“Selamat malam, apa kabar sayang?.
Gimana harimu apakah segalanya baik?. Ada cerita apa?. Tau nggak Bee1 aku kangen banget sama kamu… rasanya pingin didekat kamu saat ini… BLA BLA BLA… rasanya pingin merasakan lagi kehangatan yang kamu berikan seperti kemarin…” tulis Sipatung Kambi pada diary batu miliknya. Hatinya sangat rindu kepada Bee kekasih yang tak pernah ditemuinya.
Hari ini pada malam yang penuh resah, Sipatung Kambi menulis lagi didiarynya dengan perasaan yang berkecamuk antara sepi dan mual.
“Oh, aku sepertinya sakit” ujar Sipatung Kambi sembari menyeka keringat dingin dari dahinya.
“Hari ini aku tak punya cerita, kisahku lenyap di hamparan kasur tua itu.” Sipatung kambi mengingat-ingat kejadian yang mengiringi waktunya.
“Aku hanya punya huruf……”P”, ya, yang lain telah henyak entah kemana. Sepinya hariku sampai alfabetpun meninggalkanku, 365 hari, apa jadinya jika terus berlanjut? pastinya aku hanya menjadi pendonor mukhlis2 bagi tinggi-tinggi3 itu, bahkan mungkin berakpun aku disitu, aku semakin lupa ”Ucapnya setelah mengambil buku tulis dari batunya.
“Diary4, walau setiap hari tubuhmu kucuci, tetapi jangan merengas dulu, aku masih bersamamu bukan? kamu milikku satu-satunya, yang setia dan rahasia.” Peluk Sipatung kambi pada lempengan batu berwarna abu-abu kehitaman miliknya.
“P” tulis Sipatung Kambi pada lempengan batu itu dengan air dan mopit china. “Maaf Bee, aku hanya menyapamu dengan ini, tetapi walau begini, aku ingin kamu tahu kalau aku sangat mencintaimu.”ucap Sipatung Kambi
“Selamat malam, aku ingin lagi berenang pada mimpi bencana beberapa saat tadi, aku ingin berjumpa denganmu, aku rindu..”
“Bee, datanglah dimimpiku…” Ucapnya lagi sebelum memejamkan matanya untuk tidur.
“Matahari terbangun dari tidurnya, semacam Sipatung Kambi. Dia bangkit dari tempat tidur, duduk sebentar di kasur tua miliknya kemudian merapikan rambut panjangnya dan segera berjalan keluar menuju ke suatu tempat yang selama ini menjadi tempat bertemunya dengan Bee. Hutan muara.
“Apa dia disana? aku rindu sekali” ucap Sipatung Kambi sambil berjalan perlahan menyibaki tetumbuhan liar di hutan muara. Bebatuan besar banyak berserakan di berbagai penjuru hutan belantara itu. Disalah satu batu besar Sipatung Kambi mengusapkan tangannya. Hati dan sorot matanya seakan meminta izin atas ritus5 yang Sipatung Kambi lakukan saban harinya, menguapkah aksara
“Aku ingin bertemu dengannya”. Sipatung Kambi mengucapkan hajatnya. Dengan hati yang pedih tertahan dan mata yang basah, Sipatung Kambi mengambil mopit dari balik bajunya, kemudian dia usapkan ujung mopit itu diatas daun keladi yang menyimpan beberapa tetes embun yang menurut dia adalah takdir. Diapun menulis… “aku mencarimu”. Setelah .tertunduk beberapa saat lamanya, memandangi dan menerawang pikir didepan batu yang basah dan embun yang telah terbentuk menjadi aksara itu Sipatung Kambi bangkit dan berdiri, sejenak dia pandangii lagi.
”Aku rindu, aku sangat rindu” ucapnya lirih. Dimasukkannya mopit kedalam balik bajunya sambil dia berjalan perlahan meneruskan pencariannya. Hingga pada satu belokan yang tak jauh dari air terjun hutan muara.
“Kau!”sentaknya lirih tak terduga. “Bee, kau disana” ucap Sipatung Kambi berbahagia. “Aku menemukanmu, kau disini rupanya, sedang apa engkau? menunggukukah?, menunggukukah? ucapnya berkali-kali. Sipatung Kambi melangkah maju menuju sesosok tubuh yang sangat dikenalinya.
Dari kejauhan Bee menoleh menunduk sembilan puluh derajat demi mendengar suara daun-daun berdesau tersibak. Dia tahu siapa yang datang, diapun memalingkan wajahnya lagi kedepan hingga saat sesosok tubuh memeluknya pelan-pelan dari belakang, erat…semakin erat…tapi sama sekali tak menyakitinya.
“Aku rindu” ucap Sipatung Kambi sambil mendekap tubuh Bee yang dingin. Air matanya berderai bahagia.
“Kenapa kau tak sambut aku?, bukankah penantianku sudah sangat lama, kenapa tubuhmu dingin?”ucap Sipatung Kambi lagi sambil membau punggung Bee. Bee yang membelakangi Sipatung Kambi hanya terdiam membisu. Tak satupun mahluk yang ada ada di hutan itu mengetahui isi hatinya.
“Aku tak pernah mengerti, mengapa aku begitu mencintaimu, Tuhanpun tak pernah berkata, apalagi membantuku mengais jiwamu. Mungkin langit telah mengutukku, atau sebenarnya justru Tuhan tak ikut campur dalam hal ini??! “Bee, hatiku hancur menjadi puing-puing, aku tak pernah mampu menguraimu. Cinta ini lahir dari batu-batu itu. Kisahnya menguap bersama hawa. Semua karena jumawa yang bukan salahmu, lantas siapa? Aku terlalu menukik jauh kedasar luka, menyusup hatiku semakin dalam kearah hitam, lalu tanpa sinar aku terkulai .. Dengarkan ini,cintaku hanya batu-batu itu yangtahu… tentunya juga dirimu yang mampu merasa. Teriakan bathinku hanyalah bisu. Derai-derai airmataku adalah anakansungai jiwa yang tak berhulu, sepi, hampa dan pertanyaan-[ertanyaan yang tak memiliki lelah… Bukan mengeluhku pada keadaan ini, cinta memang abu-abu, menusuk kejam pada jiwa yang tadinya tenteram. Menberi luka yang pedih, Bee… dengarkan ini; aku kehabisan kata-kata, tapi rasakan … “ Sipatung Kambi memegang erat jemari Bee dan mengusap-ngusapnya perlahan namun kuat. “Aku tak ingin ini nadir6, biar sendiri tak mengapa asal jiwamu itu milikku. “Aku rindu” ucap Sipatung Kambi lirih tertunduk mengisak.” Dengarkan Bee”, “aku telah runtuh, hilang dalam hitam, nafasku ini bukan lagi nafas yang dulu tak berbau. Nikotin pekat telah merenggut senyum-senyum urat paruku, jika sangat mungkin aku inginmati agar bisa menemukanmu yang kukira telah mati… kamu dimana selama ini?, Jawablah Bee!!” jangan membisu!” teriak Sipatung Kambi.
“Jangan biarkan semak-semak gersang menutupi hatiku. Sirami akarnya dengan tanganmu sendiri. Agar Tuhan tahu, tanpa dirinya aku bisa, karena selama ini Tuhan hanya berbaik memberi tanda saja. Tetapi apakah cukup? Hampir nista diriku membabat nadi, sebagai jalan kususul aewahmu. Tetapi sang penyampai membisikiku kau ada… aku sangat sepi. Jika kesesalan terus kukecap menjadi kata-kata yang mencuat, bukankah aku menjadi sangat hina? Maukah kau mencintai orang yang hina?! Hanya sebodoh yang akan melakukannya. Bee, pernahkah kau merasa saat kupanggil dalam diam? Adakah bulu-bulu yang ada di telingamu menyampaikan pesan-pesan saat aku rindu?” Sipatung Kambi luruh jatuh dikaki Bee.
Dia makin terpuruk. Hutan tetap sunyi, hanya bunyi-bunyi alam yang masih mendendangkan lagunya tanpa dosa..
“Aku tahu tiap detik rasa yang kau cercap Kambi, dan aku tak kemanapun.. nafasmu adalah hidupku, matimu adalah tunaiku. Jika selama ini kau merasa tersakiti oleh ketiadaanku, kau sungguh salah… aku selalu ada saat kau berbaju..” Bee tiba-tiba memperdengarkan suaranya. Sangat merdu di telinga Sipatung Kambi.
“Kau bicara Bee? Kau berkata..?? betapa tersanjung aku” ucap Sipatung Kambi terkejut demi mendengar Bee telah mau berucap untuknya.
“Kau tak sendiri”
“Tapi kenapa,…”
“Jangan kau tanya!, kau tak akan pernah mengerti dan mampu menyelaminya”
“Bee selayak hujan yang setia pada bumi, diriku senantiasa menunggu”
“Tiada berguna”
“Jadi selama ini aku memang benar-benar hampa?”
“Aku mencintaimu pula Kambi”
Sipatung Kambi berdiri demi mendengar ucapan Bee yang di rasainya bagaikan luruh tetes-tetes air hujan di padang sahara.
“Aku tak menyambutmu karena aku selalu berada didekatmu, dan penantianmu itu tak pernah ada, tubuhku dingin karena menginginkanmu”
“Cintamu telah terbalas tapi kau tak pernah tahu, jangan salahkan Tuhan karena Dialah yang memberinya”
“Jiwaku bukan untuk kau kais, karena dia tak pernah terkubur. Jangan pernah kau mendustai langit, karena langit hanyalah langit, tempat ku tinggal dan bersemayam memikirkanmu dan Tuhan telah izinkan.”
“Jika aku menjadimu aku tak perlu berpolah menggandrungi bebatuan itu, tetapi aku sebagai aku tetap tak sanggup mengubah takdirnya”
“Jumawa bukanlah tingkahku untuk menderitaimu”
“Ku sebuti dirimu adalah permata tak berbias tetapi demikian aku, mencinta pula kepada dirimu yang gontai”
“Derai airmatamu nafikan hina. Seluruh pertanyaanmu adalah jawaban. Cinta adalah fatamorgana dan misteri yang tak pernah tersingkapkan, selamanya. Dan sakit itu adalah bunganya.”
“Tiada nadir untuk sebuah cinta, darinya sekerat daging tumbuh menjadi tubuh. Kusesali derit parumu teracun sudah, karena aku yang tak pernah pergi. Bukan siksaan yang kutebarkan, tetapi sebuah sirat yang harus kau baca. Tak sanggup aku melawan taklif7, Dan kematian bukanlah jalan. Nestapa takkan hadir pada manusia yang santun..” Padamu cintaku tumbuh karena do’a, betapa suci tapi kutak akan pula sanggup berkata Kambi..”
“Dengan apa kusiram akar cintamu yang gersang? Aku hanya punya dosa, jika dosa itupun kau minta, tak mengapa Kambi..” Bee menggigil kedinginan, suaranya parau badannya terkulai.
“Sang penyampai itu adalah aku, demiku kusudahi karena hujatku, Tuhan maafkan aku..” Sipatung Kambi merengkuh tubuh Bee yang mendingin dan pucat. Dia terheran dan tak sanggup berkata, airmatanya hanya jatuh sebagai ungkapan cinta yang dalam.
“Kamu kenapa Bee, jawab aku..”
Bee yang terkulai lemah semakin meringkuk. Si patung Kambi memeluknya seerat-eratnya.
“Kambi, ini inginmu dan aku tak bisa kian lama.”
“Apa yang kau ucapkan kekasihku?” Ucap SipatungKambi tak mengerti.
“Nyawaku ini adalah dirimu sang penentu, aku mencintaimu haruslah tunjukkan dan berkorban, tetapi ambigu, pengorbananku ini selayaknya hanya berupa kesedihan bagimu. Aku sangat tahu”
“Bee, apa yang kau ucapkan?, aku tak mengerti”
“Kau akan benar-benar sangat sepi Kambi, karena aku akan tak ada”
“Kau mati?? Jangan lagi!” teriak Sipatung Kambi membahana di sepenjuru hutan muara.
“Jangan lagi tinggalkan aku Bee..”
“Aku hanya sekali meninggalkanmu Kambi, saat ini”
Sipatung Kambi memeluk tubuh Bee yang telah membiru..
“Sayangku, lihatlah langit dibarat itu, Senja menunjuk tubuhku untuk rebah. Aku tahu hatimu pedih tatkala kujelang ajalku.. Makin cintakah kau padaku?! Sayangku, aku ingin mati mesra, dengan hati yang membumbung tinggi melekat menyatu melebur kita, bernyanyilah diujung telingaku ayat-ayat Tuhan Zimat8ku berpulang..”
“Sayangku, biarlah tubuh ini lemas meregang tanpa tangismu..” ucap Bee disaat terakhir hembusan nafas lembutnya..
“Apa ini, Bee?”
Tumbuh perlahan dari punggung Bee dua buah tulang yang membesar, berkembang, menjadi sayap yang indah. Wajahnya semburat kuning gading dan bersih.
“Bee, belum lagi kau mati?” Ucap Sipatung Kambi yang bingung demi melihat keanehan pada diri Bee. Bee telah mati dan berubah menjadi lebah yang indah.
“Sayapmu patah,.”
“sakitkah itu?”
“beri padaku untuk berbagi” pinta Sipatung Kambi.
Bee-pun mengecil sebesar biji jagung yang kuning indah. Sebelum pada akhirnya dia terbang untuk menghilang. Bee menanggalkan patahan sayap yang menjadi tanda dosanya kepada Sipatung Kambi sekaligus sebagai tanda kesucian cinta yang dia tunjukkan dengan pengorbanannya.
Sipatung Kambi terpana. Memandangi patahan sayap Bee yang bersinar bagai mutiara. “Bee, jelaskan padaku apa yang terjadi..” tunduknya pasrah. “ aku mencintaimu.”
“Bee, apa yang terjadi?!” terlonjak kaget sipatung Kambi terbangun dari tidurnya..
“Bee” desahnya sedih. Sipatung Kambi mendapati sayap yang dia dapat dari bee tadi ditangannya.. aku bermimpi yang nyata..”
“Bee ada..”
“Bee yang selalu menemaniku dalam bayangan-bayangan hitam..”.
“Aku selalu mencintaimu, terbanglah, terbang yang tinggi kekasihku…”
……………………………………………………………To be Continue
1 Bee = lebah, penghasil cairan manis berwarna emas yang luar biasa kamil.
2 Mukhlis = orang yang tulus ikhlas.
3 Tinggi = binatang penghisap darah yang biasa terdapat di kasur lembab.
4 Diary batu = Karena sifat introvertnya, Sipatung Kambi selalu menulis sajak-sajak kerinduannya diatas lempengan batu dengan air, harapannya bahwa setelah dia menuliskan sesuatu didiary itu udara akan segera menguapkannya, dengan demikian tak seorangpun akan mengetahui gejolak hatinya. Karena sangat rahasia.
5 Ritus= tata cara dalam upacara keagamaan
6 Nadir = puncak terakhir sebuah angan-angan.
7 Taklif = perintah atau tugas yang berat
8 Zimat = sesuatu. yang dibawa sebagai pegangan

