Puisi untuk mu yang terkasih…

November 2nd, 2008

Kepada Antara

Jauh kupendam dendam yang tak seharusnya kukatakan

Karena sungguh dendam itu milik angin

Angin yang dulu pernah mengajak berbicara kita

Saat itu, waktu hujan reda

Jauh antara yang kutelan dalam kesumat semu

Adalah jua awan-awan kelabu

Bersanding dengan selampir bunga lebur yang kurepih

Dari sisa-sisa makanan anjing

Dan aku tak pernah percaya

Potong saja? gejolak itu agar waktu bersahabat

Karena dendam itu sebenarnya bukan hanya milik angin

Juga malam yang membawa kelam

Jauh antara yang kuseka nanah dengan sapu tangan luka

Adalah kerinduan yang seperti lidah-lidah kelu

Merangas sepi diantara mimpi-mimpi yang asing

Yang kuhisap bagai vitamin kematian yang tak ragu

Jauh antara kuartikan makna dengan kata-kata indah

Kau pendusta

Sudah dekap siangku!

Cumbui aku saat cahaya memendar penuh

Agar kau tak berdusta,

Agar aku tahu kebohonganmu

Ya, lagi-lagi hanya lagu rindu yang kudendangkan….

(yogyes, 14 10 08, K.Art )

Karena angin selalu menguping, dia akan selamanya berdusta

Puisi ini tanpa makna apapun…

Papi

Gelap itu melucuti semua dendamku..

Dia memintaku untuk memelukmu, bahkan lama-lama

Membelai rambutmu dengan sentuhan paling lembutku

Sambil berbisik, aku disini…

Didekatmu…

Gelap itu menyuruhku menuang madu

Untuk kusajikan padamu dengan gelas tercantik

Menyuapkan padamu dengan senyumku

Menyeka tetes yang tertumpah dari bibirmu

Dan bernyanyi… Seluloqui Tuan Adi…

Kau sangat tahu luka hatiku,

Kau mengerti betapa biru

Sampai hari berganti aku yang masih saja membawa rasa sakit itu

Bersandar pada sepi yang dingin… dan dingin yang sepi…

Tapi Gelap diam-diam menjegal meja yang menjadi tempat sajian itu…

Papi terbaikku telah lemas……………………………………

Mengamini doaku tanpa suara

Dan tanpa siapapun…

Dia mati pada Antara

Papi, seribu dera yang telah ingin kujawab

Tak jua sempat kukatakan

Dan Gelap itu menemanimu

Berjalan tanpa aku…

Dan dia tetap diam…

Hingga saat dia mau berkata

Hah!,

Aku lupa merayu…

Yogyakarta, kamar UUT Oktober 2008




Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply

Name (required)

Email (required)

Website

Speak your mind