Situs Gadjahmada (Sebuah Cerpen)

October 18th, 2007

     Disebuah ruangan yang sejuk, bertaman indah dan bergericik air, Gadjahmada terlihat mondar-mandir kebingungan. Dan Gadjahmada memang sedang kebingungan. Selang beberapa waktu datanglah Putri Aji berkemben kain hijau pupus bermotif bulat-bulat.
     "Kang mas kok seperti kebingungan ada apa? " tanya Putri. Gadjahmada tersenyum kecut sembari memutar-mutar ujung rambut gondrongnya.
"ini lho dhi, kang mas nggak habis pikir kenapa bumi nusantara kita yang gemah ripah loh jinawi ini masih saja menderita kemiskinan seperti sekarang?" terang Gadjahmada.
"Oh itu yang menjadi inti kebingungan kang mas?" sahut Putri Aji sambil manggut-manggut tanda memahami.
"Iya, padahal ibaratnya bumi kita di brengkal saja bisa mengeluarkan emas lho Put, kenapa bisa jadi semrawut acak kadut koyo ngene yo.." Resau Gadjahmada sambil duduk di kursi, mendengus dan pikirannya mulai ambyar pecah kecil-kecil pertanda belum mampu mengurai makna sebuah fenomena yang terjadi di bumi tercintannya.
"Ya dipikir saja dulu kang mas, mungkin tidak secepat ini kang mas bakal menemukan jawaban tentang permasalahan yang menggelayuti pikiran kang mas itu, tapi jangan banget-banget, kalo kebablasan kang mas sendiri nanti yang akan panas dingin, mangkel-mangkel keki, ngomyeng tapi tidak jelas ditujukan pada siapa.." nasehat Putri Aji serius pada kakaknya. Kini Gadjahmad atersenyum agak manis mendengar nasehat adiknya itu.
"Iya" kata Gadjahmada manut. Setelah berkata seperti itu pada kakaknya Putri Aji pamit kebelakang, Numpang mandi ….
" Hmm.. adikku benar juga, tapi sebenarnya yan kubingungkan saat ini adalah situsku, bagaimana ini, waktu sudah sangat mepet tapi aku belum juga menemukannya…" gumam Gadjahmada. "enaknya apa ya…?"

     Pagi berlalu dengan kesederhanaan, waktu menggiring  matahari yang teriknya mencuerkan kutub utara. Siang ini Gadjahmada berjalan sendiri menghitung-hitung  langkahnya sambil berpikir …

"Bruk!!" tas yang mirip buntelan dilempar pemiliknya diatas anyaman eceng gondok yang menjadi karpet diruang merenung Gadjahmada ini.
"Sulit, masih sulit, tetapi pada yang sulit selalu ada kemudahan..aku harus melakukan sesuatu". Sembari berkata begitu Gadjahmada langsung berdiri dan berjalan menuju ke rumah alit kemudian mengambil batang kayu sengon yang ada didekatnya. Untuk kemudian batang kayu itu dia gunakan mencoret-coret ditanah, dia sedang mencoba menganalisa sesuatu, saking seriusnya, kedua alis tebalnya mengkerut tanda dia sedang berpikir keras …
"Tuhan, manusia, penyebab, takdir, Nasib, kemiskinan, kekayaan.

Kemiskinan;

1. Kebodohan                                  
    a. Pendidikan yang minim
    b. Pengalaman yang sedikit
    c. Sikap pasrah
2.Ketergantungan
3.Skeptis
4.Tipe dijajah.

Kekayaan;

1. Kepandaian                                  
    a. Pendidikan lebih maju
    b. Pengalaman yang banyak
    c. Perubahan diri
2.Kemandirian
3.Anti skeptis
4.Tipe menjajah."

"Yah, sementara ini saja dulu, …" sekarang saatnya memikirkan penjabarannya" Manggut-manggut Gadjahmada puas dengan analisa pertamanya.
"Bagaimana kang mas, kerjaanmu yang kemarin sudah ada perkembangannya?" Tanya Putri Aji yangbaru saja sampai dari menuntut ilmu kesehatan.
"Ini dhi, baru segini, tapi lumayan paling tidak aku akan segera bisa  menata situsku" Dengan senyum puas Gadjahmada menunjukkan uraian-uraiannya ditanah. Membaca oret-oretan ditanah sejenak kemudian Putri Aji berkata sambil mengusap bahu kakaknya
"Ya sudah kang mas, terusin ya aku pamit sowan ibu dulu.." kata Putri Aji yang langsung disahut cepat oleh Gadjahmada "iYa".
Putri Aji melangkah menuju rumah yang dipenuhi berbagai tanaman hias dan taman air, diseberang kanan dari rumah bertapa Gadjahmada ini.
     "Kebodohan menjadi penyebab dari kemiskinan dinegeriku ini, ternyata.. kebodohan disebabkan oleh minimnya pendidikan. Orang bodoh cenderung bersikap pasrah pada nasib, yang pada akhirnya mempengaruhi impuls-impuls keberaniannya untuk menjajaki sesuatu, pengalaman hidup yang sedikit menyempitkan pengetahuan , sehingga mudah dijajah, dibodohi atau dibohongi. Mereka hanya bisa berdo’a dan meratap , sudah cukup baik jika tidak tergantung pada orang lain. Tetapi kebanyakan kesenjangan terjadi karena memang sepertinya dikondisikan seperti itu. Orang bodoh akan tampak selalu ragu-ragu, pesimis, kepasrahannya hanya menjadi lauk-pauk bagi singa-singa yang lapar. Yah, paling-paling orang-orang bodoh ini hanya bisa menjual tenaga. Sebagai buruh, pembantu atau orang-orang bodoh yang tertindas. Sesuatu yang  selalu menuntut untuk dikasihani. Keberanian akan membuka kesempatan. Orang-oramng bodoh seperti kelinci, Ironis…" Gadjahmada menghela nafas panjang tanda berbelasungkawa pada kebodohan. "Sebenarnya ini lebih seperti lingkaran setan, betapa tidak, orang miskin tak semuanya bodoh tetapi kesempatan seakan-akan menjadi eksekutor bagi kelangsungannya. Ya, sepertinya memang sudah dikondisikan…" lanjut analisa Gadjahmada, oh Tuhan aku harus melakukan sesuatu….

(Maaf kawan yang baca cerpenku ini, karena sesuatu hal aku belum bisa melanjutkan ngetiknya. segera aku lengkapi. Kisah ini masih seru….) Thank You…

Rindu menusuk jantung Tuhan

October 17th, 2007

Apakah ini sebuah kegilaan yang jahanam?
Disaat mulut-mulut tertawa lebar tetapi Pattijenong justru menangis..
Dalam kaitannya, atas  kematian arahku?
Juga bagaimana tentang bahaya yang singgah di lubuknya?
Aku mahfum …
Penusuk itu bernama karma
Yang takkan pernah sama sekali berubah menjadi harapan
Penghancur iblis yang menjajah birahi
Seperti pengantin dan malam sakralnya …
Cinta merasuk hati tanpa permisi
Pattijenong …
Lalu hingar bingar malaikat yang bernyanyi sepi
Dan nyatanya aku masih disini sendiri
Menantang Tuhan untuk menusuk jantung itu …
Jantung milik Tuhan, aku tak mengerti..
Pattijenong …
Kuwakili kau menghadap Tuhan dengan sebilah pisau baja dari tanah kematian…
Aku tak mengerti..
Kenapa mesti kulakukan..
??????????????

Segera diketik, sebuah NOVEL karyaku, NEGARA PEREMPUAN NEGARA LAKI-LAKI NEGARA BANCI..

October 14th, 2007

TUNGGU YA!!!

pasti PUAS, PUAS, PUAAAAAASS!!!

JANGAN LUPA BELI BUKU INI !!!

di jamin setelah membaca novel ini kamu akan menjadi seseorang yang rendah hati dan dicintai Tuhan, malaikat dan manusia… tumbuhan dan binatang juga. Syetan bakal takut sama kamu… So.. Coming Up… !!!

Episude-episude yang indah, sebuah memoar.

October 14th, 2007

 Aku menyadari, bahwasanya huruf-huruf yang kususun ini adalah kisahku sendiri-yang kupublikasikan dengan 25% keraguan, entah karena apa, belum ketemukan penyebabnya. Kisahku ini tak hanya berisikan prosesku menggali hidup dan cinta, tetapi juga gambaran penyerahan diri yang tulus kepada kekasihku, Tuhan.

1. Sebagai Petualang

     Berawal ketika aku memasuki gerbang kehidupan yang sesungguhnya. Keluar dari cangkang pelindungku, adalah keluargaku. Tahun 2000 Masehi, bertepatan dengan gegap gempita orang menyambut millenium ke-2, aku berangkat menuju kota petualangan yang pertama, Yogyakarta.

    Berkereta dengan penuh sahaja aku mencoba mengumpul keberanian penjelajahanku sendiri, demi satu kata "ilmu". Dari masa kanak-kanak kegemaranku merenung telah menumpukkan imajinasi yang sudah sangat ingin kumuntahkan. Dan muntahan itu akhirnya kuputuskan ingin kubuang melalui nadi-nadi seni. Ya, akupun mendaftarkan diriku di sebuah Institusi seni paling bergengsi di negri ini. Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Pemikiranku waktu itu adalah dengan seni aku akan bisa bebas mengekspresikan diri. Namun pada kenyataannya setelah kulalui masa-masa itu, ternyata tidak seratus persen pendapatku ini  benar.

     Karena sulitnya persaingan waktu itu, dan pula minimnya pengetahuanku  aku berhasil masik ISI Yogyakarta pada pertengahan tahun 2002, tepatnya pada tahun ajaran 2002-2003. Ku isi kesenjangan petualanganku dengan belajar setahun di Yogyakarta Modern School Of Design. Semasa di MSD ini, permenungan-permenungan yang sedari kecil mengendap, benar-benar mulai menggeliat, berteriak kemudian memuncrat.

     Kegemaranku berjalan kaki senantiasa menuntun syaraf-syaraf otakku untuk berpikir maju-karena pasti akan sangat sulit jika berjalan mundur tanpa memakai spion..

2. Sebuah cita-cita

     Ya, sekedar kilas balik, sewaktu ditanya apa cita-citaku kelak-seingatku kelas 3 MI-Madrasah Ibtidaiyah, aku menjawab astronom, dengan mantap. Istilah ini aku dapat dari sobekan kertas koran pembungkus nasi pecel di sekolahku yang kala itu seharga 150 perak perbungkusnya. Ditambah dengan pidato Pak Guru Kosran yang menceritakan tentang Ibu Pratiwi Sudharmono. Sebenarnya angan-angan ini telah ada ketika aku selalu berlaku sedih setelah mendapatkan perlakuan tidak adil dari orang-orang disekitarku. Aku selalu mengadu pada Tuhan melalui bintang-bintang. Bagitu melihat bintang hatiku yang sedih menjadi ceria kembali.

     Kupelajari dunia kosmos sedikit dan sulit. Berhenti pada pengertian standar tentang planet-planet, rasi bintang, astrologi, dan benda-benda langit lainnya. Kukais pengertian-pengertian ini dari perpustakaan sekolah dengan sangat terbatas tetapi semangat. Keta’zimanku bukan tanpa sebab, dengan mempelajari dunia kosmos itu , imajinasiku menjadi sangat liar dan aku bahagia. Keinginanku melihat bintang-bintang dari planetarium hanya harapan saja. Dan harapan-harapan ini senantiasa terkubur jauh, dalam dan gelap. Namun sejauh-jauhnya, sedalam-dalamnya, segelap-gelapnya aku masih menginginkan cita-citaku ini terwujud. Tidak kusangka pada tahun 2003, aku menemukan tempat mengintip bintang itu, di dekat Institut Kesenian Jakarta, Taman Ismail Marzuki. Surprise, aku bakal bisa mewujudkannya. Dahulu, aku hanya bisa merenung, tidur-tiduran diatas atap seng teras rumah malam-malam, memandangi langit dan berbicara pada Tuhan. Seringnya aku menuturkan do’a-do’a. Inilah awal aku merasakan kenikmatan jika bersahabat dengan alam, berbicara dengan Tuhan … Oh betapa waktu itu … sangat lugu.

     Ditambah dengan belajarku di pesantren, naluriku sedikit demi sedikit terasah, cintaku pada keindahan sudah muncul sedari kecil, aku selalu menunggu dengan kagum coretan-coretan santriwan dipapan tulis yang menampilkan kaligrafi yang bercorak ukir-ukiran. Sanuri, nama santriwan yang sangat berbakat itu. Maklum, dia berasal dari Jepara. Pada waktu itu pesantren sangat terang dengan ilmu. Aku biasa mengendap-endap demi ingin mengetahui prosesnya, karena dia akan mengusir anak kecil, perempuan lagi. Dia pasti tidak mengerti jika aku sangat ingin belajar.

     Diusiaku yang belia ini pula aku selalu berlaku loyal pada teman-temanku. Saking loyalnya bahkan acapkali menjadi bumerang bagi diriku sendiri. kisah-kisah hidupku yang episude inilah yang kemudian menggerogoti rasa kepercayaan diriku, membangkitkan para setan-setan dalam hatiku yang akan mengipasi bara-bara kebencian. Hingga aku dewasa.

     Sifat gigihku selalu menjadi motor bagi teman-temanku, tetapi sayang aku tak punya partner yang energinya setara dengan aku, sehingga aku selalu menjadi komandan bagi mereka. dan sebutan Ika Merdeka dan Ika Mandala- Ika adalah panggilan masa kecilku sekaligus namaku di rumah kusandang ketika itu. Aku selalu menjadi pahlawan bagi teman-temanku terlebih ketika aku belum tercemar dengan kecewa aku terkenal cerdik dan cerdas.

3. Tragedi Etik

     Kusisip sebuah kisah, terjadi jauh bulan sebelum aku kelas 3 MI, tepatnya aku lupa, sepertinya kelas 2. Aku berkelahi dengan seorang gali sekolah bernama uud-kakak kelas, dia terkenal nakal dan jail kepada anak-anak perempuan di sekolahku. Etik rambut panjang, temanku yang menjadi sasaran kenakalannya ketika itu. Etik ada 2 orang disekolahku. Berlari dengan kesakitan dia mengadu kepadaku bahwa rambutnya telah dijambak-jambaki oleh anak bengal itu. Dengan geram dan gemas aku langsung mencari uud-sebelumnya akupun telah di jaili, dia membuka rokku, dan banyak korban lainnya seperti aku. Tidak sulit karena dia memang sudah menunggu aku didepan masjid sekolahku. Dengan berkacak pinggang dan memegang batu sekepalan, muka bandel yang jelek itu membelalakkan matanya dengan maksud menakut-nakuti. Sama sekali aku tidak gentar, hanya ketika itu waspadaku adalah jika dia melempar batu itu kearahku, pasti aku kalah. Aku bukan tipe pahlawan ngawur, aku tidak pernah mempersenjatai diriku, kalaupun toh diharuskan begitu, aku pasti akan membagi dengan lawanku. Karena aku selalu bertanding dengan cara ksatria, semampuku.

     Kemudian, sepertinya si Uud itu juga mempertimbangkan sesuatu, karena sangat riskan sekali jika dia melempar batu itu, jika kena tak apa, namun jika tidak, alhasil dia akan memecahkan kaca jendela kelas di belakangku. Itu berarti akan mengundang perhatian Bapak-Ibu guru yang tidak segan akan menindak dia dengan hukuman maupun denda- sekolahku sangat ketat dengan aturan.  Aku memanggil teman-temanku yang perempuan untuk mendekat padaku. Ya, mereka takut-takut tentu saja, disaat Uud bingung pada fokusnya aku langsung berlari meringkusnya, aku dapat batu itu, namun aku tak dapat mengelak pukulan batu itu di tulang kering kakiku. Sampai kini masih membekas cekung. Bukan main sakitnya, tapi hasrat untuk menghancurkan superioritas uud lah yang sedikit meredam sakit itu. Paling tidak dia tidak akan lagi meremehkan perempuan. Akupun berhasil memukul dadanya. Pergumulan dengan uud selesai dengan luka masing-masing. Aku selalu ingat peristiwa ini.

     Setelah kejadian itu uud memang terlihat sedikit lebih tenang dan cenderung tidak ingin mencari masalah dengan aku. Sebenarnya 2 kali sudah dia bermasalah dengan aku. Sebelum tragedi Etik ini, aku pernah kejar-kejaran dengannya di tempat parkir sepeda karena sifat usilnya yang mengatai aku "mata kebo"- karena mataku lebar seperti mata kebo. Saat itu naluri lembutku merasa sedih, kenapa ada orang jahat yang menghina orang lain, padahal aku tak pernah menghina dia.

     Kini diusiaku yang 27 tahun ini, kilas balik seperti inilah yang membuatku merasa memiliki energi lagi. Maklumlah, waktu telah menggoreng sendi-sendi hidupku menjadi sesuatu yang terkadang indah, tak jarang pula sangat busuk.

4. Pergolakan pertama

     Aku lahir pada tahun 1980. Mengembara di Yogyakarta seorang diri pada tahun 2000. Walaupun sebenarnya ada beberapa famili dikota Yogyakarta, namun aku tak pernah membiasakan diriku bermanja dan memudahkan diri. Aku sangat menghargai perjuangan, rasa sakit dan proses.

     Diusia dan dikota inilah aku mengenyam ilmu seni, tetek bengek termasuk pergesekan-pergesekan yang benar-benar nyata untuk pertama kali. Pergesekan nyata yang kumaksud adalah tuntutan mandiri, bertempur dan bergelut dengan penuh kesadaran,serta mencari jati diri.

     Permenungan menghantarkanku kepada kenyataan. Pergeseran yang paling kentara adalah betapa panggilan hati untuk menjadi seorang seniman betul-betul meruyak. Seakan-akan tanah berpijakku telah retak membelah dan memisah. Pertentangan keluarga menjadi konflik utama dalam periodesasiku memaknai hidup. Restu untuk menjalani hidup sepi tak kunjung mendapat lampu hijau. Aku terbuang, namun subsidi biaya hidup untung saja tak dikebiri. Syukur ya tuhan, dibalik rasa sedihku yang tak mendapat restu aku tahu bahwa keluargaku sangat menyayangi aku.

     Konflik batinku menghantui hari-hariku berkarya. Tuntutan kreatif selalu senantiasa mengulik seniman untuk berperilaku aneh. Ya, jua diriku, perwatakan, karakter kuatku membuka jalan, mengaliri sendi-sendi ekspresionismeku menjadi karya yang meledak-ledak, spektakuler dan menuai pujian sekaligus cibiran

     Jembatan kali Code, saksi bisu teriakan-teriakan dari mulutku yang penuh beban. Apalagi ketika itu dorongan biologis manusiawiku tak bisa memungkiri perasaan, bahwa saat itu aku sedang mencintai seseorang yang jauh disana. Satu hal pula yang sangat penting… dorongan spiritualitas menyeretku untuk makin menghamba pada Tuhanku. Alloh SWT.   

     Pergulatan mencari jati diri di tahapawal ini menjadi pembuka jalan sekaligus tameng untukku. Awal kesakitan didunia seni selalu berakhir positif, adalah karya yang unik, beda dan sangat kuat. Pada akhirnya, situasi seperti ini menghantarkanku pada perenungan idealisme, yang memberiku kekuatan sekaligus kesesatan nantinya.

     Beban asmaradhana mengoyak-ngoyak konsentrasiku, hingga pada saat itu, puncak dimana aku harus memutuskan untuk berbuat sesuatu, adalah menanggalkan anugerah Tuhan yang timpang ini dengan ritus kecil, upacara dan permintaan maaf ke Tuhan dengan memangkas habis rambut ikal panjangku-gundul. Dan memang benar, ritus kecil yang kulakukan sedikit banyak menjadi pengembali nyawaku yang hampir habis. Sebagai konsep waktu itu adalah aku ingin lahir kembali. Simbolisasinya adalah dengan mencuci otakku yang padat dengan kata sakit.

     Tak sampai disitu prosesku mencari jati diri, permasalahan kultur mengajakku untuk lebih dalam menunduk, dan lebih jauh menelantar pikir. Disudut hatiku yang paling dalam, acapkali menangis ketika mendapati sifat–sifat ksatria yang kupupuk sedari kecil harus terjegal dengan realitas kesombongan-kesombongan lain yang aku tak mampu membalasnya. Olok molok dari orang yang tak pernah menghargai proses, meretas keyakinanku bahwa semua orang adalah baik. Menohok keras menyentil hatiku bahwa sangat banyak manusia yang seperti musang berbulu domba. Mengingat sikap altruisku sedari kecil yang rela mengorbankan sesuatu demi orang lain dengan setulus-tulusnya, memberi jawaban bahwasanya ternyata aku masih sangat naif dalam memandang hidup. Hidupku selalu kumaknai dengan indah tanpa mengindahkan "sampah" yang mengotori penglihatan dan mencemari penciuman.

     Ditahun ini pula kepul-kepul asap rokok  menjadi temanku merenung dan berpikir. Pencarian ciri khas dalam karya dua dimensi sudah tidak kupusingkan lagi, karena aku sudah menemukannya. Hobiku bermain musikpun telah membuahkan karya-karya yang jujur, walaupun hingga kini belum diaransemen namun panggilan jiwaku untuk makin mencintai dunia mencipta menjadi motivasi dibalik pengharapan restu ibuku yang tak kunjung datang.

     Aku juga sangat gemar menulis, namun kegemaranku yang satu ini belum terasah dengan baik. Walau begitu, diusiaku yang 18 tahun, aku sudah memiliki puisi 368 judul dengan bermacam-macam tema. Hingga detik ini, aku sangat merindukan buku saku bersampul hitam milikku itu. Karena dia raib bersama keteledoran kawanku. Semoga seseorang menemukan dan mengembalikannya. Aku masih aktif menulis. Dan kunikmati sendiri.

     Ditahun yang sama aku kebanjiran cinta. Beberapa kali aku harus berkutat dengan perasaan  tidak enak karena harus menolak pernyataan suci itu. Namun walau begitu aku adalah salah satu orang yang sangat tahu bahwa dicintai itu adalah sebuah anugerah. Tuhan maafkan aku. Fase ini adalah awal aku merenungkan apa itu cinta dan hakekatnya. Hingga saat aku menulis ini. Titik pangkal dari apa itu cinta belum kutemukan. Dilain tulisan aku mencoba menganalisanya dengan meraba-raba. Silahkan dibaca.

5. Perubahan yang signifikan

     Usiaku 21 tahun. Kali ini energiku lebih banyak memikirkan hakekat yang berkelanjutan. Dengan keterbatasanku yang sangat sempit,aku selalu mencoba  mengaismakna tentang kelahiran, dosa dan masih cinta. Lorong yang sempit dan tanpa cahaya membuatku terseok-seok. Aku sangat mendambakan guru ketika itu, karena membaca buku aku tidak tertarik sama sekali. Aku buta referensi. Do’a adalah salah satu ihtiarku mendapatkan guru itu- pada akhirnya Tuhan memberi kasihnya, alur kisah akan membawa cerita kesana.

     Sesuai dengan niat utamaku mengembara ke Yogyakarta, aku tak pernah puas meminum ilmu, ibarat musyafir di padang tandus yang menemukan oase, regukan-regukan menyegarkan kunikmati dengan penuh kerakusan. Kemanapun orangmengajak bergaul aku ikut saja. Pada akhirnya aku menemukan hobi baru selain bersastra dan bermusik, yaitu berkebun, berkriya, menjadi suplierpun pernahkujalani, pertemanan demi pertemanan mengalir, yang pada akhirnya mempertemukanku dengan kawan-kawan dari Inggris, Belanda, Kanada, Mesir dll. Dari mereka aku menenggak minuman keras untuk kali pertama. Dan bukan main rasanya, aku sangat tidak suka. Seiring itu perkembangan melukisku makin menanjak dengan masih diliputi keunikan karakter dan keberuntungan yang penuh. Ilmuku terus berkembang. Aku tak pernah malu bertanya untuk urusan yang satu ini.

     Aku selalu terganggu dengan hakekat ke-ada-an. Bak seorang filsuf pikiranku melayang menganalisa sesuatu. Tentang kelahiran, aku terus menerus memikirkan sifat-sifat manusia, penciptaan, kenapa dll.. akan tetapi satu hal yang selalu menyelinap mengganggu "bertapa" ku adalah kenapa restu bundaku tak kunjung memotivasiku, kenapa.. kenapa??. Semua hasil analisa dan perenunganku senantiasa berubah dan tak ada yang pasti. Yang kuyakini satu adalah kekuatan maha dahsyat yang selalu ada di sekitar manusia, kekuatan-Nya. Aku semakin religius menapaki detik-detik hidupku dengan caraku sendiriku. Seiring kegilaan jiwa-jiwa kesenimanan yang acapkali memberontak.

     Tahun ini boleh dibilang tahun tersulitku, tahun pemberontakanku kepada keluargaku. Selama 11 bulan aku tak pernah pulang. Aku hanya menuntut restu, karena yang satu ini selalu menggangu mobilitas berpikirku, aku selalu sedih dan menjadi beban tersendiri. Masa jeda kuhabiskan dengan menelantarkan diri mencari ilmu-ilmu yang tercecer dijalan.

     Konflik-konflik kesukuan juga mewarnai hari-hariku dikos. Bukan sebagai beban, tetapi bagiku adalah ilmu yang tercecer dijalan yang kusebut diatas itu. Kebusukan rasialis, kemunafikan, permasalahan moral, kepengecutan selalu kumaknai sebagai ajaran tersendiri bagiku. Bernaung seatap dengan orang-orang hukum makin memperkaya khasanah berpikirku, walaupun acapkali banyak kekurangan dari mereka yang kudapatkan, sebagai permakluman adalah; mereka hanya diajarkan teori saja, mereka tak pernah diajarkan berpikir bijak dan merenung. Makanya dunia peradilan kita menjadi gelap.

     Sedangkan untuk masalah cinta, tubuhku yang telah kurituali dulu ternyata belum sembuh total dari kesedihan, luruh dalam kekosongan yang menyakitkan dan menguras energi. Akal sehatku selalu menghibur, bahwa ini manusiawi, aku bukan malaikat yang tak punya hasrat. Rambut-rambut dikepalaku sudah tumbuh, laik sinead O’connor begitu teman-teman menyebutku dulu. Berat badanku masih 51 kg Ukuran celana 28.

     Aku masih aktif menulis, mencipta lagu dan berkarya lukis. Usiaku sudah 22 tahun. Usia ini boleh dibilang tahun penuh keberuntungan karena segala yang kuinginkan selalu kudapatkan. Tentu saja selain restu bundaku itu. Sisi religiusitaskupun semakin terpupuk baik hingga pada tahap kemurnian hati, aku bisa melihat malaikat-akan kuceritakan pada tulisanku berikutnya. Semua itu terjadi karena ketekunanku beribadah dengan tulus kepada Alloh SWT. Makanya tidak pelit Dia menikmatiku.

————————————————————-to be continue

Untuk kekasihku

October 13th, 2007

Tiada yang paling indah selain berserahku

Sebagai tanda aku mencintaimu

Kekasih pujaanku yang sempurna

Terimalah seluruh penghambaan dengan setulus-tulusnya

Tunduknya kepalaku tak menandingi hibahmu

Hibah-hibah yang lalu kukhianati itu …

Kekasihku, tiada laku yang paling indah selain berserahku…

Kotornya mulutku, izinkan ku berucap ;

Aku sangat mencintaimu …

                                                                   (oktober,2007)

MMM…. derai angin ini mengajakku menuai kerinduan

Meraup segala kehambaan ..

Melantunkan lagu yang paling indah

Menghapus titik-titik noda yang berserakan …

Yang mengerak karena matahari …

Darahku tumpah…

belum mampu menggantikannya …

Oh Tuhanku …

Aku rasai nikmat-nikmatmu lewat derai2 angin ini …

Yang menerpa wajahku selembut tajalli.

(oktober,2007)

seseorang telah mengencingi surgaku

October 9th, 2007

Bias ………………….!!

A B C D E F G H I J K L M N

Kelamin !!!

O P Q R S T U

Restu !!!

V W X Y Z

VW versus YZ !!!

Bias ………………….!! ( kartika,07)

Sayangku …

October 9th, 2007

Sayangku, lihatlah langit di barat itu

Senja menunjuk tubuhku untuk rebah

aku tahu hatimu pedih tatkala kujelang ajalku

Makin cintakah kau padaku ???

Sayangku, aku ingin mati mesra

dengan hati yang membumbung tinggi

Melekat, menyatu, melebur kita

Menggeliat erotis aku diujung telingamu

sambil melafalkan ayat Tuhan

Zimatku berpulang

Sayangku, biarlah tubuh ini lemas meregang

Tanpa tangismu …   ( timuran, 07)

Leodi, sebuah ironi arketip

October 7th, 2007

    Leodi lahir di Vinci,Italia. Bapaknya Ser Piero da Vinci merupakan tuan tanah yang kaya, ibunya Caterina, gadis petani yang merupakan pekerja ayahnya yang berasal dari Timur Tengah, Leodi lahir sebagai anak diluar nikah. Tumbuh sebagai seorang Homo seksual yang pernah beberapa tahun di awasi karena kelainannya ini. Leodi seorang seniman besar yang juga ilmuwan yang tak tertandingi kala itu.

    Leodi memiliki sifat yang kontradiktif dan sifat yang tidak biasa. Disebutkan oleh Mottelo Bandelli,seorang pastur muda biara Santa Maria yang menulis kisah hidup Leodi, "Leodi adalah seorang yang ramah dan baik pada setiap orang, tetapi ia juga seorang pendiam, acuh tak acuh dan menghindari pertentangan atau konflik. Leodi seringkali memanjat tangga dipagi buta dan diam disana sampai senja tanpa sekalipun menyapukan kuasnya, juga tanpa makan dan minum, dan ini bisa berhari-hari. Kadang ia hanya memandang lukisannya berjam-jam, pernah pula suatu ketika ia datang dari lapangan istana Milan menuju biara hanya untuk menambahkan beberapa coretan untuk kemudian dia hapus kembali. Kebiasaannya adalah tak pernah menyelesaikan lukisannya, jikapun selesai dia membutuhkan waktu yang sangat lama". Dalam berkarya dia terbilang sangat lamban. Dia seorang vegetarian, pernah suatu ketika dia pergi ke pasar burung, membelinya untuk kemudian dia lepaskan, karena baginya sangatlah tidak adil memenjarakan binatang yang seharusnya hidup bebas dialam raya.

    Kepribadian Leodi sangatlah sulit dipahami oleh orang-orang di sekitarnya, hal ini disebabkan karena kemurungannya dan kemuramannya dalam berbagai hal terutama yang berkaitan dengan manusia.

    Leodi adalah seorang yang begitu mencintai keindahan lingkungan,gemar pkaian indah dan menjunjung tinggi setiap perbaikan kehidupan. Rumahnya sangat bersih, senang mendengarkan musik dan orang yang membaca karya-karya indah.

    Freud, seorang psikologist mengatakan bahwa tidaklah mungkin mengetahui psikologi seseorang tanpa mengetahui aktivitas seksualnya. Sangat sedikit informasi yang menerangkan aktivitas seksual Leodi. Salah satu bukti psikologis adalah ketika dia sangat jarang menggambar organ anatomy tubuh perempuan secara penuh dibandingkan ketika dia menggambar anatomi tubuh laki-laki. Pola berkarya ini yang diindikasi freud sebagai represi libido yang direfleksi Leodi sebagai karya yang membingungkan.

    Sisi lain yang menandai kemisteriusan Leodi adalah yang tampak pada karyanya, salah satunya adalah Monalisa, istri Florentino Francesco del Giocondo yang digarap selama 4 tahun tanpa bisa menyelesaikannya. Yang sampai saat ini masih mengundang teka-teki dan perdebatan berbagai ilmuwan dan sejarawan. Kehebatannya dalam ilmu pengetahuan juga melahirkan karya yang sangat luar biasa dan diliputi rahasia.

    Leodi sebagai tokoh dan sosok yang memiliki proses berkarya dan hidup yang unik, walaupun hal ini juga di alami oleh setiap seniman yang akan melahirkan karya-karyanya namun proses menuju kearah ketaklaziman inipun tentunya masing2 individu berbeda-beda. Tidaklah mudah menemukan sesuatu atau mengulas sesuatu tanpa digelitik oleh pertanyaan nakal dan kegelisahan yang liar Leodi berhasil meninggalkan artefak atau maha karya yang abadi dan indah sepanjang masa. 

    Hal diatas menurut hemat saya; proses adalah sesuatu yang harus dijalani oleh setiap seniman, ilmuwan dan filsuf, yang tak jarang dibayar mahal dengan status tak normal dan kegilaan yang tak perlu-bagi orang biasa. Kegilaan apa yang baik dan yang akan bersifat abadi laik Leodi adalah pekerjaan rumah yang harus di selesaikan oleh setiap seniman muda saat ini. Proses yang tidak dibuat-buat, kejujuran individu akan melahirkan sesuatu yang tak terduga.

———————————————————————————————-Tribute for Leonardo da Vinci, Yogyakarta Oktober 2007, Kartika