warna yang lebih cerah.

C.Tahap Penampilan (framing) dan penyajian dalam pameran.

Pada tahap penyajian menyangkut framing atau penampilan. Penulis tanpa mempergunakan pigura pada karya-karya yang dipamerkan. Hal ini dilakukan dengan perhitungan artistik visual karya yang ekspresionistik. Sedangkan untuk penyajian dalam ruang pamer, penulis melengkapi dengan poster pameran dimeja tamu. Beberapa kertas biodata dan apresiasi untuk tamu yang berkunjung. Pada karya yang dipajang, disematkan caption pada sisi kayu rentanguntuk menerangkan judul, media, ukuran dan tahun pembuatan.

BAB IV

PENUTUP

Dengan karya-karya seni lukis VII ini penulis ingin agar keresahan yang penulis rasakan tentang peristiwa kematian dan efek-efek pasca ditinggal oleh orang yang terpenting dalam kehidupan penulis dapat menjadi refleksi yang positif, agar semua mahluk yang masih hidup menghargai hidup, waktu dan sesamanya.

Dalam proses penciptaan mulai dari pencarian ide visual hingga konsep-konsep secara literatur tentu saja melibatkan banyak pihak dan tanpa kendala. Ketika penulis memutuskan kematian sebagai tema besar untuk diangkat kedalam karya-karya seni lukis VII, penulis merasa tertantang untuk menelanjangi diri secara spiritual, hal ini dikarenakan kali pertamanya penulis mengangkat pengalaman hidup sebagai refleksi dalam ide penciptaan karya seni lukis. Tentunya dengan tujuan utama adalah apresiasi atau tawaran wacana. Dalam proses ini penulis menemukan suatu kenikmatan tersendiri karena dituntut dengan jujur mengungkapkan rasa dengan media simbol-simbol yang setidaknya harus dipahami oleh orang lain.

Pemburuan referensi maupun literatur dalam proses perkuliahan telah menyumbangkan ilmu baru serta pengalaman yang tak terperi. Di bilik-bilik internet yang memanjakan, menghabiskan waktu untuk membuka-buka kitab suci Al Qur’an yang sebelumnya jarang dilakukan dan kemudian dari sana mendapat pencerahan, maupun diskusi-diskusi dengan sahabat-sahabat yang menyumbangkan banyak ide-ide baru. Semua terasa nikmat bagi penulis diakhir studi seni lukis VII ini.

Namun, paradoksalitas suatu kondisi senantiasa terjadi, selain hal-hal yang dirasa nikmat dan menyumbangkan ilmu-ilmu baru ada beberapa faktor kendala yang menghambat selama prosesnya. Faktor kesiapan ketika harus presentasi sebagai kewajiban mata kuliah sering menjadi kendala bagi penulis dikarenakan penulis kurang begitu mampu menguasai tekhnik-tekhnik berbicara didepan publik dengan lancar dan bahasa yang tepat.

Salah satu kasus yang sedikit meninggalkan kesan yang kurang melegakan adalah ketika penulis mempresentasikan karya yang berjudul “artefak”. Pada waktu itu penulis menerangkan tentang konsep karya koleksi ayah, tetapi karena terkendala bahasa secara lisan, akhirnya komunikasi menjadi sedikit terhambat, maksud konsep karya dianggap sebagai konsep atau tema besar dalam mata kuliah seni lukis VII.

Selain faktor pembelajaran teknik presentasi dan komunikasi di depan publik yang sangat menghambat penulis, seringkali sejak awal proses mata kuliah seni lukis satu hingga tujuh penulis merasa tertekan dan ketakutan dalam melepaskan diri dalam pencampuran cat yang warna-warni. Dalam perkembangan dari seni lukis satu hingga tujuh, penulis merasa kurang puas dengan eksplorasi warna. Penulis mengandalkan garis dan ekspresi spontanitas sebagai kekuatan utama. Dalam mengurai kendala tersebut hingga saat ini penulis masih berusaha mencari titik-titik kekurangan dalam warna tersebut.

Mengagendakan tema-tema yang diangkat dari mulai seni lukis lima hingga tujuh, penulis banyak mengangkat permasalahan manusia sebagai sumber ide. Latar belakang penulis yang banyak menghabiskan waktu dengan menyendiri dengan segala tetek bengek permasalahan manusia yang kadang ironi, megalomania, dan mati hati acapkali menumbuhkan semangat untuk terus mengekplorasinya kedalam lukisan hingga menemukan titik yang penulis cari. Menghadapi persinggungan peristiwa yang luar biasa menyangkut kehidupan penulis tentang kematian seorang yang sangat dekat dalam hal ini ayah penulis yang sangat luar biasa pula mewujud kemudian menjadi koma yang sangat signifikan. Kematian adalah titik manusia yang hidup. Kematian adalah puncak, final atas segala hal.

Menyangkut tema kematian pada “Memorabilia Papa” salah satu karya yang dianggap penulis paling berhasil adalah “In Memoriam”. Meskipun secara visual masih terdapat kekurangan tekhnis disana-sini namun proses pelukisan penulis merasakan sesuatu yang luar biasa mengalir dari ujung kaki hingga kepala, berupa semangat yang menggebu untuk memenangkan hidup. Pengalaman-pengalaman ketika berdekatan dengan orang yang sakit dalam perjuangannya melawan penyakit, menunggu ajal maupun penyesalan-penyesalan masa lalu sangat memiriskan dan layak untuk diwacanakan untuk menjadi bahan pelajaran bagi manusia-manusia yang masih hidup. Dan penulis yakin, ayah almarhum tidak keberatan, sebaliknya justru mendukung untuk penulis membagi ilmu kepada audiens.

Semoga kesadaran kecil penulis dalam mengangkat tema ini kedalam karya-karya lukisan pada akhirnya bisa menjadi bahan perenungan bagi siapa saja yang mau merenungi hakekat kematian–terutama bagi audiens yang belum merasakan kehilangan salah satu sosok terpenting dalam hidup yaitu ayah.

Sedangkan untuk apresiasi selanjutnaya dalam seni lukis, penulis akan berusaha mengembangkan lagi kelebihan dan memperbaiki segala kekurangan-kekurangan berdasarakan kritik yang diperoleh dikelas maupun dari sahabat-sahabat diluar bangku perkuliahan.

Akhirnya, kembali kepada penerimaan masing-masing individu dalam mencerapinya, penulis menyampaikan: “hanya perenungan yang mampu membawa manusia menuju kearah yang lebih baik, tegar dan bertanggung jawab atas hidup dan kehidupan dihadapan-Nya.

LAMPIRAN

Foto-Foto Karya Seni Lukis VII dan Foto Referensi

Lukisan # 1

In Memoriam, 2008

Akrilik di kanvas 70 x 90 cm.

Deskripsi Karya:

Ide ini muncul dari sosok almarhum Ayah yang patut dikenang karena begitu banyak jasanya kepada penulis dan keluarga. Sang ayah menjadi sosok ideal yang memberi inpirasi pada hidup penulis atas bimbingannya dari masa kecil hingga dewasa. Kegamangan terjadi ketika penulis merasa belum mampu membalas semua jasa sang ayah.

Lukisan # 2

Terus Melaju, 2008

Akrilik di kanvas 70 x 90 cm.

Deskripsi Karya:

Kewafatan Ayah penulis memotivafi dan memacu semangat untuk terus maju dan melanjutkan hidup. Peristiwa kewafatan tersebut membuat penulis tertantang untuk memaknai kehidupan dengan lebih baik daripada yang sudah-sudah.

Lukisan # 3

Yang Tersisa, 2008

Akrilik di kanvas 70 x 90 cm.

Deskripsi Karya:

Ide ini berasal dari pemaknaan temntang kematian. Kematian membawa satu kenangan berupa cinta, kerinduan, kesedihan, harapan, iman, dan semangat. Penulis acapkali merasakan kerinduan yang tak terperi kepada sang Ayah dan hati selalu meneriakkan kata cinta, “Luv U Pa” . Untuk menyakinkan diri bahwa penulis benar-benar siap menjalani hidup meskipun dengan sisa-sisa kenangan.

Lukisan # 4

Sakit, 2008

Akrilik di kanvas 70 x 90 cm.

Deskripsi Karya:

Ide karya ini berasal dari pengalaman penulis ketika menunggui Ayah sakit di Rumah Sakit dengan perasaan sedih, was-was, dan pilu. Apalagi ketika penulis mengingat proses dari sakit hingga ajal menjemput.

Lukisan # 5

Sesuatu Yang Baru, 2008

Akrilik di kanvas 70 x 90 cm.

Deskripsi karya:

Kematian sang Ayah merupakan kehilangan besar dalam keluarga. Hal ini cukup mengubah keseharian dalam ritme kehidupan rumah penulis. Ibu, penulis, kakak dan adik dituntut untuk tegar dan melanjutkan apa yang menjadi harapan ayah dan semua yang ditinggalkannya.

Lukisan # 6

Aku Dan Papa, 2008

Akrilik di kanvas 70 x 90 cm.

Deskripsi karya:

Karya ini menceritakan lepasnya ruh Sang Ayah yang sakit (loss). Pengalaman ini membuat penulis semakin menyadari bahwa hidup ini suatu saat akan berakhir. Namun demikian, bukan berarti hidup ini tanpa makna. Manusia (tanpa ia memintanya) akan terhubung antara hidup dan mati.

Lukisan # 7

Harapan, 2008

Akrilik di kanvas 70 x 90 cm.

Deskripsi karya:

Perahu dalam simbolisasi karya visual ini adalah perjalanan penulis untuk terus melaju di lautan kehidupan. Simbol kepala merupakan cita-cita dan harapan. Dipilih simbol kepala karena di dalam kepala terdapat otak yang menjadi pusat kontrol seluruh aktivitas dan keputusan yang penulis ambil.

Lukisan # 8

Artefak, 2008

Akrilik di kanvas 70 x 90 cm.

Deskripsi karya:

Karya ini terinspirasi dari hobi Sang Ayah yaitu mengoleksi kacamata. Ayah penulis mengoleksi sekitar 30 kacamata. Dalam visual ini mencantumkan angka 6 sebagai dekorasi, tanpa maksud yang lebih mendalam. Visual kepala mewakili keseluruhan jasmani.

Lukisan # 9

Kenangan, 2008

Akrilik di kanvas 70 x 90 cm.

Deskripsi karya:

Karya ini merepresentasikan benda yaitu berupa baju yang digemari oleh ayah. Baju ini sering dipakai dalam keseharianayah hingga titik akhir hidupnya. Penulis sebenarnya sangat menginginkan baju ini sebagai memorabilia, namun baju kesayangan Sang Ayah telah rusak dikoyak ketika akan memandikan jenazah.

Lukisan # 10

Pesan Terakhir, 2008

Akrilik di kanvas 70 x 90 cm.

Deskripsi karya:

Karya ini merepresentasikan pesan terakhir sang Ayah kepada penulis tentang harapan-harapannya agar penulis menjadi anak yang lebih baik, bijaksana, dan serius kuliah. Dalam visualisasinya, potret wajah dibalik dengan maksud bahwa sang Ayah telah meninggalkan dunia ini menuju ke atas pada Tuhan-Nya (Allah S.W.T.).

Lukisan # 11

Dialog, 2008

Akrilik di kanvas 70 x 90 cm.

Deskripsi karya:

Ide karya ini berasal dari kontemplasi penulis saat merenungi kejadian ditengah ke-carut marut-an psikologi pasca meninggalnya Sang Ayah. Penulis berdialog dengan diri sendiri untuk mencari makna atas kejadian yang baru saja dialami diteruskan kemudian mencari kekuatan dari jalinan peristiwa-peristiwa tersebut.

Lukisan # 12

Achiles, 2008

Akrilik di kanvas 70 x 90 cm.

Deskripsi karya:

Karya ini terinspirasi dari sebuah karya film mytologi Yunani berjudul “Troy”. Film ini mengisahkan tentang prajurit Yunani bernama Achilles dengan semangat tak gentar pada kematian. Achiles memandang kematian sebagai sebuah kehormatan dan sebisa mungkin sebelum datang kematiannya ia ingin membuat sejarah untuk meninggalkan sesuatu yang abadi.

Lukisan # 13

Perjalanan, 2008

Akrilik di kanvas 70 x 90 cm.

Deskripsi karya:

Ide karya ini bertolak dari kesadaran penulis bahwa manusia tetap terus melakukan perjalanan walaupun buta akan masa depan. Perjalanan senantiasa diiringi dengan semangat yang disimbolkan dengan letupan api-api kecil.

Foto Referensi

Foto # 1

Lukisan

Jean Michel Basquiat, Riding With Death, 1988.

Mix media Akrilik dan cat minyak. 269 x 289,5 cm

Keterangan:

Penulis merefer lukisan kematian untuk mencari sentuhan kedalaman intuisi pelukisnya. Penulis menemukan gagasan visual J.M. Basquiat dan mengambil aksentuasi goresan J.M.Basquiat kedalam karya Penulis.

Print Out # 2

Photografi

Seno Gumiro Aji Darma, Sembilan wali dan Siti Jenar, 2008.

Keterangan:

Pada karya fotografi Seno Gumira Aji dharma ini penulis merefer sisi religiusitas sosok pria dewasa berusia sekitar 40 s.d.50 tahun. Mendekati sosok dan usia Ayah penulis yang meninggal dunia pada usia 52 tahun.

Foto # 3

Lukisan

Morello, Pepito, 2005.

Kolase, cat minyak di kanvas. 167,6 x 152,4 cm

Keterangan:

Pada lukisan karya Morello ini, penulis merefer gaya ekspresionistik sang pelukis, spontanitas serta variasi garisnya.

Foto # 4

Lukisan

Ugo Untoro, Candle, 2003.

akrilik di kanvas150 cm x 120 cm

Keterangan:

Pada karya Lukisan milik Ugo Untoro ini pelukis merefer efek lelehan sebagai aksen-aksen dalam visual yang berfungsi sebagai ekspresi sekaligus dekorasi.

Foto # 5

Lukisan

John Peterson, Break, 1997.

Cat minyak di kanvas. 78 cm x 95 cm

Keterangan:

Pada lukisan Karya John Peterson ini penulis merefer bentuk kepala dengan goresan bebas/ ekspresionistik. Menurut penulis karya John Peterson ini tanpa mengindahkan-indahkan visual. Pelukisnya hanya menyandarkan konsep visual berdasarkan intuisinya ketika berkarya.

Foto # 6

Lukisan

Pierre Soulage, Dream, 1998.

Cat minyak di kanvas125 cm x 100 cm

Keterangan:

Pada karya lukisan abstrak milik Pierre Soulage, penulis merefer abstraksi goresannya yang bebas dengan penekanan warna-warna dingin yang menyiratkan suatu kesendirian dan kesedihan yang sayu.

Foto # 7

Fotografi

Super Stock, Texture, 2008.

www.superstock.com

Keterangan:

Penulis merefer corak warna orange dan goresan tekstur pada karya fotografer super stock untuk diterapkan dalam karya “Aku dan Papa”

Foto # 8

Lukisan

J. Brown, Girl WaitingPaprika, 1898.

akrilik di kanvas150 cm x 120 cm

Keterangan:

Pada karya J. Brown, penulis merefer sikap penantian seorang anak perempuan yang sedang menunggui sesuatu.

Foto # 9

Fotografi

Warner Bross Picture, Troy, 2004.

Keterangan:

Pada gambar ini penulis terinspirasi oleh keteguhan hati tokoh Achilles dalam mitos Yunani yang memperjuangkan keabadian dengan tanpa memperdulikan ramalan kematian yang telah diketahuinya.

Foto # 10

Fotografi

3D Nvidia, Human Head, 2007.

Keterangan:

Pada karya 3DNvidia ini penulis merefer bentuk kepada untuk diterapkan dan direkonstruksi ulang kedalam bentuk visualisasi ciptaan penulis.

Foto # 11

Lukisan

Sasi Musika, Ten Eye Blue, 2007.

Cat minyak di kanvas100 cm x 90 cm

Keterangan:

Pada karya Sasi Musika ini penulis merefer bentuk deformasi kepala dan diterapkan kedalam karya yang berjudul Artefak.

Foto # 12

Fotografi

Natallie Gueweu, Compotition, 2003.

Keterangan:

Pada karya fotografi Natallie Gueweu ini penulis merefer kompisisi untuk bidang-bidang kanvas penulis.

Foto # 13

Patung

Stu Stomping, Head, 2005.

Fiber glass

Keterangan:

Apada karya ini penulis merefer bentuk kepala manusi auntuk dideformaasi ulang kedalam karya ekspresionistik

Foto # 14

Lukisan

Wetnoses, Self Potrait, 2007.

Cat minyak di kanvas100 cm x 80 cm

Keterangan:

Pada karya ini penulis merefer cahaya dalam karya lukis portrait untuk diterapkan kedalam karya “In Memoriam”

Foto # 15

Lukisan

Ugo Untoro, Horse, 2006.

Cat akrilik di kanvas 200 cm x 150 cm

Keterangan:

Pada karya ini penulis merefer bentuk lelehan sebagai inspirasi dalam mengekspresikan lelahan cat pada kanvas.

Foto # 16

Lukisan

Mosset-Pop Abstrak, Rain and Rock, 2005.

Cat akrilik di kanvas120 cm x 150 cm

Keterangan:

Pada karya ini penulis merefer keekspresifan pelukis dalam mengekspresikan intuisi kedalam kanvas.

Foto # 17

Lukisan

Ugo Untoro, Clouds making Rainbow, 2004.

Cat minyak di kanvas70 cm x 90 cm

Keterangan:

Pada karya ini penulis merefer gaya ekspresionistik Ugo Untoro ke dalam kanvas dengan keliaran dalam meletakan objek diatas bidang.

Foto # 18

Lukisan

%0