Puisi untuk mu yang terkasih…
Kepada Antara
Jauh kupendam dendam yang tak seharusnya kukatakan
Karena sungguh dendam itu milik angin
Angin yang dulu pernah mengajak berbicara kita
Saat itu, waktu hujan reda
Jauh antara yang kutelan dalam kesumat semu
Adalah jua awan-awan kelabu
Bersanding dengan selampir bunga lebur yang kurepih
Dari sisa-sisa makanan anjing
Dan aku tak pernah percaya
Potong saja? gejolak itu agar waktu bersahabat
Karena dendam itu sebenarnya bukan hanya milik angin
Juga malam yang membawa kelam
Jauh antara yang kuseka nanah dengan sapu tangan luka
Adalah kerinduan yang seperti lidah-lidah kelu
Merangas sepi diantara mimpi-mimpi yang asing
Yang kuhisap bagai vitamin kematian yang tak ragu
Jauh antara kuartikan makna dengan kata-kata indah
Kau pendusta
Sudah dekap siangku!
Cumbui aku saat cahaya memendar penuh
Agar kau tak berdusta,
Agar aku tahu kebohonganmu
Ya, lagi-lagi hanya lagu rindu yang kudendangkan….
(yogyes, 14 10 08, K.Art )
Karena angin selalu menguping, dia akan selamanya berdusta
Puisi ini tanpa makna apapun…
Papi
Gelap itu melucuti semua dendamku..
Dia memintaku untuk memelukmu, bahkan lama-lama
Membelai rambutmu dengan sentuhan paling lembutku
Sambil berbisik, aku disini…
Didekatmu…
Gelap itu menyuruhku menuang madu
Untuk kusajikan padamu dengan gelas tercantik
Menyuapkan padamu dengan senyumku
Menyeka tetes yang tertumpah dari bibirmu
Dan bernyanyi… Seluloqui Tuan Adi…
Kau sangat tahu luka hatiku,
Kau mengerti betapa biru
Sampai hari berganti aku yang masih saja membawa rasa sakit itu
Bersandar pada sepi yang dingin… dan dingin yang sepi…
Tapi Gelap diam-diam menjegal meja yang menjadi tempat sajian itu…
Papi terbaikku telah lemas……………………………………
Mengamini doaku tanpa suara
Dan tanpa siapapun…
Dia mati pada Antara
Papi, seribu dera yang telah ingin kujawab
Tak jua sempat kukatakan
Dan Gelap itu menemanimu
Berjalan tanpa aku…
Dan dia tetap diam…
Hingga saat dia mau berkata
Hah!,
Aku lupa merayu…
Yogyakarta, kamar UUT Oktober 2008
Uncategorized |
Leave a Reply