Return Tika

April 28th, 2007

Malam minggu, malam yang panjang, malam yang asyik buat ….. kerja, kerja, kerjaaaaaa….

THE BLUE POEM

April 27th, 2007

Doa Sang Semut

 

Tahukah kamu aku
sekarang dimana?

Tahukah kamu
sekarang aku sedang apa?

Aku dibawah karpet..!

Mengintipmu…

Mencoba mengais arti bangkai yang membusuk

Berdasarkan dialogku dengan Tuhan pagi ini

Yang ditertawakan Iblis

Yang membawa retorika bau

Yang mencoba mengulum bibirku dengan syahwat kematian

Yang berusaha menyetubuhiku dengan estetis kehinaan

Tentang apa itu keputusasaan…

Aku mengintipmu…

Mencari cahaya disela kegelapan dibawah karpet ini

Memohon bantuan atas kotoran ini

Lepaskan aku..u..u..!!

Aku ingin hidup!

Untuk itu aku mengintipmu, mengintip dengan sisa-sisa
nafasku

Disini bau…tolong aku…aku ingin hidup!

 

—————————————————————————–

Yogyakarta, 11 April 2005

 

 

Elegi Pohon Nafiri

 

Aku akan terus kecil tanpa sinar matahari…

Dan akupun tak ingin terus bermimpi

Dengarkan aku sahabat, agar akau tak merasa sendiri..

Dan beku dalam keambiguan obsesi,

Aku pilih engkau, karena aku tahu kau sempurna…

Tak seperti diriku, tunas hina dari pohon yang pahit…

 

——————————————————————————-

Yogyakarta, April 2005

 

 

Surat Lelakiku

 

Bukan Cuma banci-banci

Ataupun perek-perek yang menjajakan diri dijalan

Akupun ikut serta ambil bagian, menkmati suramnya malam
tanpa bintang

Berkeringat sudah biasa

Menggenjot pedal dengan sisa tenaga tua…

Apalagi ini, lihatlah, berkarat sudah…

Entah kapan diakan bertahan…seperti aku

Aku juga sudah uzur, ingin istirahat tiada mungkin…

Istriku hamil butuh biaya…

Sedang itu hasil dari perbuatanku, memerkosanya tanpa
terpaksa…

Biarlah dinda,

kan kulalui tapak-tapak ini …

Dengan sisa semangat peluk cintamu

Aku yang 74 tahun, 49 tahun hidup bersamamu,

53010 kali menidurimu…

15 anak hasil spermaku… mati

Istriku, untukmu kupertaruhkan nyawaku

Siang sebagai pembersih jalan

Lantas bergaul dengan malam…

Untukmu istri dan anak ke-16 ku…

Bila harus berakhir, ikhlaskan aku…

Terus bergaul dengan malam, tetapi, tanpa wujud…

Menjagaimu…

 

—————————————————————————

Madiun, januari 2002

 

 

Selamat tinggal Siti

 

Siti…

Kukatakan padamu tentang rahasia yang tersembuyi jauh
didalam

Mungkin bisa panjang atau justru terkutung karena kau pergi

Meninggalkan akau yang berdiri dengan seonggok luka bertubi-tubi,

Dengan berjuta kiasan dari bibirku yang hanya bergetar…

Dan air mata yang berubah menjadi darah…

 

Siti…

Ada sinar melekat dalam dirimu..

Bersemayam anggun menyeruak didepan mata tidak kau ketahui

Sanggupkah kau mencarinya untukmu sendiri?

Atau kau justru pergi lagi meninggalkan aku yang masih
berdiri dengan seribu dera kata tanya yang menginginkan penjelasan?

Terutama dari bibirmu yang mungil…

 

——————————————————————————-

Yogyakarta, April 2005

 

 

Dew Clarissa, Hakikat Hidup Dan Cinta

April 26th, 2007

Hijab Tuan Poker

"Seorang manusia mampu mencapai sophia karena dalam fitrah (kodrat) manusia terdapat sesuatu yang unik dan ilahi: manusia mendekati aktivitas intelektual Tuhan. Fungsi tertinggi yang mungkin bagi Tuhan dan bagi manusia adalah berpikir, bernalar, menggunakan akal. Bentuk yang paling tinggi dari berpikir adalah berpikir tentang objek-objek (prinsip pertama dari segala sesuatu) yang abadi, tidak berubah, wajib dan pasti-objek-objek yang tidak bisa lain dari keadaannya yang sebenarnya…"

Lantas, bagaimana denganmu Tuan Poker…?…..!

Kau bilang kau lahir dari lingkungan bisu, lingkungan bisu yang seperti apa? zaman yang mandul?! yang selalu hingar dengan lampu kerlap rumah ibadahmu?! diskotik yang muram dan tak berkonsep. Penuh manusia-manusia yang memetik madu malam? atau apa??!. Lingkungan  bisumu itu absurd, tajam tanpa bau, Sesak tanpa penghimpit.
Karena  takut akan  kecewa makanya kau mainkan ironi. Sungguh ironis, bukan? kau telah terkungkung oleh amarahmu sendiri, juga fenomena sosial yang menindas psikologi sehingga tanpa kau sadari jiwamu menjadi ambruk dalam keniscayaan. Keniscayaan yang kamu ingkari sendiri. Hiduplah dalam tenang, tuan.. biarpun lampu padam, toh masih ada rembulan. Biarpun hujan tak turun, toh masih ada akar-akaran… Kembalilah pulang ke Tuhan, walaupun aku sendiri juga belum pernah melihat wujud-Nya, paling tidak Dia akan memberi sedikit kelegaan bagimu Tuan…

Jiwamu itu kotor, dan kata muskil yang menjerat otakmu retaslah… disana pusat segala ambigumu…ambigu tanpa optimisme sama sekamli. Hidup enggan matipun tak mau…

Lantas mau apa Tuan…?…

Kau bukan Tuhan. Kau hanyalah kecoak yang hidup dengan mengendus tai dan kotoran. Keseharianmu biasa. Tak selamanya singgasana emas itu bakal menahan pantatmu terus-terusan. Kau bakal tua…dan mati. Berpikirlah dengan otakmu, bukan uangmu…rajakanlah dia tetapi ajaklah bicara… Ketahuilah… walau menjadi singa, dia adalah airmata. Perlakukanlah dia dengan biasa, agar tak selalu menangis disela rasa bahagia, dan ambigu yang kemudian menghegemoni dirimu, tubuhmu, jiwamu, dan semua. Kau wabahkan kemudian kepada antek-antekmu yang juga ling-lung itu…?!

Oh Tuan Poker… Mengenaskan sekali hidupmu..

Gantilah rumah ibadahmu itu dengan hingar ayat-ayat Tuhan. Niscaya kau akan terbebas dari lingkungan bisu yang menjeratmu kini… Ajaklah bicara, turunlah dari singgasana emasmu, kala-kala….

———————————————————————-
"Rumah Ibadah Tuan Poker" = Diskotik

Dew Clarissa, Hakikat Hidup Dan Cinta

April 25th, 2007

Kepada: Trachiman Decorrata

Apabila ini hanya sebuah emosi, betapa aku ingin menenggelamkan diri kedalam kolam buaya sangar yang lapar..?? dan biarlah apa katamu dan kata mereka, aku ingin membedah sebuah anugerah Dia. Tentang perasaan sayang yang hadir di sela-sela perjuangan menunjukkan harkat diri yang tertunda. Antara ikhlas dan tidak, rasa gengsi dan kejujuran, ambigu ini mengantarkanku untuk berucap:
"Tuan, kau adalah separuh nafasku"…

Ungkapan ini hanyalah berisan kata-kata yang sedikit mewakili tentang kegundahan nurani. Kala ada sesuatu yang rasional untuk ditakutkan, adalah kehilangan, kehilangan rasa. Karena rasa yang teranugerahkan ini begitu indah dan aku adalah pencinta. Manusia yang tak bijaksana untuk di persalahkan.
Aku sanksi dan seperti spekulasi, namun demi Tuhan yang Tuhanmu jua, aku berani bersumpah… hal ini indah… Aku pernah bertanya kepadamu tentang rasa ini…jua aku tak peduli apa kau mengerti, yang kuharapkan hanyalah sebuah empati sebelum kau memutuskan untuk menjatuhkan vonis jikalau vonis itu penting! terlebih untukmu, karena hampir tak berimbas kepadaku…Karena aku sang pecinta, berhak mencintai siapa saja, apa saja, termasuk dirimu, tubuhmu, hatimu, isi kepalamu…langkahmu, bahkan sehelai rambutmu…

Aku manusia biasa, yang teranugerahi cinta, sehingga aku menjadi pecinta…
Dan engkau yang kini kucintai…
Tersenyumlah jika hatimu cinta…Dan tersenyumlah jika hatimu tak cinta…
Atau,
Jika kau undang aku sebagai perempuan, maka kau adalah lelakiku…
Jika kau undang aku sebagai pecinta, maka kau adalah cintaku…
Dan jika kau undang aku sebagai manusia biasa, maka kau adalah malaikat yang barusaja akan kukenal…

Yang nanti akan ber-evolusi seperti kata "entah…"

A Rose letter For Mr. Clean…..

April 24th, 2007

                                                                                  Yogyakarta, April 11th 2007

Dear Mr. Clean in boarding house…

Good Day

This is my First letter to you, i hope i’ll get your oppinion after you read my letter is. May be you will asking me why i write this letter in english? actually, i want to learn english more to help me improve fluency.
Well, in this first letter of mine i would like to tell to you that i was finished my art work. This is about body of love… Do you have a love?.. of course i think..woman? or a man?..hehehe…

Btw, Mr. Clean, when i have finishing my painting i always remember the art wanderer. Who is he? i don’t know, but he always became my angel …whose wait up for me when i do my work or when i finishing my painting…
If you expect him to wait up too, please look up at ninght. He work nights with the moon and stars…

He smiles verry handsome and he always warmly received my smiles too. He comes from heaven. He is Dew Clarissa couple not mine…but i wrote a song for him. The tittle is: an artist inscription. Do you wanna know about this song? Ok, i will introduce this song for you…

     "An Artist Inscription"
                                                Dwi Kartika Rahayu

When i am falling love with you to night
I will bring you, i will paint you
All of my dreams will come true
When i see you on the glory night
I will print you, i will sculpt you
and i feel my spirit rises…

            Reff:  The strars in the sky and the moon with purple light
                      They are as a witness, for love of my life

When i find you on the glory night
Like a wanderer and mysterious one
who looking for real life

Back to reffrein

                       The stars in the sky and the moon with purple light
                       They are as a witness for spiritual times
                       They are as a witness, for love of my life…

All right, this is song i wrote for him…if you wanna hear or you wanna sing this song, i need a piano or a keyboard to arrange the music
This is my best song so great, because some of my friend know this song well. of course they are singing this song too…they’re said to me that they’re like it so much
I am verry glad! especially, if celline dion or Groban wanna sing this song… ehhhmmm..verry nice i thing. It is serious music or classical melody…

OK! thas all i think for learn english with you. Thank you so much for read my first letter, and don’t be bored to read my second letter next. Okey, bye-bye for now…

Take care
Sincerely yours, by:

Kartika

Dew Clarissa Hakekat Hidup dan Cinta

April 23rd, 2007

  Humor Kekosongan

    kau tawarkan padaku segelas besar teh hangt pagi ini, seperti 48 jam yang lalu. Seperti kemarin pula, tiba-tiba kau menyentuh dahiku dan tersenyum…" kau baik-baik pagi ini?" dengan tatapan kekosongan  masih aku cari arti dari semua ini. teh hangat pagi-pagi dan sentuhan jemari lembutmu. Hanya satu yang aku mengerti, bahwa kau begitu misteri.
    Perlahan-lahan kau ingsutkan kaki kursi panjang yang seperti orang tidur itu. Sembari menahan bebannya. Kau begitu santun, lalu entah kenapa aku ingin berdiri untuk segera mreninggalkanmu. Aku ingat malam itu. Kau menggodaku untuk ikut terbang. Dan yang lebih ingin aku berdiri, aku tak kuat menatap sorot matamu yang tajam seperti hakim yang ingin mengorek segala kebohonganku. Ya…pada akhirnya toh akupun berdiri, namun entah kenapa aku justru mendekatimu dan menyodorkan wajahku untuk kau nikmati, dan aku membiarkanmu mengetahui seluruh kebohonganku. Silahkan, reguklah aku.. tiada sesuatupun yang akan kusembunyikan darimu, karena kau begitu indah, dan mata itu membiusku untuk melunturkan ganjalan hidupku, yang telah terpuruk sekian lama dan menginginkan untuk dibongkar. Yah…, dengan sorot matamu itu aku menjadi yakin.
    Kau menatap kosong pula sejenak, namun bermakna, kau mengingat-ngingat dan mencari apa yang ingin kau tanyakan pertama kali padaku. Aku menunggu… " apakah kau baik-baik saja pagi ini…?"
    Oh Tuhan…kau tanyakan lagi pertanyaan tadi…dan memang aku belum menjawabi karena terlalu terhipnotis dengan indahnya matamu yang tajam bagaikan rajawali yang menunggu mangsanya itu… atau seperti tadi aku denggungkan, mata itu seperti hakim yang menuntut kejujuran.

Perjalanan Suci

April 22nd, 2007

Hari ini tanggal 22 April 2007 aku merasakan sesuatu yang hebat telah kembali… pada diriku yang terkadang kehilangan arah untuk mencercapi hidup walau dalam hitungan menit sekalipun…

Jessica bilang aku orang yang labil emosinya…semenit tertawa, semenit  males, semenit marah… susah tertawa lagi.

Seperti itu pula ritim dalam hidupku. terkadang susah sih… apalagi kalau sudah menyangkut masa depan… sifat buruk itu menghambat sekali dan aku rasakan itu sebagai ganjalan yang maha dahsyat. bagaimana bisa aku konsentrasi memikirkan karir, jika emosiku selalu terganggu. terkadang aku mencoba mengupas sendiri penyebab dari itu semua. Sesuatu yang membuat aku marah, tidak suka, atau tersinggung.. banyak sekali. Salah satunya adalah ketika aku di cemburui, aku tidak suka dicemburui oleh seorang teman perempuan yang menyangka aku "ganjen" pada incerannya… padahal aku benar-benar tak ada pikiran ke sana. hal itu membuat aku terhina sekali. Cinta, yah… cinta…. aku pun tak pernah mengerti apakah itu dan misterinya memang aku akui sangat maha daya. Wajar jika teman perempuan yang telah ku catat telah menghinakan aku seperti itu adanya.

Lantas aku merenung untuk itu…, apakah cinta itu sebenarnya?…..sedikit ku beroleh kesimpulan yang harus aku tanyakan pada orang yang bijak. Karena mungkin saja analisaku ini salah berat…dalam hematku;

Cinta adalah kehidupan, nafasnya berupa debar-debar keimanan, yang keimanan itu bisa terfasiqi oleh luruhnya rasionalitas. Tatkala cinta berada diujung sebuah puncak apapundia akan terguling dengan dahsyat dan hancur lebur jika tidak di sanggah dengan kekuatan ynang bernama rasio… Dioa akan terburai dan kotor karena emosional buruk yang bernama ego…
Cinta adalah melepas diri kita kepada cinta itu sendiri
Cinta adalah mengubur dalam-dalam tiap inci perbedaan yang menimbulkan sengketa pendapat
Cinta adalah memaknai perbedaan diatas kekukuhan hati
Cinta adlah memberi dan rendah hati..

Kepada Tuhan: Cinta adalah pengabdian
                       Cinta adalah pemujaan
                       Cinta adalah do’a

Dipuja= kita akan bahagia oleh buaian-buaian pemuja tetapi kalah dalam hal memilih
Memuja=Kita akan menanggalkan rasio jika kita terlena pada pujaan hati, sakit bila tak tercapai. Namun kita menagn dalam memilih yang kit acintai…
Dan pula pada dasarnya cinta itu membebaskan sang pecinta…dan kehadirannya harus senantiasa di awasi.

Kesimpulanku: Yang ideal adalah kita memuja dan dipuja.
                                                 Kita mencintai dan dicintai

Do’a untuk pecinta…

Ya Rab, Tuhan Maha Kuasa atas mahluk di alam semesta…
Hamba berdo’a mengharap ridlomu,
Ya Alloh, Hamba ingin membahagiakan orang yang hamba cintai dan
hamba ingin dibahagiakan oleh orang yang hamba cintai…
Bukalah hati dan pikiranku diatas segala cinta yang hanya milikmu….
Amin…

Begitulah analisa singkatku tentang cinta yang membingungkan selama ini…
namun aku percaya bahwa anugerah cinta adalah anugrah terindah di muka bumi ini dan alam semesta lainnya.

Selanjutnya masalah idealisme, busyet kebentur-bentur susah sekali… untuk urusan satu ini, memang susah karena kit di haruskan kompromi dengan orang lain….
……………………………..

oh uh… aku sudah ngantuk dan untuk berpikir kayaknya otakku sudah susah….
hari ini religiusitasku kembali muncul karena kau habis pulang kerumah dan seperti di charge ulang oleh memory mas akecilku yang memang sangat lekat dengan agama…. berjalannya waktu telah mengubahku pada sikon yang lain pula. dan ini bagiku bukan kesalahan…..
adalah refreshing…..
hehehehhe…..
mboh wis…

Dew Clarissa, Hakekat Hidup Dan Cinta

April 22nd, 2007

Class, Diary ketiga

Tidak ada pesan khusus darimu Tuhan yang harus aku renungi …semuanya biasa. Namun aku ada sedikit pertanyaan untuk-Mu. Apakah kau masih akan disini menemaniku? atau akan jalan-jalan keliling dimensi tanpa aku?
…………………………………………………………..Masih tetap tak kau jawab.
Namun aku mengerti…, kau ingin aku mengikutimu…..,

Baiklah….., peganglah tanganku aku akan ikut!
…………………………………………………………..

Kau menuntunku kesebuah ruang gelap dan berbau bangkai. walaupun tanpa sedikit sinarpun namun aku masih bisa melihat jika tempat ini sebenarnya adalah sebuah ruangan penyiksaan. Kau berhentikan aku tepat ditengah-tengah, ada sedikit sinar redup dari atas yang memberi kesan kehidupan. Hanya ada laba-laba dan julur-julur jaring usangnya yang menunjukkan  ruangan itu telah belasan, bahkan puluhan tahun tak berpenghuni…

Aku sedang hidup, dan aku disini, …ya ini aku yang seperti ruangan yang berjaring laba-laba dan berdebu, ditambah dengan bau bangkai,  diriku sendiri…
Tuhan membawaku kesini menyuruh aku untuk kembali kepada hakekatku… Sebuah hakekat yang kugaris dan kutapaki sendiri tanpa dipaksa oleh sesuatu yang lain. Sebuah hakekat yang selalu berinterupsi ingin menonjol dan saling tendang dari nurani…
Hati, jiwaku ini hitam, seperti ruangan yang baru saja ditunjukkan olehTuhan. Dia mengajakku untuk membaui bangkai itu. Dia membawaku untuk mnecerna sebuah arti gelap yang senantiasa ada dan selalu bergelayut dalam nafas kehidupanku, yang tercemar oleh kondisi…
Hadirnya dendam-dendam itu mewarnai hiruk pikuk transportasi darah dan oksigen dalam tubuhku. Menjejal otot dan daging merah bernama hati. Menusuk-nusuk  dinding-dindingnya dengan bilahan pisau dosa. Pisau dosa yang merupakan bumerang bagi diriku sendiri yang sebenarnya dia adalah senjata dan perisai untuk jiwaku, badanku,   dan seluruh metabolisme dalam hidupku…

Tuhan tetap terang… segerakan aku keluar dari ruang yang kukenali ini… Tak mampu ku berucap lagi…!!

Yang kuyakini adalah, bahwa kau selalu bersamaku.. bukankah itu cukup????

Dew Clarissa, Hakekat Hidup Dan Cinta

April 22nd, 2007

Cermin dan Debu

Sebuah catatan pada malam dikamar penuh debu bersama Tuhan.
Kainstlir Lingersti 1809.

“Diamku, bukan mati…dan koridor-koridor nadi dalam tubuhku masih lancar mengalirkan darah untuk hidupku. Dalam darah itu ada dendam yang segera ingin dituntaskan, ada gejolak nafsu yang ingin di salurkan, ada nada-nada melankolis yang menuntut untuk dilagukan… Semua ini kusumpahi ada dalam tiap detik tarikan nafasku yang terkontaminasi dengan debu-debu jalanan. Jalanan yang selalu kuukur lebar dan panjangnya…sekedar untuk mencari tahu kapan dendam, gejolak nafsu dan nada-nada melankolis itu terealisasikan, agar aku hidup sebelum mati dengan satu kebanggaan…aku mampu menundukkan diriku sendiri, yang tak pernah ku ketahui dimana aku meletakkan titik untuk berhenti atau paling tidak koma untuk sekedar istirahat …sekejap saja… aku sudah sangat lelah….

Segelontor debu dicermin hiaskulah seakan-akan mengerti, karena dia adalah jam waktuku, juga sekaligus saksi bertumpuk-tumpuk yang menghitung dendam, nafsu dan nada-nada melankolis itu … “Dew,…kamu tunggu apa?!”. ” Aku menunggu Isa turun dari langit!” selorohku selalu, ketika mereka berteriak-teriak melotot seakan-akan tidak sabar melihat siapa yang akan terkapar menemani mereka menjadi debu dan terhempas oleh angin tiada menentu itu. Aku tahu mereka begitu karena mereka ingin mngajakkku terbang…sekejap lalu hinggap, tersapu… lalu hinggap lagi dan menunggu angin… Bodoh!!! ” Sudahlah…kamu disitu saja sebagai jam waktuku… Sudah kuterima ketidak laziman ini sebagai pengganti air bahkan sehirup oksigen dalam tubuhku…

Dengan termangu di sudut kamar yang penuh debu seperti inilah aku semakin mengeti .. tak jua aku, mereka yang berkutat dengan kemewahan..ataupun kemiskinan tentulah ikut larut. Seberpaling-palingnya aku … itulah jawaban.

Hidupku ini bagaikan hantu…, hallo debu di cermin hiasku, arwahkanlah aku, walaupun kenyataannya mereka sangat mampu melihat bodyku…seperti halnya dirimu ketika aku berkaca…

Kukatupkan telapak tanganku, kutaruh di ujung hidungku dan terpejam… satu detik, satu menit, satu jam, dua jam…hakikat itu belum terdefinisikan… Oh Tuhan…seperti kemarin, hari ini kau suguhi aku dengan sup otak dan kepala manusia …bersaus darah! lalu kau menyuruhku tanpa suara untuk segera menyantapnya sambil menunduk dan berdzikir…” Dew….”! ucapmu dengan suara yang penuh arti… sunyi, ………….tanpa kata-kata lagi.

Satu detik, satu, menit, satu jam, dua jam. Perlahan kudongakkan kepalaku untuk melirik wajah-Mu yang tak tampak tapi bersinar, aku mengerti… tiga nyawa telah kau cabut dalam tiga detik, lalu kau memintaku untuk menyantapnya sebagai pengganjal rasa lapar otakku sendiri…

Kulirik cermin hiasku lagi…dan debu-debu jam wakktuku itupun tersenyum dengan penuh kemenangan. Namun ambigu, Anjing!! Apakah lagi ini satu dendam bertambah…??? atau justru jawaban sedikit atas trilyunan kubik pertanyaan dalam lekuk-lekuk bagian otakku. ????

Ya, diamku bukan mati. Dew akan selalu hidup dan terus berjalan …menumpuk dendam, menyalurkan sejumput nafsu dan melagukan nada-nada melankolis yang ingin dilagukan itu….

………………………….

Otak-otak hati bukan makanan looh… Memori persahabatan dengan seorang kawan.

April 18th, 2007
Tulisan ini hanyalah sekedar barisan kata-kata yang hadir
dari seonggok otak yang selalu ingin tahu jawaban atas pertanyaan yang
mungkin biasa…
dan otak itu adalah otak yang bersemayam dalam kepalaku, aku yang
jauh dari anugerah kepandaian… tak sepertimu atau yang lain…
bacalah jika kau berkenan, atau biarkan saja sebagai pengisi kotak terima dalam emailmu..
 
Otak-otak hati, bukan makanan loooh
 
     Tanggal 16 juli 2005, -+ 13.00 wib, aku melangkahkan kaki
menuju sebuah book shop yang tidak asing lagi di kota kita, gramedia.
tiba di lantai 3 tiba-tiba saya tertegun sampai pada titik
kehampaan yang aneh, aku ‘hilang". lalu mendapati anggota badanku
saling interupsi hingga aku sedikit limbung dan kepala kembali
pening. mataku masih berkunang-kunang krn barusan sembuh dari
sakit, dengan tenaga yang menyisa aku beringsut sedikit demi sedikit
agar tak di perhatikan orang. Lalu keluar…. Di sebuah parking area
aku terduduk karena tiba2 telingaku mendengar suara gemerutuk aneh..
seperti ada yang berteriak2…
 
     aku "hilang", diam,…. setengah sadar tanganku yang lemah
mengambil pena dan buku wasiat jelek dari lembaran kertas buram A4
buatanku sendiri yang selalu ada di tasku yang berisi beraneka catatan
puisi jelek, oret-oretan gambar, ode, curahan hati, bahkan bakal lagu
yang tiba2 nongol terinspirasi begitu saja tanpa kompromi bahkan tak
peduli pas aku lagi ngapain saja…alias tak tahu waktu.
(ini sekelumit tentang buku wasiat buatan tanganku yang aku
sayangi…, krn dia teman sejatiku…) tapi tak kubiarkan seseorangpun
berani membukanya selain aku sendiri. ha ha! tidak juga kau mas
wey…sorry yaaa! kupertaruhkan dengan seluruh harga diriku….   :)
 
     anyway,
     Setelah tangan, pena dan buku kesayanganku mengatur
formasi, badanku luruh mematung, mereka bekerja tanpa jiwaku, mereka
bercakap tanpa aku…. hanya sesekali si telinga berbisik lembut
menggelitik kesadaranku untuk menyampaikan obrolan mereka…
diantaranya telah di tuliskan oleh tangan,
 
Hati  :
Banyak sekali orang2 cerdas jenius yang mampu menciptakan karya begitu hebatnya
         seperti the bukus yach…
(*the bukus= bentuk jamak bhs indonesia yang diingriskan he he he..)
Otak :
Iya, tapi apakah kamu pernah berpikir, banyak
diantara mereka yang tidak hanya cerdas jenius tetapi juga keblinger.
Karena mereka kadang menciptakan karya-karya itu hanya untuk
kepentingan prestis semata.
Hati :
Ya, saya paham dengan maksudmu otak, tapi harus
tetap kita hargai "perjuangannya", kamu pasti berbincang tentang
popularitas, krn menyinggung prestis, betul begitu saudaraku?
Otak :
Begitulah hati, sahabat arifku, saya berpikir untuk
apa karya-karya prestis itu diciptakan…alangkah sia-sianya…tentu
saja diciptakannya-pun mengada-ngada seperti teori Darwin yang menurut
saya memang menyesatkan umat manusia itu. Untung ada Harun Yahya ya…:)
(Si hati manis tersenyum simpul menawan)…
Begini hati, saya ada beberapa belah sisi yang
terkadang bertentangan satu dengan yang lain. Dan seperti kita
sekarang, mereka juga sering memperbincangkan sesuatu yang saudara
tercinta kita "mata" si kamera yang canggihnya minta ampoun tak
tertandingi merk2 ternama manapun…lihat. Belah sisiku saling berdebat
tentang itu, sisi kanan mengatakan itu, sisi kiri mengargumenkan ini,
si besar bilang itu, si kecillah yang agak diam dan nrimo..
Hati :
Iya, aku tahu…
Otak :
Hati saudaraku yang imut, buku adalah doktrin,
tentu saja yang di tulis dengan prestis atau penggalan-penggalan
pengalaman yang tak bijaksana. Sebaliknya engkau si Raja bijaksana,
bagaimana menurutmu…?
Hati :
Otak, saudaraku yang kritis, memang jika kita menimbang ruang menata rupa….eh salah…ini
kan bukunya mas mikke jenggot…maksudku, menimbang sesuatu tanpa
didasari kebijaksanaan semuanya akan timpang dan keblinger, seperti
masalah prestis yang engkau kritisi pada saudara penulis the bukus
itu…., ..sebentar otak,
break dulu..ngomong-ngomong kenapa sih kamu kok "cenanangan" mikir sing
ora-ora? hati-hati lho nanti salah mikir ikut keblinger…
Otak :
Yach, kamu tahu sendiri kan, hati saudaraku hati
cintaku…Saya ini kan bersemayam dikepala seorang cewek cenanangan
yang bergemini cap munyuk. Jadi ya ikut cenanangan gitu looh..!
Hati :
Ah…. ada-ada saja…Terus?
Otak :
Terus aku minta pertimbangan atas pikiran-pikiranku
tentang tulisan-tulisan prestis tak berguna itu, sapa tahu saya salah.
Nak yo repot! aku bisa di perkosa atas nama cinta….
Hati :
Huzs! dilarang sebut merk, itukan buku mas Iip Wijayanto…
Otak :
Heheheeee….
Hati :
Saudaraku otak yang suka mikir, ingat! diantara
pikiran-pikiranmu yang memang mendua itu ada dua sisi, negatif dan
positif, jadi sebelum berujar ya harusnya kamu menimbang ruang menata
rupa…
Otak :
Nah, sekarang kamu yang sebut merk-nya mas Mikke jenggot…
Hati :
Tegese ngene lho…menimbang ruang maksudnya sisi
negatifmu…ruang-ruang yang dipenuhi dengan pikiran-pikiran jahat itu
jangan dibekukan menjadi sebuah desisi nanti kamu yang akan
lelah sendiri…Sedangkan menata rupa tegese: setelah kamu menimbang
ruang hehe..(nuwun sewu mas mikke…)kamu tata mana yang baik-mana yang
buruk. Yang baik dipakai untuk pegangan karena yang ini bisa bikin kamu
ayem tentrem ugi raharjo, yang buruk di singkirkan… karena tidak
berguna,…Kalau yang demikian sudah kamu canangkan, Rupamu…iku pasti
tertata…kinclong. Pak de Mark Smith bilang auranya jadi
cerah…kemebyar laksono bhagaskoro….
Otak :
Kok kamu ngrupak-ngrupak’ke aku to hati…??
(protes sambil cemberut jelek)
Hati :
Nah mulai to,nasehatku mentah-mentah negatif di terima…rupamu…eh… wajahmu…ngono.
maaf deeeh…becanda kok….!
Otak :
Ehhmmm, menimbang ruang menata rupa…
(manggut-manggut)
Dinda hatiku yang cantik, kamu memang Ratu Adil…aku cinta padamu…!
Hati :
Eh sebentar, Ratu Adil ngono istilahnya sapa ya ? saya lupa tuh tak!!
Otak :
Ehmm, kalo gak salah pas jaman perjuangan sak durunge merdeko dulu,…aduh maaf deh..
(malu-malu..)
aku juga lupa, aku tanyakan si kecil yach kapan-kapan…
Hati :
Oh ya, santai saja! saya maklum kok otak itu juga
kadang-kadang suka lupa ingatan…he hehe..bukan gila lho tak, jangan
negatif thinking..lho..
Otak :
Iya!
(senyum-senyum manja)
Hati :
Apa tadi yang pingin kamu diskusikan?
Otak :
Ntu tuuh..soal prestis para penulis yang tak
bermutu yang cuma mau cari popularitas doang biar terkenal dan
beranggapan kalo sudah bisa nulis buku berarti sudah merasa hebat,
padahal belum tentu tulisannya bermakna dan new…
Hati :
Maksudnya new..?
Otak :
Yach berkarakter gitu looh…jadi nggak cuma ikut-ikutan, apalagi cuma cari popularitas doang
Hati :
Kamu tahu dari mana mereka cuma cari popularitas doang??
Otak :
Yach dari….. emmmmm….anu…… dari……pikiran negatif saya!…
(melenggut malu)
Hati :
Oh….. gitu…. iya sih saya juga tidak bisa
membedah otak-otak para penulis itu… andai saya bisa berbicara dengan
pikiran penulis-penulis itu seperti kamu sekarang mungkin saya bisa
beri pertimbangan atas kegelisahanmu itu tak! biar aku tidak salah
nyerocos juga soal mereka cari popularitas atau memang ingin membagi
ilmu dengan orang lain. Tetapi kalau kamu bilang buku itu doktrin aku
agak setuju juga sih tak…
Otak :
Kok agak?
Hati :
Yach, saya ini kan selalu menimbang baik dan buruk.
Mas Wahyudin yang perut gendut…eh masih gendut nggak ya perutnya?
jangan-jangan diet nggak makan nasi gara-gara saya sering ngatain perut
gendut…well, tapi kalau misalnya benar dia nggak makan nasi lagi,
pasti dia makan roti…..
Otak :
Weleh…weleh… makanan kaum kapitalis …….itu!
Hati :
Jangan bilang begitu, nanti beliaunya dengar bisa di jewer kamu…
Otak :
Becanda koook…
( senyum-senyum lenggut…)
eeh, Pak Wahyudin pasti sedang baca!… :) haaai…
Hati :
Emang bapakmu!!!, begini, beliau pernah sms saya
tak, "pulanglah kehatimu yang paling dalam" serunya. Yach dengan kata
lain kita harus kembali pada diri kita sendiri. Hati, seperti saya ini
kan tempatnya berpulang semua masalah terutama efek yang di timbulkan
dari pikiran-pikiran itu, otakku yang kemepyaar…jadi, penulis itu kan
juga punya hati entah seperti apa niatnya kan waktu yang menyeleksi tho
nantinya….
Otak :
Iya, tapi saya tetap tidak setuju. Kalau misal
buku-buku itu di baca sama orang yang tidak mampu melogika wacananya
kan gawat. Bisa meracuni, dan efek psikologisnya bahaya! bahaya!
Hati :
Itu sebabnya mas Wahyudin perut gendut bilang,
"pulanglah kehatimu yang paling duuuualam..". intinya kembali pada diri
masing-masing…kalau orang itu cerdas pasti menggunakan hatinya untuk
menimbang ruang menata rupa (pinjam istilah/judul buku mas mikke
jenggot,cieeh bahasanya…)he he..seperti saya bilang di atas…, lalu
kalau kamu memang mengamati, nggak cuma buku loh tak
sebenarnya..tayangan tivi terutama nasional itu juga inden. contohnya
yang lagi hangat-hangat tai ayam, mereka menayangkan budaya homoisme
banci…itukan juga bisa mempengaruhi psikologisme masyarakat indonesia
tercinta ini too…dan efeknya juga dahsyat itu…makanya, gunakan hati
untuk mensikapi…tergantung konsep si penulisnya saya kira, tugas kita
memetik hikmah dari itu semua…
Otak :
Ya aku tahu…
Hati :
Sebentar, kamu kok gundah dengan tulisan-tulisan prestis itu kenapa otak..??
Otak :
Aku kan otak!, aku tidak mau dong di pengaruhi dengan kebodohan-kebodohan yang tidak berguna dan tidak bermutu…
(sombong..)
tanpa penelitian yang akurat dan bisa di
pertanggung jawabkan…eh..tiba-tiba berjamur buku-buku aneh dan
besar-besar menampangkan nama penulis misalnya, Dwi Kartika Rahayu
sedangkan kadang nggak bermutu gitu looh…!!
(sewot kecentilan…)
Hati :
Dwi Kartika Rahayu itu siapa lagi otak?
Otak :
Nah, luuupa… tadikan sdh di jelasin di atas cewek
yang cenanangan itu…gadis imut yang nggak pernah mau dibilang imut!
tapi amit-amit saja! he he he h…
(tertawa geli)
yaaang…yaang…yang…diri kita ini goblok!!
Hati :
Ehmmmm, ngono toh …oh iya ya..! diri kita ini…
(manggut-manggut bloon)
Otak :
Makanya pake otak doong…gimana seh…
Hati :
Nah, otaknya kan kamu…bloon…
Otak :
ha ha haaa…
(tertawa lepas kayak gus Wah… :) )
Hati :
Sabar otak…jangan negatif thinking …
Eh darimana kamu menyimpulkan kalau mereka cuma
memampangkan nama hanya untuk popularitas dan prestis semata pada the
bukus mereka.
Otak :
Yach, dari karya mereka dong tentunya…
Hati :
Kamu sering baca the bukus?
Otak :
Itu kan tugas saudara kita si mata…sama aku juga, si mata sudah nafsu sih tapi kadang aku gengsi…
Hati :
Pasti negatif thinking lagi…
Otak :
He he he…iya sih…
(malu-malu jelek)
Saudara hatiku yang bijak, pernahkah kamu berpikir seperti aku??
Hati :
Begini saudaraku otak yang cerdik, tugas saya itu kan menimbang
Otak :
Ruang menata rupa…! hehehe
(menyela)
Hati :
He ehh.. itu jangan di ucapkan lagi, nanti mas
jenggot lebat marah… mbak Dwi Kartika Rahayu nya nanti nggak di sapa
di kampus…
Otak :
Ya ya ya….
(bertaubat)
Hati :
Apa tadi..? oh ya..tugas saya kan menimbang-nimbang
masalah atau sebagai penyeleksi keputusan, jadi saya pasti akan membaca
buku itu jika tertarik sama judul yang menghiasi sampulnya, baru untuk
urusan suka tidak suka, doktrin mendoktrin, bagus tidak bagus kan diri
kita yang menilai. Membekukan atau membuang…kita baca dulu, kita
telaah, lalu..diambil nilai-nilainya gituu looh..!
Otak :
Ah kalau aku sih gengsi…ngapain susah-susah baca
toh nantinya masih di tuntut mikir pula… menimbang-nimbang segala
macam bikin kepala panas…
Hati :
Dasar otak udang…, keras kepala…!!!
Otak :
Lho kamu kok ngomongnya kasar hati
saya bisa tersinggung looooh..
Hati :
Yach maaf yach…hati itu kan bisa sebel
juga…kamu jangan negatif thinking terus… mana sisi positifmu??
pakai dong otak..saudaraku yang brilian..
Otak :
Iya saudara hatiku yang bijak..aku sayang padamuuuu…
(..ough…sambil merengkuh..)
Hati :
Aaaaaaaah mesum……
jangan disiniiii…aaaaagggh…
sensor !!
 
hahahahahahah…………………….
 
Hati :
Sudah, sudah ciumannya……..
(meronta)
Eh, diawal pembicaraan kita, kayaknya kamu tadi sempat mengatakan keblinger…pinter keblinger…maksudmu gimana otak?
Otak :
Oh ntu, yach kita tahukan fenomena sekarang apalagi
yang aku sebut sebagai prestis popularitas tadi, banyak orang pinter
eeh tapi kok keblinger…saking pinternya kali, sehingga bikin
paham-paham, dalil-dalil, atau lebih kerennya konsep-konsep dalam
hidupnya…entah mathuk atau enggak konsep itu akhirnya mewujud sebuah
idealisme yang terkadang eksistensiya pro dan kontra saat di canangkan
oleh diri pribadi yang menganut isme ideal itu. Sedangkan untuk
masyarakat kita kan masih jauh dari perlindungan hak asasi, hukum masih
di pertanyakan kredibilitasnya, jadi untuk menyandang idealisme yang
bener-bener mutlak aku pikir sulit di negara kita ini, malah-malah bisa
mati kutu.. nah, kalau tidak pandai-pandai menerjemahkan… .apa tadi
istilahmu yang judul buku mas mikke jenggot? menimbang ruang menata
rupa… bisa bahaya..nah, isme inilah yang saya sebut sebagai doktrin,
doktrin yang bisa saja menjerumuskan pengikut-pengikutnya…
Hati :
Menurutmu para pemilik doktrin itu mencari pengikut?
Otak :
Oh iya tentu saja, agar eksistensinya di akui,
pemikirannya di pakai orang..dengan dasar dia memiliki alasan yang
sedemikian rupa untuk doktrinannya itu, dengan tendensilah…begitu
singkatnya…agar dalilnya di pakai orang lain…terlepas itu teori
yang lurus atau bengkok.
seperti saya juga yang memiliki dua sisi negatif
dan positif. Doktrin begitu pula, dia memiliki 2 sisi kanan dan kiri
yang bila perjajahannya( khusus yang bengkok doktrin menurutku adalah
penjajah)tak berdaya dan cuma suminggih saja bahaya! seperti
zombie…!!!
Hati :
Lalu hubungannya dengan the bukus apa??
Otak :
Yach sudah jelas tho…the bukus adalah salah satu
media penyebar doktrin yang tepat, singkat, akurat…tegese begini, the
bukus kan hasil pemikiran manusia, manusia yang pinter-pinter dan
jenius itu lho hati,..eh katanya bapak Wahyudin itu the kutu bukus ya??
Hati :
Iya
Otak :
Lalu, manusia pemikir kreatif itu bisa saja
bermaksud membagi-bagi hasil telaahnya kepada orang lain, mulia yaa..
tetapi ada juga yang sekedar mau melontarkan ideologi-ideologinya,
doktrin-doktrinnya dll, tergantung niat penulisnya. Mau memberi racun
atau madu pada calon pembacanya nanti.. tapi aku yakin kok hati, dalam
racun yang pahit sekalipun tetap ada rasa manis yang tersisa…
Hati :
Weleh…welehh…yoh… sekarang kamu pakai sisi positif…
Otak :
(senyum-senyum malu..)
Hati :
Sekarangkan jamannya sudah tidak ada kekang
mengekang berkarya cipta kan tak!? jadi wajarlah kalau pengekspresian
manusia dalam berkarya yang mendiami suatu negara itu bebas lugas..
Otak :
Iya, tapi..bebas seperti apa..lugas seperti apa…
mbak Dwi Kartika R. pernah bikin karya tuh yang sedikit sinis dg ulah
para birokrat dan kaum kapitalis soal kondisi negara kita yang
kacau..kalau nggak salah judul karyanya the nation suicide. Yang
menolak anarkhi bangsa dalam bentuk apa saja. Apalagi yang bermuaranya
nanti pada ajang komersialisasi pembodohan masyarakat guna kepentingan
modal dan pengkayaan diri pribadi. doang!!
Hati :
Hubungannya dengan the bukus apa dong tak?
Otak :
Ya itu dia, buku jauh lebih berbahaya tingkat
effisiensinya dalam hal doktrin-mendoktrin karena the bukus itu
bersifat repetisi dan mengulang-ngulang disesuaikan dengan kondisi
jaman dan generasi…
bukan berarti saya anti pada the bukus…tetapi
yach saya cuma mencermati dari kaca mata orang awam saja…otaknya mbak
Dwi Kartika Rahayu ini kan bukan otaknya orang pinter, hati…otaknya
dia ntuh kan otak orang iseng…jadi nggak bisa diem, kayak sun go
kong….itu loh monyet dari negri china..
Hati :
Iya…memang, aku maklum kok tapi walau begitu aku
selalu sabar menemaninya…tadi aja pas perjalanan ketoko ini dia
hampir mukul kernet bus yang sembarangan main dorong… kubilang ke dia
sabaaar…dia nurut kok.
Otak :
Eh kita kok malah ngomongin juragan…
Hati :
Iya… nggak baik!
Eh sepertinya kamu tadi juga menyinggung masalah orang cerdas jenius tapi salah jalan, apa maksudmu otak?
Otak :
Begini, saya punya beberapa contoh masalah dalam
beberapa kasus…katakanlah yang tidak jauh-jauh dari keseharian, peta
jurnalisme kita, ada yang justru mencekok masyarakat dengan kebodohan
dan tendensi materealistis yang tentunya sangat mengganggu proses
perangkakan bangsa kita ini…lha wong bangsa masih sakit, malah ada
beberapa majalah, tabloid, koran yang menghalau pikiran masyarakat ke
arah non logis dan nol manfaat…walaupun mereka bertedeng di balik
hiburan, tapi aku yakin ada tendensi perusakan moral yang tentunya di
dukung oleh para hedonisme-hedonisme barat yang anti agama dan pengejar
kesenangan semata…
Hati :
Contohnya apa tak?
Otak :
1. SEX! walau sex bukanlah hal yang tabu menurut
aku tapi ketika sex itu disalah gunakan, di komersilkan, ditempatkan
pada posisi yang salah yach semuanya akan kena imbasnya…psikologis,
ekonomis dllnya.
psikologis misalnya, otakku jadi mesum
karenanya..seperti diatas tadi, kamu berontak to tak ciuummm? ….tapi
itu membuktikan bahwa kamu tidak kepengaruh dengan budaya hedon..
atau….. kamu frigid? …. ach sudahlah…
aku coba
praktekkan ke kamu itu karena kemarin aku nonton BF (he he he jangan
bilang-bilang yach…). ini salah satu penjejalan, akibatnya tidak
alami lagi, tidak insting lagi pas aku begituan sama suamiku
entar…karena banyak film-film BF di ciptakan, juga tabloid-tabloid
sex yang beraneka titel bermunculan dan dijual seharga sebungkus
rokok… memang sih dilihat dr sudut pandang seni… jadi kreatif…
tapi efeknya itu lho gila!!
 
ekonomis misalnya, positifnya tanda petik, dlm
produksi tabloid-tabloid nakal nambah isi kantong itu pasti..
efeknya….orang-orang akan cuman ngesex melulu kerjaannya sampai lupa
cari uang untuk kebutuhan hidup… nak yo ngono?? hahahahahahaaa….
embohlah, paling tidak seperti itu hati…
Apa coba
manfaatnya? kalu di usut-usut paling-paling jatuhnya cuma pelajaran
merangsang doang, termasuk merangsang kaum-kaum muda kita untuk
kecanduan sex! iya kan hati??
Hati :
Betul juga sih…
Otak :
Apalagi yang namanya sudah pernah melakukan hubungan sex itu bakal kecanduan…karena  sex itu candu ngono lho…
Hati :
Ya, sex itu candu karena, katanya memang nikmat tiada tara…
Otak :
Katanya siapa hati?? katanya mbak Dwi Kartika Rahayu? sudah pernah ngesex po??
Hati :
Huzs!!…Belum, dia nggak mau yang begituan…dia itu biar ketinggalan jaman asal heppy kok.. :)
Otak :
Oooh… syukurlah…. masalahnya kalau dia kecanduan gawat tuh..!!! hehehehe…hik hik
( kegelian )
punya pacar aja kagak ntar malah sama……. hehehehh….
Hati :
Enggak! dia pegang prinsip kok.Sebelum nikah nggak
bakal ngesex…nggak nikah-nikah ya nggak ngesex-ngesex, nggak nikah ya
nggak ngesex… gitou katanya padaku tak..!
Otak :
Oh syukurlah… aku jadi terharu!!!
 
hahahahahhaaaaa………..
 
Hati :
Anyway, lalu hubungannya dengan orang cerdas jenius apaan pula itu?
Otak :
Yah, bisa di tebaklah! gimana kou ini…
(logat medan bah!)
Otak :
Hubungannya, masih banyak orang cerdas jenius yang
menggandrungi sex bebas efek dari gencarnya stimulasi ke arah situ di
barengi dengan konsep-konsep hidup yang mereka ciptakan dan mereka anut
sendiri…
Hati :
Maksudmu tak??
Otak:
Gini looh, bukan berdasarkan presentase mas Iip,
tapi berdasarkan pengamatan lapangan…(ceileeeh….)yang kulakukan
sendiri…sbg contohnya anak-anak yang sdh di akui cerdas jenius,
pinter pandai di kalangan universitas maha patih misalnya…pengamatan
saya lhoo… teman-teman sendiri sih..objek pengamatannya… okelah
mereka sdh di akui kredibilitasnya seperti itu, tapi banyak juga yang
goblok, melakukan pelanggaran norma-norma agama dan masyarakat…  saya
bilang goblok karena mereka tahu hukum-hukumnya sudah… kalau tidak
tahu atau hidup di belantara jauh dari sosialisasi masih di maklumi
tho… parahnya mereka akhirnya bersembunyi di balik konsep-konsep
hidup yang mereka ciptakan sendiri itu.. kalau sdh begitu kan kita mau
apa?? mereka bicara tentang hak, hak kebebasan,…hak asasi lagi…
sebenarnya menurut saya kalau bicara tentang
kebebasan.. mimmpi kali yeee… soalnya kenapa,hak asasi aja belum bisa
di hormati..belum, masih jauh..!! hak asasipun masih di pertanyakan
yang seperti apa karena kita hidup di negara yang punya rule agama, tdk
seperti di barat sana yang menganut liberalisme. tahu sendirilah….
 
kembali pd bahasan mahasiswa-i universitas mahapatih…
dan hati, yang lebih parah lagi masih dalam
pengamatanku juga bukan menghakimi pula…para gadis bersembunyi di
balik lembaran kain suci yang muhammad saja memperjuangkannya dengan
air mata dan darah!!!!
cukup, saya tidak akan mendiskusikannya denganmu
mengenai ini hati karena bisa bertahun2 dan jebot kantongku sewa
internet dan ngemail2 ini he he hhh….
Hati :
yach…
Otak :
Oh..ya..saya mau nitip pesen nih buat mas Iip…: mas bukan cuman sekian persen mahasiswi di jogja yang sdh tidak perawan….
tapi sekian persen pula mahasiswa jogja juga sudah tidak perjaka…..
Hati :
Ehmmmmm….
(manggut-manggut)
Otak :
Buat Pak Wahyudin juga….
Hati :
Eh jangan panggil Pak Wahyudin thoo.. memang buapakmu apa! beliau itu masih kempling…
Otak :
Mas Wahyudin, tidak cuman sekian persen mahasiswi di bandung yang sudah tidak perawan, tapi sekian persen pula mahasiswa bandung yang tidak perjaka…
Hati :
lho kamu kenapa kok tiba-tiba pesan-pesan gitu tho otak?
Otak :
Yach, habisnya…saya perempuan…… gimana-gimana
sekarang bukan jamannya wanita di jajah pria, masak mau balik pada
jaman sak durunge merdeko…saling menghormati sajalah… biar tidak
ada kesalah pahaman…yang bisa memicu pertengkaran….
he hehehehehhhhhh……..h
Otak :
Eh bay the way, Mas Wahyudin sdh punya pacar belum yach…?
Hati :
Hayo, kamu pasti berpikir yang bukan-bukan…jangan ngeres ah…beliau tahu nanti tidak enak…!!
Sudah punya pacar kek, belum kek apa
urusannya…selama janur kuning belum melengkung masih milik umum,
begitu kata Marina…, gitu ya masss ???
hehehehehehheehhh………..
Hati :
Contoh selanjutnya apa otak? baru 1 soal sex tuh…
Otak :
Aduuh, aku sudah capek nulis ini… setelah beli
minum di sambung lagi entar… kasihan tuh juragan kita makin pening
kayaknya…. si tangan juga sdh capek nulis obrolan kita…..
yachhh….
Hati :
Baiklah, demi juragan kita yang lagi hampa…….
Otak :
ehh ehh sebentar, sebenarnya dia mikir apa toh.. kok kayaknya nggak selesai-selesai..??
Hati :
itu loh, selain keluarga juga mikir negaraaa….!!!
Otak :
Emangnya juragan sdh berkeluarga apa?
Hati :
Maksudnyaaaa…, mikir orang di rumah yang sudah pada nyuruh dia menikaaaahhhhhh otaaaak!!!!…
Otak :
Hi.. tuntutannya kok gitu…
Hati :
juragan kan orangya aneh…. kadang bilang butuh laki-laki…kadang juga kagak…
aku juga bingungggg…..
kadang bilang pingin nikah…kadang bilang nggak akan nikah sampai hari kiamatt…hemmmmm…..
Otak :
kalau nggak nikah,…itu berarti juragan….nggak akan ngesex sampai kiamat…..hehehehehhehe.
Hati :
Dasar otak Mesuuuuum!!!!!!!!!!!!
(geregetan…)
 
hahahhahahhahahhahaaaaaaaa
 
Dadaaaaaaaaaaa…………… bye bye………………………………………………………..
hahahahahhaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa………………………………………
 
Otak :
ntar di sambung lagi yaaach…….di edisi berikutnya….
Hati  :
nyang baca cuman mas gus wah doang…. nih tak…
Otak :
iya…!!!
Otak :
biarin dah!!!
Hati  :
Okeeee….

Diary

April 15th, 2007

Hari ini aku lelah banget, tapi mau istirahat susah minta ampun, rasanya badanku nggak mau berhenti beraktifitas… ngantuk berat… tadi pas kuliah" sdh telat, gak tahu apa2, belum mandi, gak bawa pulpen…huh! bad day… di kampus ada pameran lukisan karya dosen-dosen ISI.. aku gak bisa melihat bcoz ngantukkk…. tapi kok ya mataku n badanku gak mau berhenti ya … maunya ngapain aja… ok deh bapak2 ibu2 yang lagi pada menggelar perhelatan… SELAMAT BERPAMERAN DI GALERI KATAMSI ISI YOGYAKARTA… aku sekarang lagi mencoba mengikuti kaki melangkah. Entah ambruk dimana… kalo gak di kos ya di martogolek omah sorso. byeee…

Performance Art

April 15th, 2007
Pameran Seni Rupa “Sebentar! Sabar ya…”
Sumber :KR 03/04/2007 BAPARDA DIY

Mahasiswa ISI Yogya yang tergabung dalam Kelompok Rumah Pohon Martogolek menggelar Pameran Seni Rupa bertajuk “Sebentar! Sabar ya…” di Via-via Café, Jl Prawirotaman sejak Sabtu (31/3) hingga 15 April mendatang. pada puncak acara akan dilakukan penggalangan dana ‘Komemorasi setahun gempa Yogya-Jateng’.

Pameran telah dibuka Ki dalang Lejar Subroto, disemarakkan pantomum Husni dan performance art Kartika. Koordum Rumah Pohon Martogolek, Angela Pinkan Intania mengatakan, pameran kali ini diikuti 15 perupa. Pameran ini selain upaya menunjukan kerja keras selama ini wujud kontribusi menggalang dana bagi kesinambungan kerja kesenian bernilai kemanusiaan. Dari karya seni untuk menumbuhkan semangat kepedulian, kebersamaan dan kemanusiaan bagi korban bencana gempa bumi.

Dikatakan Angela, pameran ini merupakan penggalangan dana untuk tindak lanjut kegiatan pendampingan anak-anak korban gempa meliputi 4 lokasi, Desa Bawuaran Kecamatan Pleret, desa Seloharjo Kecamatan pundong, desa Kragilan dan Cendol Gantiwarno Klaten serta desa Kepuhharjo Cangkringan Sleman.

Jejak-jejak 1

April 15th, 2007

Indonesia ASEAN Art Award 2003

Yayasan Seni Rupa Indonesia

Finalis dari Yogyakarta masih mendominasi kompetisi Indonesia Art Awards tahun ini. Sebanyak 33 orang dari keseluruhan 66 finalis berasal dari Kota Budaya Yogya.

Namun, selain dominasi yang nyaris tak mengalami perubahan dibandingkan even-even yang sama (sebelumnya dengan nama Philip Morris Indonesia Art Awards), kompetisi juga diwarnai dengan kejutan-kejutan yang menandai adanya nuansa perubahan.

Dari segi gender, contohnya, IAAA 2003 mencatat peningkatan jumlah finalis perempuan. Tahun ini ada tujuh finalis perempuan, berasal dari Yogyakarta (Ayu Arista Murti, Dwi Kartika Rahayu, Titik Suprihatin), Bandung (Dewi Aditia, Gloria Wibisana, Irma Sari Yudawinata), dan Jakarta (Rotua Magdalena Pardede). Bandingkan dengan jumlah finalis perempuan pada tahun 2001 yaitu enam orang dari keseluruhan 84 finalis.

Kejutan lainnya, sejumlah nama baru muncul berdampingan dengan nama-nama yang memang kerap menjuarai kompetisi di masa-masa lalu. Bambang Soekarno (Medan), Cucu Ruchyat (Bandung), atau Esti Budiyanto (Yogya) adalah beberapa nama pendatang baru dalam deretan finalis kompetisi yang diselenggarakan Yayasan Seni Rupa Indonesia dan Philip Morris ini.

Itu sekaligus menandai adanya kejutan berikutnya, yaitu kandasnya beberapa nama perupa yang selama ini kerap menjadi finalis di berbagai kompetisi seni rupa. Apa yang terjadi? Mungkinkah ini berhubungan dengan ramainya kegiatan kompetisi sejenis yang digelar dalam waktu yang hampir bersamaan di ibu kota dan di Yogyakarta?

Entahlah. Anggota Dewan Juri IAAA 2003, Suwarno Wisetrotomo, saat menilai foto-foto karya beberapa perupa yang dimaksud hanya mengatakan dengan nada menyayangkan, “Kualitasnya menurun”.

Ke-66 finalis berasal dari 24 kota dari 11 provinsi di Jawa maupun di luar Jawa. Finalis Muhammad Faisal (Iconk), misalnya, walau beralamat di Bandung, ia kerap pulang-pergi ke kawasan paling timur Indonesia yang lama ia akrabi, sehingga dapat dikatakan Iconk mewakili warga Papua.

Jumlah finalis berdasarkan kota tempat berdomisili adalah, Yogyakarta (33), Bandung (10), Gianyar (2), Jakarta (2), Padang (2), dan sisanya masing-masing Medan, Tangerang, Bekasi, Ciamis, Purwokerto, Semarang, Magelang. Klaten, Surabaya, Malang, Denpasar, Kuta, Klungkung, Samarinda, Makassar, dan Jayapura.

Adapun rincian nama-nama finalis menurut daerah sebagai berikut.

Sumatera Utara: Bambang Soekarno.

Sumatera Barat: Syafrizal, Zirwen Hazry.

Banten: Ferry Wardhana.

DKI Jakarta: Andreas, Rotua Magdalena Pardede.

Jawa Barat: Andri Moch, Cucu Ruhyat, Dewi Aditia, Ferry Wibawa, Gloria Wibisana, Handy Hermansyah, Hendro Nugroho, Indra Widiyanto, Irma Sari Yudawinata, Irvan, Isa Perkasa, Prasetyo Hadi Saputro.

Yogyakarta: Aan Gunawan, Afdhal, Agung Hanafi Purboaji, Agus Yulianto, Alfi, Wasis Subroto, Amir Gozali, Ayu Arista Murti, Dhadang SB, Dwi Kartika Rahayu, Eddi Prabandono, Eduard, Erizal, Esti Budiyanto, Febri Antoni, Ferry Eka Candra, Galam Zulkifli, Hening Swasono, Iqrar Dinata, Januri, Kokok Purwandhi Sancoko, Noto Digsono, Setyo Priyo Nugroho, Stefan Buana, Sugiyo, Suparyanto GS, Titik Suprihatin, Klowor Waldiyono, Windu Budi Prasetyo, Yayat Surya, Yerry Padang, Yunizar, Yusra Martunus.

Jawa Tengah: Aditya Novali, Agus “Merapi” Suyitno, Bambang Pujiono, Putut Wahyu Widodo.

Jawa Timur: Agung Suryanto, Triyono Widodo.

Bali: AS Kurnia, Doho Sendjojo, I Kadek Dedi Sumantrayasa, I Wayan Sujana “Suklu”, Made Sumadiyasa.

Kalimantan Timur: Indro Pratomo Martodihardjo.

Sulawesi Selatan: Zainal Beta.

Papua: Muhammad “Iconk” Faisal.

Inilah Para Finalis IAAA 2003

Setelah melalui proses penjurian selama dua kali delapan jam, akhirnya Dewan Juri Indonesia/Asean Art Awards 2003 memutuskan 66 nama finalis IAAA 2003.

Berikut ini daftar nama para finalis, beserta judul karya mereka, sebagaimana diputuskan Dewan Juri Sabtu sore (26/7) di Jakarta. Nama-nama yang tertera harap menyertakan karya asli mereka setelah Panitia IAAA menghubungi mereka dalam waktu dekat. Karya diterima Panitia selambat-lambatnya tanggal 19 Agustus cap pos.

1 Aan Gunawan (My Fantasy)
2 Aditya Novali (Cultural Grafir Zone)
3 Afdhal (Semakin Banyak Kutahu Semakin Tak Kumengerti)
4 Agung Hanafi Purboaji (Kereta Tak Berkuda)
5 Agung Suryanto (Last Masterpiece)
6 Agus “Merapi” Suyitno (Kakang Kawah Adi Ari-ari)
7 Agus Yulianto (Surealand)
8 Alfi (Meretas Asa)
9 Ambrosius Subroto (Menembus Batas)
10 Amir Gozali (Pesona Alamku)
11 Andreas (Sejauh Estetika)
12 Andry Moch (Local Freak)
13 AS Kurnia (Alienasi)
14 Ayu Arista Murti (No 1: The Greatest Story)
15 Bambang Pujiono (Enthropy)
16 Bambang Soekarno (The Sound of Human)
17 Cucu Ruchyat (Making Love)
18 Dewi Aditia (I’ll Be My Mirror)
19 Dhadang SB (Bukuku Terbuat dari Timah dan Kayu)
20 Doho Sendjojo (Bhineka Tunggal Eka)
21 Dwi Kartika Rahayu (Biarkan Api Yang Bicara)
22 Eddi Prabandono (Membangun Kuda)
23 Eduard (Cleaner)
24 Erizal AS (Seribu Payung Duka)
25 Esti Budiyanto (Kesepian Kosong)
26 Febri Anthoni (Kantong-Kantong Lebah)
27 Ferry Eka Candra (Seribu Kepala Untukku)
28 Ferry Wardhana (Mirror Series: Self Potrait)
29 Ferry Wibawa (Curvatures)
30 Galam Zulkifli (Teater Pembebasan)
31 Gloria Wibisana (Just Heart)
32 Handy Hermansyah (Keanekaragaman Kebenaran, Keadilan, dan Sejarah)
33 Hendro Nugroho (Semua Hanya Anugerahnya)
34 Hening Swasono (Cracks of The Greatest Borobudur)
35 I Kadek Dedy Sumantrayasa (Cloudy Love)
36 I Wayan Sujana “Suklu” (Pertemuan)
37 Indra Widiyanto (Bad Hair’s Day)
38 Indro Pratomo Martodihardjo (He Ties His Own Shoes Now)
39 Iqrar Dinata (Jendela Rumah Kita)
40 Irma Sari Yudawinata ( I Want to Be The Perfect One)
41 Irvan (Desperating of Search for A ….)
42 Isa Perkasa (Sepak Bola, MTV, dan Perang)
43 Januri (Wajah Kita)
44 Kokok Purwandhi Sancoko (Rekonstruksi Pemandangan Alam)
45 Made Sumadiyasa (One Heart)
46 Muhammad Faisal “Iconk” (Vision)
47 Noto Digsono (Merah Kuning dan Hijau di Langit Yang Biru)
48 Prasetyo Hadi Saputro (Hanya Sebuah Garis)
49 Rotua Magdalena Pardede Agung (Banua Tonga)
50 Setyo Priyo Nugroho (Keadilan Itu Buta)
51 Stefan Buana (Menganyam Harapan, Menggores Impian)
52 Sugiyo (Boneka-Boneka Baru)
53 Suparyanto GS (The Broken Side)
54 Syafrizal (Papan Tulis)
55 Titik Suprihatin (Atraksi Badut-Badut)
56 Triyono Widodo (Keselarasan)
57 Utut Wahyu Widodo (Gelap, Terang: Si Hidup Rob)
58 Waldiyono (First Life)
59 Windu Budi Prasetyo (Deconstruction of The Natural Creation)
60 Yayat Surya (GLOBalienATION OF CHANGE)
61 Yerry Padang (Investigation)
62 Yok Hartono (Homo Homini Lupus)
63 Yunizar (Rasa Gerah)
64 Yusra Martunus (Kekerasan Mencair)
65 Zainal Beta (Tragedi Nusantara II)
66 Zirwen Hazry (Metamorphosis of Child).

……………………………………………………………………………………….

Curatorial Notes

Curatorial Notes / From the Gallery / Participant
/ Photos


NO NAME

18 Dec, 2004 - 31 Dec, 2004

Memberi nama yang Tak Bernama
Wahyudin

Art
and Sexual Politics adalah sebuah buku tipis yang mempesona—dan sebab
itu menggelisahkan. Ketika pertama kali membaca buku itu pada
pertengahan 2003: membacanya sambil-lalu, dengan sekadar minat
memperluas cakrawala pengetahuan saya tentang wacana seni rupa,
menyusuri halaman demi halaman di sana-sini, dan menyimpannya, saya
tertawan.
Buku yang disunting oleh Thomas B. Hess dan Elizabeth C.
Baker itu memang tipis—tak lebih dari 150 halaman—tetapi memuat
pemikiran dan diskusi tebal, berat, dan besar seputar liberasi
perempuan, perempuan seniman, dan sejarah seni rupa—yang memuncak dalam
sebuah pertanyaan: Why Have There Been No Great Women Artists?
Pertanyaan
tersebut membikin sejumlah perempuan pemikir, akademisi, aktivis, dan
seniman terlibat dalam sebuah perdebatan  seru dan penuh minat. Di
antara mereka terdapat nama-nama termasyhur—yang dikenal luas di dunia
seni rupa, tak terkecuali Indonesia, seperti Suzi Gablik, Elaine de
Kooning, dan Rosalyn Drexler. Dengan demikian, buku yang terbit untuk
pertama kalinya pada 1971 ini boleh dibilang merupakan dokumentasi
tertulis dari pertukaran pendapat dan gagasan itu.   
Ada dua
kutub ekstrem yang diperlihatkan oleh mereka dalam menjawab pertanyaan
tersebut. Kutub yang pertama adalah mereka yang bersepakat dengan
pemikiran Linda Nochlin1, bahwa pertanyaan “Why Have There Been No
Great Women Artists?” adalah sesuatu yang tidak bermanfaat, memecah
belah (divisive), penyerdehanaan yang berlebih-lebihan
(over-simplification)—dan lebih dari itu menyiratkan stereotype dan
prasangka laki-laki yang menyimpang dari kelaziman apresiasi seni dan
merusak asumsi-asumsi ilmiah dalam sejarah seni rupa.
Kutub yang
kedua, vice versa menganggap pertanyaan tersebut sebagai sesuatu yang
krusial, bukan semata-mata untuk perempuan, atau  demi pertimbangan
etika-sosial, tetapi juga untuk penalaran intelektual. Oleh karena itu,
kalaupun tidak ada perempuan seniman besar—yang setara dengan
Michelangelo atau Rembrandt, Delacroix atau Cezanne, Picasso atau
Matisse, maka harus diakui pula bahwa tidak ada laki-laki seniman besar
saat ini yang setara dengan mereka. Pendapat ini hendak menegaskan,
bahwa apa yang disebut “seniman besar” tak ada hubungannya dengan jenis
kelamin “laki-laki-perempuan” atau label “maskulin-feminin”2. Dengan
ini, “saya tidak keberatan disebut perempuan seniman selama kata
“perempuan” tidak digunakan untuk mendefinisikan karya seni yang saya
buat”, kata Rosalyn Drexler3. Prinsip ini mendapat dukungan dari Suzi
Gablik4, yang percaya dengan penuh-seluruh bahwa kreditabilitas
seseorang dicapai dengan intelegensi yang tajam, tekad keras, dan usaha
serius.
Menyimak adu pendapat tersebut, saya merasa seperti berada
di tengah arus sungai yang berputar cepat—yang tak memungkinkan saya
untuk mendayung dengan satu tangan. Itulah kurang-lebihnya mengapa saya
tertawan oleh buku tersebut—yang pada akhirnya memaksa saya untuk
menguraikan sejumput isi pikiran saya dalam sepenggal catatan yang agak
“reflektif” perihal perempuan dan feminisme dalam praktik seni rupa.
Tapi, penting untuk segera diketahui, bahwa catatan ini merupakan
sabur-limbur antara pemikiran saya dengan pemikiran orang lain—yang
sebelumnya pernah diterbitkan secara
terpisah-pisah.                                    

Perempuan dan Feminisme dalam Praktik Seni Rupa 
Seorang
lelaki yang berikhtiar mencatat perihal perempuan dan feminisme dalam
praktik seni rupa perlu mengingat pernyataan Simone de Baeuvoir—dalam
The Second Sex (1953)—yang menjadi landasan pemikiran dan praktik seni
rupa perempuan sejak periode 1970-an: “Perempuan memandang dirinya dan
menentukan pilihannya tidak sesuai dengan wataknya yang sesungguhnya,
tetapi sebagaimana laki-laki mendefinisikannya. Laki-laki menghukum
perempuan dengan licik. Perempuan tidak dilahirkan, tetapi diciptakan”.

Menurut pengamatan Joanna Frueh5, pernyataan de Beauvoir tersebut
telah menyadarkan banyak perempuan perupa di Amerika6 pada dasawarsa
1970-an, bahwa sesungguhnya karya seni yang mereka ciptakan—dari
pengalaman individual—dapat ditempatkan sebagai bukan hanya sekadar
ekspresi atau aksi kreatif yang bersifat personal, tetapi juga strategi
politik untuk melawan rezim patriarki.
Dengan kesadaran ini,
boleh dibilang, para perempuan perupa di Amerika pada waktu itu
mengalami “titik balik” dalam proses kreatif mereka. Bahwa karya-karya
mereka adalah suatu aspirasi politik untuk mendukung dan memberi suara
kepada pengalaman-pengalaman individual—yang selama ini diabaikan oleh
kanon sejarah seni rupa yang dijaga oleh rezim patriarki7. Bahwa
karya-karya mereka adalah bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan
sosial mereka—dan sebab itu adalah penting untuk memahami persoalan
representasi sebagai persoalan politik. Bahwa “yang personal adalah
yang politik”, “seni saya adalah politik saya”, dan “semua seni adalah
politik”—merupakan sebuah keniscayaan untuk mengoreksi persoalan
representasi perempuan dan seksualitas perempuan dalam seni rupa8.
Berangkat
dari pengamatan terhadap persoalan-persoalan seperti tersebut di atas,
dalam sebuah kajian yang terpisah, Judith Barry dan Sandy
Flitterman-Lewis, berikhtiar memetakan praktik seni rupa perempuan ke
dalam apa yang mereka sebut “typology of women’s art-making”—yang
secara teoritis mereka jabarkan menjadi empat kategori9. Menurut
mereka, keempat kategori dari tipologi ini mengimplikasikan relasi
spesifik antara strategi politik dan aksi kreatif para perempuan
perupa—dan tentu saja kasus-kasus yang mereka tunjukkan berasal dari
pengalaman perempuan perupa Barat. Dalam tulisan ini, saya akan
mendedahkan kembali secara ringkas uraian teoritis tentang keempat
kategori dari “typology of women’s art-making” yang mereka buat—dan
mencoba mengontekstualisasikannya ke dalam pengalaman dan praktik seni
perempuan perupa di Indonesia.         
Kategori pertama adalah
glorifikasi terhadap kekuatan esensial seni perempuan—yang berpijak
kepada kepercayaan bahwa esensi perempuan terletak di dalam tubuhnya.
Dengan kepercayaan ini, kebanyakan karya seni dalam kategori ini
bermaksud menyerang pandangan dikotomis dan hirarki oposisi biner
tentang tubuh dan jiwa—di mana tubuh ditempatkan di bawah jiwa—dan
berkehendak menempatkan kembali tubuh sebagai harga diri perempuan
dalam kebudayaan patriarki yang telah mengharamkan tubuh perempuan
dengan nilai moral dan tabu seksualitas. Contoh yang pas dari kategori
ini dapat kita temukan dalam karya-karya Arahmaiani10, semisal
performans Dayang Sumbi: Menolak Status Quo (1999)—yang tak hanya
mengambil Dayang Sumbi, tokoh perempuan legenda Sunda, sebagai ikon dan
majas subordinasitas perempuan, tetapi juga “menyuguhkan” tubuhnya
sebagai “medium” bagi penonton untuk memikirkan kembali arti
ketelanjangan dan seksualitas tubuh perempuan.
Kategori kedua
adalah seni rupa perempuan sebagai bentuk resistensi sub-kultural. Para
perempuan perupa yang berkarya dalam kategori ini bergerak dengan
sebuah postulat bahwa kerajinan tangan, kriya, dan kerja-kerja kreatif
perempuan di rumah—yang kerap kali dipandang sebelah mata dalam sistem
representasi seni yang dominan—bukanlah “nyanyian udik” (“unsung
province”) dari aktivitas seni perempuan. Dengan penyangkalan ini,
mereka bermaksud merekonstruksi “sejarah senyap” produktivitas
perempuan. Dari sini, mereka berharap dapat menelusuri area-area baru
dari ekspresi perempuan—yang pada akhirnya akan membongkar distingsi
ideologis antara bentuk-bentuk kebudayaan “atas” dan “bawah”—yang
sengaja dilestarikan oleh rezim patriarki sebagai alat untuk meniadakan
atau menutup kesempatan berkarya bagi perempuan. Dalam kategori ini
kita bisa menempatkan karya-karya Nia Fliam-Ismoyo, antara lain Tong
Sampah Tradisi (2003)—yang pernah dipamerkan dalam Biennale Yogayakarta
VII 2003, yang berkehendak untuk tidak hanya menciptakan batik dengan
menggunakan cap-cap bekas yang dibeli di pasar loak, tetapi juga
memposisikan kembali keberadaan batik tulis sebagai bagian dari karya
seni dan para pembatik sebagai seniman, dan bukan pengrajin atau buruh.

Kategori ketiga mengejawantah dalam karya seni perempuan yang
memandang tatanan kultural yang dominan sebagai sebuah konstruksi
monolitik—yang dengan sengaja mengisolasi dan menenggelamkan eksistensi
dan aktivitas perempuan “dibawah permukaan air” atau sepenuhnya diluar
batas. Di sini, kita bisa memasukan lukisan Anna Zuchriana yang
berjudul Ketika Harus Ada Pemimpin (2001)—yang bermaksud, pinjam
kata-kata Enin Supriyanto, mempersoalkan diskriminasi seksual dalam
“tradisi” keluarga Cina yang hanya memberi nilai lebih kepada jenis
kelamin laki-laki11.
Kategori keempat adalah praktik artistik
yang mendudukkan perempuan di suatu tempat krusial yang memungkinkan
mereka menyoroti—bahkan mengambil keuntungan dari—kontradiksi yang ada
dalam kebudayaan patriarki. Posisi ini melihat aktivitas artistik
sebagai praktik tekstual yang mengeksploitir kontradiksi sosial yang
ada menjadi tujuan produktif. Oleh karena itu, posisi ini meletakkan
kebudayaan sebagai sebuah wacana di mana seni ditempatkan sebagai
bagian dari struktur diskursif yang silang-menyilang dengan praktik
sosial lainnya. Dalam persilangan ini, karya seni memiliki
kecenderungan untuk mengusung isu-isu seputar representasi perempuan,
bahwa citra perempuan bukanlah sesuatu yang terberi, tetapi dikontruksi
di dalam dan melalui karya seni itu sendiri. Secara keseluruhan,
karya-karya yang termasuk dalam kategori ini hendak menegaskan bahwa
pada dasarnya makna dikontruksi secara sosial—dan sebab itu menunjukkan
arti penting dan fungsi wacana dalam realitas sosial. Dalam kategori
ini, kita dapat menempatkan karya-karya Sekar Jati Ningrum12, antara
lain serangkain gambar di atas kertas bertajuk (…) yang bertitimangsa
tahun 2001-2003 dan sejilid buku berjudul Menunggu Apa? (2003)—yang
berkecenderungan kuat menciptakan dunia “antara” atau “tegangan”
maskulin-feminin yang dengan sadar mencampurbaurkan kode-kode simbolik
yang feminin dan imaji-imaji yang buram dan brutal—yang memaksa kita
untuk merenungkan kembali arti klasik tentang keindahan dan keburukan.
Deskripsi
keempat kategori dari “typology of women’s art-making” di atas, menurut
Barry dan Flitterman-Lewis, selayaknya dipahami sebagai sebuah
“peringatan”, bahwa hanya melalui pemahaman kritis perihal
“representasi”13, permasalahan representasi “perempuan” dapat
benar-benar dipikirkan. Tak kurang dari itu, sebagaimana tersirat dalam
penjelasan kategori keempat, keberadaan penonton dihadapan karya seni
mengalami alih-peran dari sekadar konsumen makna yang pasif menjadi
produsen makna yang aktif, di mana mereka diikutsertakan dalam sebuah
proses penemuan kebenaran.

Dari Francy Vidriani Hingga Dwi Kartika Rahayu: Perihal Pameran No Name
Pameran ini bermula dari sebuah pertanyaan:
Apa arti menjadi perempuan?
Hidup
di sebuah negeri yang belum bisa sepenuhnya melepaskan diri dari
pandangan seksis tentang status perempuan sebagai “kanca wingking”,
“second sex”, “legal alien” dan sebagainya, membikin seorang laki-laki
yang bersikeras mencari tahu apa jawaban atas pertanyaan tersebut
merasa sebagai seorang Indonesia yang kasip menyadari betapa menjadi
perempuan tidaklah seindah kisah Putri Tidur (Sleeping Beauty) yang
sangat termasyhur itu. oleh karena itu, ada yang menyenangkan, ada yang
menjengkelkan, ada yang meresahkan, ada yang membuncahkan, ada yang
menyedihkan, ada yang menggelikan, ketika saya harus menyambangi tujuh
perempuan perupa muda—yang terlibat dalam pameran “No Name”—di tempat
mereka masing-masing untuk mengulik jawaban atas pertanyaan yang saya
lontarkan kepada mereka: Apa arti menjadi perempuan?   
Dalam
suasana seperti itulah saya menemui Francy Vidriani di Jakarta pada
suatu hari di penghujung bulan Oktober lalu, ketika hujan tengah
mengguyur ibu kota republik ini. Bertemu dengan Francy adalah bertemu
dengan kemasygulan kota metropolitan—di mana kontras, ketimpangan, dan
kemelaratan berbicara dengan cara yang paling menikam. Dan dengan cara
itulah  Francy menuturkan arti menjadi perempuan kepada saya.
“ke-perempuan-an
bukan semata karena alat kelaminnya. Kelamin, kontainer, tubuh adalah
ilusi, keperempuanan adalah sebuah kehadiran, sebuah warna, sebuah
kekuatan, makna yang mesti ditemukan oleh dirinya sendiri, dan bukan
ditentukan oleh laki-laki atau institusi manapun. Menjadi perempuan
bagi saya ada dua sisi pilihan yaitu secara spiritual dan secara
material. Menjadi perempuan secara material akan membuat kita terlibat
dalam permainan politik tubuh dan tubuh politik. Menjadi perempuan
secara non-material berarti kita kembali ke pemikiran untuk apa ia
ada”.
Untuk apa perempuan ada? Sebagian orang percaya bahwa
perempuan adalah “gerbang setan”, “teman pendamping” sekaligus  “iblis
penggoda” laki-laki—dan sebab itu, pinjam kalimat Karen Armstrong,
satu-satunya fungsi perempuan adalah untuk melahirkan anak yang akan
menularkan dosa asal kepada generasi berikutnya, seperti wabah
penyakit14. Menurut Armstrong, kepercayaan misogini neurotik ini tak
hanya membuat kaum laki-laki dan perempuan merasa asing dengan kondisi
mereka, tetapi juga merendahkan derajat perempuan. Kenyataan ini, masih
menurut Armstrong, memerangkap perempuan dalam ironi ganda. “Sementara
kaum perempuan Timur ikut memiliki beban inferioritas yang dipikul oleh
semua perempuan pada peradaban masa kini, saudara-saudara mereka di
Barat menanggung stigma tambahan tentang seksualitas yang menjijikkan
dan penuh dosa yang menyebabkan mereka tersisihkan dalam kebencian dan
ketakutan”.
Saya tidak tahu apakah penjelasan ini dapat diterima
sebagai jawaban atas pertanyaan tersebut. Tapi saya tahu, sebagian
lainnya memiliki kepercayaan yang berbeda tentang keber-ada-an
perempuan. Mereka meyakini dan mengakui, dengan rasa bersalah yang
jujur, bahwa perempuan adalah “merih yang memekik serak karena
luka”—yang ditorehkan oleh agama, sejarah, dan mitos. Oleh karena itu,
pada hemat mereka, sudah seharusnya kita (laki-laki dan perempuan)
menyembuhkan luka itu bersama-sama, dan kembali memandang kemanusiaan
kita sebagai sesuatu yang kuat secara azali.    
Dalam pada itu
saya mulai bisa memahami mengapa lukisan-lukisan Francy, terutama yang
diikutsertakan dalam pameran ini,   menolak kehadiran gender dalam
komposisi hitam-putih yang beroposisi secara biner. Tapi, ini bukan
karena Francy mendukung patriarki, melainkan lebih karena dia
mencurigai15 adanya skenario politis dalam gender. “Gender, sebuah
perspektif, sekaligus sebuah tanda yang dipuja, dijadikan ideologi,
simbol permainan politik, yang justru menjauhkan diri atau mengaburkan
jalan perempuan menemukan identitasnya”, katanya kepada saya.
Itu
sebabnya, Francy membebaskan tubuh-tubuh yang digurat dalam
lukisan-lukisannya dari beban gender—yang memungkinkan kita untuk masuk
menemu apa yang disebutnya sebagai perjalanan, permainan, kerinduan
menemukan yang sejati. 
Dengan membawa kemungkinan itu, saya
menuju Bandung untuk menemui Rini Maulina dan Tennessee Caroline. Senja
yang gerimis menandai waktu tiba saya di kota yang dijuluki Paris van
Djava ini. Oleh karena itu, saya terpaksa menunggu keesokan harinya
untuk bisa ketemu dengan mereka. Bertemu mereka sama artinya bertemu
dengan dua dimensi kemanusiaan dalam satu tubuh yang sama.
Pada
Rini saya menemukan dimensi feminitas seorang ibu muda yang
bersusah-sungguh menjaga, merawat, dan mengasihi anaknya dengan penuh
seluruh. Itu sebabnya, menjadi dapat dipahami jika Rini mendudukkan
perempuan sebagai ibu: nama Tuhan yang bertahta di lidah dan hati
anak-anaknya.
Pemahaman itulah, saya kira, yang terefleksikan
dalam lukisan-lukisannya kali ini: anak. Apalagi—dan ini bukan
kebetulan—semua lukisan yang diusung Rini dalam pameran ini
menampilkan—untuk memakai kata-katanya sendiri—hubungan emosional ibu
dan anak. Dengan perkataan lain, memandang lukisan-lukisan Rini adalah
memandang sebuah jalinan perasaan antara orang-tua perempuan dan
anaknya dalam bahasa visual—yang menggunakan ekpresi dan warna sebagai
representasinya.
Pada Tennessee saya menjumpai dimensi
“kekanak-kanakan” seorang perempuan dewasa yang inferior dan apriori
dalam mengerjakan atau melakukan sesuatu, sekalipun itu tak lantas
membuat dia lupa untuk bersyukur dilahirkan sebagai perempuan. “Menjadi
perempuan”, kata Tennessee, “adalah sebuah perjalanan panjang untuk
belajar kepada kelemahan”. Dengan ini menjadi bisa dimengerti bila
Tennessee tertarik untuk memvisualisasikan hal-hal yang
“kekanak-kanakan”, hal-ikhwal yang dianggap remeh-temeh, tak serius,
dan konyol di atas kanvas—yang sebenarnya tak sepenuhnya bisa dibilang
lucu atau menyenangkan, tetapi sebaliknya bahkan terkesan sinis dan
penuh cemooh kepada polah-tingkah orang-orang dewasa yang ahmak.
Pulang
ke Yogya, saya menitipkan kesan yang dipancarkan oleh lukisan-lukisan
Rini dan Tennessee dalam benak yang tak jenak bersarang ditubuh yang
payah. Di kota yang konon 9 dari 10 perempuan mudanya tak perawan lagi
ini, saya berkejaran dengan tenggat untuk menyambangi Lashita
Sitomurang, Lelyana, Lia Mareza, dan Dwi Kartika Rahayu.
Menyambangi
mereka tak ada bedanya dengan menyambangi sejumlah kemuskilan.  Yang
paling nyata terlihat adalah kemuskilan mereka dalam merancang waktu
yang pas untuk mempersiapkan karya—yang membikin saya risau,
sebagaimana saya gelisah mendengar pengakuan Lelyana yang berharap
menjadi “perempuan yang bahagia, yang dapat melaksanakan semua haknya,
dari hak untuk bebas bergerak hingga hak untuk berkreasi dan
berkompetisi, tetapi pada saat yang sama merasa dicintai atas apa yang
dilakukannya”.
Harapan tersebut—yang disertai dengan semacam
tuntutan yang barangkali muskil untuk dipenuhi oleh semua orang—tak
hanya membuncahkan rasa, tetapi juga ngelangutkan jiwa: suatu suasana
liminal, senjakala, yang berangkat-pulang tanpa ketuk salam dan ucap
pamit kepada figur-figur yang mengambang dan melayap dalam
lukisan-lukisannya.
Apakah figur-figur itu hendak memaklumatkan
takdir? Apakah takdir? Seseorang pernah berkata: “takdir adalah membuat
jembatan kesempatan bagi orang yang kau cintai”. Perkataan ini, pada
hemat saya, memantul ke dalam pemahaman Lashita tentang perempuan.
Menurutnya, “perempuan adalah salah satu dari dua jenis manusia (yang
sah diciptakan) di dunia, yang memiliki kesempatan yang sama untuk
menjalani dan menikmati hidup”. Dengan pemahaman ini, Lashita merasa
berhak untuk mendefinisikan dunia sebagai “Tanah Ibu”, sekalipun dia
tahu “Hawa pernah makan buah terlarang”—yang menyebabkannya bersama
Adam terusir dari surga.
Tapi, justru dengan pengusiran itu,
seturut pemahaman Lia Mareza, “perempuan dituntut untuk bersikap
tegar”, dan “siap direndahkan di bawah laki-laki” tanpa perlu
bersedu-sedan. Sebab, keikhlasan menerima segala duka adalah prasasti
perempuan—yang memungkinkan mereka melakukan reinkarnasi: dari “iblis
penggoda” menjadi manusia yang memang pantas dihargai. Perihal ini,
saya kira, hanya Dwi Kartika Rahayu yang mempercayainya dengan penuh
seluruh. Dengan kepercayaan ini, dia beroleh pemahaman bahwa perempuan
adalah manusia bebas yang tak hanya bisa berharap dengan sumarah atau
sekadar berusaha bangkit dari keterpurukan gender yang kronis, tetapi
juga menjadi “saksi yang pedih tentang ketidakmerdekaan”, tentang
“seseorang yang telah mengencingi surga-nya”—yang karena itu mereka
beroleh kesempatan untuk melihat Tuhan.    
Demikianlah ikhtisar
semenjana untuk menghantarkan pemikiran dan karya ketujuh perempuan
perupa muda tersebut ke perhelatan ini—yang merupakan hasil dari
pengalaman dekat saya “bersentuhan” dengan mereka selama empat bulan
belakangan ini—yang tentu saja tak boleh mendahului para audiens dalam
menentukan kesan dan pencerapan terhadap karya-karya mereka, apalagi
bermaksud merampas kesempatan para audiens untuk menikmati dan
mengapresiasinya***

Yogyakarta, 18 Desember 2004

Catatan :
1
Periksa esai Linda Nochlin, “Why Have There Been No Great Women
Artists?”—yang dimuat dalam buku ini, hlm. 1-39. Esai ini mendapat
sokongan dan dukungan dari Eleanor Antin, dalam “Women Without Pathos”,
hlm. 86-87. Sebaliknya, esai Nochlin tersebut menerima sanggahan kritis
dari Louise Nevelson, dalam “Do Your Work”, hlm. 84-85; dan Thomas B.
Hess, dalam “Great Women Artists”, hlm. 44-48.   
2 Pendapat ini
secara tegas menolak keyakinan kaum esensialisme yang percaya bahwa
“maskulinitas” dan “feminatas” adalah pembawaan lahir dan ditentukan
secara biologis—ie jika Anda terlahir sebagai perempuan, maka Anda
secara “alamiah” akan menyapih, mengasuh, dan pasif; jika Anda terlahir
sebagai laki-laki, maka Anda secara “alamiah” akan lebih agresif,
asertif, dan sebagainya—dan tidak ada kemungkinan untuk mengubah esensi
gender lewat tindakan politik. Sebaliknya, kaum feminis percaya bahwa
“feminitas” dan “maskulinatas” adalahkonstruk budaya—dan dengan
demikian terbuka untuk alterasi. Lihat Hilary Robinson (ed.), Visibly
Female, Feminism and Art: An Anthology (London: Camden Press, 1987). 
3
Lihat “Dialogue” antara Rosalyn Drexler dengan Elaine de Kooning dalam
buku ini, hlm. 56-71. Perkataan Drexler yang dikutip di sini terdapat
di halaman 57.   
4 Lihat Suzi Gablik, “The Double-Bind”. Dimuat dalam buku ini, hlm. 88-89.
5
Lihat Joanna Frueh, “The Body Through Women’s Eyes”, dalam Norma Broude
dan Mary D. Garrard (ed.), The Power of  Feminist Art: The American
Movement of the 1970s, History and Impact (New York: Harry N. Abrams,
Inc., Publisher, 1994), hlm. 190-207. 
6 Dibelahan negara lain,
seperti Prancis misalnya, kesadaran semacam ini dikembangkan oleh
sejumlah perempuan kritikus sastra, filsuf, dan psikoanalis dalam apa
yang disebut oleh Helena Cixous dengan “praktik menulis sebagai
strategi politik”. Cixous, misalnya—seperti dituturkan Madan
Sarup—percaya tatanan patriarki dapat dilawan dengan praktik menulis
feminine. Selengkapnya, periksa Madan Sarup, Post-Structuralism and
Postmodernism: Sebuah Pengantar Kritis, terj. Medhy Aginta Hidayat
(Yogyakarta: Jendela, 2003), hlm. 191-225. 
7 Pernyataan ini jika
diturunkan dalam konteks Indonesia, maka akan segera kita temukan
betapa penulisan sejarah seni rupa yang ada telah mengabaikan
keberadaan dan peran perempuan perupa—yang sedidkit-banyaknya telah
ikutserta dan ambil-bagian dalam perkembangan seni rupa modern di
Indonesia. Dalam hal ini kita bisa menyebut nama Emiria Soenasa
misalnya, perempuan pelukis kelahiran 1895—yang oleh sebagian pengamat
dianggap sebagai perempuan pelukis pertama Indonesia dan tercatat
sebagai anggota PERSAGI yang didirikanoleh S. Sudjojono dan Agus Djaja
pada 23 Oktober 1938. Bila kita mencoba memeriksa beberapa risalah
“babon” sejarah seni di Indonesia, seperti Art in Indonesia:
Continuities and Change (1967) karya Claire Holt—yang kini telah
menjadi klasik—dan Le Carrefour Javanais (1990; khususnya bagian yang
membahas seni rupa) milik Denys Lombard, bisa dipastikan tak satu pun
perupa perempuan tertulis—apalagi dibahas—di situ.   
8 Lihat Lucy
R. Lippard, “Some Propaganda For Propaganda”, dalam Hilary Robinson
(ed.), Visibly Female, Feminism and Art: An Anthology (London: Camden
Press, 1987), hlm. 184-194.
9 Lihat Judith Barry dan Sandy
Flitterman-Lewis, “Textual Strategies: The Politics of Art-Making”,
dalam Hilary Robinson (ed.), Ibid., hlm. 106-117.
10 Uraian yang
cukup padat mengenai karya-karya Arahmaiani dapat kita baca dalam esai
Alexandra Kuss, “Hak Istimewa Kelokalan telah Berhamburan”, yang
diterbitkan dalam buku Aspek-Aspek Seni Visual: Paradigma dan Pasar
(Yogyakarta: Yayasan Seni Cemeti, 2003), hlm. 67-101
11 Baca Enin Supriyanto, “Perempuan, Seni Rupa, dan Sejarah”, dalam Kompas, 1 Juni 2001, hlm. 38
12
Sebagai pembanding, kita perlu juga membaca komentar Farah Wardani,
“Perempuan sebagai Tanda” (Dekonstruksi Jender dalam Teks dan Praktik
Seni Rupa), dalam Kompas, 5 September 2003, hlm. 49.
13 Pembahasan
komprehensif tentang “representasi” dapat kita temukan dalam Stuart
Hall (ed.), Representation: Cultural Representations and Signifying
Practices (London: Sage Publications Ltd., 1997).
14 Lihat Karen Armstrong, Sejarah Tuhan, terj. Zainul Am (Bandung: Mizan, 2003), hlm. 177.
15
Kecurigaan seperti ini, pada hemat saya, memiliki dasar argumentasinya
dalam pemikiran skeptik Ivan Illich tentang patriarki atau yang
diistilahkannya sebagai “rezim seksual”. Menurut Illich (1982), kedua
istilah tersebut menggambarkan satu kesatuan status quo yang berupaya
mempertahankan dan melestarikan sistem sosial dan pola relasi gender
yang timpang dengan cara mempropagandakan asumsi-asumsi uniseks
tertentu: “Asumsi-asumsi bahwa kedua jenis kelamin tercipta untuk
melakukan pekerjaan yang sama, mempersepsi realitas yang sa dan dengan
berbagai variasi ‘kosmetik’ yang tak berarti, memiliki kebutuhan yang
sama.” Padahal, asumsi-asumsi uniseks itu hanyalah mitos yang
diciptakan masyarakat industrial yang patriarkis agar mereka tetap
mengada, demikian tandas Illich.

 

Assigning Meaning to the Nameless
Wahyudin

Art
and Sexual Politics is a slim fascinating book and, therefore,
stirring. When I first read it in mid 2003, skimming it with some sense
of wanting to expand my horizon regarding discourses in visual art,
going from one page to another, picking up items to keep for myself, I
found my attention arrested. .
The book co-edited by Thomas B. Hess
and Elizabeth C. Baker is indeed thin - comprising no more than 150
pages - yet contains voluminous, weighty and large ideas and
discussions around women’s liberation, women artists, and history of
art climaxing with the question of Why Have There Been No Great Women
Artists?
The question has caused women thinkers, academicians,
activists, and artists to involve in intense and exciting debates.
Among them are well known figures in visual art, Indonesians included,
such as Suzi Gablik, Elaine de Kooning, and Rosalyn Drexler. One may
say that the book, first published in 1971, represents written
documentations of such exchange of ideas.
Two extremes appear in
the responses given to the question. The first one represents those who
agree with Linda Nochlin ’s thinking that the very question is useless,
divisive, an over-simplification and, moreover, it implies men’s
stereotype and prejudice that divert from what is common in
appreciating art while damaging scholarly assumptions in art
historiography.
The other extreme finds the question crucial, not
only with regard to women or ethical and social concerns, but also in
terms of intellectual reasoning. That’s why even when there isn’t any
great woman artist of Michelangelo’s or Rembrandt’s, Picasso’s or
Matisse’s class, one must also admit that there is not any contemporary
man artist of such highly reputable class too. This opinion confirms
that what is called "great artist" has nothing to do with "male/female"
issue or "masculine/feminine" label.   By this, "I don’t have any
objection to be called a woman artist as long as the word "woman" is
not used to define the work I make" Rosalyn Drexler  says. Her premise
is supported by Suzi Gablik  who believes very strongly that one’s
credibility is something to acquire through sharp intelligence,
determination and serious efforts.
In giving attention to the
competing opinions, I feel like being in the middle of currents so
swiftly whirling that it is impossible for me to row with one hand
only. That is, more or less, why the book arrests me so and eventually
leads me to describe what I have been thinking in an essay that is
somewhat "reflective" about women and feminism in visual art practice.
However, it is important for me to immediately add here that this
writing contains a concoction of my thoughts and those of others
previously published separately.

Women and Feminism in Visual Art Practice
      
Any man about to note down something concerning women and feminism in
art practice has to keep in mind Simone de Beauvoir’s observation - in
The Second Sex (1953) - that has provided a basis for women’s artistic
concepts and practice since the 1970s: Women see themselves and make
their choices not in accordance with their own true nature but as men
define them. Men punish women wickedly. Women were not born but made.
As
Joanna Frueh  observes, de Beauvoire’s statement roused the awareness
of many women artists in America in the 1970s and they came to realize
that the works they made - out of individual experiences - can be
positioned not only as just personal expressions or creative actions
but also as part of a political strategy to resist a patriarchal regime.
With
the awareness, the women artists in America  then went through a
"reverse point" in their creative process. They saw their works as
representing a political aspiration to support and give voices to the
individual experiences hitherto ignored by canons of the history of art
that the patriarchal regime had maintained.   They saw their works as
inseparable from their social life and therefore it is important to
take the issue of representation as a political one. "The personal is
the political", "my art is my politics", and "all art is politics"
became necessary tags to put things right around the issue of women’s
and women sexuality’s representations in visual art.
Starting
from observations of such issues, Judith Barry and Sandy
Flitterman-Lewis make a study to map women artists’ practices in what
they call "typology of women’s art-making" that they theoretically
divide into four categories.  According to them, the four categories of
the typology imply specific relationships between women artists’
political strategies and creative actions, and of course the referred
cases come from women artists’ experiences in the West. Here I will try
to briefly re-describe the theoretical arguments of the four categories
and apply them, contextually, in observing women artists’ experiences
and practices in Indonesia.
The first category is glorification of
the essential potency of women’s art that rests on the belief that the
essence of a woman lies in her body. With this conviction, most works
of this category intend to attack the dichotomous perspective and the
hierarchy of binary oppositions regarding the body and the soul by
which the body is subordinated to the soul; moreover, they want to
re-position the body as women’s self-esteem in a patriarchal culture
that repudiates the female body in the name of morality and sexual
taboos. Proper examples for works of this category might be found in
the works of Arahmaiani  such as her performance Dayang Sumbi: Menolak
Satus Quo (1999) that does not only take Dayang Sumbi, a heroine in a
Sundanese legend, to be an icon and metaphor of women’s subordination
but also "offers" her body as a "medium" for the audience to reconsider
the meaning of the nakedness and sexuality of the female body.
The
second category is women’s art as a form of sub-cultural resistance.
Women artists working in this category operate with the postulate that
handicraft and women’s domestic creative works that are often
disregarded in the dominant system of art representation should not be
"the unsung province" of women’s art-making. By this rebuttal, they
want to reconstruct the "silent history" of women’s productivity. From
here they wish to trace new areas of women’s expressions that will
eventually unravel ideological distinction between "high" and "low"
cultural forms deliberately maintained by the patriarchal regime, by
which to eliminate or shut the opportunity for making art- works among
women. Into this category we can put the works of Nia Fliam-Ismoyo,
which include Tong Sampah Tradisi (2003) ever shown at the Yogyakarta
Biennale VII 2003; this particular work does not only want to make
batik by employing old batik-pattern-stamps bought at bazaars as
cast-offs but also to re-position hand-made batik as art-work and the
batik makers as artists rather than artisans or paid labors.
The
third category manifests in women’s art works that regard the dominant
cultural system as a monolithic construction that purposely isolates
and keeps women’s existence and activities "below the surface" or
completely out of the question. In this category we can find a painting
by Anna Zuchriana titling Ketika Harus Ada Pemimpin (2001) that offers,
in Enin Supriyanto’s words, the issue of sexual discrimination in
Chinese family’s "tradition" of ascribing high values to males. 
The
fourth category is an art practice that positions women at a crucial
point that enables them to highlight - even to take advantage of -
contradictions found in the patriarchal culture. From this position,
artistic activities are seen as textual practice that exploits social
contradictions to give out productive goals. Therefore, culture is
regarded as a discourse in which art is part of a discourse structure
interlacing with other social practices. In the interlacing, works of
art have the tendency to present issues around women’s representation,
how images of women are not something given but constructed within and
through the works. Overall, the works that belong to this category want
to assert that basically meanings are socially constructed and,
therefore, they indicate the significance of the function of discourse
in social reality. In this category we may enlist the works of Sekar
Jati Ningrum  that include a series of drawings on paper titling (…)
dated 2001-2003 and a book titling Menunggu Apa? (2003). There we find
the strong tendency to create an "intermediary" world, or a
masculine-feminine "strain", which deliberately mixes feminine symbolic
codes with dark and brutal images forcing us to reconsider the
established notions of beauty and ugliness.
The descriptions of the
four categories from the "typology of women’s art-making" according to
Barry and Flitterman-Lewis should be taken as a "warning" that only out
of a critical perception of "representation"  that the problem in
representing "women" can be seriously dealt. Moreover, as implied by
the explanation of the fourth category, the roles of the viewers alter
from mere passive consumers of signification to active producers of it;
they are invited to take part in a process of finding truth.

From Francy Vidriani through Dwi Kartika Rahayu: On No Name Exhibition
The exhibition sets out from a question:
What does being a woman mean?
Living
in a country that still has to really free itself from the sexist
outlook concerning the status of women as "kanca wingking", "second
sex", "legal alien" and the like, a man who determined to know the
answers to the question had to wake up to the fact that he is an
Indonesian with belated knowledge that being a woman is not as
beautiful as the all famous story of Sleeping Beauty. That is why when
I had to go and visit the seven young women artists involved in the "No
Name" Exhibition in trying to know their answers to the question "What
does being a woman mean?", I found out things of varied qualities:
pleasant, upsetting, disquieting, exciting, tragic, and amusing as well.
It
was in such an atmosphere that I went to meet Francy Vidriani in
Jakarta one day by the end of October when rain was pouring down on the
Republic’s capital. Meeting with Francy was an encounter with
metropolitan downheartedness where contrasts, inequality, and poverty
speak up in their most stabbing manner. That was how Francy told me the
meaning of being a woman.
"Woman-ness is not merely implied by
one’s sex organs. Sex organs, containers, bodies are illusions;
woman-ness is a presence, a color, a force, a meaning that one must
discover on her own, and not to be defined by any man and institution.
Being a woman for me implies an option consisting of two sides, namely
spiritual and material. To be a woman materially will cause us to get
involved in the politics of the body and the body of politics. To be a
woman in a non-material way means that we return to the issue of for
what a woman is".
For what does a woman exist? Some believe that
women are "Satan’s gates", "partners" and "tempting devils" to men and,
therefore, in Karen Armstrong’s expression, the only function of women
is for giving birth to children that will pass on the original sin to
the next generation, like a plague.  In Armstrong’s observation, this
neurotic misogyny doe not only make men’s and women’s estrangement from
their conditions; it also humiliates women. This fact, Armstrong says,
has trapped women in a two-fold irony. "While women of the East share
the burden of inferiority shouldered by all women in today’s
civilization, their sisters in the West bear the additional stigma of
sordid and sinful sexuality that sets them aside in hatred and fear."
I
don’t know if this explanation is acceptable or not as an answer to the
question. What I know is that some others have different convictions
about the nature of women’s existence. They believe, they admit, with
some genuine sense of guilt, that women are "throats screaming hoarsely
out of wounds" - the wounds inflicted on them by religion, history, and
myth. Therefore, in their opinion, men and women should together heal
the wounds and regard our humanity as something originally potent.
Meanwhile,
I think I begin to understand why Francy’s paintings, particularly the
ones shown in this exhibition, refuse the presence of gender in
black-and-white compositions of the binary oppositions. But this is not
because Francy supports patriarchy but rather because she suspects
that there is some political scenario in the issue of gender. "Gender,
a perspective, a highly cherished sign at once, is taken as an
ideology, a symbol of political games, and it even thwarts women’s
search for identity," she said to me.
That’s why Francy sets the
human figures in her works free from the burden of gender, and in turn
this enables us to find what she calls a journey, a game, a longing for
the real.
I went on to Bandung to meet Rini Maulina and Tennessee
Caroline. It was a drizzly dusk when I arrived at the city once
nicknamed Parijs van Java. I had to wait till the next morning to meet
them. Meeting them is encountering two dimensions of humanity in one
single body.
In Rini I found the dimension of femininity of a young
mother trying hard to keep, take care and love her child
wholeheartedly. Therefore, it becomes understandable if Rini positions
a woman as a mother: God’s name reigning over her children’s tongues
and hearts.
It is this notion, I think, that is reflected in her
paintings. Moreover, and this is not just by chance, all the paintings
that Rini contributes to this exhibition feature, in Rini’s own words,
mother-and-child’s emotional relationship. In other words, viewing
Rini’s paintings is watching emotional interrelations between a
female-parent and her child represented through a visual language that
adopts expressive shapes and colors.
With Tennessee I found the
"childlike" dimension of a woman who feels inferior and habituated in
doing things, though it does not necessarily makes her ungrateful to be
born a woman. "To be a woman", said Tennessee, "is a long journey to
learn about weaknesses". So it is understandable that Tennessee is
interested to visualize "childlike" or "childish" things considered
trivial, not serious, and silly on canvas - actually, they cannot be
regarded as just amusing and pleasant; on the contrary, they give the
impressions of cynicism and mockery with regard foolish behaviors of
adults.
Returning to Yogya, I kept the impressions of Rini’s and
Tennessee’s paintings in my brain that went restless in a tired body.
In the city where nine out of ten young women are said to have lost
virginity, facing the pressure of time, I had to visit Lashita
Situmorang, Lelyana, Lia Mareza, and Dwi Kartika Rahayu.
Visiting
them was not different from visiting the implausible. The most obvious
point is their implausible scheduling to prepare their works for the
exhibition, and this made me worry the way I feel when hearing
Lelyana’s confession that she wishes she could be "a happy woman who
can perform all her rights, ranging from the right to move freely
through the right to create and compete, but at the same time feels
loved for what she does".
That hope - coupled by a sort of request
quite improbable to be fulfilled by all people - is agitating and
distressing at once: a sense of liminality, of twilight, of
coming-and-going without saying hello or goodbye to those floating and
blurring figures in her paintings.
Do those figures want to
announce fate? What is fate? Someone has ever said: fate is building a
bridge of opportunity for ones you love. In my opinion, that expression
suits Lashita’s perception of women. To her, "women are one of the two
types of human beings validly created in the world that have the same
opportunity to live and enjoy life". With such a perception, Lashita
feels she has the right to define the world as "Mother Land" even
though she knows that "Eve ate the forbidden fruit" that led her and
Adam to their abandonment from Eden.
But by being driven out of
Eden, in Lia Mareza’s view, "women are supposed to be strong" and
"ready to be rendered lower than men" without shedding tears. That is
because the willingness to accept all sorrows is women’s faculty that
enables them to transform themselves from "tempting devils" to virtuous
human beings. Of this, I think Dwi Kartika Rahayu is the only one who
is fully convinced. With that conviction she comprehends that women are
free human beings that are not only capable to subserviently make
wishes or just to try to get up from chronic gender collapse but also
to stand  "bitter witnesses of unfreedom", of "ones who pissed on
heaven" so they got the chance to see God.
So much is my
introduction to the ideas and works of the seven young women artists of
this exhibition. This results from my close "contacts" with them these
last four months. Naturally, I don’t feel I have the right to go before
the audience with my impressions and perception of their works; what’s
more, I don’t mean to rob the chances you have to enjoy and appreciate
these works.    

 

Sesuatu Yang Dikenal Sebagai ‘Perempuan’
(Atau: Perempuan Yang Menjadi ‘Sesuatu’)

Farah Wardani

Saya
sadar, judul di atas terdengar paradoksikal, bertele-tele dan tak jelas
maunya. Memang, sampai tulisan ini selesai dibuat, saya sendiri masih
terjebak dalam ambiguitas kedua statement tersebut, dan akhirnya saya
memilih untuk mencantumkan keduanya. Karena bagaimanapun, ambiguitas
itu pulalah yang sedikit banyak menjadi kisaran permasalahan dalam
tulisan ini dan juga pameran ini secara keseluruhan.
Mendampingi
tulisan saudara Wahyudin, kurator pameran ini, intinya saya hanya ingin
mengeksplorasi pertanyaan yang ia lemparkan di pengantarnya: ‘apa
artinya menjadi perempuan’ (what it means to be a woman)?’
Pertanyaan
itulah yang saya tangkap (atau tepatnya, saya ambil secara paksa)
sebagai poin paling krusial yang ditawarkan dari pameran ini secara
mendasar. Sebagai seorang yang terlahir sebagai perempuan, pertanyaan
itu bagai hadir centang-prentang di benak saya, menantang dan menuntut
jawaban yang sayangnya, saya sendiri pun merasa belum memiliki kuasa
cukup untuk menemukan jawaban yang tepat, sehingga harus akhirnya
membiarkan nasib pertanyaan itu kembali menjadi retorika.
Kesulitan
menjawab pertanyaan itu mungkin berhubungan dengan kenyataan bahwa
kami, perempuan, sudah terlalu terbiasa didefinisikan (oleh yang lain),
sehingga ketika kami harus memaknai keberadaan kami sendiri, reaksi
yang pertama timbul adalah sebuah kegagapan. Bagaimanapun, sekiranya
itulah juga yang menarik dari gagasan dasar pameran ini. Mengusik
gagasan perempuan sebagai sebuah keberadaan.
Mungkin saya (atau
kami) lebih bisa menguraikan ‘apa saja yang dibutuhkan dalam menjadi
perempuan’ (what it takes to be a woman) – dengan sedikit catatan:
perempuan muda (seperti terlihat pada kompilasi perupa yang dipilih
Wahyudin), dan pada saat ini. Saat ini zaman ketika serial Sex and the
City dan Ally McBeal menjadi tontonan wajib para wanita modern
perkotaan, istilah ‘metroseksual’ menjadi buzzword komoditas baru, dan
Madonna mencium bibir Britney Spears di pentas MTV (walau di samping
itu, masih ada pula pemandangan akan seorang artis tampil di acara
gosip selebriti dengan mata lebam akibat pukulan suami, dan laporan
tentang pekerja wanita ilegal yang diperkosa majikan di tanah asing).
Itulah saat ini, setidaknya bagi kita yang setiap hari mencoba
mengkonsumsi realitas secara praktis dan instan dari layar kaca.
Di
atas semua kepingan-kepingan realitas yang saling beradu tersebut,
menjadi perempuan saat ini adalah untuk menjadi segalanya. Ibu teladan.
Istri idaman. Sahabat setia. Pekerja profesional yang rajin dan
teliti.  Si perayu genit yang menggoda. Si manja yang sesekali merajuk
minta perhatian. Si kuat berani yang siap mengulurkan tangan kala
kesusahan. Si anggun yang dapat mengganti ban mobil sendiri. Partner
menonton bola dan diskusi filsafat. Namun tetap obyek seks yang juga
bisa menjadi dominator ranjang sewaktu-waktu (bahkan mungkin sejumlah
lelaki lebih menyukai setiap waktu). Mulia namun boleh sedikit badung.
Immaculata Concepcion. Altar kesucian yang mengandung, melahirkan daya
kuasa Ilahi. Fun Fearless Female: cewek asyik, seru dan tak kenal
takut, meminjam slogan salah satu majalah wanita internasional yang
versi lokalnya beredar pula di negeri ini. Dan banyak lagi rumusan yang
dapat mewakili.
Ketika perempuan hendak dimaknai kembali saat ini
adalah sebuah usaha membuang jauh-jauh bayangan akan sesosok figur yang
menunggu di rumah, memasak dan merawat anak dengan daster, rol rambut
dan tubuh yang menggendut. Dan menciptakan sebuah konstelasi konsepsi
yang multi-rupa, kompleksitas yang harus selalu tampil seksi.
Hal
ini begitu terlihat kasat mata di kehidupan sehari-hari. Lihat saja
sampul-sampul majalah wanita dan lembar-lembar isinya: judul-judul
seperti ‘Resep Kue Basah ala Thailand’, ‘Mendidik Si Kecil Yang Penuh
Ingin Tahu’, ‘Gaun Pengantin Karya Desainer X’, ‘Trend Mode Musim Semi
Milan’, ‘Orgasme dan Mitos G-Spot’, ‘Senam Pilates untuk Tubuh Ideal
Sehabis Melahirkan’, sampai ke ‘Gaji Suami Lebih Kecil?’, ‘Tips
Mempercepat Jenjang Karir, ’30 Kiat Membina Usaha, ’Mobil-Mobil Pilihan
Wanita Aktif’, ’Profil 10 Wanita Sukses 2004’. Semua kalimat itu
bertaburan di atas sosok wanita cantik bertubuh sempurna dibalut busana
mahal yang tercetak di sampul.
Bila mengingat kata Freud, bahwa
perempuan adalah sebuah kekurangan/ketidaklengkapan (lack), apakah
sekarang perempuan sedang bertolak bangkit dari kekurangan itu,
mencapai sebuah kesempurnaan? Kesempurnaan seperti yang ditawarkan oleh
sampul-sampul majalah dan iklan? Kesempurnaan di mata siapa: si
perempuan, konsensus awam, ataukah sebagaimana lelaki menuntutnya, yang
sama saja dengan mengembalikannya ke ujung kutub negatif dari oposisi
biner gender, pasif dan submisif terhadap kuasa tatanan yang ditetapkan
oleh yang lain? Ataukah karena konsepsi ke-perempuan-an telah pula
menjadi bagian dari arus ideologi modernis yang bergerak dalam pola
linear progress, sebuah percepatan menuju bentuk yang ideal? Makna
kesempurnaan pun begitu ringkih dalam licinnya batasan-batasan definisi
dan kuasa otoritas persepsi.
Pergelutan perempuan saat ini bukanlah
sekadar masalah mencapai kesempurnaan demi memuaskan ‘male gaze’
(pandangan laki-laki) atau juga ego perempuan itu sendiri, perihal
meraih posisi kutub yang di atas, perihal mengalahkan laki-laki atau
disamakan dengan laki-laki. ‘Laki-laki’ dalam bayangan bentuk si
pangeran tampan, ataukah mahluk-mahluk egois merepotkan, yang harus ada
sebagai pembuka botol selai dan partner mengganti popok, namun juga
tetaplah selalu menjadi obyek kerinduan, rengekan manja dan belaian
kasih? Pada akhirnya, ‘laki-laki’ pun adalah juga sebuah konsepsi, si
keberadaan lain yang melengkapi satunya dalam sebuah sistem kerjasama
dua arah. Dan terlalu naïf juga rasanya bila lagi-lagi harus menjadi si
cerewet yang mengeluh bila tak dibukakan pintu lebih dahulu.
Perempuan
tidak lagi melulu menjadi si ujung kutub negatif itu. Tidak lagi melulu
menjadi si pasif menunggu yang aktif, yang lemah terhadap yang kuat, si
inferior untuk melengkapi yang superior. Perempuan bisa menjadi
keduanya, atau malah harus menjadi keduanya. Sebenarnya, mungkin pada
kenyataannya selalu seperti itu dari dulu, bila menoleh ke belakang
melihat keperkasaan para ibunda yang tertutup di balik bahu bidang para
ayah, berdiri tegar dalam keheningan dan segala batasan.
Bedanya,
batasan-batasan itu kini telah bertransformasi menjadi labirin
kebebasan yang penuh ujung-ujung buntu. Dan menjadi perempuan sekarang
ini, sebagai sebuah gagasan, secara sendirinya adalah penjelajahan
menyusuri pilihan-pilihan yang mencuat berserakan ke permukaan,
kerancuan tanda dan penanda, kekusutan makna dan nilai-nilai – antara
yang telah terbakukan dan berlaku dengan yang sedang terciptakan
kembali seiring dengan wajah dunia yang terus berubah.
Singkatnya
dengan kata lain, menjadi perempuan sekarang ini adalah sebuah
penciptaan kembali menjadi ‘sesuatu’, kata yang selalu dipakai Francy
Vindriani dalam judul-judul karyanya. ‘Sesuatu’ yang berada di antara,
melampaui polaritas antara ‘She’ dan ‘He’. ‘Sesuatu’ yang belum
dinamai, seperti yang disiratkan Wahyudin dalam judul dan gagasan
pameran ini. Pada prakteknya, tantangan yang ada adalah bagaimana
menyiasati, bermain di antara paradoks, berulang-alik antara menjadi
yang satu dan yang lain pada saat yang tepat. Sebuah permainan
metamorfosa keberadaan, yang kadang membingungkan namun seringkali juga
mengasyikkan.
Seni itu sendiri pun pada dasarnya adalah sebuah
proses pernyataan keberadaan, dan karya yang lahir menjadi keberadaan
itu sendiri, tanda yang tak terartikulasikan oleh penanda yang lain.
Maka yang disuguhkan oleh pameran ini kepada pemirsa dengan karya-karya
para perupanya adalah sebuah tawaran pensikapan cara pandang, melihat
karya mereka sebagai karya perempuan, atau sebagai ‘sesuatu’ yang
memiliki makna tersendiri. Dan oleh karena itu dengan sendirinya,
pemirsa pun turut terlibat dalam penghayatan pencarian makna tersebut.
Seperti
saya dengan tulisan kecil yang ceriwis ini, yang tak bermaksud
mewakili, apalagi mengintervensi, hanya ingin turut nimbrung bersama
para perupa ini, menyatakan keberadaan masing-masing. Sebagai sesuatu
yang dikenal sebagai ‘perempuan’. Atau sebaliknya, perempuan yang
menjadi ‘sesuatu’ – yang tidak, belum, atau mungkin juga tak usah
bernama***

Jakarta, 18 Desember 2004

Curator: Wahyudin