Supaya
pada emut, Amawasa benjang jroning tahun, Windu kuning ana wewe putih,
gegamane tebu wulung, arsa angrabaseng wedhon. ( Supaya ingat semua,
kalau ada tahun, Windu Kuning di situ ada wewe putih, yang
bersenjatakan tebu wulung, akan melenyapkan wedhon). Sabdatama Gambuh
Ranggawarsita
BENCANA itu sesungguhnya selalu ada di sekitar kita. Setuju atau
tidak, bencana itu pasti datang setiap saat. Sekali pun kedatangan
bencana tak bisa terduga, namun kalau mau tahu ternyata ada juga yang
mau memberi tahu.
Manusia sendiri yang sering menciptakan aneka bencana, sudah barang
tentu manusia itu sendiri yang bisa menghentikannya. Memang sulit
mengetahui bencana dengan alat deteksi, sulit juga menghitung
besar-kecilnya daya rusak bencana itu secara pasti. Tetapi kepada siapa
pun, kalau mau belajar dengan baik dan benar tentang apa pun, bahwa
segala sesuatu yang ada di dunia ini sebenarnya sudah bersifat terukur
- terbatas - teratur.
Hidup manusia yang tidak teratur itulah, justru sebagai penyebab
utama datangnya bencana tersebut. Akhirnya manusia hanya bisa
kaget-heran-sedih, ketika bencana itu sudah datang. Apa yang sebenarnya
telah terjadi ?
Djongko Djojobojo
Bicara tentang DD- Djangka Djojobojo memang sangat menarik. Menurut
Ketua Yapeta Blitar Joso Bari Partohardjono mengatakan, DD merupakan
pedoman perjuangan untuk mewujudkan kemerdekaan Indonesia.
Ranggawarsita dan Cantrik WHis Kediri adalah sastrawan pujangga yang
banyak mengupas tentang ramalan Jayabaya.
DD kebanyakan syairnya berupa Puisi Tembang Jawa, isinya menyangkut
tentang kepemimpinan, kemerdekaan dan bencana. Bahasanya menggunakan
sastra sandi penuh dengan isyarat lewat perlambang dan simbolis., yang
tidak semua orang bisa memahaminya.
Ada pula yang disebut sastra tanpa tulis, atau yang biasa terdapat
dalam mitologi atau dongeng, isinya bisa berupa mantra atau doa.
Kadangkala ada mahaguru yang ingin transfer ilmu kepada sang mahasiswa
tetapi tidak boleh ditulis, karena ada ajaran yang masuk katagori top
secret limited. Sedangkan yang tertulis berupa sastra basa sandi, oleh
para pujangga sering untuk menyampaikan pesan rahasia .
Sebenarnya sudah banyak peringatan yang disampaikan oleh para
clairvoyant atau peramal yang kampiun, bahwa peristiwa aneka bencana
cepat atau lambat pasti terjadi di Indonesia. Seperti Mbah Maridjan
pernah memberikan nasehat, berdasarkan petunjuk gaib yang diterimanya,
bahwa bencana gunung Merapi itu tidak seberapa apabila dibandingkan
dengan bahaya yang melanda di selatan gunung Merapi itu.yangjustru
lebih dahsyat.
Ada lagi cerita nujum Mama Lourent, yang juga pernah meramalkan
bahwa jumlah penduduk di Jawa ( Indonesia ? ) tinggal 60 persen dari
yang sekarang. Demikian pula dengan Djongko Djojobojo clan sastra basa
sandi pujangga Ranggawarsita, sudah berulang kali disampaikan akan
datangnya malapetaka besar, yang juga menurut versi Kitab Injil
Kristiani menyatakan bahwa gempa bumi dahsyat itu, baru merupakan awal
dari sebuah rangkaian penderitaan di bumi (Lukas 21 :9).
Alfred Lothar Wagener menyebutkan bahwa lempeng- lempeng benua dan
samudera tersebut, setiap saat bisa bertabrakan, karena lempeng-lempeng
itu bisa berjalan- jalan bebas mencapai jarak 7-Cm hingga 9-Meter per
taboo. Bahkan kalau ada uji coba nuklir, bisa mempercepat gerakan
lempeng - lempeng tersebut untuk saling bertabrakan. Peristiwa tabrakan
lempeng seperti ini bisa menimbulkan gempa tektonis yang dahsyat, dan
fenomena ini bisa disaksikan di situs geologis Taman Karangsambong
Kebumen.
Bahaya gunung meletus juga bisa lebih dahsyat, kalau teori "The
Pasific Ring of Fire " benar terjadi, artinya sebagian jumlah penduduk
di Asia ini bisa rusak atau lenyap. Sebenamya ramalan Jayabaya
tersebut, dapat dinalarkan hingga menjadi suatu kebenaran teori bencana
geologis. Apabila benar terjadi adanya tubrukan lempenglempeng dan
sekaligus terjadinya letusan gunung-gunung di seluruh jalur sirkum
pasifis, kiranya tidak mengherankan bahwa pulau Jawa terbelah menjadi
dua bagian. Atau bisa jadi luas pulau Jawa berkurang separuh atau
justru bertambah separuhnya lagi.
Bisa jadi secara teori demografis, jumlah penduduk di Jawa (
Indonesia ) ini akan tersisa separuhnya, akibat adanya bencana gempa
tektonis-vulkanis yang dahsyat, maupun akibat dari bencana lain yang
non gempa tersebut. Karena menurut tafsir dalam sastra pedalangan
tersebut, masih banyak bencana yang siap menelan bumi dan penduduk
nusantara, seperti pagebluk-mayangkara atau epidemic, perang brantayuda
jaya binangun maupun perang antariksa atau the star wars.
Sri Susuhunan Paku Buwana XII sebelum wafat memberi petunjuk,
tentang kebenaran Djongko Djojobojo atau ramalan Jayabaya yang
mengatakan, bahwa Jawa kari separo. landa kari sejodo dan Cina
ge/a-gelo. Kalau mau merenungkan dengan seksama, maka ungkapan " Jawa
kari separo" itu sebenarnya bukan merupakan sesuatu yang aneh. Dalam
teori geologis peristiwa tumbukan lempeng sebagai bencana yang
mengerikan. Kasus gempa bumi, sesungguhnya bisa disebabkan oleh gempa
tektonis dan vulkanis.
Ternyata di Barat, Djangka Djojobojo terus dikaji secara akademis,
sehingga Barat banyak mendapat kemajuan dan keuntungan besar. Sayang di
Indonesia justru mengabaikan pengetahuan sastra profetis, dan terbukti
negeri ini tidak pemah maju.
Tobat tanpa syarat
Dalam isi Serat Kala
Tidha, Ranggawarsita juga meramalkan datangnya jaman Kalabendu, yang
akan merusak seluruh sendi kehidupan di Indonesia. Dikatakan, bahwa
kewibawaan negara telah lenyap, karena di seluruh negeri selalu terjadi
pebedaan pendapat, tidak ada keteladanan yang baik, bahkan sudah tiada
lagi kebajikan.
Para sarjana pun ikut larut berbuat nista, sehingga turut serta
menciptakan terjadinya kemiskinan dan kelaparan . Namun demikian juga,
tetap tidak ada yang peduli untuk memperbaiki kehidupan negeri supaya
menjadi lebih baik, semua diam dan semuanya menghadapi kesulitan.
Ranggawarsita memang punya kesaktian sebagai ahli nujum yang hebat,
ia memang ahli bahasa sastra sandi serta cerdas membaca masa depan.
Barangkali tepat seperti pesan profetis dari Nabi Muhammad SAW, supaya
umatnya selalu melakukan iqro atau baca apa saja, baik yang bisa
dinalar atau yang irrasional, atau baik yang sudah tertulis maupun yang
tidak.
Seperti bait 2 Tembang Sinom Kalatida dikatakan, walaupun negeri ini
dipimpin oleh Raja yang hebat, wakil Rajanya sakti, dan segenap pegawai
kerajaan sangat cerdas lugas, tetapi karena pengaruh radiasi dari jaman
kalabendu tersebut, semua yang dikerjakan menjadi sia dan percuma saja.
Suasana kerajaan makin kacau balau, dan mereka yang terkemuka akhirnya
terpinggirkan jua .
Memperhatikan pesan kenabian. seperti terkandung dalam karya sastra
apokalipstik dari Ranggawarsita tersebut, apabila pesan itu dapat
dijalankan dengan konsisten dan konsekuen. kiranya Tuhan akan
mengampuni segala dosa manusia Dosa yang merah seperti kirmisi, bisa
menjadi putih seperti salju. Juga dilepaskan dari kutuk untuk
dipulihkan kembali menjadi tahir.
Seperti juga terdapat dalam Serat Joko-Lodhang, Ranggawarsita pun
menegaskan bahwa kalabendu bisa lenyap, kalau manusia mau tobat tanpa
mosik atau serius bertobat tanpa suatu syarat apa pun. Berarti harus
berani mengaku dosa dan bersedia menebus dosa, untuk itu harus sru
nalangsa narima atau pasrah menyerah total dan ngandel ing sukma atau
beriman takwa kepada Tuhan.
Ajakan Ranggawarsita sebenarnya, supaya manusia (Jawa) mau back to
basic atau kembali ke jatidiri, bersedia melindungi adat dan menghidupi
budaya yang mulia, serta gemar memelihara nilai keutarnaan.
Ada sebuah pelajaran yang baik bagi ksatria Arjuna. yang peragu dan
penakut ketika memasuki mandalayudha atau kurusetra Raja Dwarawati
Prabu Sri Kresna kepada Arjuna mengatakan, supaya belajar tentang
apa-mengapa-bagaimana planet-planet di angkasa yang biru itu bisa
tidak saling bertabrakan, terbukti karena setiap planet itu punya
disiplin sendiri dalam melakukan putar-edar, menurut dharmanya sesuai
dengan garis orbitnya masing-masing.
Epilog
Teringat akan dongeng dari Profesor
Doctor Teuku Jacob tentang manusia purba, bahwa setiap terjadi evolusi
pada makhluk selalu ada masalah baru . Misalnya ketika manusia hewan
itu sudah berjalan dengan kaki dua justru punya masalah yang makin
rumit dibandingkan ketika ia berjalan masih menggunakan dengan kaki
empat. Demikian pula membesamya volume otak manusia kera, makin
membesar makin banyak bikin masalah baru.
Ada kiat untuk menghadapi zaman kalabendu supaya manusia jangan
sampai kehilangan rasa humour-nya walaupun hidupnya terhimpit, harus
tetap punya kepercayaan terhadap spieces-nya, maksudnya supaya meniru
binatang harimau yang tidak pernah mau makan anaknya sendiri. Juga bisa
men-detect untuk mengetahui perbedaan mana yang baik dan buruk. Oleh
karena itu, perlu terus eling dan waspada.
Pemahkah kita menyadari, bahwa daun moerbei bisa menjadi baju sutera
yang indah. Apakah pernah ada ceritera tentang ulat sutera makan
hamburger atau gudeg. Kalau begitu marilah kita semua mau belajar
menjadi ulat sutera, sekali waktu berwisata dan merasakan agar bisa ber
-metamorphosa.
……………………………………………………………………………………….
Diskusi kearifan lokal dan Kreasi Budaya Siaga Bencana
SATU TAHUN LALU GEMPA MENGGETARKAN YOGYA
Gempa
yang melanda Yogya 27 Mei tahun lalu, rupanya tidak segera lenyap dari
ingatan. Tidaksedikit kelompok masyarakat yang masih peduli pada gempa,
yang hingga hari ini ekeses sosialnya belum terselesaikan. Satu
komunitas anak-anak muda yang tergabung dalam “RumahPohon Martogolek”
mencoba kembali mengingat(kan) gempa satu tahun lalu, salah satunya
dengan diskusi dan mengambil tema “Kearifan Lokal dan Kreasi Budaya
Siaga Bencana” di rumah Budaya Tembi, Rabu (16/5) pkl. 10.00 wib
menghadirkan pembicara Dr. Ir Subagyo Pramumijoyo D.E.A, ahli geologi
UGM, Titok Harianto, peneliti IRE dan Drs. R.M Hanung Priono PhD.Arch,
budayawan Jawa. Diskusi diikuti oleh anak-anak muda sekitar 25 orang.
Dalam diskusi ini
Subagyo Pramumijoyo diantaranya mengutarakan, “Gempabumi adalah getaran
di permukaan bumi/tanah yang terjadi karena pelepasan energi secara
tiba-tiba oleh bantuan yang berada di bawah permukaan, karena batuan
mengalami pematahan atau pensesaran.
Dijelaskan oleh
Subagyo, kerusakan terparah berada di daerah Bantul dan Gantiwarno.
Pertama hal ini disebabkan oleh keadaan geologinya. Wilayah yang
mengalami kerusakan tersusun oleh endapan Kuarter yang belum mengalami
litifikasi, belum mengalami pengerasan, jadi merupakan endapan lepas,
yang terdiri dari endapan yang berasal dari Gunung Merapi dan sangat
tebal, lebih kurang 100 meteran. Kedua, bangunan yang berada
dipermukaan endapan tidaklah merupakan bangunan tahan gempa bumi,
sehingga bangunan tersebut tidak tahan terhadap goncangan
gelombang gempabumi.
Dalam mengawali
makalahnya, Drs. Hanung Priyono Phd dan Drs. Y.Hadiwahyono, dua
pembicara dalam satu sesi membawakan makalah “Sastra Profetis dan
Waspada Bencana’, makalah ini dalam konteks bencana, keduanya
menaruhnya pada ramalan Djajabaya. Tampaknya, kedua pembicara merujuk
gempa bumi sebagai apa yang diramalkan Ranggawasita, ialah jaman
kalabendu.
Sambil
menembangkan Serat Kala tidha, Hadiwahyono mengraikan makna-maknanya
seolah mencoba menjelaskan bencana gempa bumi secara cultural.
Seorang peserta
diskusi, Anto namanya, seperti tampak gerah. Dia bertanya. Kata Anto:
“Dalam diskusi ini, dari para pembicara, saya tidak mendengar bagaimana
masing-masing pembicara menguraikan kearifan local untuk merespon “awas
bencana”. Kita seperti tidak lagi hirau akan tanda-tanda local sebagai
petunjuk akan adanya bencana”.
Suasana diskusi terasa tegang, seolah sungguh takut terhadap gempa bumi yangsudah lewat satu tahun yang lalu. (*)
………………………………………………………………………………………..


