Dew Clarissa
Sebuah catatan pada malam dikamar penuh debu bersama Tuhan.
Kainstlir Lingersti 1809.
“Diamku, bukan mati…dan koridor-koridor nadi dalam tubuhku masih lancar mengalirkan darah untuk hidupku. Dalam darah itu ada dendam yang segera ingin dituntaskan, ada gejolak nafsu yang ingin di salurkan, ada nada-nada melankolis yang menuntut untuk dilagukan… Semua ini kusumpahi ada dalam tiap detik tarikan nafasku yang terkontaminasi dengan debu-debu jalanan. Jalanan yang selalu kuukur lebar dan panjangnya…sekedar untuk mencari tahu kapan dendam, gejolak nafsu dan nada-nada melankolis itu terealisasikan, agar aku hidup sebelum mati dengan satu kebanggaan…aku mampu menundukkan diriku sendiri, yang tak pernah ku ketahui dimana aku meletakkan titik untuk berhenti atau paling tidak koma untuk sekedar istirahat …sekejap saja… aku sudah sangat lelah….
Segelontor debu dicermin hiaskulah seakan-akan mengerti, karena dia adalah jam waktuku, juga sekaligus saksi bertumpuk-tumpuk yang menghitung dendam, nafsu dan nada-nada melankolis itu … “Dew,…kamu tunggu apa?!”. ” Aku menunggu Isa turun dari langit!” selorohku selalu, ketika mereka berteriak-teriak melotot seakan-akan tidak sabar melihat siapa yang akan terkapar menemani mereka menjadi debu dan terhempas oleh angin tiada menentu itu. Aku tahu mereka begitu karena mereka ingin mngajakkku terbang…sekejap lalu hinggap, tersapu… lalu hinggap lagi dan menunggu angin… Bodoh!!! ” Sudahlah…kamu disitu saja sebagai jam waktuku… Sudah kuterima ketidak laziman ini sebagai pengganti air bahkan sehirup oksigen dalam tubuhku…
Dengan termangu di sudut kamar yang penuh debu seperti inilah aku semakin mengeti .. tak jua aku, mereka yang berkutat dengan kemewahan..ataupun kemiskinan tentulah ikut larut. Seberpaling-palingnya aku … itulah jawaban.
Hidupku ini bagaikan hantu…, hallo debu di cermin hiasku, arwahkanlah aku, walaupun kenyataannya mereka sangat mampu melihat bodyku…seperti halnya dirimu ketika aku berkaca…
Kukatupkan telapak tanganku, kutaruh di ujung hidungku dan terpejam… satu detik, satu menit, satu jam, dua jam…hakikat itu belum terdefinisikan… Oh Tuhan…seperti kemarin, hari ini kau suguhi aku dengan sup otak dan kepala manusia …bersaus darah! lalu kau menyuruhku tanpa suara untuk segera menyantapnya sambil menunduk dan berdzikir…” Dew….”! ucapmu dengan suara yang penuh arti… sunyi, ………….tanpa kata-kata lagi.
Satu detik, satu, menit, satu jam, dua jam. Perlahan kudongakkan kepalaku untuk melirik wajah-Mu yang tak tampak tapi bersinar, aku mengerti… tiga nyawa telah kau cabut dalam tiga detik, lalu kau memintaku untuk menyantapnya sebagai pengganjal rasa lapar otakku sendiri…
Kulirik cermin hiasku lagi…dan debu-debu jam wakktuku itupun tersenyum dengan penuh kemenangan. Namun ambigu, Anjing!! Apakah lagi ini satu dendam bertambah…??? atau justru jawaban sedikit atas trilyunan kubik pertanyaan dalam lekuk-lekuk bagian otakku. ????
Ya, diamku bukan mati. Dew akan selalu hidup dan terus berjalan …menumpuk dendam, menyalurkan sejumput nafsu dan melagukan nada-nada melankolis yang ingin dilagukan itu….
………………………….
aktifitas berkesenian |Leave a Reply