Bam Bim Boom Bom!! Marketofobi?

September 26th, 2008

“Kok ada orang gila yang mau membeli lukisan anak muda dari yogyakarta dengan harga setinggi itu? Saya sendiri heran sampai sekarang” kata Nyoman Masriadi seperti dikutip dari kompas tanggal 17 Juni 2007. Begitulah ungkapan pelukis muda Nyoman Masriadi yang pada booming ke empat seni lukis Indonesia ─ setelah tahun 1987, 1991-1992 dan tahun 1999-2000. Karyanya laku terjual senilai Sing $ 360.000 atau sekitar Rp. 2,2 Milyar. Rasa heran, kaget sekaligus menakjubi sepak terjang pemilik modal yang diungkapkan Masriadi diatas tentulah tercurah pula oleh siapapun yang mendengarnya.

Lukisan, seperti yang kita ketahui, kini telah melampaui ranah asalnya. Tak lagi benda dua dimensional itu berfungsi sebagai media transendental─transformasi dari bentuk, rupa, dan wujud yang dilakukan oleh seseorang yang memiliki kelebihan mengolah rasa─Plato menyebutnya sebagai mimesis mimeseos. Perkembangan lukisan, sejak dari zaman purbakala hingga saat ini selalu seiring dengan kondisi sosial, politik hingga sampai pada masa kini, ekonomi telah menyeruak menyusup sistemis kesenirupaan yang pada prakteknya acapkali menimbulkan dampak-dampak yang paradoksal. Namun begitu lukisan telah memiliki takdir mujurnya sebagai primadona dibanding dengan benda-benda seni lainnya─karya seni grafis, patung, kriya dll. Alih-alih fungsi lukisan yang senantiasa fleksibel dan terkesan istimewa, para pemilik modalpun berbondong-bondong menginvestasikan uangnya untuk benda ajaib ini. Salah satu alasan yang logis menurut mereka karena lukisan mempunyai nilai artefak yang tinggi, dengan kata lain harga lukisan akan terus naik sehingga sangat aman untuk dijadikan investasi. Seperti penuturan seorang pemilik modal kepada penulis beberapa waktu lalu; “ Saya membeli sebuah lukisan affandi, kemudian saya jual lagi di Singapura, laba dari memutar lukisan itu saya gunakan untuk jalan-jalan ke Eropa.”

Berdasarkan penuturan pemilik modal diatas kepada penulis, bisa disimpulkan bahwa betapa lukisan sangat prospek untuk dijadikan mengais rupiah berkali lipat dari modal yang telah dikeluarkan. Hal ini kemudian menjadi alternatif yang signifikan bagi pemilik modal lain yang keberadaanya kini kian meningkat dengan geliat yang pesat. Yang sangat menyesakkan adalah ketika para pemilik modal itu tak lagi mengindahkan kaidah nilai dari karya itu sendiri, atau dengan kata lain mereka hanya berkeinginan menuai pundi-pundi rupiah saja─berinvestasi atas dasar tren bisnis dan mencari aman.

Tentang Idealisme

Dalam wilayah Art World terjadi pula pergeseran yang hingga saat ini menimbulkan beberapa indikator ketimpangan diantaranya adalah idealisme dan paradigma baik bagi seniman, galeri, kurator, kolektor, kolekdol, dan makelar. Arahmaiani menyebuti kondisi ini sebagai ironical boom; membawa cerah mentari sekaligus kemelut mendung atau disamping mendatangkan manfaat juga mendatangkan berbagai persoalan. Pendapat Arahmaiani bisa dikaji lebih dalam secara fenomenal. Salah satu diantaranya adalah idealisme seniman yang terkesan semrawut imbas dari geliat pasar yang sebenarnya sangat spekulatif.

Beberapa idealisme seniman di Indonesia dikategorikan Erianto Anas sebagai berikut:

  1. Seniman yang berpandangan bahwa idealisme itu sesuatu yang amat prinsip (kadang juga sakral) yang tanpa itu seniman bisa digugat keabsahan kesenimanannya. Tipologi idealisme ini sesuai dengan slogan seni untuk seni. Seni tidak boleh ditunggangi oleh apapun, termasuk dari unsur komersial atau pasar. Kata laku, terjual, pasar apalagi pemasaran terasa sangat menggelikan, yang secara psikologis seakan melucuti iman berkesenian atau semacam dosa kreativitas. Karya yang diusung dipasar dinilai akan merusak kemurnian karyanya. Boleh dikatakan ini sebentuk idealisme yang paling kental.
  2. Seniman yang memaknai idealisme secara agak lunak, sebutlah idealisme yang moderat. Bagi seniman tipe ini pasar memang tidak bisa dielakkan, malah harus. Dirinya tidak enggan terlibat bahkan setuju dalam mempublikasikan dan mensiasati pasar. Prinsipnya adalah bergayut dalam proses berkarya, bukan diluar karya. Dalam pengertian bahwa ketika berkarya dosa besar bagi si seniman membayangkan selera pasar (otentik, orisinal). Tetapi begitu karya yang dibuat itu selesai, maka karya itu sah untuk meluncur kemana ia akan bergulir, bisa sebagai koleksi atau dijual dipasaran. Baginya hal itu tidak mengurangi kemurnian sebagai sebuah karya yang otentik karena toh proses kreatifnya sudah berlalu.
  3. Seniman yang berpendirian bahwa sebuah karya memang untuk dijual, lain itu tidak. Membuat karya yang sesuai dengan selera pasar baginya tidak menjadi masalah (termasuk pesanan), malah dinilai sebagai kepekaan membaca situasi. Seniman tipologi ini sangat kooperatif dengan pasar, yang oleh pandangan lain bisa dinilai sebagai pelacur seni yang tidak memiliki keotentikan sendiri.
  4. Seniman dengan idealisme hipokrit (munafik). Istilah ini lebih mengacu kepada watak dan perilaku seniman saat berhadapan dengan pasar, ketimbang konsep dan sikap dalam berkarya. Dalam berkarya bisa jadi mereka termasuk dalam salah satu kategori diatas, namun ketika bersentuhan dengan dunia luar, apalagi pasar, maka sikapnya mulai mengambang yang oleh pihak lain sulit ditebak, lain dimuka lain dibelakang.

Dari pengkategorian diatas bisa dipahami bahwa permacaman idealisme seniman tidak bisa dilepaskan dari sudut mana si seniman memberlakukan harkat kejeniusan yang dimiliki. Dengan kata lain faktor kebutuhan mendasar atas seni itu sendirilah yang bakal mengantar mau ke arah mana ia akan melaju. Satu hal yang fa’al dan harus menjadi dasar sikap bagi seniman adalah bagaimana menciptakan suatu kondisi yang tidak merugikan diri sendiri. Kritisisme selayaknya mampu dijadikan sebuah acuan penting agar sebagai seniman tidak lantas menjadi alat propaganda yang hanya tersubordinasi oleh pihak-pihak yang hanya bersiap memanfaatkan atas dasar kepentingan individu mereka, karena bagaimanapun juga seniman adalah orang yang bekerja dengan menegasi diri sendiri. Sebagaimana Vincent Van Gogh berseloroh, “Tuhan telah gagal menciptakan dunia, dan senimanlah penyempurnanya.” Dalam kurun masa kini seloroh Van Gogh ini bisa di jadikan acuan bahwa para pemilik modal─kapitalis telah terhipnotis oleh para seniman sehingga mereka berbondong-bondong berpolitik dengan menggandakan uangnya. Penulis mengakronimkan para pemilik modal tersebut sebagai POLKADOT, Politik Kaum Dominasi Tulen. Mereka akan memakai jalan apa saja untuk makin mempertebal kantongnya, termasuk hasil-hasil kesenian yang sangat bisa dijadikan uang.

Geliat dan Geliut

Seperti yang kita ketahui seni rupa di tanah air terkasih ini baru saja tertimpa bom dari negeri china yang berbunyi BOOM!!! karenanya, bukanlah luluhlantak bumi dan material yang berhamburan namun luluhlantak dalam hal ini adalah paradigma art world yang tidak bisa dipungkiri mengimbaskan kusut masai yang naik turun. Ada pihak-pihak yang diuntungkan─seperti ungkapan Arahmaiani diatas, dan ada pihak-pihak yang menjerit mengaduh atas kondisi ini. Siapakah mereka?

Seniman, pastinya sebagai episentrum dari karya itu sendiri, tak sedikit yang merasa diuntungkan dari booming kali ini. Akibat dari gelombang negeri tirai bambu yang merajai pasar lukisan, para kolektor, kolekdol dan pemilik galeri sesegera mungkin mencari karya-karya bumiputera yang kechina-chinaan. Dalam salah satu tulisannya kritikus seni Agus Dermawan T. mendefinisikan karya tersebut sebagai karya yang bening, punya wacana, aneh-aneh dikit, berukuran besar─minimal dua depa, dan bisa dijual dari berbagai pintu. Inilah kontemporer itu, dan sesuai dengan pengamatan penulis selama ini, seniman muda khususnya kini sangat jarang yang berani menjadi diri mereka sendiri─walaupun pada tataran ini tidaklah salah namun sangat disayangkan jika berkarya hanya untuk mentarget ke-laku-annya─korban tren yang fatamorgana. Imbas dari hal itu adalah keseragaman karya dan saya yakin dan anda yang membaca tulisan ini jujur, kondisi ini sangat membosankan. Bolehlah seniman jadi jutawan mendadak, kolekdol yang makin kuat modalnya, galeri yang harus memenuhi kebutuhan pencari lukisan, selain seniman─ terutama yang muda tergeliut-geliut oleh dilema bak kapal yang terhempas gelombang besar, juga ada publik atau audiens yang menjadi korban. Publik kecewa karena imbas kontemporisasi, keragaman karya menjadi nyaris hilang, dan masyarakat yang belum pandai mengapresiasi karya seni kini harus tertinggal lagi akibat para spekulan yang sudah terjamin bakal semakin kaya tesebut.

Kurator, sebagai pembingkai wacana tak jauh berbeda kondisinya. Keberadaanyapun tergeliut oleh keharusan pemenuhan tuntutan pasar yaitu visualitas karya yang diusung disebuah galeri─mengedepankan karya kechina-chinaan yang lagi tren sebagai prioritas misalnya. Akibat dari kondisi tersebut tak jarang karya yang tergolong buruk secara estetika mati-matian berusaha dibedaki dan dimediasi sedemikian rupa. Harapannya adalah agar kolektor maupun art dealer mau membelinya, sedangkan karya yang memiliki nilai baik─dari gagasan dan estetika menjadi tersingkirkan dan tidak ter-cover.

Marketofobi

Marketofobi dalam bahasa Indonesia berarti ketakutan terhadap pasar. Dalam ranah seni rupa, pasar berarti jual beli karya seni oleh seniman dan peminatnya (Art dealer, kolektor, galeri dll). Menurut Kuss Indarto, pasar seni rupa terbentuk oleh empat hal:

Pertama: Gejala sistem pengetahuan. Seorang kolektor memutuskan untuk mengoleksi karya ditunjang oleh latar pendidikan, pergaulan sosial dan kultural yang mampu membentuk kesadaran apresiatif terhadap karya seni.

Kedua: Pasar dibentuk oleh meluber dan meruahnya modal kapitalis. Tendensi investasi bergeser semula dari properti dan produk-produk lainnya ke benda seni. Selanjutnya keyakinan membuat pusaran arus yang kuat bagi perpindahan modal kapitalis ke pasar seni rupa. Dari sini motif untuk mengembangkan kapital menjadi tendensi utama dalam berburu karya seni, pada prakteknya adalah dengan mengoleksi untuk kemudian menjual lagi dengan tujuan utama yaitu melipat gandakan margin keuntungan.

Ketiga: Pengintegrasian dari dua hal diatas. Pengetahuan dan melipahnya modal kapital. Apresiasi dan kemampuan untuk mengoleksi karya oleh sang kolektor merujukkannya pada tendensi dalam pencapaian kepentingan spiritual atau pleasure.

Keempat: Pasar terbentuk oleh kekuasaan yang terkonstruksi secara struktural. Kondisi ini terjadi karena telah terpatronkannya karya seni oleh hirarki birokrasi. Sebagai contoh ketika Presiden Soekarno mengoleksi karya beberapa pelukis, maka pejabat-pejabat lain tergerak pula melakukannya.

Pandangan bahwa pasar bersikap arbitrer kepada seniman pastinya bukan tanpa sebab. Sangat beralasan memang jika seniman berpandangan seperti itu mengingat ambisiusme polkadot yang membabi buta sangat merugikan seniman. Sebagai contoh, pernah ada art dealer yang menawar karya dengan harga yang sangat murah─tentunya hal ini mengatasnamakan hokum pasar, akibatnya seniman tersinggung karena tahu bahwa akan ada permainan dibalik itu. Sikap-sikap arogan yang mengesampingkan penghargaan kerja sang seniman inilah yang selalu menjadi sampah dan mengotori apresiasi publik. Seniman seperti petani, pihak yang selalu merasa dirugikan oleh tengkulak yang mencari keuntungan sebesar-besarnya. Inikah yang menjadi pemicu dari marketofobi? Pastinya pertanyaan sederhana ini memiliki kemungkinan jawaban yang teramat kompleks, rumit dan bahkan subjektif.

Dari kacamata “korban” terutama seniman yang pernah merasa dirugikan oleh pasar, pastinya dia memandang pasar senirupa adalah sebuah kebrutalan yang ngawur. Kejadian yang sering muncul adalah ”pembunuhan karakter” dan pengucilan karya. Jika dalam posisi ini seniman tak memiliki bargaining position sebelum bersinggungan dengannya, pastilah dia akan tak luput dari silang sengkulit dunia yang tak pernah pasti ini. Ingat! Pasar tak pernah pasti, PR nya adalah bagaimana seniman menyikapi dengan cerdas sehingga apa yang penulis ungkapkan diatas, bahwa seniman seperti petani tidak menggerus daya tawar sebagai individu yang menegasi dirinya sendiri. Alih-alih menyikapi pasar dengan paradigma arif adalah bagaimana menjalani “bisnis”─karena lukisan telah digeser fungsinya sebagai komoditi atau barang dagang dengan mengusahakan investasi seni para polkadot itu kearah yang sehat dan baik-baik saja. Siapakah yang sanggup melakukannya? Adalah pemilik modal yang sehat pula, mencintai karya seni seperti mencintai uangnya, mengembangkan kesenian seperti menggandakan uangnya, peduli terhadap nasib seniman seperti ketika dia mengangkangi dengan arogansinya.

Penulis menyadari bahwa segmentasi pasar senirupa sendiri sangat beragam, bukan hanya berpusar di galeri, balai lelang maupun studio seniman. Tetapi dalam tataran yang luas, saat penulis bertransaksi harga melukis mural untuk sekolahan misalnya, penulis menyadari bahwa kredibilitas selalu mengikuti dan pasar bisa dimanapun. Artinya, bagi seniman, selayaknya tidak menganggap urusan pasar adalah masalah kete belece, tetapi sesuatu yang akan bermuara entah kemana nantinya. Sebagai rambunya adalah idealisme dan karya itu sendiri.

Lagi, mencerna ungkapan Nyoman Masriadi di paragraf pertama, ada kegetiran yang terseruak dan kebanggaan yang terpendam… Bagaimana dengan anda jika menjadi Masriadi-Masriadi yang baru? Saya kira jawabannya sangat relatif, serelatif pasar itu sendiri. Semoga baik-baik saja.

Salam Budaya!

D.Kartika R.

(Mahasiswi Seni Lukis ISI Yogyakarta)

PROPOSAL pameran Hello Darkness Kartika

September 25th, 2008

PROPOSAL Pameran Seni Rupa

Hello, Darkness!

A. Latar Belakang

Mengacu pada konsep semiotika, karya seni––dalam hal Ini adalah seni rupa––adalah teks kebahasaan yang hadir dalam bentuk media-media yang terindera dan mewakili suatu konsep estetika tertentu dalam menyampaikan pesan. Dalam seni rupa penginderaan berkenaan dengan relasi antara realitas kebercahayaan atas suatu obyek visual dengan terkirimnya realitas-realitas yang tercahayai kepada penerima pesan. Lantas, Cahaya dan juga pencahayaan pun berkenaan dengan hukum fisika tentang terinderanya sebuah obyek oleh mata manusia.

Ketika semiotika mempostulatkan kehadiran sebuah teks dianggap ada setelah terjadinya proses pengiriman pesan yang termuat dalam karya seni rupa kepada alamat pesan dan pesan tersebut diterima oleh penerima dalam bentuk pemaknaan atas konsep yang terkirim, maka hukum fisika menjelaskan bahwa pengiriman tersebut berlangsung lewat medium cahaya; pengenalan obyek melalui alat Indera visual bergantung pada kondisi cahaya. Artinya, obyek seni rupa menjadi nihil apabila tidak tersedia cahaya (yang memadai) untuk menampakkan obyek yang hendak diinderai oleh penerima pesan. Ketika obyek seni rupa tercahayai untuk mewujudkannya, maka dalam pencahayaan tersebut pun berlangsung proses-proses penghadiran teks-teks yang terkandung dalam karya seni melalui medium-medium kebahasaan. Oleh karena itu, terdapat bidang yang sebangun antara pencahayaan dengan medium kebahasaan.

Lantas, proses pengiriman pesan kepada penerima pesan yang menghasilkan suatu penginderaan yang berujung pada pemahaman dan pemaknaan atas obyek penginderaan––baik melalui terminologi semiotika dan juga fisika––menyangkat masalah bagaimana proses pengiriman dikelola; bagaimana kualitas dan kuantitas pencahayaan dan medium kebahasaan menghadirkan pesan.

Proses pengiriman pesan yang tertampung dalam sebuah karya seni rupa atau obyek penginderaan melalui mata memerlukan sarana-sarana pengiriman; cahaya. Oleh karena Itu, tanpa cahaya, tidak pernah ada obyek penginderaan visual dan dengan sendirinya tidak ada seni rupa: tanpa medium-medium kebahasan, pesan-pesan dalam karya seni tak termaknai sehingga dianggap tidak ada.

Selanjutnya, landasan pemikiran serupa ini menjadi alat untuk menelaah perkembangan seni rupa di Indonesia dan kemudian dikerucutkan pada aspek-aspek kesenirupaan di Yogyakarta yang dipandang sebagai salah satu kantong geliat seni rupa di Indonesia.

1. Pameran sebagai Medium

Barangkali, sebelum terciptanya tradisi berpameran, seorang pekarya1 akan berkunjung ke rumah-rumah audiensnya untuk menghantarkan pesan dalam bentuk karya seni rupa. Mungkin dulu demikian. Namun ketika kita bersepakat bahwa relasi antara pekarya sebagai sebuah praktek kebudayaan, maka akan terlihat suatu kompleksitas antara pekarya-karyanya dengan audiens.

Kompleksitas yang dimaksud di sini mencakup persoalan kuratorial atau wilayah kritik seni dan bentuk penyajiannya sehingga tercipta medium-medium kultural antara karya dengan audiens. Melalui dan dalam medium-medium kultural inilah beropesi hukum fisika dan semiotika yang menciptakan realitas tertentu terhadap seni rupa secara umum.

Lantas kita pun dapat mengajukan suatu pernyataan bahwa ketersampaian pesan-pesan yang termuat dalam karya seni rupa bergantung pada siapa yang menguasai medium-medium kultural tersebut. Penguasaan atas medium-medium kultural dalam membangun relasi antara karya seni dengan audiens inilah yang kerap menjadi gonjang-ganjing dan peroalan pelik tentang keberadaan seorang pekarya dan otonomi dirinya terhadap karya dan proses berkarya atau keleluasaannya dalam menghimpun pesan melalui karya seni rupa.

Melalui penguasaan atas medium-medium kultural, pihak-pihak tertentu, seperti yang menggelisahkan bagi pekarya-pekarya baru, muncul pengendalian bentuk, corak dan langgam karya yang di dorong oleh kepentingan ekonomi. Kepentingan ekonomi yang hadir dalam medium-medium kultural ini mampu menjinakkan idealisme dan proses berkarya seorang pekarya agar dapat memasuki pasar. Maka tak jarang, pekarya-pekarya baru yang hendak merintis keberadaannya melalui dunia seni rupa harus menggadaikan idealisme kesenirupaannya demi keberterimaan pasar terhadap karyanya. Perihal yang amat mencengangkan dan juga sangat mengkhawatirkan adalah, perupa kemudian dibuat terdesak oleh pihak yang menguasai medium-medium kultural terhadap tuntutan ekonomis yang bersifat elementar: Kebutuhan untuk bertahan hidup dan sedikit demi sedikit menapaki jalan untuk dapat melanjutkan hidup yang telah dipertahankan dengan susah payah.

Tuntutan ekonomi ini pun berkenaan dengan realitas umum ekonomi-politik di Indonesia yang memaksakan diri memasuki pasar ekonomi pasar global yang amat bergantung pada penguasaan modal sehingga tidak semua orang punya kesempatan untuk hidup layak (meski hidup layak sendiri pun bergantung pada kebijakan politik penguasa dalam mengidentifikasi standar hidup dan merumuskan konsep kesejahteraan). Maka, dengan sendiri self-determination pekarya terhadap dirinya menjadi sangat lemah sehingga muncullah praktek-prektek penggadaian idealisme kesenian dan proses kesenian oleh pekerya-pekarya yang telah dibuat terdesak dan kehilangan otonomi.

Dalam praktek penguasaan medium-medium kultural ini, kritik seni dan juga praktek kuratorial terhadap karya seni justru berjalan melalui praktek-praktek kehumasan guna mendekatkan dan mengakrabkan hasil karya seorang pekarya dengan keinginan pasar. Artinya di sini, kritik seni dan juga praktek kuratorial sebagai aktivitas kehumasan, bertujuan untuk menciptakan pasar agar pasar seni dapat diukur, dikendalikan dan kemudian memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Dari sinilah muncul trend terhadap corak, gaya, langgam dan juga mazhab––bila dapat dinamai demikian––kesenirupaan. Dan keberadaan seorang pekarya amat bergantung pada kemampuannya untuk memasuki corak, gaya, langgam dan juga mazhab kesenirupaan yang tengah dominan. Lantas, galeri seni rupa, pameran-pameran seni rupa, kurasi dan kritik seni diperalat untuk membuktikan betapa berterimanya corak, gaya, langgam dan mazhab kesenirupaan tersebut.

Dari pengamatan secara fisika dan semiotika terhadap medium-medium kultural dalam membangun relasi antara karya dengan audiens–– terutama kolektor––inilah muncul ketidakadilan bagi sekelompok pekarya sehingga bagi mereka, karyanya tak sempat dicahayai. Ketidaksempatan inilah yang kemudian keberadaan seorang pekarya pun hilang, sebagaimana kita tak dapat menangkap citra visual atas karya-karya seni rupa ketika mati lampu atau dalam keadaan gelap gulita.

Maka, lahirlah suatu kegelapan dalam realitas kesenirupaan bagi kelompok tertentu yang tidak punya “kemampuan” berdamai dengan pihak penguasa medium-medium kultural. Atas realitas kesenirupaan seperti itu, maka lahirlah suatu parodi eksistensial dalam konsep cartesian. diriku ada ketika karyaku dicahayai.

2. Kegelapan Sebagai Metafor

Pada prinsipnya, manusia dapat melihat kegelapan namun tidak dapat melihat dalam kegelapan. Melalui kredo semacam ini, maka kegelapan menjadi metafora atas realitas kesenirupaan; metafora atas penguasaan medium-medium kultural dalam menghadirkan karya oleh pihak-pihak yang berdiri tegak demi kepentingan ekonomi pasar.

Manakala kegelapan diposisikan sebagai metafora, maka ia pun memuat berbagai pesan. Dari sinilah dapat digagas dan kemudian dikembangkan suatu dialektika atas realitas kesenirupaan yang mewujud dalam komodifikasi karya seni yang menghasilakan booming lukisan yang amat mencengangkan sehingga menguntungkan kurator dan galeri, mematikan kritik seni, memperpanjang nafas kolektor dan menciptakan wilayah pusat dan pinggiran dalam penghadiran sebuah karya kepada audiens yang luas. Dialektika itu bisa jadi berbentuk antitesis dan dapat pula sintesa atas kegelapan yang tengah berlangsung.

B. Pameran yang Bercerita tentang Kegelapan

Berangkat dari kenyataan bahwa medium-medium kultural dalam menghadirkan karya seni rupa kepada audiens dikuasi oleh pihak tertentu untuk memaksimalkan peluang-peluang ekonomi, maka perlu digagas sebuah pameran yang mampu berkata tentang keliyanan (the otherness) tanpa memperkukuh mentalitas perkubu-kubuan dan tanpa memerangi dan memusnahkan corak, gaya, langgam dan mazhab kesenirupaan yang telah ada. Sesuatu yang telah ada dalam relasi antara pekarya-karya dengan audiens selama ini, membutuhkan mitra dialog dengan pihak-pihak yang diliyankan; pekarya baru, pekarya perempuan atau pekarya yang tidak terhimpun dalam kantong-kantong senirupa yang dominasi (secara ekonomis).

Dari sini, pameran seni rupa pun musti dipandang sebagai sebuah pengejawantahan suatu dialektika atas realitas seni rupa mayor yang mewakili narasi-narasi (yang sedang) besar (grand narration). Oleh karena itu, penggagasan suatu pameran bisa jadi berangkat dari realitas kesenirupaan yang memunculkan pihak liyan yang terjebak dalam komidifikasi praktek kesenirupaan sebagai obyek kepentingan ekonomi. Maka kini, tengah digagas sebuah pameran atas potensi-potensi pengiriman pesan melalui medium-medium kultural untuk mencapai alamat-alamat penerima agar kehadiran dalam kondisi tanpa cahaya bagi karya-karya yang terabaikan menjadi tercahayai sehingga keberdaannya terinderai dan bergerak menuju wilayah-wilayah pemaknaan para audiens.

C. Maksud dan Tujuan

1. Dari Kehendak menuju Otonomi Pekarya

Pameran yang tengah digagas ini, di samping hendak memunculkan sebuah dialektika atas realitas kesenirupaan saat ini yang kerap menghasilkan liyan, pun digagas sebagai upaya menghadirkan pihak liyan yang selama ini terkurung dalam kegelapan. Dengan demikian, sebagai sebuah obyek visual, pameran ini bermaksud untuk menghadirkan berbagai karya kepada khalayak melalui aspek-aspek pencahayaan yang dikuasi oleh pihak yang memegang kendali penghadiran melalui medium-medium kultural dalam membangun relasi antara pekarya-karya dengan audiens.

2. Dari Otonomi Pekarya menuju ke Kehadiran Penuh

Kehendak dalam menggagas pameran yang berangkat dari kegelapan sebagai metafora, bertujuan untuk mengirim berbagai pesan dalam bentuk seni rupa kepada audiens. Lantas upaya pengiriman pesan melalui penghadiran karya-karya seni rupa terpilih dalam pameran ini pun dimaksudkan untuk mengurai kembali kekusutan dalam relasi antara pekarya sebagai produsen pesan dalam bentuk karya seni rupa kepada penerima pesan. Sampainya berbagai pesan ke pemilik alamat, tentu akan menghasilkan berbagai bentuk pemaknaan oleh penerima dan juga membuka peluang terciptanya berbagai corak, gaya, langgam dan mazhab kesenirupaan yang mampu memeriahkan dialog-dialog kesenian.

D. Tema Pameran

Pameran yang berangkat atas landasan berfikir fisika dan semiotika atas keteinderaan obyek-obyek visual, mengusung tema:

“Melongok ke dalam Gelap, Bergerak menuju Kehadiran”

E. Judul Pameran

Melalui “Melongok ke dalam Gelap, Bergerak menuju Kehadiran,” maka terpautlah suatu jalinan antarteks atas kegelapan sebagai metafora dengan kegelapan dan kebisuan yang didendangkan oleh Simon and Garfunkel melalui syair lagu The Sound of Silence seperti berikut ini:

Hello, darkness, my old friend

I’ve come to talk with you again

Because a vision softly creeping

Left its seeds while I was sleeping

And the vision

That was planted in my brain

Still remains

Within the sound of silence

And in the naked light I saw
Ten thousand people, maybe more
People talking without speaking
People hearing without listening
People writing songs that voices never share…
And no one dare
Disturb the sound of silence.

“Fools,” said I, “you do not know
Silence like a cancer grows.”
“Hear my words that I might teach you,
Take my arms that I might reach you.”
But my words like silent raindrops fell,
And echoed in the wells of silence.

And the people bowed and prayed
To the neon god they made.
And the sign flashed out its warning
In the words that it was forming.
And the signs said: “The words of the prophets
Are written on the subway walls
And tenement halls,
And whisper’d in the sound of silence.”

Melalui intertekstualitas “Melongok ke dalam Gelap, Bergerak menuju Kehadiran,” sebagai pembahasaan atas tema pameran dengan lagu The Sound of Silence ini, maka pameran ini diberi judul:

Hello, Darkness!”

Untuk menggenapi keterwakilan karya-karya terpilih melalui judul pameran ini, disertai pula anak judul:

“the sign flashed out its warning in the words that it was forming.”

Secara utuh, pameran ini berjudul:

Hello, Darkness!: The Sign Flashed out its warning in the words that it was forming.” – Sebuah Pameran Tunggal Dwi Kartika Rahayu

Dari penggunaan judul ini, maka yang dimaksud dengan in the words that it was forming dalam pameran ini adalah lukisan-lukisan dan materi-materi pameran seni rupa yang terpilih.

F. Pemilahan Karya

Dalam pameran ini, Dwi Kartika Rahayu memiliki otonomi yang luas dalam memuati pameran dengan materi-materi seni rupa yang hendak dipamerkan berdasarkan tema pameran ini. Karya-karya yang dihadirkan dipilih berdasarkan pemaknaan yang dilakukan oleh Dwi Kartika Rahayu atas kegelapan sebagai metafora yang secara umum diwakili oleh judul pameran.

Langkah-langkah kuratorial dijalankan melalui pengamatan atas berbagai aktivitas berkesenian pekarya oleh kurator yang diperoleh dari pesan-pesan yang termaktub dalam karya-karya yang dipilih oleh pakarya. Dalam pameran ini, kuratorial berarti, identifikasi obyek-obyek seni rupa oleh pihak di luar pekarya melalui kegelapan sebagai metafora dalam bentuk penafsiran semiotis.

G. Waktu Pelaksanaan

Pameran ini akan dilaksanakan pada:

Hari : Minggu (Pembukaan Pameran)

Tanggal : 25 s.d. 31 Mei 2009

Tempat : Raya Contemporary Art Gallery (RCA Gallery)

H. Agenda Pameran

  1. Pembukaan – Sindhunata

  2. Penutupan – Suwarno Wisetrotomo (kritikus seni)

  3. Lelang Karya

I. Sasaran Pameran

1. Seniman

2. Pengamat / Kritikus Seni

3. Kolektor Karya

4. Galleriawan / Pengusaha Galleri Seni

5. Pelajar / Mahasiswa

6. Budayawan

7. Umum

J. Anggaran Pembiayaan

Berdasarkan rekapitulasi pembiayaan (rincian terlampir), pameran ini membutuhkan biaya sebesar, Rp 150.000.000,-

  1. Ketersediaan Dana: Rp. 25. 000.000,-

  2. Kekurangan Dana: Rp. 125. 000.000,-

  3. Target Fundraising Rp. 125.000.000,-

K. Publikasi

    1. Media Publikasi

    2. Peliputan

    3. Kritik Seni (Bekerja sama dengan media masa cetak tertentu untuk memuat suatu analisis seni atas pameran secara keseluruhan oleh kritikus yang memahami karya seni sebagai pesan – semiotika)

L. Kepanitiaan

Sebagai sebuah peristiwa kesenian, penyelanggaraan pameran ini diketuai oleh Susilo Bambang Yudhoyono, dengan susunan kepanitian tertera dalam lampiran.

M. Penutup

Demikian proposal ini dibuat untuk dapat dipelajari oleh pihak-pihak yang tertarik untuk mewujudkan pameran ini.

Yogyakarta, 4 Juni 2008

Dwi Kartika Rahayu

Lampiran 1

Anggaran

  1. Kesekretariatan

(telp, computer, surat menyurat, proposal) Rp. 2.000.000,-

2. Dokumentasi Rp. 5.000.000,-

3. Publikasi Rp. 3.000.000,-

4. Penerbitan buku/katalog

a. Biaya produksi Rp. 70.000.000,-

b. Fee Penulis @ Rp. 2.500.000,- x 2 orang Rp. 5.000.000,-

c. Translater (English) Rp. 2.000.000,-

d. Editor Rp. 3.000.000,-

5. Produksi Karya Rp. 60.000.000,-

6. Acara pembukaan Rp. 4.000,000,-

7. Konsumsi (panitia, pembukaan, diskusi) Rp. 3.000.000,-

8. Perlengkapan dan Display Rp. 6.000.000,-

9. Akomodasi panitia Rp. 3.000.000,-

10. Transportasi Rp. 2.000.000,-

Jumlah Rp. 150.000.000,-

Lampiran 2

BENTUK PARTISIPASI

PENAWARAN PARTISIPASI DAN SPONSOR

Untuk mensukseskan kegiatan “Pameran Tunggal Dwi Kartika Rahayu”

maka panitia menawarkan kepada berbagai pihak/Perusahaan/Pribadi untuk berpartisipasi dalam bentuk sponsor, yang terdiri dari :

I. SPONSOR CROWN dengan nilai sponsorship Rp. 100.000.000,-

II. SPONSOR DIAMOND dengan nilai sponsorship Rp. 40.000.000,-

III. SPONSOR PLATINUM dengan nilai sponsorship Rp. 25.000.000,-

IV. SPONSOR GOLD dengan nilai sponsorship Rp. 15.000.000,-

V. SPONSOR SILVER dengan nilai sponsorship Rp. 7.500.000,-

VI. SPONSOR COOPER dengan nilai sponsorship Rp. 5.000.000,-

VII. SPONSOR BRASS dengan nilai sponsorship Rp. 3.500.000,-

VIII. SPONSOR FERRUM dengan nilai sponsorship Rp. 1.750.000,-

IX. DONATUR tidak mengikat

Adapun kompensasi / imbalan yang akan diperoleh masing-masing sponsor dapat dilihat pada tabel yang terdapat pada tabel berikut (tentang keterangan kompensasi/imbalan yang akan diperoleh sponsor).

KOMPENSASI / IMBALAN YANG AKAN DIPEROLEH SPONSOR

A. Media Cetak

No

Imbalan

JML

Keterangan

Sponsor

I

II

III

IV

V

VI

VII

VIII

IX

1

Katalog

1000

1

1

1

1

1

1

1

1

2

Undangan Pameran

500

1

1

1

1

1

1

1

1

3

Undangan Pembukaan Pameran

250

1

1

1

4

Tanda Panitia

200

1

1

1

5

Poster Pameran

500

1

1

1

6

Kaos Panitia

100

1

Jumlah Jenis kompensasi

6

5

3

2

2

2

2

2

2


B. Media Promosi Outdoor

No

Imbalan

JML

Keterangan

Sponsor

I

II

III

IV

V

VI

VII

VIII

IX

1

Spanduk

10

1

1

2

Umbul-umbul

10

1

3

Baligo

3

1

Jumlah Jenis kompensasi

3

1


DAFTAR MEDIA PROMOSI YANG DISEDIAKAN

A. Media Cetak

No

Jenis Media

Ukuran Space

Sponsor

Nilai Sponsorship
Per Buah (Rp)

Eksp

Keterangan

1

Poster
43 x 48 cm

Halaman Muka

4 x 10 cm

5.000

2000

Full Colour
Kertas Art Paper

2

katalog

23 x 32 cm
35 Hal.

a. Halaman Muka Luar
6 x 11 cm

4.000

1000

3 Warna

b. Halaman Muka Dalam
20 x 11 cm

4.000

1000

1 Warna

c. Halaman Belakang Luar
20 x 11 cm

2.000

1000

3 Warna

d. Halaman Belakang Dalam
20 x 11 cm

1.500

1000

1 Warna

e. Halaman Isi
20 x 11 cm

1.000/hal.

1000

1 Warna tersedia 3 halaman

3

Tanda Panitia

9,5 x 5,5 cm

2,5 x 2,5 cm

5.000

50

3 Warna

4

Undangan Pameran
20 x 30 cm

a. Amplop

5 x 10 cm

5.000

1000

Fancy Paper Fullcolour

b. Isi Undangan bagian muka luar

2 x 18 cm

2.000

1000

Fancy Paper Fullcolour

c. Isi Undangan bagian belakang

18 x 18 cm

8.000

1000

Fancy Paper Fullcolour

8

Undangan Pembukaan Pameran
20 x 30 cm

a. Amplop

5 x 10 cm

5.000

300

Fancy Paper Fullcolour

b. Isi Undangan bagian muka luar

2 x 18 cm

2.000

300

Fancy Paper Fullcolour

c. Isi Undangan bagian belakang

18 x 18 cm

8.000

300

Fancy Paper Fullcolour

B. Media Promosi Outdoor

No

Jenis Media

Ukuran Space

Sponsor

Nilai Sponsorship
Per Buah (Rp)

Eksp

Keterangan

1

Spanduk

90 x 800 cm

a. 100 x 90 cm
(Sebelah kiri)

300.000

10

Dipasang dilokasi strategis

b. 100 x 90 cm (Sebelah Kanan)

300.000

10

Dipasang dilokasi strategis

2

Umbul-umbul

500 x 90 cm

a. 90 x 100 cm

250.000

20

Dipasang dihalaman depan dan belakang Hotel Savoy Homann

b. 80 x 100 cm

200.000

20

Dipasang dihalaman depan dan belakang Hotel Savoy Homann

3

Baligo

200 x 400 cm

50 x 200 cm

5.000.000

3

Acrilyc Transparant

C. Media Elektronik

Disebutkan oleh seniman sebagai perusahaan pendukung kegiatan pada saat wawancara dengan TVRI untuk acara dunia dalam berita.

D. Media Promosi Indoor

No

Jenis

Nilai Sponsorship
per satuan (Rp)

Keterangan

1

Memasang spanduk perusahaan
ukuran 300 x 90 cm di Ballroom
tanggal 25 – 31 Mei 2009

500.000/ Spanduk

Max. 8 Spanduk

2

Memasang spanduk perusahaan
ukuran 300 x 90 cm di Public Area
tanggal 25 – 31 Mei 2009

500.000/Spanduk

E. Penjualan Stand

No

Jenis

Nilai Sponsorship
per satuan (Rp)

Keterangan

1

Area parkir halaman depan
tempat kegiatan
tanggal 25 – 31 Mei 2009

20.000.000

Terbagi menjadi 5 kavling

2

Ruang tunggu
ukuran 2 x 3 m
tanggal 25 – 31 Mei 2009

5.000.000

Dapat menjual produk/jasa

3

Coridor belakang Ballroom
ukuran 1,5 x 2 m
tanggal 25 – 31 Mei 2009

1.000.000

Tersedia 8 kavling

Lampiran 3

ORGANISASI KEPANITIAAN

Pelindung :

Menteri Seni dan Budaya

Prof. Dr. Soepriyono Riyadi

Penasehat :

  1. Suwarno Wisetrotomo (kritikus dan kurator internasional)

  2. Mikke Susanto (Kurator Handal)

  3. Y. Sumaryanto Nurjoko (Pelukis dan staf pengajar ISI Yogyakarta)

Penanggung Jawab :

Susilo bambang Yudoyono

koordinator umum:

Ucok Siregar

Timkerja Martogolek Yogyakarta

Ketua Umum :

Sadat Laope

Sekretaris Umum :

Anastasia Jessica

Bendahara Umum :

Nurul Aini Nastiti


SEKSI-SEKSI :

  1. Sie Acara :

    • Icha (Timkerja Martogolek Yogyakarta)

    • Y.E. Agung

  2. Sie Humas & Publikasi :

    • Sandra Loecia

    • Ratna Wuni

  3. Sie Perlengkapan & Penataan Ruang :

    • Sigit Vario

    • Agus Adi

    • Wisnu Auri Wibowo

    • Sunardi

    • Rudi Wuryoko

    • Antok

    • Didit Pratomo

  4. Sie Dokumentasi & Transportasi : Novena Assen

  5. Sie Konsumsi : Fitria Asmawitra

  6. Sie Perencanaan & Desain Grafis :

    • Olsy Vinoli Arnof

    • Numan Maufur

    • Teguh

Lampiran 4

AGENDA PAMERAN

19.00 – 19.30

Persiapan penerimaan tamu undangan. (diiringi oleh musik)

  • Pengklasifikasian undangan.

  • Undangan diterima panitia.

  • Tamu mengisi buku tamu ditempat yang disediakan.

  • Pembagian Katalog

19.30 - 19.40

Semua peserta/undangan siap.
MC,menyambut kedatangan Menteri Seni dan Budaya.

19.40 - 20.00

Upacara siap dimulai.

20.00 - 20.10

Pembacaan Susunan Acara (MC).

20.15 – 20.20

Sambutan Dwi Kartika Rahayu

20.20 – 20.25

Orasi Budaya oleh Rm. Sindhunata

20.25 – 20.30

Sambutan dari Menteri Seni dan Budaya dilanjutkan peresmian.

20.30 – 22.00

Melihat Lukisan

22.00 - ……..

Ramah tamah / bebas.

Lampiran 5

KONDISI PAMERAN

  1. Lokasi Pameran

  2. Skema Display

  3. Bagan Ruang Pamer

  4. Materi-materi Pameran (Karya, peralatan tata cahaya dan pendukung, dll.)

Lampiran 6

PORTO FOLIO

Nama : Dwi Kartika Rahayu

Tempat tanggal lahir : Magetan 25 Mei 1980

Alamat : Jl.Parangtritis 140

Yogyakarta

Hp : 087838222599

Pameran Seni Rupa Akademik

2007 : Pameran Seni Lukis VI di Lorong Seni Murni ISI Yogyakarta.

2003 : Pameran Sketsa Dua di Lorong Seni Murni ISI Yogyakarta.

  1. : Pameran Lukisan Alam Benda Di Gedung Modern School of

Design

Pameran Seni Lukis Cat Minyak Di Gedung Modern School of

Design

  1. : Pameran Seni Lukis Cat Air Di Gedung Modern School of Design

Pameran Nirmana Di Gedung Modern School of Design

Pameran Seni Rupa Non Akademik:

Pameran Tunggal

  1. : “Hello Darkness!” Raya Art Gallery

  1. : “I am like a bird” Pitt Art Museum of America*

Pameran Bersama

  1. : “Back Home”, Simply Gallery, Kainstlir Lingersty, London.*

Yes, I do” di Jogja Nasional Museum Indonesia

  1. : “Bersahabat Dengan Sang Cincin Api” Gabusan Yogyakarta

Rechte Vorbeluyken”, Hueber gallery, Munich, Jerman.*

Nothing Chill Una De Gung” Papillon Gallery, Perancis.*

  1. : “Portion” Galeri Sembilan Ubud, Bali

The Backpacker” Maharani Hotel, Bali

“KMK, Peringatan Paskah di Kampus Duta Wacana Yogyakarta

Independent” Kafe Deket Rumah, Yogyakarta

“Pembukaan UKM Seni Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

  1. : “Borobudur International Festival”, Pondok tingal Magelang

Ngerumpi di Mall” Trio Plaza Magelang

Komunitas Akar Bambu” di Kampung Godean Yogyakarta

Pameran Seleksi

  1. : “Nisbi” Galeri Katamsi FSR ISI Yogyakarta

  1. : “Indonesia/ASEAN Art Award” by Phillip Morris dan YSRI di

Jakarta dan Medan Sumatera Utara.

Pameran Undangan

  1. : “No Name” Galeri Semarang, Semarang

  2. : “My Life Without Me” Gracia Art Gallery Surabaya (anulir)

Violence” Outmag Artuary Yogyakarta

Pameran Fundrising

  1. : “Sebentar, sabar ya!” Di Via-Via Kafe Yogyakarta

Karya Instalasi : Pesta Instalasi BEM FSR ISI Yogyakarta ”?”

Performance Art

  1. : “…Setelah baca, kembalikan…” di Jl. Malioboro s.d Nol Kilometer

Yogyakarta

2007 : “I am so Complicated” via-via kafe Yogyakarta

  1. : “Freedom” Nol Kilometer Yogyakarta

Penghargaan

2003: nominee Indonesia ASEAN Art Award

2001: The Best Water Colour dari dosen Modern School Of Design Yogyakarta

1995: Juara II Kaligrafi Classmeeting MTsN Madiun

Lampiran 7

Daftar Karya

The Sound Of Silence”

Akrilic On Canvas, 600 CM X 400 CM, 2009

Unity”

Acrilic On Canvas, 300 CM X 150 CM, 2009

1 Kata “pekarya” ini dipakai untuk menggantikan kata “seniman” dan “seniwati” yang secara sosio-kultural kerap mengandung beban bias jender.

Dimana?/ salam duka dari ibu-sebelum bapak meninggal dunia

September 25th, 2008

Aku percaya bahwa yang terjadi pada kita manusia adalah salah satu yang telah tuhan takdirkan, Seperti kenyataan-kenataan yang mewujud atas ketaksadaran yang terjadi, misalnya adalah ketika kecil kita kehilangan kasih sayang dari kedua orang tua kita, atau ketika beranjak besarpun kita tak mendapatkan apapun dari orang tua kita… aku mencintainya… aku merindukannya… ibuuuuu… aku ingin semuanya indah, aku rindu kalian semua, aku ingin kalian semua tersenyum dan bahagia seperti yang lainnya. Kapan atau dimanakah semua itu atau dimanakah semuanya itu atau dimanakah kebahagiaan itu… aku ingin… aku ingin… aku ingin…. Dimana dia ????? dimana dia aku mencintainya dan aku tak ingin berhenti dari pengharapan ini…. Kau mencintainya… aku mencintainya kau ingin memilikinnya semua tentang kasih sayang itu aku ingin bicara aku mencintainya aku ingin bicara aku mencintainya…. Kau ingin bicara…… aku ingin bicara aku mencintainnya… aku kesepian dan aku ingin tertawa seperti dulu…. Dulu… dulu…….. sekarang aku sudah besar dan ingin segera punya bahagia!!! Dapatkah aku memilikinya dapatkah dapatkah dapatkah dapatkah dapatkah??? Salam duka dari ibu………….

Prosa untuk seorang kawan yang rindukan perempuan

September 17th, 2008  Tagged

Derai angin rambat mengalun tertata, seperti denting piano lirih yang ditekan dengan perasaan luka, semakin lama semakin menghilang .. jauhhhh…. sekilas tampak matahari terhuyung menuju pelataran rumahku, bermuka pucat dan muntah-muntah. “Aku habis minum, aku ingin perempuan untuk ku minta menghangatiku… lalu kubuang…!” ” aku akan tiduri dia… bermalam-malam sampai aku bosan, lalu aku buang…, alat kelaminku ini sudah lama menganggur… jiwaku sudah lama tak tenang, kepelacuran diriku jera… ogh… asem tenan ki, aku ora tahaaaaaaannnnn….. ASU!!! Tiba-tiba matahari terjerembab di undakan beranda rumahku. “Bulan, terimalah cintaku, aku ini orang yang butuh kehangatan…. aku butuh kelaminmu Bulan…” matahari terus mengoceh hingga tanpa sadar dirinya terjatuh dan terlelap disampaing bunga krisan kuningku.

Aku tak pantas di cintai matahari, aku tak punya apa-apa… aku miskin bahkan cahaya pun… aku hanya mengandalkan yang lain untuk mneyinariku… sebenarnay di matahari itu, namun apalah aku ini….

Derai angin kembali menrpa du ainsan yang sama-sama bergelayut dengan pikiran masig-masing, matahari terlelap di teras sedangkan bulan tertidur di kursi ruang tengah.

Jika cinta hanya masalah kelamin, biarlah kelaminku ini ku lepas untuk kuberikan padanya, dia akan bahagia… lagi pula aku tak pantas untuknya.. bulan pergi ke kamar mandi kemudian keluar lagi sambil membawa kelaminnya , lalu diletakkan disamping matahari yang tertelap tidur…, sesaat kemudian, bulan pun mati….

ŠÖÉΡΓΙÿÕΠÓ ΓÍäÐΥ

September 17th, 2008

Sesuatu yang terhebat yang pernah aku alami adalah ketika melihat nyawa tercerabut dari raga….. indah… dan akupun merasa bersama Tuhan…. Kematian begitu dekat dengan kita, dan siapa yang tahu kita akan mati kapan, seperti aku tak pernah menyangka secepat itu ayahku meninggalkanku, disaat aku belum bisa membahagiakan dia, disaat aku belum bisa mewujudkan apa yang menjadi keinginnannya, tetapi aku yakin bahwa dia adalah milik Tuhan sepenuhnya dan Tuhan tak menginginkan apa-apa selain keberserahan……. aku sangat mencintainya….. Tuhan dan ayahku menyatu…. Dia tidur…… dipaha Tuhanku ALLAH SWT ♥♥♥

Kutipan

September 17th, 2008

Falsafah Islam: Unsur-Unsur Hellenisme di Dalamnya (1/3)

Di antara empat disiplin keilmuan Islam tradisional: fiqh, kalam, tasawuf dan falsafah, yang disebutkan terakhir ini barangkali adalah yang paling sedikit dipahami, bisa juga berarti paling banyak disalahpahami, sekaligus juga yang paling kontroversial. Sejarah pemikiran Islam ditandai secara tajam antara lain oleh adanya polemik-polemik sekitar isi, subyek bahasan dan sikap keagamaan falsafah dan para failasuf. Karena itu pembahasan tentang falsafah dapat diharapkan menjadi pengungkapan secara padat dan mampat tentang peta dan perjalanan pemikiran Islam di antara sekalian mereka yang terlibat.

Sebelum yang lain-lain, di sini harus ditegaskan bahwa sumber dan pangkal tolak falsafah dalam Islam adalah ajaran Islam sendiri sebagaimana terdapat dalam al-Qur’an dan Sunnah. Para failasuf dalam lingkungan agama-agama yang lain, sebagaimana ditegaskan oleh R.T. Wallis, adalah orang-orang yang berjiwa keagamaan (religious), sekalipun berbagai titik pandangan keagamaan mereka cukup banyak berbeda, jika tidak justru berlawanan, dengan yang dipunyai oleh kalangan ortodoks.[1] Dan tidak mungkin menilai bahwa falsafah Islam adalah carbon copy pemikiran Yunani atau Hellenisme.[2]

Meskipun begitu, kenyataannya ialah bahwa kata Arab “falsafah” sendiri dipinjam dari kata Yunani yang sangat terkenal, “philosophia”, yang berarti kecintaan kepada kebenaran (wisdom). Dengan sedikit perubahan, kata “falsafah” itu di-Indonesia-kan menjadi “filsafat” atau, akhir-akhir ini, juga “filosofi” (karena adanya pengaruh ucapan Inggris, “philosophy”). Dalam ungkapan Arabnya yang lebih “asli”, cabang ilmu tradisional Islam ini disebut ‘ulum al-hikmah atau secara singkat “alhikmah” (padanan kata Yunani “sophia”), yang artinya ialah “kebijaksanaan” atau, lebih tepat lagi, “kawicaksanaan” (Jawa) atau “wisdom” (Inggris). Maka “failasuf’ (ambilan dari kata Yunani “philosophos”, pelaku filsafat), disebut juga “al-hakim” (ahli hikmah atau orang bijaksana), dengan bentuk jamak “al-hukama”.

Dari sepintas riwayat kata “filsafah” itu kiranya menjadi jelas bahwa disiplin ilmu keislaman ini, meskipun memiliki dasar yang kokoh dalam sumber-sumber ajaran Islam sendiri, banyak mengandung unsur-unsur dari luar, yaitu terutama Hellenisme atau dunia pemikiran Yunani.[3] Disinilah pangkal kontroversi yang ada sekitar falsafah: sampai di mana agama Islam mengizinkan adanya masukan dari luar, khususnya jika datang dari kalangan yang tidak saja bukan “ahl al-kitab” seperti Yahudi dan Kristen, tetapi malahan dari orang-orang Yunani kuna yang “pagan” atau musyrik (penyembah binatang). Sesungguhnya beberapa ulama ortodoks, seperti Ibn Taymiyyah dan Jalal al-Din al-Suyuthi (salah seorang pengarang tafsir Jalalayn), menunjuk kemusyrikan orang-orang Yunani itu sebagai salah satu alasan keberatan mereka terhadap falsafah. Tetapi sebelum membahas lebih jauh segi-segi polemis ini, lebih dahulu dibahas pertumbuhan falsafah dalam sejarah pemikiran Islam.

Pertumbuhan

Falsafah tumbuh sebagai hasil interaksi intelektual antara bangsa Arab Muslim dengan bangsa-bangsa sekitarnya. Khususnya interaksi mereka dengan bangsa-bangsa yang ada di sebelah utara Jazirah Arabia, yaitu bangsa-bangsa Syria, Mesir, dan Persia.

Interaksi itu berlangsung setelah adanya pembebasan-pembebasan (al-futuhat) atas daerah-daerah tersebut segera setelah wafat Nabi s.a.w., dibawah para khalifah. Daerah-daerah yang segera dibebaskan oleh orang-orang Muslim itu adalah daerah-daerah yang telah lama mengalami Hellenisasi. Lebih dari itu, kecuali Persia, daerah-daerah yang kemudian menjadi pusat-pusat peradaban Islam itu adalah daerah-daerah yang telah terlebih dahulu mengalami Kristenisasi. Bahkan sebenarnya daerah-daerah Islam sampai sekarang ini, sejak dari Irak di timur sampai ke Spanyol di barat, adalah praktis bekas daerah agama Kristen, termasuk heartlandnya, yaitu Palestina. Daerah-daerah itu, dibawah kekuasaan pemerintahan orang-orang Muslim, selanjutnya memang mengalami proses Islamisasi. Tetapi proses itu berjalan dalam jangka waktu yang panjang, selama berabad-abad, dan secara damai. Bahkan daerah-daerah Kristen itu tidak hanya mengalami proses Islamisasi, tetapi juga Arabisasi, disamping adanya daerah-daerah yang memang sejak jauh sebelum Islam secara asli merupakan daerah suku Arab tertentu seperti Libanon (keturunan suku Bani Ghassan Yang Kristen, satelit Romawi). Namun berkat politik keagamaan para penguasa Muslim berdasarkan konsep toleransi Islam, sampai sekarang masih banyak kantong-kantong minoritas Kristen dan Yahudi yang tetap bertahan dengan aman. Karena adanya konsep Islam tentang kontinuitas agama-agama (yaitu, bahwa agama Nabi Muhammad adalah kelanjutan agama para nabi sebelumnya, khususnya Nabi-nabi Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub atau Isra’il, Musa dan Isa-Yahudi dan Kristen),[4] orang-orang Muslim menyimpan rasa dekat atau afinitas tertentu kepada mereka itu. Dan rasa dekat itu ikut melahirkan adanya sikap-sikap toleran, simpatik dan akomodatif terhadap mereka dan pikiran-pikiran mereka. (Toleransi dan sikap akomodatif Islam ini ternyata kelak menimbulkan situasi ironis di zaman moderen, akibat adanya kolonialisme Barat, seperti adanya hubungan tidak mudah antara kaum Muslim dengan kaum Yahudi di Palestina, dengan kaum Maronite di Libanon, dan dengan kaum Koptik di .Mesir).

Toleransi dan keterbukaan orang-orang Islam dalam melihat kaum agama lain, khususnya Ahli Kitab tersebut mendasari adanya interaksi intelektual yang positif di kalangan mereka, dengan sedikit sekali kemasukan unsur prasangka yang berlebihan. Disamping itu, dan sebagaimana telah dikemukakan dalam pembahasan kita tentang Islam dan pengembangan ilmu pengetahuan yang lalu, kelebihan orang-orang Muslim Arab itu ialah kepercayaan kepada diri sendiri yang sedemikian mantap. Kemantapan itu kemudian memancar pada sikap-sikap mereka yang positif kepada bangsa-bangsa dan budaya-budaya lain, dengan kesediaan yang besar untuk menyerap dan mengadopsinya sebagai milik sendiri. Posisi psikologis yang menguntungkan itu berada tidak hanya dalam hubungannya dengan kaum Ahli Kitab yang memang dekat dengan orang-orang Muslim, tetapi juga dengan kelompok-kelompok keagamaan lain seperti kaum Majusi (orang-orang Persi pengikut ajaran Zoroaster) dan kaum Sabean dari Harran, di utara Mesopotamia. Sebab sekalipun ilmu pengetahuan Yunani merupakan bagian paling penting ilmu pengetahuan yang diserap orang-orang Muslim Arab, namun mereka ini juga dengan penuh kebebasan dan kepercayaan diri menyerap dari orang-orang Majusi dan Sabean tersebut tadi, bahkan juga dari orang-orang Hindu dan Cina. Karena futuhat, bangsa-bangsa non-Muslim itu berada dibawah kekuasaan politik orang-orang Arab Muslim. Tetapi biarpun orang-orang Arab itu memiliki keunggulan militer dan politik, mereka tetap menunjukkan sikap-sikap penuh penghargaan dan pengertian kepada bangsa-bangsa dan budaya-budaya (termasuk agama-agama) yang mereka kuasai. Hasilnya ialah, seperti dikatakan Halkin sebagai berikut (kutipan yang penting untuk memahami pembahasan):

…It is to the credit of the Arabs that although they were the victors militarily and politically, they did not regard the civilization of the vanquished lands with contempt. The riches of Syrian, Persian, and Hindu cultures were no sooner discovered than they were adapted into Arabic. Caliphs, governors, and others patronized scholars who did the work of translation, so that a vast body of non-Islamic learning became accessible in Arabic. During the ninth and tenth centuries, a steady flow of works on Greek medicine, physics, astronomy, mathematics, and philosophy, Persian belles-lettres, and Hindu mathematics and astronomy poured into Arabic.[5]

(…Adalah jasa orang-orang Arab bahwa sekalipun mereka itu para pemenang secara militer dan politik, mereka tidak memandang peradaban negeri-negeri yang mereka taklukkan dengan sikap menghina. Kekayaan budaya-budaya Syria, Persia, dan Hindu mereka salin ke bahasa Arab segera setelah diketemukan. Para khalifah, gubernur, dan tokoh-tokoh yang lain menyantuni para sarjana yang melakukan tugas penterjemahan, sehingga kumpulan ilmu bukan-Islam yang luas dapat diperoleh dalam bahasa Arab. Selama abad-abad kesembilan dan kesepuluh, karya-karya yang terus mengalir dalam ilmu-ilmu kedokteran, fisika, astronomi, matematika, dan filsafat dari Yunani, sastra dari Persia, serta matematika dan astronomi dari Hindu tercurah ke dalam bahasa Arab).

Interaksi intelektual orang-orang Muslim dengan dunia pemikiran Hellenik terutama terjadi antara lain di Iskandaria (Mesir), Damaskus, Antioch dan Ephesus (Syria), Harran (Mesopotamia) dan Jundisapur (Persia). Di tempat-tempat itulah lahir dorongan pertama untuk kegiatan penelitian dan penterjemahan karya-karya kefilsafatan dan ilmu pengetahuan Yunani kuna, yang kelak kemudian didukung dan disponsori oleh para penguasa Muslim.

Suatu hal yang patut sekali mendapat perhatian lebih besar di sini ialah suasana kebebasan intelektual di zaman klasik Islam itu. Interaksi positif antara orang-orang Arab Muslim dengan kalangan bukan-Muslim itu dapat terjadi hanya dalam suasana penuh kebebasan, toleransi dan keterbukaan. Sebab meskipun orang-orang Arab itu mempunyai ajaran agamanya yang sangat tegas dan gamblang, dengan penuh lapang dada membiarkan semua kegiatan intelektual di pusat-pusat yang ada sejak sebelum kedatangan dan pembebasan oleh mereka. Seperti dikatakan oleh C.A. Qadir:

“…the centers of learning led by the Christians continued to function unmolested even after they were subjugated by the Muslims. This indicates not only the intellectual freedom that prevailed under Muslim rule in those days, but also testifies to the Muslims’ love of knowledge and the respect they paid to the scholars irrespective of their religion.”[6]

(…pusat-pusat pengajaran yang dipimpin oleh orang-orang Kristen terus berfungsi tanpa terusik bahkan setelah mereka itu ditaklukkan oleh orang-orang Muslim. Ini menunjukkan tidak saja kebebasan intelektual yang terdapat di mana-mana di bawah pemerintahan Islam zaman itu, tetapi juga membuktikan kecintaan orang-orang Muslim kepada ilmu dan sikap hormat yang mereka berikan kepada para sarjana tanpa mempedulikan agama mereka).

Interaksi intelektual itu memperoleh wujudnya yang nyata semenjak masa dini sekali sejarah Islam. Disebut-sebut bahwa al-Harits ibn Qaladah, seorang Sahabat Nabi, sempat mempelajari ilmu kedokteran di Jundisapur, Persia, tempat berkumpulnya beberapa failasuf yang dikutuk gereja Kristen karena dituduh telah melakukan bid’ah. Disebut-sebut juga bahwa Khalid ibn Yazid (ibn Mu’awiyah) dan Ja’far al-Shadiq sempat mendalami alkemi (al-kimya) yang menjadi cikal-bakal ilmu kimia moderen.[7] Bahkan seorang khalifah Bani Umayyah, Marwan ibn al-Hakam (683-685 M), memerintahkan agar buku kedokteran oleh Harun, seorang dokter dari Iskandaria Mesir, diterjemahkan dari bahasa Suryani (Syriac) ke bahasa Arab.[8]

Harus diketahui bahwa dalam pembagian ilmu pengetahuan zaman itu, baik ilmu kedokteran maupun alkemi, sebagaimana juga metafisika, matematika, astronomi, bahkan musik dan puisi, dan seterusnya, termasuk falsafah. Sebab istilah falsafah itu, dalam pengertiannya yang luas, mencakup bidang-bidang yang sekarang bisa disebut sebagai “ilmu-pengetahuan umum”, yakni, bukan “ilmu pengetahuan agama”, yaitu dunia kognitif yang dasar perolehannya bukan wahyu tetapi akal, baik yang dari penalaran deduktif maupun yang dari penyimpangan empiris. Ini penting disadari, antara lain untuk dapat dengan tepat melihat segi-segi mana dari sistem falsafah itu yang kontroversial karena dipersoalkan oleh kalangan ortodoks. Umumnya mereka ini, seperi Ibn Taymiyyah dan lain-lain, menolak yang bersifat penalaran murni dan deduktif, dalam hal ini khususnya metafisika (al-falsafah al-ula), karena dalam banyak hal menyangkut bidang yang bagi mereka merupakan wewenang agama. Tetapi mereka membenarkan yang induktif dan empiris.

Wah ini suatu kesalahan baru

September 10th, 2008

Pada hari ini aku menyatakan bahwa diriku telah terpuruk dalam kelam yang tak kunjung padam….. bukan apa-apa sih bro cuman aku pingin ketawa aja rasanya….. beberapa detik yang lalu aku masih memuja seseorang, tapi kini semua telah berlalu…….. sidang organ??? sidang organ apaan?????? semua guyonan waton dari Tuhan, Bapakku meninggal dunia sebagai seorang yang tenang .. jadi tidak ada alasan bagi aku untuk berontak pada waktu, karena waktu telah begitu baik,,,, contohnya hari ini, dia memberiku sesuatu yang indah…. kehilangan itu….. bukan berarti dia bukan orag yag tidak baik, namun tampakknya Tuhan berkehendak lain….. cukuplah cintaku untuk-Nya saja…..

belajar-belajar-belajar untuk tetap menjadi besar….. i love you Tuhan aku bercinta denganmu saja……. jjjjjjjaaaaaaaaaaaaaaaaauuhhhhhhh lebih indah bukan??????? …………….

Sidang Organ, Uhibbu Anta Ya Syamsyi

September 5th, 2008

Kepada Roket Matahari

Yang terdakwa adalah aku; seluruhnya: rambutku, mataku, mulutku, tubuhku, tanganku, kakiku dan hatiku …

Nuraniku berteriak menuntut komitmen, sebagian lagi justru terus-terusan membisikkan kata malu …

Gelisah membuncah ini selaik penghakiman. Kurasai sebagai sidang atas nama cinta, yang telah kutandang dan simpan dalam lubuk hati yang paling dalam, semua itu kubungkus dengan lembaran-lembaran hitam dan biru … semuanya seakan-akan menyiksaku, tapi rasa ini terlalu indah untuk disebut sebagai penyiksa…

*Kurasai diriku bagai terduduk sendiri disebuah ruang, berjajar bangku kosong dengan sehelai kain hijau bergambar palu menatapku membisu…

Lalu mereka berkata:

Nurani: “Kartika, kami tahu kau sedang menderita! katakan, kami meminta penjelasan …!

Kartika: “Terkadang aku lupa nurani, bahkan seberapa penting pengakuan itu perlu untuk dijelaskan..!”

Nurani”semua bukan tanpa sebab, alasannya adalah dia yang pernah bertanya, dirimu, ruhmu, Tuhanmu, dan semua …!”

Kartika:”Aku paham dan merasa bersalah jika tidak, baiklah … kucoba mengurangi resah…

“awalnya aku sedang jatuh cinta, namun aku menahan diri sekuat-kuatnya karena bagiku belumlah cukup waktu, juga kondisi yang tak memungkinkan… aku menjadi seorang birokrat kecil-kecilan, sebagai ketua 2 atau wakil ketua bahkan aku sering bingung atas jabatannya. Bayangkan, alangkah terbengkalainya nanti segala urusanku, betapa nanti terpecah fokusku karena sakit hati, apa kata kawan-kawanku??? Semua itu menjadi pertimbangan yang utama, dilema yang ambigu sekaligus kaku. Namun begitu aku hanyalah manusia biasa yang tetap tak mampu untuk menampung perasaan itu. Kuungkapkan kepada seorang kawan yang pada akhirnya mengharapkanku untuk tetap memperjuangkan dan menunjukkan rasa cinta itu. Aku tahu diriku bukanlah seorang perempuan sempurna yang pandai menggoda orang yang kucinta, aku bukanlah seorang perempuan yang selalu terjaga untuk selalu berada didekat orang yang dipuja… aku hanyalah pekerja lapangan yang selalu nyaris hidup tanpa cinta dan kekasih… Sehingga ketika dia sakit kutak punya waktu jeda untuk sekedar menyentuh dahinya dan menanyakan “gimana kesehatanmu hari ini???” dllnya…

Nurani, mungkin ini saja dulu yang kujelaskan padamu agar dia tak bertanya-tanya dan salah persepsi atas persepsi yang sebenarnya aku ikut membangunnya. Kutak berani mengharap apapun karena aku sangat menghormatinya. hanya satu yang ingin kukatakan padanya” akulah orang yang selama ini dia cari, seorang yang katanya perhatian kepadanya… Po, i love you…. aku pernah mengatakan ini kpdmu lewat telepon dan kau jawab i love you too …, kusadar sepenuhnya itu belumlah cukup untuk membuka sebuah hati untuk mau menerima sebuah hati yang lain…

Nurani:”Terimaksih…..”

—————————————————————

Sebenarnya telah kugantung rasa cintaku dilangit bersama Tuhan.. Pada akhir 2003 yang lalu.

Selama kurang lebih 6 tahun ini cinta datang dan pergi silih berganti namun belum juga membuka mata hatiku untuk berani mengungkapkan cinta. Sampai akhirnya ketemukan serpihan mutiara yang menyala bersinar-sinar terang bagai matahari. Indah…. kamu adalah matahari itu…..

Aku masih sibuk dengan ayahku… ibuku belum pulang… jadi lewat posting blog ini kuharap po mengerti yang sebenarnya… terimakasih ya…. Miss You, Jesus Bless You forever……………..