Domba-domba Allah

November 23rd, 2007

Susungguhnya, bagi orang-orang yang mengerti, dipadanya segala nikmat telah diturunkan. Apa-apa yang menjadi ketidakpuasannya, bahwasannya itu adalah suatu kebodohan” (Allah, 2007)

Namaku Allah, lengkapnya Gusti Allah kudapat nama ini karena suatu ketidaksengajaan. Fisikku cacat, telingaku tak bisa mendengar jelas alias tuli sedikit, mulutkupun bisu, kemapuan berbicaraku sangat sulit sedangkan penglihatanku normal-normal saja. Tinggi badanku 156 cm, berat badanku 42 kg. Kurus, hitam, berambut keriting plus kaki pecah-pecah. Itulah aku.

Walau aku tuli, aku masih mampu belajar dengan baik, aksara-aksara a b c d sampai z aku tahu, namun untuk melafalkannya terkadang mbleset-mbleset1.

Usiaku baru 13 tahun, nama orang tuaku Pak Karto Kibrit, Simbokku Maerah. Nama inipun sebenarnya bukan sesungguhnya. Orang normal pasti akan dengan mudah menyebutkan namanya: Pak Anton Kirbo dan Bu Mirah.

Pak Anton Kirbo yang bapakku itu, adalah keturunan Jawa Ambon. Kakekku adalah seorang pedagang, jauh-jauh dari Ambon ketanah Jawa jualan kemiri. Mmm.., mungkin dia dulu seorang buruh petiknya V.O.C, entahlah. Aku juga belum pernah bertemu dengan mbah Herlinchi Kirbo itu. Bukan lantara dia berambut kribo yang hingga saat ini menurun ke aku, tetapi Kirbo adalah nama marganya.2 Dia menikahi gadis Jawa yang dulu menjadi pembantunya, Sianah, alias nenekku. Pun dia, aku juga belum pernah melihatnya, mereka telah meninggal dunia saat aku belum dibikin.

Kedua orang tuaku tak segigih kakek nenekku. Kemanjaan bapakku tak menghasilkan apa-apa, hanya kebangkrutan. Sedangkan simbokku konon bunga desa yang hobinya bersolek, jadi bisa dibayangkan bukan? Harta peninggalan simbahku habis untuk bergaya hidup.borjuis3 dan hura-hura. Sial orang tuaku bertambah ketika simbok melahirkanku cacat, dia malu karena baginya aku hanyalah aib. Diapun tanpa dosa akan membunuh aku tetapi dicegah oleh mbok Gino yang sudah tua . Mbok Gino adalah rewang4 keluarga simbokku.

Selang dua tahun kemudian dia melakukan perbuatan yang sangat aku herani hingga kini, Dia membunuh bapakku. Perbuatan itu dilakukannya karena bapakku tak mampu lagi mengenakkannya dan rajin bersetubuh dirumah rumah bordil dimanapun dan kapanpun. Intinya bapakku jarang pulang kerumah..

Rasa jengkel simbokku meluap hingga pada suatu malam tragedi itu, pergumulan terjadi antara simbok dan bapakku-pastinya pergumulan itu bukan untuk beradu kelamin, tetapi untuk mempertahankan nyawa mereka masing-masing. Puncak dari peristiwa itu adalah simbok berhasil merebut pisau dari tangan bapakku yang selanjutnya ditancapkan ke perut bapakku. Bisa ditebak akhirnya bukan? Bapakku mati tertusuk senjatanya sendiri. Simbokku menangis berlari menuju kantor polsek yang terletak 300 meter dari rumahnya. Menyerahkan diri. Hingga kini simbok masih tinggal di rutan5Tunjung Biru sampai 7 tahun kedepan.

Begitulah riwayat keluargaku yang bagaimanapun selalu kusyukuri. Karena mereka semua aku ada didunia ini. Ditinggal bapakku mati, simbokku dipenjara lalu mbok Gino yang sudah tua itupun meninggal dunia. Dan aku terlunta-lunta, lantas Lik6 Karjo mengajakku untuk tinggal dirumahnya. Lik Karjo adalah pak RT yang masih sangat muda dibandingkan dengan pak RT- pak RT lainnya. Usianya baru 22 tahun. Meskipun masih sangat muda, Lik Karjo orang yang sangat baik dan ngganteng7 pintar pula. Sewajarnya selalu dikerumuni gadis-gadis kampung untuk menarik simpati Lik Karjo agar mau menikahinya. Tapi Lik Karjo orangnya cuek, tak mudah kesandung sama hal-hal yang menggoda, seringnya sih dia hanya nggumun-nggumun8saja tetapi tak pernah berbuat yang tidak-tidak.

Aku menumpang hidup pada Lik Karjopun bukan hanya sekedar numpang, aku bekerja juga untuk dia. Dombanya banyak, karena dia memang juragan wedhus gembel9 Aku jadi pengasuh domba-domba Lik Karjo itu.

Domba-domba Lik Karjo yang kuasuh lumayan banyak, 15 ekor. Kerjaku memandikan, memberi makan dan ngarit10. Lik Karjo sangat puas dengan hasil kerjaku. Selama dombanya kurawati, pembelinya jadi bertambah, karena domba-domba Lik Karjo terlihat lebih sehat, bersih, dan gemuk, karenanya Lik Karjo sangat ngeman11 sama aku.

Pagi datang seperti hari biasanya, aku melaksanakan rutinitasku “Allah, ki Lah sarapan dishik” Kata Lik Karjo sambil menepukku dan memingkupkan jarinya diarahkan ke depan mulutnya di sampingku yang lagi memberi makan domba-domba dikandang.

“Thuk-thuk.. “ Aku mengangguk tanda mengiyakan, topi capingku mengenai atap kandang………………………………………………………………..to be continue,

Ayo siapa yang mau lanjutan dr kisah ini? Send e-mail aja Ok!

1 Mbleset= tergelincir.

2 Marga= kekerabatan.

3 Borjuis= hartawan

4 Rewang=pembantu

5 Rutan=rumah tahanan

6 Lik= paman, om

7 Ngganteng=tampan

8 Nggumun=kagum

9 wedhus gembel= domba

10 Ngarit=menyabit rumput

11 Ngeman=sayang

Trilogi; Kelaminku bukan hanya untuk kau lihat suamiku,

November 23rd, 2007

Kekasih,

Kuuntai cintamu menjadi matahari

Kucercap cahayanya dengan bulir kasihku

Cermatilah, …. Usah selalu menamparku dengan kepedihan-kepedihan tak terperi sehingga diriku semau mati…

Ini hanyalah surat untukku menyirat

Bahwa cintaku tulus tanpa benciku

Tataplah mataku, ada Tuhan dihatiku

Dan kau, akan kutemani sampai harimu

Jikakalau hari itu milikmu.

Kutak minta untukku

………………………………………………………………………………………………

Namaku Mona, Monalisa. Kisah ini kutulis demi mengabadikan sebuah kejadian yang aku tak ingin menimpamu para perempuan-perempuan sedarahku.

Aku menikah dengan seorang pria yang sangat kucintai, perjanjian ikatan itu kuucapkan dengan sepenuh harap dan do’a, agar senanti rumah tangga yang kubina menjadi bahagia. Mas Lexi, nama suamiku. Dia adalah seorang laki-laki yang tak pernah dipalingkan oleh wanita yang melihatnya. Wajahnya sangat rupawan, berbadan tegap tinggi dan berwibawa. Dulu, aku sama sekali tak menyangka Mas Lexi melamarku untuk dijadikan istrinya. Dari segi penampilan dan wajah, aku tergolong tak seberapa cantik bila dibandingkan dengan perempuan-perempuan yang dulu selalu menggandrunginya.

Kami sama-sama kuliah di salah satu Universitas ternama di Amerika. Aku mendapat beasiswa dari pemerintah Indonesia untuk belajar ilmu tehnik informatika. Demikian pula Mas Lexi, kami wisuda bersamaan. Setelah kembali ke Indonesia kita berkumpul dengan orangtua dan kekasih masing-masing. Selang beberapa bulan lamanya dan karena suatu sebab, kami sama-sama tak berjodoh dengan kekasih kami.

Pertemanan ketika belajar di Amerika dipertemukan kembali pada sebuah acara seminar nasional informatika di Jakarta. Sebuah proyek pengembangan satelitlah yang kemudian menyatukan kita untuk lebih intens berkomunikasi atau sekedar makan bersama Komunikasi demi komunikasi bergulir seperti cahaya mentari pagi hari yang memberi harapan kepada hatiku yang ketika itu masih terluka akibat ditinggal menikah oleh kekasihku setelah aku kembali dari Amerika.

Bagi seraja Nyawa,

Cinta membuncah di ubun sutra

Dan galur-galur penyusur jalan

Menuntun sosok tegap tinggi berbesar nyali

Selaik senja menukik pagi

Palu penghukum berdebum-debum

Menyobek kisah hangus merangas

Semua akulah itu

Menuang anggur berdarah ungu

Next to …………………………………………………………………….………..e-mail.

MAD BRAS PITT

November 18th, 2007

Drtrtrtrtkrtt

“Jangan, jangan! Jangan dipegang!” Seru Ajib pada Ujang.

“Ini mah mesti dibuang atuh ayak naon teh, nggak baik buat iman abdi” Ujar Ujang kepada Ajib.

“Puing!, kamu belum merasakan enaknya, hiks hiks..” Jawab Ajib sambil reflek membentangkan tangannya bersikap hendak menyelamatkan poster porno gadis perancis yang terpajang diruang belajar kontarakan mereka.

“Oh abdi ngarti sakarang, akang hobbi yak sama yang begituan??” ucap Ujang sambil memanyunkan bibir dan melirik curiga.

Come on Ujang, Gua tak munafik teman, yang begituan tuh enak” Ajib menjelaskan pada Ujang tentang nikmatnya berseksual sambil memperagakan gerakan memompa dan menepuk pantat.

“idih akang mah, norak pisan euy, ah sudah ah… terserah akang, abdi kabur aja nggak mau ikut-ikutan. Hiii…” Ujang lari terbirit kemar mandi yang berada di sebelah dapur di belakang ruang belajar mereka tadi. Sementara Ajib hanya tersenyum-senyum menang.

Waktu kencing Ujang memeperhatikan anu yang belum pernah difungsikan. “Duh kamu si Jago, malang benar nasibmu, sampai kini teh Cuma buat pipis saja..” ucap Ujang meresapi ucapan Ajib sang dewa cinta. “Tak mengapa yak, abdi teh takut sama azab gusti, pamali.”

Ajib dan Ujang adalah dua orang sahabat yang berbeda kultur. Ajib adalah pemuda dari golongan aristokrat Jakarta, dan Ujang hanyalah pemuda dari golongan proletar biasa dari desa Cileunyi Bandung Jawa Barat yang sosiografi masyarakat masih sangat kuat memegang adat dan syariat agamanya. Ajib dan Ujang adalah mahasiswa pertanian di salah satu perguruan tinggi Negeri di Yogyakarta. Perbedaan susur galur1 tentu saja menjadi pembeda motivafi belajar bagi mereka. Jika Ajib adalah untuk menjadi tuan tanah warisan bapaknya, maka Ujang adalah untuk menimba ilmu pertanian untuk mengembangkan desanya yang agraris banget.

Desa tempat Ujang lahir dan tinggal terkenal sangat menjaga akidah agama, maklumlah secara garis keturunan mereka berasal dari trah Sunan Gunung jati yang juga keturunan dari Prabu Siliwangi yang terkenal bijaksana itu.

Salah satu adat yang masih dipakai turun temurun adalah jika ada pemuda atau pemudi yang ketahuan berbuat zina, mereka akan di telanjangi, disalib dan diarak keliling kampung. Tentu saja disalibnya dengan kayu dan tidak dipaku seperti Isa tetapi cukup diikat dengan tali saja. Ujang begitu merinding jika teringat peristiwa seperti yang pernah dia saksikan dengan mata kepalanya sendiri disaat dia masih duduk dibangku SD kelas tiga. Saat itu ada sepasang laki-laki dan perempuan yang berbuat zina di pinggir kali Cihayeung dan tertangkap penduduk.

“ Mmm, orang itu bodoh pisan, berzina pinggir di kali.. ck ck ck…” Ujang memutart kembali ingatannya. “Tapi enak kali…” gumam Ujang sambil cengengesan menarik resliting celananya.

Sementara itu di belahan bumi lain, seorang laki-laki tampan berbadan tegap sedang menanggalkan pakaiannya sampai lucut. Tak sehelai benangpun yang terselampir lagi menutupi otot-otot badannya yang kekar berkeringat.

“Ayo aku sudah tidak tahan” ucap lelaki bugil itu.

“Oke, lakukan dengan penuh birahi” Seru seorang lelaki satunya. Di atas ranjang bercover hijau garis-garis seorang bocah lelaki kecil berusia sekitar empat tahun terlentang tanpa baju ketakutan. Dia tak bisa kabur karena telah diancam akan di tembak jika tak mau menuruti kemauan kedua lelaki biadab itu.

Sang lelaki kekar telanjang itu kemudian menindih tubuh bocah itu dengan posisi terlentang pula. Ditimpa badan yang jauh sangat besar si bocah meronta-ronta tak bisa bernafas. Oleh kedua lelaki itu rontaan itulah yang dijadikan stimuli untuk merangsang libido seksual. Kakinya bergedebukan dan menendang-nendang alat kelamin sipemerkosa itu. Semakin si bocah meronta kian kemari, makin terpuaskanlah si laki-laki dewasa itu.

“Oh, yes, oh yes.. lakukan terus nak!” kata lelaki itu dengan wajah garang penuh gejolak nafsu sehingga cairan-cairan bening keluar dari ujung kemaluannya. Begitulah adegan meronta itu berlangsung sekian menit hingga sang lelaki telah berhasil memuncratkan spermanya.

“Cut!, bagus sekali, sempurna” Teriak lelaki yang memegang kamera.

“Wow, ejakulasi yang lumayan..” Seru lelaki pemerkosa

“Bagus, genre sex baru, ini pasti akan meledak dipasar Blue Film” ucapnya lagi sambil membersihkan kelaminnya dengan handuk. Lelaki yang memegang kamera bersiul senang tanpa memperdulikan nafas tersengal dan kesakitan bocah laki-laki malang itu.

“Ingat, kamu hanya berhak 40% dari penjualan semuanya” kata lelaki pemerkosa itu pada kawannya.

“Beres boss, tak masalah”

Sementara di Jogja, Ajib baru saja pulang dari bergaul malamnya.

“Ujang bangun!” kata Ajib kepada Ujang yang tertidur dikamarnya.

“Gile nih anak, katanya ga doyan ngelihat gambar saru eh nyosor juga sama filem Be ef dasar muna lu”. Gumam Ajib setelah melihat fenomena2 yang mengagetkannya. Selama ditinggal Ajib klabing3 Ujang memang melahap beberapa film blue koleksi Ajib.

“Jang bangun Jang, “ Kata Ajib sambil mengguncang-guncang tubuh Ujang semi keras. “ Oh akang teh sudah pulang?” Kata Ujang demi mendapati sang empu kamar sudah datang.. “Hehe kang, aku ngacak-ngacak filem mu. “ kata Ujang malu-malu. “Kagak apa-apa Jang. Nyante aja gua mah suka kalo elo mau nonton filem itu, buat belajar. Biar kagak cuma buat kencing doang Jang, hari gini masih kuno, nyahok!!” Ucap Ajib bersemangat mendoktrin Ujang supaya memiliki hobi baru, Yah paling tidak supaya Ajib ada temannya kalo pas lagi butuh perek4 atau pas kongkow malam-malam di diskotik ajub-ajub5

Ujang bangun meninggalkan kamar Ajib untuk melanjutkan tidur dikamarnya sendiri. Sebuah kamar yang sederhana tanpa fasilitas elektronik yang memadai, hanya radio tape polytron xxx yang bergelombang Trijaya FM, media Ujang untuk menghindari gagap berita, namun sifat Ajib yang royal tidak pernah menghalangi Ujang untuk ikut menikmati fasilitas dari orang tuanya. Sehingga membantu Ujang dari ketertinggalan tekhnologi. Ujang sendiri adalah mahasiswa bertipe rajin serajinnya, sedangkan Ajib, mahasiswa yang tak begitu memusingkan tetek bengek perkuliahan yang baginya hanya formalitas saja.

“Ujang-Ujang… lihat aja, ntar kamu bakal jadi sohibku hehehehe….” kata Ajib sebelum menghempaskan tubuhnya dikasur.

1 Susur galur = asal keturunan.

2 Fenomena = kenyataan

3 Klabing = kongkow malam-malam, biasanya di diskotik.

4 Perek =pelacur

5 Ajub-ajub = klabing.

“Ujang” Aeqaeqeq….

……to be continue …………………………..

1 Susur galur = asal keturunan.

2 Fenomena = kenyataan

3 Klabing = kongkow malam-malam, biasanya di diskotik.

Selampir bunga awan

November 18th, 2007

Yogyakarta, April 2007

Unjuk setanggi harum kuntummu melati

Berkibar sayak sutra bersama melody angin

Milikmu anggun…

Kemarin

Tera awan membentuk namamu sekejab

Sebelum hujan melelehkan dengan perlahan

Dan bau tanah yang kau hirup kemudian

Selayak parfum…

Kemarin

Ideologi kolot yang menjeratmu

Terkikis senyum lacur seorang pemuda tegap tinggi

Membatu dan membeku

Sampai hari ini terus membunga kusut

Seperti,

kemarin

Kamu adalah aku, selampir bunga awan yang senyap

Sepi dalam kerinduan kosong yang tak pasti

Diam disini bersamaku

Menunggu bunga awan menerakan nama kita lagi

Dengan kaligrafi yang paling indah

Entah kapan, mungkin seperti,

kemarin

Kupasrahkan hidupku pada “jelaga” dosa

November 18th, 2007

Kepada Tuhan:

27 Mei 2006, jam 05.50 WIB.

Bumi bergetar, terguncang hebat. Sesaat setelah aku gagal menekur diri di pagi buta. Juga setelah aku dibangunkan oleh gaib yang selalu mengikutiku…

Aku yang saat itu berkaus coklat, bermuda abu-abu mulikku yang telah usang..tanpa sandal berlarian sambil pasrah jikalau maut segera menjemput. Akibat tsunami yang menggegerkan dari arah selatan. Tanah baru saja merekah beberapa menit yang lalu, menghisap airmata dan darah orang-orang Jogja selatan yang masih hidup diantara mayat-mayat yang bergelimpangan di jalan.

Pasrah dan harapan senantiasa mengiringi setiap angkatan kakiku, berdoa dan memohon ampun…, saat itulah aku merasakan betapa aku adalah makhluk jalang, pengecut, manusia yang telah sombong..penyia-nyia waktu… juga sang penghianat nadzarku sendiri. Penyesalan yang sungguh jujur dan afkir. Aku kecil. Apalagi ketika aku tatap langit pada saat itu, juga ambigu berhenti atau terus berlari… Di iringi suara-suara tangisan orang di sekitarku, ibu-ibu, anak kecil bahkan nenek-nenek yang sudah sulit berlari… kudapati wajah-wajah seperti aku. Ketakutan, menyesal, pasrah dan mengharap hidup. Mengemis pada Tuhan. Menggaungkan kalimah suci yang selama ini mereka lupakan..termasuk aku yang plin-plan.

“Tolong mbak… tolong mbak…!! Tolong saya….”!!! Seru ibu-ibu yang kutinggal berlari…kakinya pincang seperti habis terkena reruntuhan… dia menangis, anggota keluarganya baru saja mati 3. Anjing, aku anjing!! Hanya rasa malu sekarang selalu mendera batiku. Betapa tidak, dia kutinggal dengan wajah pengecutku. Dia hanya kupandang di tengah rasa bingungku… sambil berlari, jika aku menolong ibu aku pasti mati diterjang air itu. Jika kutinggal, aku adalah manusia tak berguna. Oh Tuhan… maafkan aku. Ternyata tsunami itu hanya awu-awu.. Dan aku malu Tuhan. Kusadarai diriku hanya segini. Kecil.

Oh..Tuhan aku masih tak tahu, tetapi keyakinanku waktu itu kau begitu mencintaiku. Kau susulkan mobil penduduk yang langsung kuterjang saat pintunya terbuka..entah milik bapak siapa. Berjejal aku bersama mereka menuju utara. Mencoba berjuang jika ini belumlah kiamat agar aku punya kesempatan untuk bertaubat bersimpuh di kaki-Mu. Dan ibu-ibu yang kutinggalkan tadi sudah berdoa dengan suara gemetar mengikuti aku yang tak berhenti mengalunkan ayat kursi. Lega sekali hatiku. Dia telah ditolong oleh orang yang peduli. Satu mobil bersamaku.

Mungkin sudah puluhan kali kulafalkan ayat mujarab-Mu itu, didalam mobil begitu tenang karenanya. Dengan harapan jika maut menjemput paling tidak kami sempat ingat akan kuasa-Mu. Mati rasa dan kram pada kakiku yang tertekuk tak seberapa dibandingkan dengan derita mereka yang ditinggal mati oleh keluarganya hari itu.

Mobil kami terus melaju diantara ribuan yang lain. Dan berhenti. Kami dihimbau kembali karena berita tsunami itu bohong belaka. Kami pun memutar mobil kembali ke Sewon.

Sampai di Sewon, Kucari kawan-kawanku yang terpisah demi menyelamatkan diri masing-masing. Mereka tidak ada. Tak seorangpun mereka kutemukan kembali…aku sendiri. Terlihat adalah para penduduk yang sudah tenang menggotongi mayat-mayat menuju masjid untuk disemayamkan. Ku segera bergegas menuju kampus. Melayat kawan yang menjadi korban. Kuletakkan kesombongan-kesombonganku yang membuncah karena peristiwa menyedihkan dan tak terduga ini. Untuk-Mu Tuhan, kupasrahkan hidupku pada jelaga dosa. Berilah aku waktu untuk membenahi segala yang harus aku benahi. Terimakasih atas kejadian ini, karenanya aku tahu seperti apa rasanya kehilangan, dan harus mawas diri.

Sewon, Posko ISI, 29 Mei 2006.

Kartika

Senyanyi ilalang yang tak mati dan yang hidup kembali, adalah cinta yang membeku hadir kembali …

November 18th, 2007

 

Tertanda; musim kering menjebak akar

Cinta yang tulus teruji gersang

Terseok daun pasrah menguning

Cinta yang tulus kandas di rindu

Menggeliat dia disela kubur

Cinta yang tulus tak pernah sirna

Menyosokkan badan memapak batang

Cinta yang tulus tersimpan indah

Mengharap hujan menderai ke tanah

Cinta yang tulus segera bangkit

Pepori bumi berbaik hati

Pertanda, cinta hidup kembali

                                                           (Nov, Jogja, after rain on tears)

Sipatung Kambi; Pseudo Katarsis

November 16th, 2007

Hhtyrtyryry“Selamat malam, apa kabar sayang?. 

Gimana harimu apakah segalanya baik?. Ada cerita apa?. Tau nggak Bee1 aku kangen banget sama kamu… rasanya pingin didekat kamu saat ini… BLA BLA BLA… rasanya pingin merasakan lagi kehangatan yang kamu berikan seperti kemarin…” tulis Sipatung Kambi pada diary batu miliknya. Hatinya sangat rindu kepada Bee kekasih yang tak pernah ditemuinya.

Hari ini pada malam yang penuh resah, Sipatung Kambi menulis lagi didiarynya dengan perasaan yang berkecamuk antara sepi dan mual.

“Oh, aku sepertinya sakit” ujar Sipatung Kambi sembari menyeka keringat dingin dari dahinya.

“Hari ini aku tak punya cerita, kisahku lenyap di hamparan kasur tua itu.” Sipatung kambi mengingat-ingat kejadian yang mengiringi waktunya.

“Aku hanya punya huruf……”P”, ya, yang lain telah henyak entah kemana. Sepinya hariku sampai alfabetpun meninggalkanku, 365 hari, apa jadinya jika terus berlanjut? pastinya aku hanya menjadi pendonor mukhlis2 bagi tinggi-tinggi3 itu, bahkan mungkin berakpun aku disitu, aku semakin lupa ”Ucapnya setelah mengambil buku tulis dari batunya.

“Diary4, walau setiap hari tubuhmu kucuci, tetapi jangan merengas dulu, aku masih bersamamu bukan? kamu milikku satu-satunya, yang setia dan rahasia.” Peluk Sipatung kambi pada lempengan batu berwarna abu-abu kehitaman miliknya.

“P” tulis Sipatung Kambi pada lempengan batu itu dengan air dan mopit china. “Maaf Bee, aku hanya menyapamu dengan ini, tetapi walau begini, aku ingin kamu tahu kalau aku sangat mencintaimu.”ucap Sipatung Kambi

“Selamat malam, aku ingin lagi berenang pada mimpi bencana beberapa saat tadi, aku ingin berjumpa denganmu, aku rindu..”

“Bee, datanglah dimimpiku…” Ucapnya lagi sebelum memejamkan matanya untuk tidur.

      “Matahari terbangun dari tidurnya, semacam Sipatung Kambi. Dia bangkit dari tempat tidur, duduk sebentar di kasur tua miliknya kemudian merapikan rambut panjangnya dan segera berjalan keluar menuju ke suatu tempat yang selama ini menjadi tempat bertemunya dengan Bee. Hutan muara.

     “Apa dia disana? aku rindu sekali” ucap Sipatung Kambi sambil berjalan perlahan menyibaki tetumbuhan liar di hutan muara. Bebatuan besar banyak berserakan di berbagai penjuru hutan belantara itu. Disalah satu batu besar Sipatung Kambi mengusapkan tangannya. Hati dan sorot matanya seakan meminta izin atas ritus5 yang Sipatung Kambi lakukan saban harinya, menguapkah aksara

“Aku ingin bertemu dengannya”. Sipatung Kambi mengucapkan hajatnya. Dengan hati yang pedih tertahan dan mata yang basah, Sipatung Kambi mengambil mopit dari balik bajunya, kemudian dia usapkan ujung mopit itu diatas daun keladi yang menyimpan beberapa tetes embun yang menurut dia adalah takdir. Diapun menulis… “aku mencarimu”. Setelah .tertunduk beberapa saat lamanya, memandangi dan menerawang pikir didepan batu yang basah dan embun yang telah terbentuk menjadi aksara itu Sipatung Kambi bangkit dan berdiri, sejenak dia pandangii lagi.

”Aku rindu, aku sangat rindu” ucapnya lirih. Dimasukkannya mopit kedalam balik bajunya sambil dia berjalan perlahan meneruskan pencariannya. Hingga pada satu belokan yang tak jauh dari air terjun hutan muara.

“Kau!”sentaknya lirih tak terduga. “Bee, kau disana” ucap Sipatung Kambi berbahagia. “Aku menemukanmu, kau disini rupanya, sedang apa engkau? menunggukukah?, menunggukukah? ucapnya berkali-kali. Sipatung Kambi melangkah maju menuju sesosok tubuh yang sangat dikenalinya.

      Dari kejauhan Bee menoleh menunduk sembilan puluh derajat demi mendengar suara daun-daun berdesau tersibak. Dia tahu siapa yang datang, diapun memalingkan wajahnya lagi kedepan hingga saat sesosok tubuh memeluknya pelan-pelan dari belakang, erat…semakin erat…tapi sama sekali tak menyakitinya.

“Aku rindu” ucap Sipatung Kambi sambil mendekap tubuh Bee yang dingin. Air matanya berderai bahagia.

“Kenapa kau tak sambut aku?, bukankah penantianku sudah sangat lama, kenapa tubuhmu dingin?”ucap Sipatung Kambi lagi sambil membau punggung Bee. Bee yang membelakangi Sipatung Kambi hanya terdiam membisu. Tak satupun mahluk yang ada ada di hutan itu mengetahui isi hatinya.

      “Aku tak pernah mengerti, mengapa aku begitu mencintaimu, Tuhanpun tak pernah berkata, apalagi membantuku mengais jiwamu. Mungkin langit telah mengutukku, atau sebenarnya justru Tuhan tak ikut campur dalam hal ini??! “Bee, hatiku hancur menjadi puing-puing, aku tak pernah mampu menguraimu. Cinta ini lahir dari batu-batu itu. Kisahnya menguap bersama hawa. Semua karena jumawa yang bukan salahmu, lantas siapa? Aku terlalu menukik jauh kedasar luka, menyusup hatiku semakin dalam kearah hitam, lalu tanpa sinar aku terkulai .. Dengarkan ini,cintaku hanya batu-batu itu yangtahu… tentunya juga dirimu yang mampu merasa. Teriakan bathinku hanyalah bisu. Derai-derai airmataku adalah anakansungai jiwa yang tak berhulu, sepi, hampa dan pertanyaan-[ertanyaan yang tak memiliki lelah… Bukan mengeluhku pada keadaan ini, cinta memang abu-abu, menusuk kejam pada jiwa yang tadinya tenteram. Menberi luka yang pedih, Bee… dengarkan ini; aku kehabisan kata-kata, tapi rasakan … “ Sipatung Kambi memegang erat jemari Bee dan mengusap-ngusapnya perlahan namun kuat. “Aku tak ingin ini nadir6, biar sendiri tak mengapa asal jiwamu itu milikku. “Aku rindu” ucap Sipatung Kambi lirih tertunduk mengisak.” Dengarkan Bee”, “aku telah runtuh, hilang dalam hitam, nafasku ini bukan lagi nafas yang dulu tak berbau. Nikotin pekat telah merenggut senyum-senyum urat paruku, jika sangat mungkin aku inginmati agar bisa menemukanmu yang kukira telah mati… kamu dimana selama ini?, Jawablah Bee!!” jangan membisu!” teriak Sipatung Kambi.

       “Jangan biarkan semak-semak gersang menutupi hatiku. Sirami akarnya dengan tanganmu sendiri. Agar Tuhan tahu, tanpa dirinya aku bisa, karena selama ini Tuhan hanya berbaik memberi tanda saja. Tetapi apakah cukup? Hampir nista diriku membabat nadi, sebagai jalan kususul aewahmu. Tetapi sang penyampai membisikiku kau ada… aku sangat sepi. Jika kesesalan terus kukecap menjadi kata-kata yang mencuat, bukankah aku menjadi sangat hina? Maukah kau mencintai orang yang hina?! Hanya sebodoh yang akan melakukannya. Bee, pernahkah kau merasa saat kupanggil dalam diam? Adakah bulu-bulu yang ada di telingamu menyampaikan pesan-pesan saat aku rindu?” Sipatung Kambi luruh jatuh dikaki Bee.

Dia makin terpuruk. Hutan tetap sunyi, hanya bunyi-bunyi alam yang masih mendendangkan lagunya tanpa dosa..

“Aku tahu tiap detik rasa yang kau cercap Kambi, dan aku tak kemanapun.. nafasmu adalah hidupku, matimu adalah tunaiku. Jika selama ini kau merasa tersakiti oleh ketiadaanku, kau sungguh salah… aku selalu ada saat kau berbaju..” Bee tiba-tiba memperdengarkan suaranya. Sangat merdu di telinga Sipatung Kambi.

“Kau bicara Bee? Kau berkata..?? betapa tersanjung aku” ucap Sipatung Kambi terkejut demi mendengar Bee telah mau berucap untuknya.

“Kau tak sendiri”

“Tapi kenapa,…”

“Jangan kau tanya!, kau tak akan pernah mengerti dan mampu menyelaminya”

“Bee selayak hujan yang setia pada bumi, diriku senantiasa menunggu”

“Tiada berguna”

“Jadi selama ini aku memang benar-benar hampa?”

“Aku mencintaimu pula Kambi”

Sipatung Kambi berdiri demi mendengar ucapan Bee yang di rasainya bagaikan luruh tetes-tetes air hujan di padang sahara.

“Aku tak menyambutmu karena aku selalu berada didekatmu, dan penantianmu itu tak pernah ada, tubuhku dingin karena menginginkanmu”

“Cintamu telah terbalas tapi kau tak pernah tahu, jangan salahkan Tuhan karena Dialah yang memberinya”

“Jiwaku bukan untuk kau kais, karena dia tak pernah terkubur. Jangan pernah kau mendustai langit, karena langit hanyalah langit, tempat ku tinggal dan bersemayam memikirkanmu dan Tuhan telah izinkan.”

“Jika aku menjadimu aku tak perlu berpolah menggandrungi bebatuan itu, tetapi aku sebagai aku tetap tak sanggup mengubah takdirnya”

“Jumawa bukanlah tingkahku untuk menderitaimu”

“Ku sebuti dirimu adalah permata tak berbias tetapi demikian aku, mencinta pula kepada dirimu yang gontai”

“Derai airmatamu nafikan hina. Seluruh pertanyaanmu adalah jawaban. Cinta adalah fatamorgana dan misteri yang tak pernah tersingkapkan, selamanya. Dan sakit itu adalah bunganya.”

“Tiada nadir untuk sebuah cinta, darinya sekerat daging tumbuh menjadi tubuh. Kusesali derit parumu teracun sudah, karena aku yang tak pernah pergi. Bukan siksaan yang kutebarkan, tetapi sebuah sirat yang harus kau baca. Tak sanggup aku melawan taklif7, Dan kematian bukanlah jalan. Nestapa takkan hadir pada manusia yang santun..” Padamu cintaku tumbuh karena do’a, betapa suci tapi kutak akan pula sanggup berkata Kambi..”

“Dengan apa kusiram akar cintamu yang gersang? Aku hanya punya dosa, jika dosa itupun kau minta, tak mengapa Kambi..” Bee menggigil kedinginan, suaranya parau badannya terkulai.

“Sang penyampai itu adalah aku, demiku kusudahi karena hujatku, Tuhan maafkan aku..” Sipatung Kambi merengkuh tubuh Bee yang mendingin dan pucat. Dia terheran dan tak sanggup berkata, airmatanya hanya jatuh sebagai ungkapan cinta yang dalam.

“Kamu kenapa Bee, jawab aku..”

Bee yang terkulai lemah semakin meringkuk. Si patung Kambi memeluknya seerat-eratnya.

“Kambi, ini inginmu dan aku tak bisa kian lama.”

“Apa yang kau ucapkan kekasihku?” Ucap SipatungKambi tak mengerti.

“Nyawaku ini adalah dirimu sang penentu, aku mencintaimu haruslah tunjukkan dan berkorban, tetapi ambigu, pengorbananku ini selayaknya hanya berupa kesedihan bagimu. Aku sangat tahu”

“Bee, apa yang kau ucapkan?, aku tak mengerti”

“Kau akan benar-benar sangat sepi Kambi, karena aku akan tak ada”

“Kau mati?? Jangan lagi!” teriak Sipatung Kambi membahana di sepenjuru hutan muara.

“Jangan lagi tinggalkan aku Bee..”

“Aku hanya sekali meninggalkanmu Kambi, saat ini”

Sipatung Kambi memeluk tubuh Bee yang telah membiru..

“Sayangku, lihatlah langit dibarat itu, Senja menunjuk tubuhku untuk rebah. Aku tahu hatimu pedih tatkala kujelang ajalku.. Makin cintakah kau padaku?! Sayangku, aku ingin mati mesra, dengan hati yang membumbung tinggi melekat menyatu melebur kita, bernyanyilah diujung telingaku ayat-ayat Tuhan Zimat8ku berpulang..”

“Sayangku, biarlah tubuh ini lemas meregang tanpa tangismu..” ucap Bee disaat terakhir hembusan nafas lembutnya..

“Apa ini, Bee?”

Tumbuh perlahan dari punggung Bee dua buah tulang yang membesar, berkembang, menjadi sayap yang indah. Wajahnya semburat kuning gading dan bersih.

“Bee, belum lagi kau mati?” Ucap Sipatung Kambi yang bingung demi melihat keanehan pada diri Bee. Bee telah mati dan berubah menjadi lebah yang indah.

“Sayapmu patah,.”

“sakitkah itu?”

“beri padaku untuk berbagi” pinta Sipatung Kambi.

Bee-pun mengecil sebesar biji jagung yang kuning indah. Sebelum pada akhirnya dia terbang untuk menghilang. Bee menanggalkan patahan sayap yang menjadi tanda dosanya kepada Sipatung Kambi sekaligus sebagai tanda kesucian cinta yang dia tunjukkan dengan pengorbanannya.

Sipatung Kambi terpana. Memandangi patahan sayap Bee yang bersinar bagai mutiara. “Bee, jelaskan padaku apa yang terjadi..” tunduknya pasrah. “ aku mencintaimu.”

“Bee, apa yang terjadi?!” terlonjak kaget sipatung Kambi terbangun dari tidurnya..

“Bee” desahnya sedih. Sipatung Kambi mendapati sayap yang dia dapat dari bee tadi ditangannya.. aku bermimpi yang nyata..”

“Bee ada..”

“Bee yang selalu menemaniku dalam bayangan-bayangan hitam..”.

“Aku selalu mencintaimu, terbanglah, terbang yang tinggi kekasihku…”

……………………………………………………………To be Continue

1 Bee = lebah, penghasil cairan manis berwarna emas yang luar biasa kamil.

2 Mukhlis = orang yang tulus ikhlas.

3 Tinggi = binatang penghisap darah yang biasa terdapat di kasur lembab.

4 Diary batu = Karena sifat introvertnya, Sipatung Kambi selalu menulis sajak-sajak kerinduannya diatas lempengan batu dengan air, harapannya bahwa setelah dia menuliskan sesuatu didiary itu udara akan segera menguapkannya, dengan demikian tak seorangpun akan mengetahui gejolak hatinya. Karena sangat rahasia.

5 Ritus= tata cara dalam upacara keagamaan

6 Nadir = puncak terakhir sebuah angan-angan.

7 Taklif = perintah atau tugas yang berat

8 Zimat = sesuatu. yang dibawa sebagai pegangan 

Kisah bapak Baik

November 16th, 2007

Di sebuah lereng gunung Lawu, di daerah Jawa Timur. Hiduplah sepasang
suami istri yang bersahaja. Walaupun tinggal di pegunungan dan tidak
memiliki fasilitas moderen apapun, namun kesederhaan itu membawa
kebahagiaan yang mendalam bagi pasangan tersebut. Yang lelaki bernama
Baik sakaluargo dan yang perempuan bernama ibu Baik Sakaluargo. Sudah
20 tahun menikah, namun pasangan ini belum dikaruniai seorang
keturunanpun. Hal ini sama sekali tidak mengurangi kasih sayang
mereka. Hingga pada suatu pagi hari.

“Bapak baik, Ibu mau mencari kayu bakar di hutan” pamit ibu baik
sambil mengikatkan tali gendongan di tubuhnya. ”Hati-hati Bu,
jangan jauh-jauh perginya” sahut bapak baik memberi izin istrinya.
“iya Pak”. Setelah berkata begitu berangkatlah ibu Baik
menelusuri jalanan setapak yang sudah sangat di kenal baik. Hutannya
sangat lebat namun tidak menyeramkan, maklumlah bapak Baik senantiasa
merawat hutan-hutan itu dengan baik.

Sesudah sampai di hutan, ibu Baik berhenti demi mendengar teriakan
minta tolong. “Tolooong… tolooong…” suara itu terdengar
sangat menyayat hati. Setelah mencari arah datangnya suara, ibu Baik
langsung berlari tergopoh-gopoh ingin melihat gerangan apa yang
terjadi…

apa
yang terjadi??? kamu mau tahu ceritanya? aku hanya bisa mengirimnya
di email kamu…….

Balada mbah Serang “Amok Indonesia”

November 16th, 2007

Mbah Serang, adalah nenek tua yang selalu minta dipijit kakinya setiap kali
matahari setinggi bukit. Tidak ada yang tahu alasan dia apakah, dan
kalau ditanya kenapa sih mbah? dia bakal marah-marah “wes tho rasah
takon, pijeten wae lah!”

Dan pada kenyataannya, semua orang yang ada di sekililing mbah Serang
selalu patuh-patuh saja menuruti permintaan nenek tua ini, bisa
dibilang mencurigakan. Anehnya pula yang memijit haruslah seorang
anak gadis  perawan yang belum pernah jatuh cinta. Aneh bukan?.Mbah
Serang tidak pernah curhat ke siapapun, hanya kepada aku dia mau
bicara dan menyuruhku berbagi cerita.

……………………………………………..

“Pada dinding gedhek yang adalah saksiku….dan pohon-pohon pisang”

“Ku renda hari nista dengan kesedihan… dan tawamu”,

“adalah”

“Bojoku!,….opo kowe ora ngerti…

…………………………………………….

Jika ingin mendapatkan kiriman balada ini, silahkan ajukan proposal
di email ku ichaaxl@yahoo.com,
aku akan kirim ceritanya spesial for you… .