Catatan Harian Seorang Pertapa
Hai, selamat, kau baca tulisan ini. Catatan ini adalah penggalan kisah sepi seorang Pertapa yang enggan berdusta.. Atau mungkin sebuah memoriam kelam penuh dengan kebingungan dalam memaknai hidupnya. Sehingga dia diam dan menekur diri sambil memangku buku kumal kalau-kalau Tuhan ingin bicara dia langsung tuliskan.
Hari itu Kamis 32 Desember 2008 atau 1 Januari 2009. Pertapa yang tak berjenis kelamin itu kembali melebur dalam senyap sambil mendengarkan nyanyian angin bermusik daun. Mencerapi setiap nada ia lakukan, dan bertanya: “angin, lagu apakah itu?” sang angin yang bermasyuk dengan lagunya memberi jeda dan menjawab: “tentang sebuah lagu yang aku sendiri tak tahu apakah itu”. “apakah itu sebuah kebahagiaan? tanya pertapa itu lagi”. “Bukan, bukan pula sebuah kesedihan, lagu ini tak beremosi…, sudah pernahkah kau mendengar?” tanya angin. “Belum”. Ini lagu yang disuruh Tuhan untuk kunyanyikan pada kalian.. “ini lagu teraneh yang pernah kudendangkan..”
Sang pertapapun segera mengambil pena dan menuliskan nada-nada nyanyian sang angin bermusik daun.
nanana na nananaaa na, nanana naanaa naa naaa…
Nananaaa nanana naa nananaa naaaa nananaaa nananaaa anaaa na nana nana nanananaaa nananaaa nanana nanaaanananana nananaaaa na naana nanananaaaa nanananananananana naaanaaa nanana nananana aaa nanananana nanananaaaa nananaanaaaa nanana nana naaaaaa nanana anana aanna naaan ananananaaaaa ananannana nnaaanaaana ananana annnnnnnaaaanaaananananaanaaaaanananaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa
nanana na nananaaa na, nanana naanaa naa naaa…
“Oh…. apakah ini?” lalu, sang pertapa menunduk menekur diri hingga kini. Menunggumu menyambanginya dengan hati bahagia…
catatan pinggiran | Comment (0)SEBENTUK CINTA
“…pabila cinta memanggilmu… ikutilah dia walau jalannya berliku-liku… Dan, pabila sayapnya merangkummu… pasrahlah serta menyerah, walau pedang tersembunyi di sela sayap itu melukaimu…” (Kahlil Gibran)
“…kuhancurkan tulang-tulangku, tetapi aku tidak membuangnya sampai aku mendengar suara cinta memanggilku dan melihat jiwaku siap untuk berpetualang” (Kahlil Gibran)
“Tubuh mempunyai keinginan yang tidak kita ketahui. Mereka dipisahkan karena alasan duniawi dan dipisahkan di ujung bumi. Namun jiwa tetap ada di tangan cinta… terus hidup… sampai kematian datang dan menyeret mereka kepada Tuhan…” (Kahlil Gibran)
“Jangan menangis, Kekasihku… Janganlah menangis dan berbahagialah, karena kita diikat bersama dalam cinta. Hanya dengan cinta yang indah… kita dapat bertahan terhadap derita kemiskinan, pahitnya kesedihan, dan duka perpisahan” (Kahlil Gibran)
“Aku ingin mencintaimu dengan sederhana… seperti kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu… Aku ingin mencintaimu dengan sederhana… seperti isyarat yang tak sempat dikirimkan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada…” (Kahlil Gibran)
“Jika cinta tidak dapat mengembalikan engkau kepadaku dalam kehidupan ini… pastilah cinta akan menyatukan kita dalam kehidupan yang akan datang” (Kahlil Gibran)
“Apa yang telah kucintai laksana seorang anak kini tak henti-hentinya aku mencintai… Dan, apa yang kucintai kini… akan kucintai sampai akhir hidupku, karena cinta ialah semua yang dapat kucapai… dan tak ada yang akan mencabut diriku dari padanya” (Kahlil Gibran)
“Kemarin aku sendirian di dunia ini, kekasih; dan kesendirianku… sebengis kematian… Kemarin diriku adalah sepatah kata yang tak bersuara…, di dalam pikiran malam. Hari ini… aku menjelma menjadi sebuah nyanyian menyenangkan di atas lidah hari. Dan, ini berlangsung dalam semenit dari sang waktu yang melahirkan sekilasan pandang, sepatah kata, sebuah desakan dan… sekecup ciuman” (Kahlil Gibran)
Uncategorized | Comment (0)