Ode To My Pa

November 8th, 2008

Pa, hingga detik ini aku masih saja tidak percaya jika kamu telah pergi, rasa rindu ini tak tahu harus kujawab dengan apa? air mataku tidaklah cukup kupakai untuk membahasakannya. Terkadang hatiku sakit tetapi selalu kutepis karena aku sadar kamu mungkin lebih bahagia daripada kami disini. Mohon kamu jangan menangis, karena kami baik-baik saja. Hanya saja rasa rindu dan kenangan bahwa kamu sangat mencintaikulah yang menjadikannya.

Pa, aku sangat ingat saat pagi-pagi kau berbaju cokelat menyuapiku sebelum berangkat, atau saat kau pulang lagi kau bawakan aku permen coco rico dan sugus berkotak-kotak, atau kwaci bunga matahari, mainan dan bahkan alat-alat musik. Dan mainan-mainan anak laki-laki itu, sangat lekat di hatiku. Kau sangat mencintaiku. Pa, ketika kau lukis kulit telur itu… atau cangkir dari batok kelapa itu… aku yang masih kecil duduk diam melihat tanganmu mengukir..

Aku mohon maaf telah berbuat salah dan pernah membuatmu menangis.. aku mohon maaf pernah membuatmu susah. Percayalah aku sangat mencintaimu! Pa.

Kita partner berjuang ditengah hujan, kujemput kau di kantormu.. menunggu.. dan warung bakso itu.

Kau guru mesinku, kau ajari aku mereparasi motor-motorku, membongkar vespaku, memarahiku saat tak berhelem atau baju seragam yang tak kurapikan… ya, seragam itu hasil dari jahitanmu…

Betapa singkat waktuku berbakti padamu??? pelukanku belumlah cukup dipagi itu.

Pernah kau pangku aku dipaha saat kau supiri mobilmu. Kau letakkan tanganku di setirnya seolah-olah aku yang kecil ingin kau ajari menyupir.

Atau, ketika masih saja dengan cintamu kau cucikan baju-bajuku dan mengatakan: membilas harus bersih sampai tak ada busanya, karena jika masih berbusa baju akan cepat kotor.

Ritual yang selalu gagal kucontohi, mandi pagi-pagi dan gosok gigi setiap kali mau tidur dan bangun pagi…

Dan warung-warung yang pernah kita sambangi….

Pa, saat kudekap engkau sebelum pergi… aku ingin kau bahagia karena aku pulang!!

Aku mencintaimu… selamanya…

Aku adalah dirimu.

……………………………………………………………………………………………………….

Aku ingin, mencintaimu dengan sederhana

Dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin, mencintaimu dengan sederhana

Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada (kHALIL GIBRAN)




Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply

Name (required)

Email (required)

Website

Speak your mind