The History of Jew
Lahirnya nama Yahudi untuk Bani Israel

Peta kerajaan Judah (Yahuda) dan Israel
Pasca wafatnya Nabi Sulaiman pada 931 sM, Rehoboam, salah satu putranya, nak tahta untuk menjadi raja. Ketika ia menjadi raja, para tetuah Israel menjumpainya untuk menuntut ganti rugi atas keluhan-keluhan politis dan religius. Dan sang juru bicara mereka adalah Jeroboam, seorang jenderal Israel yang telah kembali dari pengasingannya di Mesir karena melarikan dari kegagalan kudeta atas kekuasaan pemerintahan Nabi Sulaiman.
Rehoboam menolak mendengarkan suara konsiliasi dan moderat. Sebaliknya, ia mengirimkan angkatan bersenjata melawan Israel namun ia kalah telak. Kekalahan ini dimanfaatkan oleh Jeroboam untuk membentuk kerajaan baru, kerajaan Israel.
Pecahlah kerajaan yang telah dirintis oleh Nabi Daud hingga Nabi Sulaiman menjadi dua kerajaan baru: Judah (Yahuda)dengan rajanya Rehoboam di wilayah Selatan dengan ibu kotanya Jerusalem dan Israel di wilayah Utara dengan ibu kotanya Syakem dan rajanya adalah Jeroboam.
Kerajaan Judah didukung oleh dua suku dari bani Israel sementara kerajaan Israel didukung oleh 10 suku. Perpecahan ini terus berlangsung hingga 100 tahun lamanya.
Kerajaan Israel merupakan kerajaan yang rawan di mana penguasanya rata-rata hanya mampu bertahan selama 11 tahun. Semuanya, ada 9 dinasti, jatuh-bangun sepanjang 212 tahun periode monarki. Dan bahkan ada satu dinasti saja yang mampu bertahan hanya dalam waktu 7 hari. Hanya sedikit dari kesembilan raja yang menempati tahta wafat karena sebab-sebab alamiah, sakit atau tua.
Sejarah kerajaan Judah tak kalah riuhnya. 20 raja memegang kekuasaan rata-rata bertahan selama 17 tahun; akan tetapi semuanya dari dinasti yang sama.
Dengan pecahnya kerajaan Palestina ini, maka musuh-musuh Bani Israel di masa Nabi Sulaiman bersiap-siap untuk menaklukkan mereka. Dalam diri Bani Israel sendiri mulailah pula kerusakan secara sosial dan religius terjadi. Mereka mulai melupakan ajaran-ajaran dari Taurat yang dibawa oleh Nabi Musa serta beberapa petunjuk dari Nabi Daud dan Nabi Sulaiaman.
Bahkan ada sekelompok Bani Israel yang masih percaya kepada ilmu sihir Mesir kuno mulai berani tampil. Dan mereka mengklaim bahwa ilmu sihir ini legal secara hukum Taurat karena Nabi Sulaiman memiliki tentara dari bangsa Jin yang menurut mereka adalah tidak mungkin seorang manusia dapat memerintah bangsa Jin jika tidak memiliki ilmu sihir. Inilah yang disinggung oleh Allah dalam Al Qur’an surat Al Baqarah ayat 102. Dan mereka ini yang mempelajari ilmu sihir ini menyampaikannya secara lisan dan sembunyi-sembunyi karena setelah kejadian yang menimpa Samiri dengan patung anak sapi emasnya ilmu sihir ini harus disampaikan secara rahasia.
Kepercayaan ilmu sihir dengan penyampaian secara lisan inilah kemudian disebut dengan Kabbalah. Kabbalah sendiri berarti “secara lisan”. Dan ilmu sihir ini terus diwarisikan secara rapi dan rahasia hingga wafatnya Nabi Sulaiman mereka mulai berani tampil secara terang-terangan (nanti pada artikel-artikel selanjutnya penulis akan mengungkap the unveiled kabbalah, sebuah buku yang membahas tentang kabbalah dan isinya)

Simbol kabbalah yang dinisbatkan pada kejayaan negara Israel
Tidak hanya penggunaan ilmu sihir saja, tetapi the ten commandement pun mulai mereka tidak jalani. Akibatnya, mereka mulai pecah secara religius dan sosial hingga dua kerajaan kecil berdiri di tengah-tengah musuh yang siap menyerang mereka.
Pada 721 sM, bangsa Assyria menaklukkan kerajaan Israel. Tinggalah kerajaan Judah bertahan hingga pada 586 sM bangsa Babilonia menyerang dan menghancurkan kerajaan Judah beserta masjid yang dibangun oleh Nabi Sulaiman.
Kerajaan Israel yang jatuh ke tangan Assyria ini membuat gatal bagi kerajaan Mesir hanya sebagai penonton saja. Padahal mereka tahu kalau tanah Palestina adalah daerah yang strategis. Maka pada 608 datanglah Fir’aun dari Mesir untuk menyerang kerajaan Judah dan selanjutnya menyerang ke wilayah Utara bekas kerajaan Israel yang telah dicaplok lebih dahulu oleh Assyria.
Perang hebat terjadi antara Mesir dan Assyria sedangkan Bani Israel hanya sebagai tumbal besarnya. Ibarat dua gajah besar yang bertarung maka sang pelanduk yang menerima akibatnya.
Melihat Mesir menyerang Assyria, Raja Nebukhanedzar dari kerajaan Babilonia tidak bisa berpangku tangan mengingat kerajaannya telah memiliki hubungan baik dengan kerajaan Assyria. Maka perang besar pun tidak terelakkan.
Bani Israel yang telah dicaplok oleh Assyria kemudian diserang lagi oleh bangsa Mesir kemudian bangsa Babilonia merasa bahwa semuanya tidak ada yang baik bagi mereka. Sekali dijajah tetaplah mereka bukan tuan rumah bagi tanah mereka sendiri.
Dapat Anda bayangkan bagaimana mereka dijajah secara beruntun oleh tiga bangsa besar di zamannya tersebut : Assyria, Mesir dan Babilonia. Tetapi inilah janji Allah. Ingat bacalah kembali artikel sebelumnya. Bani Israel akan terhina jika mereka tidak melaksanakan janji Allah dalam Taurat yang dibawa oleh Nabi Musa as.
Pada penjajahan bangsa Babilonia inilah mereka mulai mengenal apa yang dinamakan diaspora. Diaspora adalah istilah di mana Bnai Israel mulai berpencar di mana-mana tanpa memiliki tanah sendiri. Mereka hanya dianggap sebagai pendatang saja. Inilah janji Allah seperti yang disebutkan dalam Taurat dan Al Qur’an.
Nebukhanedzar lalu membunuh raja terakhir dari kerajaan Judah Shidqiya bin Yawaqem, meruntuhkan masjid, menawan para penduduknya dan membawanya ke Babilonia.
Babilonia adalah sebuah kerajaan dengan agama pagan sebagai agama utama. Di negeri baru ini Bani Israel pun mulai tercemar dengan ide-ide baru dari kebudayaan Babbilonia ini. Kehancuran Palestina dengan segala kepercayaan mereka, masjid dan hilangnya tabut, tempat menyimpan Taurat Nabi Musa, membuat mereka mulai mencari jati diri baru agar nilai-nilai Taurat tidak hilang di negeri orang. Mulailah mereka menyusun Taurat yang telah hilang dicabik-cabik semenjak diserang Assyria.
Pada tahun 538 sM, bangsa Persia tampil di muka bumi ini dengah gagahnya menaklukkan kerajaan Babilonia. Dengan sang raja Cyrus, bangsa Persia dari ras Arya ini membawa nasib baru bagi Bani Israel.
Tidak ada bendanya dengan bangsa Babilonia, kerajaan Persia pun beragama pagan. Sebuah kepercayaan sangat bertentangan dengan keyakinan yang dibawa oleh Nabi Musa.
Karena Bani Israel memiliki kepercayaan yang berbeda dan mereka ada yang tetap bertahan pada keyakinannya ini maka bangsa Persia menyebut mereka sebagai bangsa Yahudi, sebuah nama yang dinisbatkan dari Yahuda. Sejak saat itu bergantilah penyebutan mereka dari Bani Israel menjadi Yahudi, sebuah nama untuk ras dan sekaligus agama (keyakinan).
Dan nama Yahudi ini khas bagi mereka di zaman tersebut karena mengingat pada masa tersebut pada umumnya bagsa-bangsa lain memiliki keyakinan pagan (percaya pada dewa-dewa) sementara Bani Israel hanya percaya pada satu Tuhan (monoteis).
Nama Yahudi adalah sebuah nama untuk ras sekaligus agama. Dan ini satu-satunya yang ada di dunia. Sebagaimana kita ketahui agama Islam diamanatkan kepada Nabi Muhammad dari bangsa Arab, tetapi nama Arab hanya untuk penyebutan bangsa dan tidak ada agama Arab. Demikian halnya dengan agama Nasrani, Hindu dan Budhha. Tetapi Yahudi adalah unik. Ras sekaligus agama dari satu nama.
Science | Comment (0)Polemik agama dan seni, sekedar toilet?
work in progress…
Uncategorized | Comment (0)Fundamentalisme dalam Seni, ?
work in progress…
aktifitas berkesenian | Comment (0)Genre dan Proses Kreatif
Genre dalam Kamus Induk Istilah Ilmiah adalah aliran, dalam wikipedia bahasa Indonesia ensiklopedia bebas disebutkan bahwa genre atau ragam adalah pembagian suatu bentuk seni atau tutur tertentu menurut kriteria yang sesuai untuk bentuk tersebut. Dalam semua jenis seni genre adalah suatu kategori tanpa batas-batas yang jelas, yang terbentuk melalui konvensi atau kebiasaan sosial yang timbul dari meniru teman sezaman seseorang dan bukan nenek moyang, tidak mengiblat secara mutlak dan biasanya beroperasi dalam masalah kelakuan dan urusan-urusan[1]
Merujuk pada pengertian genre diatas, menurut hemat saya bagaimanapun juga genre yang pernah ada selalu mempengaruhi proses kreatif seorang seniman. Sistem konvensi yang hadir dengan sendirinya tersebut, mengkristal kemudian pada wilayah-wilayah proses penciptaan seorang seniman untuk melahirkan suatu relitas baru dengan berbagai macam dalih tergantung kepada konsep-konsep penciptaan masing-masing individu sang seniman sendiri. Sebagai contoh adalah upaya-upaya seorang pelukis membuat bentuk-bentuk visual atau simbol-simbol baru. Dengan kata lain seniman senantiasa terus menerus berusaha menciptakan hal-hal baru yang mana hal ini adalah hakikat dari genre itu sendiri. Yang muncul akibat konvensi atau keberterimaan oleh sekelompok sosial.
Mengkiblat pada konvensi barat tidak bisa dipungkiri bahwa hal itu pada akhirnya mempengaruhi paradigma seniman yang masih sedang belajar disuatu perguruan tinggi seni maupun sitem kurikulum yang disepakati, acapkali bagi sang seniman yang sedang berproses, pengkiblatan suatu genre akan sangat menyulitkan dalam proses penggalian jati dirinya atau dengan kata lain, pencarian karakter pribadi dalam karya visual akan terasa tidak orisinil. Hal tersebut dikarenakan sikap kebiasaan dalam proses penciptaan atau proses kreatif seorang seniman khususnya pemula adalah sakral. Kesakralan proses kreatif yang dialami seniman pemula rata-rata karena mereka tidak mengindahkan metode referensial[2] yang dianggap tidak orisinil atau hanya mengiblat pada gaya yang sudah ada. Dengan tendensi umum adalah pengharapan terlepas dari konvensi-konvensi yang sudah ada tersebut dan membuat konvensi baru atau genre baru. Namun acapkali harapan ini terjengkang oleh kenyataan bahwa hasil ciptaan seniman-seniman masa kini adalah pengulangan hasil dari kreasi dari seniman-seniman sebelumnya.
Pertanyaan mendasar yang seringkali melingkupi seniman pemula khususnya akademik adalah bisakah karya saya sebagai hasil dari pencarian saya sendiri tanpa harus dipersamakan dengan karya seniman-seniman sebelumnya dengan mengandalkan kreatifitas saya dan melupakan konvensi barat yang digunakan selama ini. Contoh kasus diatas bagi saya adalah salah satu bentuk kebingungan dampak dari wacana sosial seni rupa yang mengkiblat pada hasil pemikiran dan kreatifitas orang-orang barat.
Menjawab pertanyaan diatas berarti pemahaman terhadap realitas seni haruslah diutamakan. Memberi batasan-batasan pada suatu kondisi sosial masyarakat dan konvensi khususnya seni merupakan hal yang sangat sulit. Hal ini terjadi karena realitas seni memiliki jalinan erat dengan sejarah masa lalu yang secara progresif mengantarkan pada kekinian yang tidak bisa ditolak. Sebagai contoh adalah aliran-aliran dalam seni lukis yang muncul secara bertautan antara masa setelah dan sebelumnya. Perkembangan suatu aliran seni tidak selalu mengubah substansi dari aliran-aliran yang muncul, semua menjadi abadi dikarenakan aliran-aliran tersebut memiliki zaman yang juga bertautan, dan yang sangat penting adalah posisi aliran itu sendiriyang mewakili gaya tutur atau genre yang berada diluar kesadaran kita adalah gaya kepribadian dan karakter itu sendir. Artinya bagaimanapun juga dan tidak usah ditunggu setiap konvensi akan mengikuti perkembangan zaman. Dan jawaban atas kebingungan atau kegelisahan mengenai konvensi suatu genre seperti diatas adalah bagaimana kita tidak berhenti berkarya dan terus melakukan eksplorasi untuk menemukan kepuasan jiwa yang menjadi point seorang seniman ketika berkarya dan memutuskan karyanya sudah selesai dengan kekayaan nilai estetik atau keindahan yang ditinggi.
Pengaruh Genre Terhadap Proses Kreatif
Seperti yang telah saya uraikan diatas bahwa genre mempengaruhi proses kreatif seniman atau perupa, biasanya ditandai dengan kesamaan karakter pada karyanya dengan karya seniman-seniman sebelumnya. Selalu memiliki dualisme pengaruh genre terhadap proses kreatif seniman adalah positif dan negatif.
Pengaruh positif genre adalah keberkembangan gaya seatu karya seni, hal ini menjadi nilai kompetitif bagi setiap seniman untuk semakin kreatif dan eksploratif. Sedangkan dampak negative pada umumnya adlah pemenjaraan ekspresi, yang saya maksud adalah ketika sang seniman berkarya dengan memuja dan memakai gaya yang sama maka dengan sendirinya stigma bahwa seniman tersebut tidak berkembang dan mengikuti zaman akan terjadi, sedangkan pengekspresian karya saat ini telah mencapai masa-masa yang postmodernisme, atau telah menanggalkan konvensi-konvensi tertentu dalam kesenirupaan bahkan konvensi barat sekalipun yang selama ini dipakai dalam paradigmatik kesenian kita. Sebagaimana yang terjadi dalam kurun waktu 1,5 tahun belakangan ini, terjadi fenomena yang menarik mengenai booming pasar yang telah mengkiblat pada konvensi Asia khususnya lukisan gaya China yang cenderung berwacana dan menggelitik patronase seni rupa kita. Pemenjaraan ekspresi untuk masa kini berarti bunuh diri secara perlahan.
Agar tidak terjebak dalam pro─kontra positif dan negatif suatu pengaruh genre terhadap proses kreatif, sebaiknya seniman memahami dia hidup dizaman yang bagaimana dan seperti apa pada saat ini. Karena saat terjebak dalam kungkungan isme atau aliran apa yang telah tuntas dimasa lampau seniman akan kehilangan ruh berkeseniannya, atau seperti hidup bukan pada zamannya. Begitu saya sebuti.
Sedangkan wilayah pedagogik atau dunia pendidikan khususnya perguruan tinggi seni, pengaruh genre untuk masa saat ini tidak layak lagi dipakai karena zaman postmodernisme telah melucuti konvensi-konvensi yang kaku mengenai proses kreatif mahasiswanya, karenanya kritik yang ideal adalah yang menggunakan metode non konvensional juga, artinya kritik-kritik yang dibutuhkan adalah kritik yang segar dan tidak kaku. Kritik-kritik karya akan terasa memaksa jika pemilihan isme dituntut oleh seorang dosen dikelas karena hal itu sama artinya dengan memenjarakan kebebasan ekspresi mahasiswanya yang sedang berproses menggali karakter pribadi untuk karya yang akan diciptakannya.
[1] M. Dahlan .Y. Al Barry dan L.Lya Sofyan Yacub” Kamus Induk Istilah Ilmiah”, Target Press Surabaya, 2003 hal. 418.
[2] Yang berhubungan dengan referensi-khususnya seni rupa atau visual.
The St. Conery Cathartic, Samuel and Me
With Samuel i had moved into Cardigan and restored relative artic stability after more than 5 years of internal progressive of there. This condition protitious not only for artic stability but also for the rise of the hopeness or city of art-the most important event in Cardigan since the fall of president, Sinu. And one that was to affect every aspect of political life in the nation for built up. And i wanna be that. So it was as though the very world had shaken it self and cast me, and was clothing my self in a great style. Conservatism Sinu was the order of the day …………….b cont
catatan pinggiran | Comment (0)Dew Clarissa
Sebuah catatan pada malam dikamar penuh debu bersama Tuhan.
Kainstlir Lingersti 1809.
“Diamku, bukan mati…dan koridor-koridor nadi dalam tubuhku masih lancar mengalirkan darah untuk hidupku. Dalam darah itu ada dendam yang segera ingin dituntaskan, ada gejolak nafsu yang ingin di salurkan, ada nada-nada melankolis yang menuntut untuk dilagukan… Semua ini kusumpahi ada dalam tiap detik tarikan nafasku yang terkontaminasi dengan debu-debu jalanan. Jalanan yang selalu kuukur lebar dan panjangnya…sekedar untuk mencari tahu kapan dendam, gejolak nafsu dan nada-nada melankolis itu terealisasikan, agar aku hidup sebelum mati dengan satu kebanggaan…aku mampu menundukkan diriku sendiri, yang tak pernah ku ketahui dimana aku meletakkan titik untuk berhenti atau paling tidak koma untuk sekedar istirahat …sekejap saja… aku sudah sangat lelah….
Segelontor debu dicermin hiaskulah seakan-akan mengerti, karena dia adalah jam waktuku, juga sekaligus saksi bertumpuk-tumpuk yang menghitung dendam, nafsu dan nada-nada melankolis itu … “Dew,…kamu tunggu apa?!”. ” Aku menunggu Isa turun dari langit!” selorohku selalu, ketika mereka berteriak-teriak melotot seakan-akan tidak sabar melihat siapa yang akan terkapar menemani mereka menjadi debu dan terhempas oleh angin tiada menentu itu. Aku tahu mereka begitu karena mereka ingin mngajakkku terbang…sekejap lalu hinggap, tersapu… lalu hinggap lagi dan menunggu angin… Bodoh!!! ” Sudahlah…kamu disitu saja sebagai jam waktuku… Sudah kuterima ketidak laziman ini sebagai pengganti air bahkan sehirup oksigen dalam tubuhku…
Dengan termangu di sudut kamar yang penuh debu seperti inilah aku semakin mengeti .. tak jua aku, mereka yang berkutat dengan kemewahan..ataupun kemiskinan tentulah ikut larut. Seberpaling-palingnya aku … itulah jawaban.
Hidupku ini bagaikan hantu…, hallo debu di cermin hiasku, arwahkanlah aku, walaupun kenyataannya mereka sangat mampu melihat bodyku…seperti halnya dirimu ketika aku berkaca…
Kukatupkan telapak tanganku, kutaruh di ujung hidungku dan terpejam… satu detik, satu menit, satu jam, dua jam…hakikat itu belum terdefinisikan… Oh Tuhan…seperti kemarin, hari ini kau suguhi aku dengan sup otak dan kepala manusia …bersaus darah! lalu kau menyuruhku tanpa suara untuk segera menyantapnya sambil menunduk dan berdzikir…” Dew….”! ucapmu dengan suara yang penuh arti… sunyi, ………….tanpa kata-kata lagi.
Satu detik, satu, menit, satu jam, dua jam. Perlahan kudongakkan kepalaku untuk melirik wajah-Mu yang tak tampak tapi bersinar, aku mengerti… tiga nyawa telah kau cabut dalam tiga detik, lalu kau memintaku untuk menyantapnya sebagai pengganjal rasa lapar otakku sendiri…
Kulirik cermin hiasku lagi…dan debu-debu jam wakktuku itupun tersenyum dengan penuh kemenangan. Namun ambigu, Anjing!! Apakah lagi ini satu dendam bertambah…??? atau justru jawaban sedikit atas trilyunan kubik pertanyaan dalam lekuk-lekuk bagian otakku. ????
Ya, diamku bukan mati. Dew akan selalu hidup dan terus berjalan …menumpuk dendam, menyalurkan sejumput nafsu dan melagukan nada-nada melankolis yang ingin dilagukan itu….
………………………….
aktifitas berkesenian | Comment (0)Ode To My Pa
Pa, hingga detik ini aku masih saja tidak percaya jika kamu telah pergi, rasa rindu ini tak tahu harus kujawab dengan apa? air mataku tidaklah cukup kupakai untuk membahasakannya. Terkadang hatiku sakit tetapi selalu kutepis karena aku sadar kamu mungkin lebih bahagia daripada kami disini. Mohon kamu jangan menangis, karena kami baik-baik saja. Hanya saja rasa rindu dan kenangan bahwa kamu sangat mencintaikulah yang menjadikannya.
Pa, aku sangat ingat saat pagi-pagi kau berbaju cokelat menyuapiku sebelum berangkat, atau saat kau pulang lagi kau bawakan aku permen coco rico dan sugus berkotak-kotak, atau kwaci bunga matahari, mainan dan bahkan alat-alat musik. Dan mainan-mainan anak laki-laki itu, sangat lekat di hatiku. Kau sangat mencintaiku. Pa, ketika kau lukis kulit telur itu… atau cangkir dari batok kelapa itu… aku yang masih kecil duduk diam melihat tanganmu mengukir..
Aku mohon maaf telah berbuat salah dan pernah membuatmu menangis.. aku mohon maaf pernah membuatmu susah. Percayalah aku sangat mencintaimu! Pa.
Kita partner berjuang ditengah hujan, kujemput kau di kantormu.. menunggu.. dan warung bakso itu.
Kau guru mesinku, kau ajari aku mereparasi motor-motorku, membongkar vespaku, memarahiku saat tak berhelem atau baju seragam yang tak kurapikan… ya, seragam itu hasil dari jahitanmu…
Betapa singkat waktuku berbakti padamu??? pelukanku belumlah cukup dipagi itu.
Pernah kau pangku aku dipaha saat kau supiri mobilmu. Kau letakkan tanganku di setirnya seolah-olah aku yang kecil ingin kau ajari menyupir.
Atau, ketika masih saja dengan cintamu kau cucikan baju-bajuku dan mengatakan: membilas harus bersih sampai tak ada busanya, karena jika masih berbusa baju akan cepat kotor.
Ritual yang selalu gagal kucontohi, mandi pagi-pagi dan gosok gigi setiap kali mau tidur dan bangun pagi…
Dan warung-warung yang pernah kita sambangi….
Pa, saat kudekap engkau sebelum pergi… aku ingin kau bahagia karena aku pulang!!
Aku mencintaimu… selamanya…
Aku adalah dirimu.
……………………………………………………………………………………………………….
Aku ingin, mencintaimu dengan sederhana
Dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin, mencintaimu dengan sederhana
Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada (kHALIL GIBRAN)
Puisi untuk mu yang terkasih…
Kepada Antara
Jauh kupendam dendam yang tak seharusnya kukatakan
Karena sungguh dendam itu milik angin
Angin yang dulu pernah mengajak berbicara kita
Saat itu, waktu hujan reda
Jauh antara yang kutelan dalam kesumat semu
Adalah jua awan-awan kelabu
Bersanding dengan selampir bunga lebur yang kurepih
Dari sisa-sisa makanan anjing
Dan aku tak pernah percaya
Potong saja? gejolak itu agar waktu bersahabat
Karena dendam itu sebenarnya bukan hanya milik angin
Juga malam yang membawa kelam
Jauh antara yang kuseka nanah dengan sapu tangan luka
Adalah kerinduan yang seperti lidah-lidah kelu
Merangas sepi diantara mimpi-mimpi yang asing
Yang kuhisap bagai vitamin kematian yang tak ragu
Jauh antara kuartikan makna dengan kata-kata indah
Kau pendusta
Sudah dekap siangku!
Cumbui aku saat cahaya memendar penuh
Agar kau tak berdusta,
Agar aku tahu kebohonganmu
Ya, lagi-lagi hanya lagu rindu yang kudendangkan….
(yogyes, 14 10 08, K.Art )
Karena angin selalu menguping, dia akan selamanya berdusta
Puisi ini tanpa makna apapun…
Papi
Gelap itu melucuti semua dendamku..
Dia memintaku untuk memelukmu, bahkan lama-lama
Membelai rambutmu dengan sentuhan paling lembutku
Sambil berbisik, aku disini…
Didekatmu…
Gelap itu menyuruhku menuang madu
Untuk kusajikan padamu dengan gelas tercantik
Menyuapkan padamu dengan senyumku
Menyeka tetes yang tertumpah dari bibirmu
Dan bernyanyi… Seluloqui Tuan Adi…
Kau sangat tahu luka hatiku,
Kau mengerti betapa biru
Sampai hari berganti aku yang masih saja membawa rasa sakit itu
Bersandar pada sepi yang dingin… dan dingin yang sepi…
Tapi Gelap diam-diam menjegal meja yang menjadi tempat sajian itu…
Papi terbaikku telah lemas……………………………………
Mengamini doaku tanpa suara
Dan tanpa siapapun…
Dia mati pada Antara
Papi, seribu dera yang telah ingin kujawab
Tak jua sempat kukatakan
Dan Gelap itu menemanimu
Berjalan tanpa aku…
Dan dia tetap diam…
Hingga saat dia mau berkata
Hah!,
Aku lupa merayu…
Yogyakarta, kamar UUT Oktober 2008
Uncategorized | Comment (0)

